Kiriman Surat dari Rotterdam
Tiga bulan setelah kematian Tuan Snouck, aku menerima
surat bersama sebendel naskah bersampul kulit merah
tua berjudul De Atjehers, karya Tuan Snouck dari dua
kawan sejatinya, Van den Berg dan J. de Louter. Saat
itu, sakit keras Ki Ageng Sentanu semakin gawat.
Kutimang-timang naskah itu sebentar. Sekilas membayang
di mataku langit berawan bersaput mega merah meluruhi
karya itu lalu lenyap ditelan kedipan mataku. Kemudian
kubaca sang surat, begini isinya:
Kepada Saudara Van Poen Dier alias Ibnu Mundir
-- Di Banten --
Semoga Tuhan Memberkahi umur panjang untuk Tuan
Semenjak kematian Tuan Snouck (1857-1936) yang
dimuliakan Kerajaan Belanda (Semoga Tuhan melimpahkan
kedamaian baginya di alam baka) serasa kami semua
menguras kenangan selama 35 tahun lampau bersamanya di
negeri ini. Bagi kami, tidaklah mudah mengikis habis
ingatan tebal dan teka-teki yang menutupi ilmuan
Leidenini.
Tapi isi surat ini bukan semata kesaksian atau
penguatan untuk menjunjung ilmuan ini, atau
sebaliknya, menistakannya. Kami sekadar menghaturkan
kesan bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa saja
terjadi.
Akhirnya, mohon diterima kenang-kenangan terakhir dari
Tuan Snouck ini, semoga berarti. Demikian dari kami,
terima kasih.
Van den Berg dan J. de
Loute
Rotterdam, 17 Agustus 1939
Kabut Kitab dan Malam Pekat
Selang tiga hari setelah menerima surat terakhir itu,
guruku ditemukan tewas di ranjangnya. Sebilah keris
berlekuk sembilan dan bergagang naga menancap di
lehernya. Bisa jadi, surat-surat itu (mungkin masih
banyak surat yang tak sempat kutemukan) mengilhami
guruku untuk mengarang Sajarah Bidah Banten dan memicu
pembacaan yang bakal lebih biadab dari semata kitab
sentimental itu. Selama sebuah kitab tidak sekadar
tumpukan kertas dengan lem dan benang, namun buah
pikiran dan kata-kata yang menjelma torehan di
dalamnya itulah yang abadi bagi manusia: mengekalkan
kebaikan sekaligus kejahatan.
Hingga kini aku tak habis pikir. Apa kaitan karya
guruku dengan surat-surat itu? Apakah Sajarah Bidah
Banten telah dibaca oleh Tuan Snouck, Van den Berg dan
J. de Loute? Namun aku tak bisa memastikan apakah
mereka pernah membacanya.
Dan malam itu tentara Belanda mulai melakukan
penangkapan-penangkapan kepada sejumlah asisten Tuan
Snouck. Pertanyaannya, apakah guruku dibunuh oleh
orang-orang Belanda? Aku tak yakin juga. Tapi aku
harus segera menyingkir dari rumah guruku. Dan pasti
mereka juga akan segera menangkapku.
Malam meluruh. Subuh memecah, pagi pun merekah. Mataku
seperti digelapkan awan hitam yang meraung-raung
mengepung diriku. Maka terdengarlah kabar
menggemparkan dari orang-orang di jalan, bahwa telah
terbit Hikayat Pejalan dari Sabrang karya Teungku
Nuruddin Goeje yang beredar di Batavia tanpa diketahui
siapa yang bertanggungjawab atas penerbitan itu.
Sehari kemudian menyusul Suluk Iman Kanginan karya
Panji Abu Bakar dan Riwayat Si Kulit Merah karya
Teungku Datuk Majunda. Jelaslah sudah, ketiga orang
ini adalah mantan asisten Tuan Snouck juga. Kami
pernah menjalankan tugas bersama di Aceh pada
1887-1890.
Setelah membaca kitab-kitab itu, orang-orang bule
menjadi berang, hingga terjadi penangkapan secara
serampangan terhadap sejumlah mantan asisten Tuan
Snouck dan menghabisi mereka tanpa diajukan ke
pengadilan Hindia Belanda.
Teungku Datuk Majunda, Panji Abu bakar, dan Teungku
Nuruddin Goeje, menurut kabar yang kudengar, tewas
dalam perburuan setelah mereka ditanggap dan
diinterogasi. Kini mulai terkuak bahwa, Sajarah Bidah
Banten barangkali bukanlah satu-satunya pemicu atas
pembantaian ulama-ulama Banten tempo itu. Jika tuduhan
itu benar. Selain itu, pastilah mereka juga menyebut
diriku terlibat dalam kekacauan ini.
Di Pusara Ki Ageng Sentanu
Kematian guruku adalah mimpi buruk bagiku
Kisah kelam di sekujur hidupku
Di ujung pelarian ini
Di pusara Ki Ageng Sentanu ini, yang tiga hari lalu ia
ditemukan terbunuh di ranjang tuanya, aku bersimpuh
dan berdoa. Menyeka airmata dan membayangkan nestapa.
Kini waktu seperti belati yang mengiris ranum bola
mataku, menunggu saat-saat pahit dari selangkah
kematianku.
Sekarang, aku cukup mengenang, dalam pelarianku yang
singkat nanti. Dalam mautku yang segera menjemput. Aku
memohon kepada Tuhan, semoga aku dikumpulkan bersama
kitab-kitab penyulut amarah itu di lahatku kelak, agar
aku bisa mendaras kitab-kitab itu dan mengabu bersama
mereka.
=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/