Hehe...kang AJ mah, abdi jadi era asa kasindiran!
Aj Kusnet <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Baraya...
Aya saeutik catetan ngeunaan ieu paguneman. Naha Kang Acil saparakanca téh nyawalakeun ieu perkara téh maké basa Sunda? Sigana mah enya, da kuring mah henteu mangmang kana kasundaan Kang Acil spk. Tapi lamun téa mah henteu, beu... siga nyawalakeun perkara kamsikinan di restoran McDonald...
Anu kadua, naha nya urang téh (maksud teh bangsa Indonésia), aya ku resep pisan kana singgetan: mulok, ruko, rumkit, pentilkecakot, jsté. Ceuk kuring mah ieu téh ngaleungitkeun akar kecap, sajarah, jeung hari asal muasalna éta kecap. Jadi, teu anéh mun beuki dieu téh Bahasa Indonésia jadi basa nu liar. Boro-boro rék jadi basa élmu jeung téknologi. Boa-boa kecap téknologi "perunut lengkung" (curve tracer) bakal disingget jadi "pelengkung", atawa nu séjénna.
Apal pentilkecakot? Eta téh paméré babaturan, cenah éta téh singgetan tina "penjaga tilpun kecamatan kota". Harita ku kuring ditéma: lamung "situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan" kumaha nyinggetna?
Punten ah,
AJ
mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Pendidik Harus Antisipasi Minimnya Obrolan Sunda
BANDUNG, (PR).-
Kebanggaan sebagai orang Sunda ternyata sudah lama
menurun drastis sehingga obrolan berbahasa Sunda juga
sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Sunda. Fenomena
ini harus diantisipasi dan dicarikan solusinya oleh
berbagai pihak, termasuk para pendidik di sekolah
maupun kampus.
SUASANA belajar-mengajar di salah satu SD di Kota
Bandung, beberapa waktu lalu. Kebanggaan sebagai orang
Sunda ternyata sudah lama menurun drastis, sehingga
obrolan berbahasa Sunda jarang dilakukan. Hal ini
harus diantisipasi dan dicarikan solusinya oleh
berbagai pihak termasuk para pendidik di
sekolah-sekolah.* ANDRI GURNITA/PR
"Kita tidak boleh hanya terpaku melihat nasib yang
dialami orang Sunda. Kita perlu ikhtiar keras dan
berpikir jernih dalam memahami persoalan Sunda yang
terpinggirkan," kata Ketua Bandung Spirit, Acil Bimbo
saat berbicara dalam diskusi "Kearifan Budaya Sunda
dalam Memelihara Kesetiakawanan Sosial" di Aula STKS
Bandung, Rabu (13/9).
Acil mengemukakan, faktor ikhtiar sesungguhnya
merupakan hal penting, selain berdoa kepada Allah SWT.
"Saya sependapat dengan ajaran sebuah sekte di India
yang menyatakan ikhtiar sebanyak dua pertiga,
sedangkan doa sepertiganya. Saat ini rentan terjadi
konflik di masyarakat sehingga setiap orang perlu
berpikir jernih dalam menilai setiap masalah,"
tuturnya.
Sementara itu, tentang keluh kesah susahnya belajar
bahasa Sunda di sekolah menjadi sorotan pembicara
lainnya yakni Dr. Hidayat Suryalaga. Menurut Hidayat
Suryalaga, seharusnya tidak boleh terjadi keluh kesah
tersebut karena bahasa Sunda mudah untuk dikuasai.
"Untuk bisa menguasai bahasa Sunda, cukup dengan
memahami 30 kata kerja sesuai Undak Unduk Basa Sunda
(UUBS). Karenanya, saya tidak setuju kalau dikatakan
sulit untuk mempelajari bahasa Sunda," ujarnya.
Sampai saat ini, ungkap Hidayat Suryalaga, bahasa
Sunda sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah masih
dianggap momok karena sulit dimengerti apalagi
dikuasai.
"Sering kali terdengar keluhan siswa untuk mempelajari
bahasa Sunda harus menguasai UUBS, karena ada bahasa
yang kasar dan bahasa halus. Padahal, di bahasa
Inggris atau Bahasa Jepang juga mengenal tingkatan
bahasa seperti ketika bicara dengan ratu, kaisar, atau
rakyat biasa," katanya.
Untuk mempermudah pemahaman terhadap bahasa Sunda,
Hidayat memberikan kiat sederhana yakni cukup dengan
memahami 30 kata. "Kalau kita ingin menguasai bahasa
Inggris perlu menguasai ratusan kata kerja tidak
tentu, irregular verbs, sedangkan bahasa Sunda cukup
dengan 30 kata," katanya.
Hidayat mencontohkan kata balik yang menjadi wangsul
untuk diri sendiri dan mulih untuk orang yang lebih
tua. "Kita tidak boleh terbalik dalam penggunaan 30
kata tersebut, karena tidak boleh meninggikan diri
dengan kata yang seharusnya untuk orang yang lebih
tua," ujarnya.
Kenali lingkungan
Dalam kesempatan terpisah, Pembantu Rektor Unisba
Bidang Kemasiswaan, Drs. Agus Sofyandi, M.Si.
mengatakan, para mahasiswa perlu mengenal lingkungan
kampus, masyarakat, dan adat istiadat serta budaya
Sunda.
"Dalam hal ini kegiatan ta'aruf yang dimulai Selasa
(12/9) bukan sekadar formalitas, melainkan upaya
mengenal diri, lingkungan, dan budaya yang ada di
masyarakat," katanya.
Sebelum mengenal lingkungan, menurut Agus, mahasiswa
sebagai kalangan terdidik terlebih dulu mengenal
dirinya. "Karena pada saat mengenal lingkungan harus
diimbangi dengan pengenalan terhadap kapasitas
dirinya. Pahami budaya dan kebiasaan masyarakat Sunda,
terutama Bandung sebagai tempat tinggal saat kuliah,"
katanya.
Sebagai mahasiswa yang hidup di lingkungan Bandung
dengan masyarakat mayoritas beragama Islam, dalam
taaruf juga diwajibkan berbusana rapi dan sopan. "Tiap
mahasiswa baru diwajibkan memakai pakaian putih
panjang dengan celana panjang warna hitam. Mahasiswi
putri juga diwajibkan mengenakan rok hitam panjang dan
berkerudung putih," katanya.
Menyinggung tentang jilbab, Agus Sofyandi
mengemukakan, Unisba sendiri belum mewajibkan
mahasiswi untuk mengenakan jilbab. Karena, yang ada
selama ini hanya imbauan dari Rektor Prof. Dr. H. E.
Saefullah, LLM. (A-71)***
=====
Situs: http://www.urang-sunda.or. id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
_____________________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
Get your email and more, right on the new Yahoo.com __._,_.___
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
![]()
SPONSORED LINKS
Culture change Corporate culture Cell culture Organization culture Tissue culture
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
- Re: [Urang Sunda] padahal ngobrol mah haratis? brad porenges
Kirim email ke

