Satuju bin sapagodos pisan ... Upami teu lepat, saur Abah Al Ghazali (CMIIW), aya tilu golongan ahli ibadah dumasar pangjurungna: (1) tipe jongos/budak: ibadahna ku lantaran sieun disiksa; (2) tipe sodagar/tukang dagang: ibadahna itung2an balesanna (sabaraha pahalana jst); (3) tipe kakasih: ibadahna kulantara bogoh, sono, nyaah ka Allah swt jeung parentah-Na.
Tilu2na insya Allah ditampi kumargi sadayana disebatkeun dina Qur'an nu ditandaan ku ayana ayat2 ngeunaan siksa (azab & naraka), balesan (pahala & surga), atanapi ngeunaan cinta ka Allah). Dina konteks ieu, sigana aya benerna oge omongan nu rada2 resep tasawuf: "Geus asup sawarga, boga kasempetan nempo Pangeran masih keneh ngaributkeun awewe/lalaki?". :-) Akidah urang oge ngajarkeun Allah kawasa nyieun naon wae, jadi teu kudu ngaributkeun soal teknis. Ringkesna kumaha saur Bah Tato, amal we nu bener heula ... Di handap aya sakedik amparan nu rada lengkep jeung runtuy ngeunaan surga/naraka. Mugi2 nambihan sakedik kaweruh urang dina nyikepan masalah ieu ... Baktos yudi Penghuni Surga Dan Neraka http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/702 Pertanyaan: Assalamualaikum wr. Wb. Waktu nabi muhammad isro mi`raj, beliau diperlihatkan oleh Allah tentang surga dan penghuninya, juga neraka beserta penghuninya, yang jadi pertanyaan adalah apakah penghuni surga dan penghuni neraka yang dilihat oleh nabi itu sebagai tamsil (perumpamaan), atau memang udah ada sekarang penghuni neraka (orang yang mati duluan yang tidak beriman dia langsung masuk neraka tanpa menunggu hari kiamat), atau yang dilihat nabi itu adalah masa depan (artinya orang yang di siksa dineraka kala itu bisa jadi orangnya sekarang masih hidup). Mohon penjelannya Rifai Jawaban: Ada beberapa hal yang perlu disepakati terlebih dahulu dalam masalah yang anda tanyakan: 1. Bahwa sumber-sumber aqidah Islam adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Al-Quran adalah kalam Allah yang tingkat kebenarannya 100%. As-Sunnah pun memiliki tingkat kebenaran yang sama 100% meski dengan pengecualian bila derajatnya dhaif. Sedangkan hadits-hadits itu baik yang mutawatir maupun ahad adalah hadits yang tingkat kebenarannya mencapai tingkat 100%. Ini adalah pemahaman yang telah dipegang oleh para ulama sepanjang zaman. 2. Bahwa kita wajib mempercayai dan meyakini sepenuhnya informasi yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah itu, apalagi berkaitan dengan hal yang ghaib. Karena ukuran dan cara memandang masalah yang ghaib itu jelas berbeda dengan dunia yang nyata. Secara logika dan nalar, akal kita bisa menerima bahwa disisi lain dari segala yang nyata dan empiris ini, ada hal-hal yang non-empiris dimana logika dan hukum fisika tidak lagi berlaku disana. 3. Dan bila telah memasuki permasalahan ghaib, informasi dari Al-Quran dan As-Sunnah menjadi pemandu utama. Meski akal sehat barangkali kurang mampu mencernanya karena memang bukan tugas akal, bukan berarti Al-Quran dan As-Sunnah yang diingkari. Tetapi akal-lah yang harus mengalah. Banyak sekali fenomena di alam nyata dimana ilmu pengetahuan tidak sanggup memahaminya. Padahal dimensinya masih sama, yaitu benda-benda empiris. Seperti pertanyaan:�kekuatan apa yang menggerakkan alam ini dan kenapa semua berjalan sedemikian teratur dan kompak?� Iptek masih berenang di dunia ketidak-pastian. 4. Karena itu apapun yang diinformasikan oleh Al-Quran dan As-Sunnah sudah pasti benarnya, absolut dan mutlaq. Mengingkari salah satu isinya sama saja mengingkari semuanya. Namun jangan belenggu Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman dan wawasan sesaat yang sedang berkembang pada suatu tempat dan waktu. Jadi bila ada ayat yang sepintas menjelaskan bahwa bumi itu dihamparkan, jangan lantas mengambil kesimpulan bahwa bumi itu rata seperti meja. Karena bumi rata seperti meja adalah iptek maksimal di zamannya yang kemudian berubah dan berkembang. 5. Sehingga yang paling bijaksana adalah tidak mengingkari teks Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan relevansinya dengan tingkat iptek pada waktu tertentu relatif tergantung pada level dan kemampuan suatu peradaban untuk memahaminya. Dengan kelima prinsip diatas, mari kita melihat pertanyaan anda dengan cermat. 1. Hadits yang menjelaskan peristiwa isra` mi`raj Rasulullah SAW dan juga berkaitan dengan bertemunya beliau dengan para nabi yang lain di dalam surga adalah hadits-hadits yang kuat derajatnya sehingga bisa diterima. 2. Selama dalil itu shahih, kita diharamkan menolak dan mengingkarinya. Kalau pun kurang bisa dipahami logikanya, itu tidak lain karena lingkup iptek kita masih terbatas saat ini. 3. Surga dan Neraka telah lama diciptakan dan banyak sekali nash dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menjelaskan bahwa si fulan saat ini ada di surga atau di neraka. Termasuk hadits yang memjelaskan bahwa siapa yang membangun masjid di dunia ini, maka Allah membangunkan baginya rumah di surga (saat ini juga). Sedangkan surga yang mana, bagaimana, dimana dan semua pertanyaan yang bersifat teknis, tidak ada informasi yang rinci dalam dalil-dalil itu. Jadi apa yang ada kita imani dan apa yang tidak ada informasi apa-apa di dalamnya, tidak perlu diperdebatkan. Karena memperdebatkan sesuatu yang ghaib adalah pekerjaan bodoh seperti sekumpulan semut berdebat soal dimana matahari beristirahat di waktu malam dan dimana istirahatnya bulan dan bintang pada siang hari? Semut semut itu bahwa tidak tahu bahwa matahari adalah bola gas pijar yang selalu mengalami reaksi nuklir dan seterusnya. Iptek para semut itu terlalu dangkal untuk bisa memahami hakikat semua itu. Jangan-jangan kita ini pun juga sekumpulan semut-semut yang berdebat tentang hal yang dimensi logika manusia taka mampu memahaminya. Wallahu a`lam bishshowab. --- In [email protected], "Taufik" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ari pamikiran sim kuring ayeuna mah daripada ngabayangkeun kumaha bidadari atawa wildan di sawarga da memang moal kabayang jeung moal bisa dibandingkeun jeung kaayaan urang ayeuna, meningan urang ibadah nyiapkeun keur jaga engke da pasti di sawarga mah sagala rupana oge moal aya nu nguciwakeun jeung pasti urang sugema.kitu tah.. > > > > Tato Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

