Punten kuring ngiring ulubiung....aya undangan kanggo seminar ngeunaan
masalah nu nuju dibahas ieu :
punten kanu teu panuju................
Assalamu'alikum Wr.Wb.
Bersama ini kami dari Pengurus Majelis Taklim & Dewan Kemakmuran Masjid
Datakon (Wisma Indovision), bermaksud mengundang Bapak/Ibu Mitra Kerja untuk
menghadiri Silaturahmi & halal bihalal. Insya Allah akan kami laksanakan
pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 17 November 2006
Waktu : Pukul 17.30 - 19.30
Tempat : Masjid Datakom (Wisma Indovison)
Basement .
Penceramah : H. Adian Husaini, MA
* Kandidat Doktor Malaysia University
* Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
* Ketua Kajian MUI Pusat
* Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
* Penulis di Koran Republika & Hidayatullah.-com
* Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
* Pengisi di Radio Dakta FM
THEMA : BAHAYA SPILIS (SEKULERISME, PLURALISME DAN
LIBRALISME)
Demikianlah Undangan kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya kami
ucapkan terima kasih
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Pengurus MT
Kutipan Tulisan Adian di Hidayatullah.-com
Ketika Kampus Islam Dibajak Orientalis"
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=3514&pop
=1&page=0&Itemid=55> Cetak halaman ini
<http://hidayatullah.com/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=351
4&itemid=55> Kirim halaman ini melalui E-mail
Senin, 28 Agustus 2006
Lebih dari 30 tahun benih orientalisme mencengkram studi Islam dan semakin
merambah ke berbagai bidang, termasuk studi Al-Qur'an. baca Catatan Akhir
Pekan [CAP] Adian husaini ke-159
Oleh: Adian Husaini
Saat mengisi acara workshop di Pondok Pesantren Gontor, 19-20 Agustus 2006
lalu, saya mendapatkan hadiah sebuah Jurnal yang sangat bagus, bernama
TSAQAFAH. Jurnal ini diterbitkan oleh Institut Studi Islam Darussalam
(ISID) Pondok Modern Darussalam Gontor Indonesia. Pada edisi Vol.2, Nomor 2,
2006/1427, diangkat berbagai artikel menarik tentang keislaman. Salah satu
yang perlu kita jadikan catatan adalah sebuah artikel berjudul "Framework
Kajian Filsafat Islam" tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi, Pembantu Rektor III
ISID.
Melalui riset yang cukup mendalam terhadap sejumlah kurikulum kajian
filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam di Indonesia -baik yang negeri
maupun swasta- Hamid Fahmy membuktikan bahwa kajian filsafat Islam di
Indonesia tampak jelas terpengaruh oleh kajian para orientalis. Pengaruh itu
tidak hanya pada cara atau metodologi pengkajian, tetapi lebih mendasar
lagi, sampai pada framework (kerangka) dan cara pandangnya
terhadap filsafat Islam.
Cara pandang ini tentu bukan tanpa maksud. Secara sistematis, mereka akan
menunjukkan bahwa filsafatIslam hanyalah kertas copi dari Yunani; tanpa
Yunani, Islam tidak memiliki pemikiran rasional. Padahal, sekalipun konsepsi
falsafah juga dikenal dalam pemikiran Islam, namun tetap disertai kritik dan
seleksi yang ketat. Itulah yang dilakukan oleh Al-Ghazali dan Ibn Taymiyah.
Menurut Hamid Fahmy, berbeda dengan tradisi filsafat Yunani yang berdasarkan
akal, tradisi filsafat Islam bersumberkan pada wahyu. Dengan demikian,
filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemahaman, penjelasan, dan
pengembangan konsep-konsep penting dalam al-Quran dan Sunnah.
Dalam sejarahnya, para ulama dan cendekiawam Muslim telah melakukan proses
seleksi dan adapsi yang ketat terhadap pemikiran yang datang dari luar
Islam.
Sejumlah ilmuwan seperti Ibn Sina, al-Kindi, dan al-Farabi, menerima
filsafat Yunani dan berusaha memodifikasikannya agar sesuai dengan
prinsip-prinsip penting dalam ajaran Islam. Al-Ghazali dan Fakhruddin
al-Razi menerimanya sejauh masih sejalan dengan ajaran Islam dan menolak
konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam.
Ibn Taymiyah termasuk diantara penolak keras "filsafat", tetapi ternyata
juga menerima jenis filsafat tertentu, yang disebutnya al-falsafah
al-shahihah (filsafat yang benar) dan al-falsafah al-haqiqiyah (filsafat
yang sebenarnya).
Hamid Fahmy - yang telah menyelesaikan disertasi doktornya tentang 'Teori
Kausalitas al-Ghazali" di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur - mencatat, bahwa para
ulama Islam menolak, menerima secara selektif atau menerima dan
memodifikasi prinsip-prinsip filsafat Yunani, karena konsep-konsepnya yang
tidak sejalan dengan konsep Islam.
Selain itu, mereka juga percaya akan adanya konsep Islam sendiri yang
berbeda dengan konsep asing itu. Ini berarti, simpul Hamid Fahmy, para ulama
memandang bahwa dalam Islam terdapat prinsip berfikir filosofisnya sendiri
yang berbeda dari Yunani.
Jadi, sejak awal, umat Islam sudah memiliki tradisi berpikir sendiri yang
berdasarkan wahyu, yang berbeda dengan tradisi berpikir Yunani. Sumber
aspirasi yang asli dan riil dari para pemikir Muslim adalah Al-Quran dan
Sunnah Rasul. Bahwa ada sebagian unsur asing yang kemudian diserap dalam
khazanah pemikiran Islam, tetap diupayakan tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip ajaran Islam. Dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam
semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru
tidak terdapat dalam tradisi filsafat Yunani.
Mengambil contoh Kurikulum dan Silabi Kuliah Filsafat Islam terbitan
Departemen Agama, Hamid menunjukkan, bahwa yang dimaksudkan sebagai
"pemikiran filsafat Islam yang awal" dalam kurikulum ini adalah dimulai
sejak masuknya pengaruh filsafat peripatetik Yunani ke dalam Islam. Artinya,
filsafat Islam dianggap wujud hanya setelah datangnya pengaruh filsafat
Yunani. Ha ini mendukung anggapan bahwa dalam Islam tidak ada filsafat atau
pemikiran filosofis. Model kajian seperti ini tidak akan memberi bekal
kemampuan kepada mahasiswa untuk mengembangkan filsafat sains dalam Islam.
"Jika framework ini ditelusuri asal usulnya maka akan terungkap kesamaannya
dengan framework yang dipegang secara meluas oleh para orientalis," tulis
Hamid Fahmy, yang juga Direktur Centre for Islamic and Occidental Studies
(CIOS), ISID Gontor.
Hasil riset Hamid Fahmy Zarkasyi tentang metode studi filsafat Islam di
Perguruan Tinggi Islam di Indonesia ini sangat penting untuk ditelaah dan
direnungkan secara mendalam.
Jauh sebelumnya, 30 tahun lalu, Prof. HM Rasjidi telah menunjukkan kuatnya
pengaruh metode orientalis terhadap buku wajib dalam studi Islam di
Indonesia, yakni buku "Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya", karya Prof.
Harun Nasution. Rasjidi kemudian memberikan kritik-kritik yang tajam
terhadap buku tersebut, bahwa buku itu merusak dan membahayakan aqidah
Islam.
Tetapi, kritik-kritiknya tidak pernah didengar. Buku ini tetap dijadikan
sebagai rujukan dalam studi Islam di Perguruan Tinggi, tanpa didampingi
oleh buku Prof. Rasjidi: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang "Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya".
Seperti pernah kita bahas, buku Harun Nasution ini memuat begitu banyak
kesalahan fatal dan mendasar tentang Islam. Dalam aspek filsafat, Harun
Nasution juga menulis: "Pemikiran filosofis masuk ke dalam Islam melalui
falsafat Yunani yang dijumpai ahli-ahli fikir Islam di Suria, Mesopotamia,
Persia, dan Mesir...Filosof kenamaan yang pertama adalah Abu Yusuf Ya'qub
Ibn Ishaq al-Kindi."
Dalam pemaparannya, Harun mengungkap berbagai perdebatan seputar isu-isu
dalam kajian filsafat, tetapi tidak melakukan 'tarjih' terhadap pendapat
yang benar. Bahkan ketika membahas pendapat seorang filosof yang jelas-jelas
bertentangan dengan ajaran Islam, Harun tidak memberikan kritik terhadapnya.
Seperti ketika menjelaskan tentang filosof Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria
al-Razi (864-925), Harun bahkan menulis, "Tetapi sungguhpun ia menentang
agama-agama, al-Razi bukanlah seorang ateis. Ia tetap percaya kepada Tuhan
sebagai pengatur alam ini."
Padahal, ditulis oleh Harun: "Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya
percaya pada akal dan tidakpercaya pada wahyu. Menurut keyakinannya akal
manusia cukup kuat untuk mengetahui adanya Tuhan, apa yang baik dan apa yang
buruk, dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu Nabi
dan Rasul tak perlu, bahkan ajaran-ajaran yang mereka bawa menimbulkan
kekacauan dalam masyarakat manusia. Semua agama dia kritik. Al-Quran baik
dalam bahasa maupun isinya bukanlah mu'jizat."
Sebagai buku panduan untuk mahasiswa Muslim, harusnya Prof. Harun
menjelaskan, bahwa pendapat Abu Bakr Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (bukan
Fakhruddin al-Razi) adalah keliru dan bertentangan dengan prinsip ajaran
Islam.
Harusnya, Prof. Harun tidak bersikap netral dalam hal-hal yang jelas-jelas
salah. Bahkan, dalam uraiannya, Harun lebih cenderung mengunggulkan
pendapat Ibnu Ruyd, ketimbang al-Ghazali. Dalam kritiknya, Rasjidi
menyesalkan kecenderungan Harun untuk lebih menonjolkan pendapat Ibn Rusyd
yang memberikan pembelaan kepada para filosof peripatetik dari kritikan
al-Ghazali.
Kajian Harun tentang aspek filsafat dalam Islam, menurut Prof. Rasjidi,
merupakan aspek yang sangat negatif, khususnya bagi mahasiswa IAIN tingkat
pertama.
Dalam kritiknya, Rasjidi mengupas secara tajam kekeliruan pemikiran Ibnu
Rusyd, al-Farabi, dan Ibnu Sina.
Filsafat Islam, kata Prof. Rasjidi, adalah suatu usaha untuk mempertahankan
aqidah Islam dengan mengambil bahan dari filsafat Yunani yang tidak
bertentangan dengan Islam. Teori al-Farabi dan Ibnu Sina tentang emanasi
(pancaran) bertentangan dengan Islam, yang menegaskan, bahwa Allah
menciptakan alam dengan kemauan-Nya, bukan melalui pancaran. Meskipun
mengakui kebaikan niat baik Ibnu Rusyd dalam membela filosof - yakni untuk
menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan akal - tetapi Rasjidi
menilai teori Ibnu Rusjd tentang kekekalan alam sudah usang untuk abad
ke-20. "Kelihatan sekali bahwa Dr. Harun Nasution tidak mengikuti
perkembangan ilmu cosmology astrophysic, sehingga ia mempertahankan pendapat
Ibnu Rusyd yang sudah usang itu," tulis Prof. Rasjidi.
Itulah studi kritis Prof. Rasjidi terhadap aspek filsafat dalam buku "Islam
Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya" karya Prof. Harun Nasution. Rasjidi
menulis kritiknya ini pada tahun 1975. Bisa dikatakan, kajian Hamid Fahmy
Zarkasyi lebih maju selangkah lagi dari apa yang telah dilakukan oleh Prof.
Rasjidi, karena Hamid Fahmy sudah menyentuh aspek "framework" dan cara
pandang. Bahkan, Hamid menawarkan perspektif baru dalam studi filsafat Islam
yang belum ditawarkan oleh Prof. Rasjidi sebelumnya.
Kajian-kajian ilmiah dan serius tentang berbagai bidang keilmuan Islam
(Ulumuddin) saat ini merupakan proyek yang sangat mendesak bagi umat Islam.
Apalagi, 30 tahun setelah benih orientalisme ditanamkan oleh Prof. Harun
Nasution, cengkeraman orientalis dalam studi Islam sudah semakin merambah ke
berbagai bidang studi-studi lain, baik dalam studi agama-agama maupun dalam
studi Al-Quran. Belum lagi dengan masuknya 'proyek-proyek pesanan'
negara-negara dan LSM Barat dalam studi dan pemikiran Islam. Masuknya studi
kritis Al-Quran dan mata kuliah hermeneutika, misalnya, tidak bisa dianggap
hal yang enteng.
Penggunaan epistemologi relatif dalam studi agama di Ushuluddin telah
membongkar framework studi agama-agama dalam tradisi Islam yang berbasis
pada keimaman Islam.
Ketika mengisi satu seminar di Yogyakarta pada 18 Agustus 2006 lalu, seorang
peserta menyatakan, bahwa dalam studi ilmu-ilmu agama, metodologi Barat
lebih baik dibandingkan dengan metodologi Islam. Pernyataan semacam ini
sudah sering disampaikan dalam berbagai buku dan kesempatan. Padahal,
biasanya yang mereka maksud dengan 'metodologi' yang baik adalah dalam soal
teknik penulisan. Misalnya, karena banyak catatan kakinya, maka suatu
tulisan disebut ilmiah dan bagus.
Kita tidak menolak metode semacam ini. Bahkan, perlu memberikan apresiasi
terhadap ketekunan dankesungguhan para orientalis dalam melakukan penelitian
dan penulisan tentang Islam. Terutama dengan kesungguhan mereka dalam
menghimpun literatur-literatur Islam.
Tetapi, kita juga perlu senantisa kritis, bahwa dalam metodologi atau lebih
tepatnya framework kajian agama, ada perbedaan yang mendasar antara Islam
dengan para orientalis pada umumnya. Bagi seorang Muslim, belajar agama
bertujuan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang dapat meningkatkan
iman dan ibadah kepada Allah. Sebab, tidaklah manusia diciptakan kecuali
hanya untuk beribadah kepada Allah. (QS
51:56).
Seorang Muslim yakin, bahwa mencari ilmu itu sendiri adalah kewajiban dan
merupakan ibadah. Karena itu, kita diajarkan untuk senantiasa berdoa,
mudah-mudahan kita dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang
manfaat adalah ilmu yang menghasilkan dan memperkuat keimanan, dan bukan
ilmu yang menambah keraguan dan kebingungan, serta semakin menjauhkan diri
dari ibadah kepada Allah.
Metode studi agama cara Islam ini tentu berbeda dengan metode para studi
agama 'gaya Barat' yang lebih diarahkan untuk menjadi 'ilmuwan dan pengamat
keagamaan'. Karena itu, dalam model studi seperti ini, para dosen tidak
mempersoalkan apakah mahasiswa itu sesat atau benar. Suatu skripsi atau
tesis tetap diluluskan jika dianggap sudah memenuhi syarat metode penulisan
ilmiah, tanpa peduli apakah karya ilmiah itu benar atau salah dari segi
isinya dalam pandangan Islam. Bahkan, banyak yang sudah bersifat skeptis dan
agnostik terhadap kebenaran, dengan menyatakan, bahwa manusia tidak akan
tahu kebenaran sejati, yang tahu kebenaran hanya Allah. Tentu saja ini
sangat keliru, sebab Allah telah menurunkan wahyu-Nya kepada manusia
melalui Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk bisa membedakan mana yang benar
dan mana yang salah.
Kita berharap para dosen di perguruan tinggi Islam dan para pejabat
Departemen Agama sadar akan amanah berat yang mereka pikul saat ini,
sehingga mereka tidak bersantai-santai atau bermain-main dalam hal ilmu
agama.
Mereka perlu sadar, bahwa upaya untuk meruntuhkan Islam yang sangat
strategis adalah dengan cara merusak konsep-konsep keilmuan Islam. Itulah
yang sejak berabad-abad lalu dilakukan oleh para orientalis.
Dalam pasal 2, Perpres No 11 tahun 1960, tentang pembentukan IAIN
disebutkan, bahwa tujuan pembentukan IAIN adalah: "IAIN tersebut bermaksud
untuk memberi pengadjaran tinggi dan mendjadi pusat untuk memperkembangkan
dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam."
Jadi, sesuai dengan niat mulia sejak awalnya, perguruan-perguruan tinggi
Islam harus menjadi pusat pengembangan dan pendalaman ilmu tentang agama
Islam. Tentu, sebagai umat Islam Indonesia, kita berharap, dari
kampus-kampus ini lahir para cendekiawan dan ulama yang berilmu tinggi dan
taat kepada Allah. Untuk itu, agar menjadi kampus Islam yang benar-benar
sehat, segala macam jenis kuman dan virus-virus yang merusak ilmu-ilmu Islam
harus mulai dikaji, diteliti, untuk selanjutnya 'dijinakkan' dan
diamankan'.
Cita-cita mulia itu tidak akan terwujud, jika civitas academica di kampus
Islam tidak bisa membedakan manayang 'obat' dan mana yang 'racun'; mana ilmu
yang bermanfaat dan mana ilmu yang madharat. Jika tidak paham atau tidak
peduli dengan masalah ini, bisa jadi, kampus yang semula didirikan dengan
niat begitu mulia, akhirnya secara tidak sadar sudah dibajak oleh para
orientalis. Wallahu a'lam. (Depok, 25 Agustus 2006/
<http://hidayatullah.com/mambots/editors//> www.hidayatullah.-com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio
Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.-com
IMPORTANT NOTICE:
The information in this email (and any attachments) is confidential.
If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the
information.
If you have received this email in error, please immediately notify me by
"Reply" command
and permanently delete the original and any copies or printouts thereof.
Although this email and any attachments are believed to be free of any virus
or
other defect that might affect any computer system into which it is received
and opened,
it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free
and no responsibility
is accepted by American International Group, Inc. or its subsidiaries or
affiliates either
jointly or severally, for any loss or damage arising in any way from its
use.