ingpo keur nu sok tulas tulis....

jb
 

 



22 Desember 2006 
Gerakan Syahwat Merdeka Mengepung Indonesia 
muhammad subarkah 

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater Kecil
Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja
 Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair Taufiq Ismail yang
tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di dekat Taufiq, ia
menyalaminya.
''Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media massa
Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan kalau
di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi, di sini malah diputar
pada prime time,'' kata si bule sembari memegang tangan Taufiq. Yang
disalaminya pun membalas dengan senyum simpul. ''Terima kasih Tuchrello.
Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak mengambil contoh negara Anda,''
jawab Taufiq.
Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, direktur
Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ''Bayangkan, mereka saja resah
atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi, kok kita tidak ya?''
ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.
Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan kalangan
Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok
nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan, Taufiq lugas
menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa.
Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia
dikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! ''Gerakan syahwat merdeka ini tak
bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi, bekerja
sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa
mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa
cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,'' kata Taufiq dalam pidatonya

Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh
dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang memuat pidato
Taufiq Ismail.
Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu
berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran,
menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur tepekur
di kursinya.
Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa
merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan
mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat merdeka' itu.
Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini.
Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks
bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para
penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP
 Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.
''Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan
televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2
juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah
tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Fransisco, maupun Klaten,
' tegasnya.
Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku
sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan
karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik
menulis wilayah 'selangkangan dan sekitarnya' mayoritas perempuan. ''Dalam
hal ini ada kritikus Malaysia berkata, 'Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia
berani-berani. Kok mereka tidak malu?'' ungkap Taufiq Ismail.
Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno.
Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna
narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini
dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks,
narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.
Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki
panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan
dokter praktisi aborsi.
''Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta
setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di
negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan
faktor-faktor di atas,'' tandas Taufiq Ismail.
Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam
gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah pihak
ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu kekurangan RUU
ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap
anak-anak yang jumlahnya 60 juta.
Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan
anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam
undang-undang.
Sastra ganjil
Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan, saat
ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa tiba-tiba ada
sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya pornografi.
Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah sengaja atau tidak, mereka
sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama saja dengan pronografi.
''Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang
Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra.
Ramadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya membaca novel tersebut.
Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja.'' ''Saya kemudian
berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan? Malah
lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan seorang rohaniwan, dia malah
memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin tidak mengerti,'' tutur NH Dini.
Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang
kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya yang
'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal selangkangan. Dominasi ide
hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan rakyat yang berbudi
diabaikan.
''Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila
dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi penurunan
mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini mengepung kita,
' tandas Al Azhar.



Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail
asp?id=276485&kat_id=3
 

Attachment: IMSTP.gif
Description: GIF image

Kirim email ke