Supaya rada "haneut", bongan mani tiiseun kieu, ieu aya wartos ti koran
Jawa Pos, soal urang Islam & Yahudi babarengan nyieun Radio di Bristol
Inggris. Radiona ge aranna Radio "Salaam Shalom". Wartos ieu, bareng jeung
wartos soal Arab Muslim nu jadi mentri di kabinet Israel ayeuna (Di Israel
aya WNI(srael) nu etnik Arab jeung Muslim), lumayan mere harepan, supaya
dunya teh langkung aman jeung tengtrem ....

Wartosna nyanggakeun :

Kamis, 08 Feb 2007, Jawa Pos

Belanja Daging Halal pun Jadi Bahan Liputan

Radio yang dikelola secara bersama oleh komunitas muslim dan Yahudi di
Bristol, Inggris, mendapat respons hangat dari publik. Mereka ingin
saling memahami mengapa berbeda sambil tetap bersikap netral soal
konflik Israel-Palestina.

NURANI SUSILO, London

"Dari Bristol, Inggris, pemeluk Islam dan Yahudi berbicara bersama.
Inilah Radio Salaam Shalom."

Itulah salam pembuka Radio Salaam Shalom. Radio yang didirikan
komunitas muslim dan Yahudi di Inggris itu pertama siaran melalui
internet Kamis malam 1 Februari lalu.

Salam tersebut kini mulai akrab di telinga para pendengar di seluruh
dunia. Meski baru berusia beberapa hari, radio itu menarik banyak
peminat dan pendengar. Tidak hanya di Inggris, tapi juga dari banyak
negara lain. Alasan utamanya, radio komunitas itu didirikan dan
dijalankan bersama-sama oleh relawan dari masyarakat Islam dan Yahudi.

Mungkin dari namanya, Salaam Shalom, sudah bisa memberikan gambaran
apa yang menjadi misi radio internet itu. Salaam adalah ucapan salam
secara Islam, sedangkan shalom adalah ucapan salam ala Yahudi.

"Kami ingin radio ini menjadi jembatan antara masyarakat Islam dan
Yahudi. Kami ingin radio ini bisa mendorong mereka mendiskusikan
berbagai persoalan yang ada," kata Farooq Sidique.

Menurut Farooq, pengurus Asosiasi Budaya Muslim Bristol yang juga
salah seorang pendiri radio, selama ini hubungan antara pemeluk Islam
dan Yahudi sering terbelah. Apalagi, dengan adanya konflik
Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun.

Dia menyamakan Radio Salaam Shalom itu dengan runtuhnya Tembok Berlin,
pembatas yang membelah warga Berlin -menjadi Berlin Barat dan Berlin
Timur- di Jerman hingga 9 November 1989. Sebab, ada pandangan bahwa
masyarakat Islam dan Yahudi tidak bisa berhubungan secara harmonis.
"Radio ini bisa membuktikan sebaliknya. Luar biasa rasanya," ujar Farooq.

Ide kerja sama itu bermula dari pertemuan Farooq dengan Martin Vegoda,
penganut Yahudi progresif, sekitar sembilan bulan lalu. Dua warga
Bristol itu bertanya-tanya apakah radio komunitas bisa menyampaikan
pesan kepada dunia akan adanya kesamaan antara Islam dan Yahudi.

Gagasan pendirian radio itu kemudian dimatangkan dalam berbagai
diskusi dengan para mahasiswa di Universitas Bristol dan Universitas
Inggris Barat. Kebetulan Vegoda bekerja di Universitas Bristol.

Ketika proposal membangun radio bersama antara masyarakat muslim dan
Yahudi diajukan, pemerintah menyambut baik. Salah satu badan
pemerintah, Dana Pembinaan Masyarakat Beragama, membantu 50 ribu pound
atau sekitar Rp 888 juta. Bantuan itu digunakan untuk pelatihan staf
dan pembelian alat.

Namun, upaya mendirikan radio tidak selancar yang diharapkan.
Peralatan yang dibeli tidak bisa dipakai karena terjatuh ketika dalam
pengiriman. Tidak hanya satu, tetapi semua peralatan radio tidak bisa
dipergunakan. Perekrutan manajer radio juga memakan waktu enam bulan,
sebelum akhirnya menemukan manajer dari Amerika Serikat.

Sayangnya, manajer yang direkrut itu mengundurkan diri hanya beberapa
hari setelah bekerja di radio. Dia tidak menyebutkan alasan persisnya.
Tapi, dia mengatakan mundur karena alasan pribadi. Peristiwa itu
berlangsung hanya empat pekan sebelum radio diluncurkan.

Pengelola lalu membeli peralatan baru dan menunjuk Kyle Hannan, orang
yang selama ini terlibat di pelatihan, menjadi manajer. Ketika
persoalan peralatan dan personalia teratasi, barulah Radio Salaam
Shalom memfokuskan diri pada materi siaran.

Selain acara musik dan diskusi udara, pengelola menyiapkan acara
budaya yang mengupas sisi kehidupan sehari-hari pemeluk Islam dan
Yahudi. Misalnya, bagaimana warga muslim berbelanja daging halal.
Konsep halal menurut Islam itu ternyata berbeda dengan kosher (sebutan
halal untuk Yahudi).

Akhirnya dengan awak 35 orang, dari sudut kota Bristol, Radio Salaam
Shalom resmi mengudara melalui internet pada 1 Februari. Medium
internet dipilih karena daya jangkaunya yang mendunia. Siapa pun yang
memiliki komputer dan sambungan internet bisa mendengarkan siaran
radio ini 24 jam setiap hari melalui alamat www.salaamshalom.org.uk.

Siaran utama radio itu berlangsung pukul 15.00 hingga 21.00. Pada slot
siaran itu pendengar bisa mengikuti diskusi udara yang melibatkan para
pendengar dan acara seni budaya. Selebihnya acara berisi musik dan
lagu bernapaskan Islam dan Yahudi.

Salaam Shalom juga memberi kesempatan pendengar di seluruh dunia
berpartisipasi aktif melalui radio komunitas. Pendengar diminta
merekam suara berbagai hal, dari isu budaya hingga politik mutakhir
dalam file MP3. File suara itu dikirim melalui surat elektronik
(email) ke penyiar radio, yang kemudian menyiarkan rekaman tersebut.

Ketua Dewan Manajemen Radio Salaam Shalom Peter Brill mengatakan,
radio itu membuka peluang bagi masyarakat muslim dan Yahudi belajar
satu sama lain dan saling bekerja sama. "Lebih penting lagi, kami
berkesempatan memoderasi mayoritas muslim dan Yahudi di Inggris, dan
mungkin di seluruh dunia," tegas Brill.

Bagaimana Radio Salaam Shalom menyikapi konflik antara Israel dan
Palestina di Timur Tengah? Farooq mengatakan, pihaknya banyak menerima
pertanyaan itu. Dia mengatakan, Radio Salaam Shalom tidak mengambil
posisi dalam masalah Israel-Palestina. "Kami tidak memihak salah satu
pihak. Apa yang kami lakukan adalah memberi kesempatan kepada
masyarakat membahas persoalan tersebut," kata Farooq.

Martin Vegoda menambahkan, radio tersebut pada intinya adalah forum
dua masyarakat, Islam dan Yahudi, yang ingin memahami satu sama lain
tentang berbagai persoalan dan perbedaan di antara mereka. "Paling
tidak, kami tahu apa yang membuat kami berbeda," tegas Vegoda.

Farooq menjelaskan, selama ini mayoritas pemeluk Islam dan Yahudi yang
moderat lebih banyak berdiam diri. Kelompok mayoritas itu, menurut
dia, bukan tokoh-tokoh yang setiap hari menghiasi halaman utama media
dunia.

"Orang-orang selalu mengatakan orang biasa seperti kami tidak bisa
mengubah dunia. Kami akan membuktikan bahwa kami bisa. Dan, untuk
mewujudkannya, kami hanya membutuhkan beberapa orang," tandas Farooq
optimistis.

Masih terlalu dini untuk menilai sukses atau tidaknya misi Radio
Salaam Shalom. Tetapi, setidaknya kehadiran radio internet itu
mendapat perhatian besar dunia. Situs berita radio di Inggris, Radio
Today melaporkan, Radio Salaam Shalom itu diberitakan hampir semua
media internasional. Stasiun televisi BBC juga menayangkan liputan
khusus ketika radio itu siaran untuk kali pertama. (*)

Kirim email ke