Mangga ka para wargi nu salse, nu aya di Bandung, nu hoyong uninga,
  aya uleman anu ditangkodkeun dihandap.
   
   
  -dul-
  

nadir attar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  From: nadir attar <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 11 Feb 2007 18:08:07 -0800 (PST)
Subject: [halalbihalal_kusnet] UNDANGAN Menelisik Kembali Sejarah Kota Bandung 
"BANDUNG PISAAN!"

  PRESS RELEASE & UNDANGAN
   
   
  kembang carita “BANDUNG PISAAN!”
   
  “AWAL MULA BANDUNG & KONTROVERSI DIPATI UKUR”
   
   
  Mahanagari dan LawangBuku menyajikan obrolan yang ketiga road show goes to 
campus show Kembang Carita “BANDUNG PISAAN!”, menelisik kembali Sejarah Bandung 
yang ditujukan untuk khalayak umum khususnya anak muda saat ini. Kali ini 
membuka halaman sejarah hubungan antara Bandung dengan Mataram: 
   
  Moderator           : Satria Yanuar Akbar (Jajaka Bandung tahun 2002)
  Pembicara           : 
  - Ibnu Hijar Apandi (Redaktur Majalah Sunda Cupumanik)
  - Dr. A. Sobana Hardjasaputra (Sejarawan, Penemu Hari Jadi Kota Bandung, 
    Penulis Buku Sejarah Kota Bandung)
   
  Tempat              : Ruang Pembantu Rektor II Universitas Padjajaran, 
    Jln. Dipati Ukur 35, Bandung
  Hari/Tanggal      : Senin / 19 Februari 2007
  Waktu               : Pukul 09.00 – selesai
  Pendukung Acara : 
  Pameran literatur tentang Dipati Ukur, pemutaran Film Dokumenter “Tatar 
Ukur”, Stand Produk Buku Sunda dan Merchandise khas Bandung.
   
  Acara ini diselenggarakan oleh LawangBuku dan Mahanagari, didukung oleh Pusat 
Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Lembaga Penelitian 
Universitas Padjadjaran (KP2W Lemlit Unpad), Majalah Bulanan Basa Sunda 
Cupumanik, Pusat Studi Sunda, Komunitas Tatar Ukur, Rumah Baca Buku Sunda, 
Kampus Pikiran Rakyat, STV, dan Bandung Magazine.com.
   
  Informasi: Deni Rachman (022-703 84 797) Sri Pujiyanti (0811214632)
   
              *)Acara ini dimeriahkan pula dengan doorprize dari pihak 
penyelenggara. 
   
  Kasang Tukang/ Latar Belakang
  Setelah melalui dua diskusi pertama yang bertajuk “Danau Purba Bandung, ada 
ga sih?” di SMA 3 Bandung (15/01/2007) dan “Bandung & Sunda Buhun” 
(18/01/2007), Talkshow (kembang carita) ketiga ini akan melanjutkan kembali 
perjalanan yang tak kalah menariknya yaitu seputar periodisasi masuknya 
pengaruh Mataram Islam hingga sebelum Kolonial asing mencengkram tatar Bandung. 
Kali ini talkshow akan mengangkat tokoh Dipati Ukur sebagai fokus utama dan 
pelaku sejarah yang menimbulkan banyak kontroversi, serta bagaimana hubungannya 
dengan perkembangan wilayah Bandung saat itu. 
              Saha ari Dipati Ukur teh? Bisa jadi pertanyaan itu akan muncul di 
benak anak muda zaman sekarang, atau bisa juga tidak. Dipati Ukur di kota 
Bandung tentu sudah tidak asing karena telah diabadikan menjadi sebuah jalan 
yang menghubungkan pertemuan dua titik persimpangan Jalan Ir.H. Juanda atau 
Dago. Bandung selain banyak julukan - yang sepatutnya dibedah – seperti Parisj 
van Java, Kota Kembang, juga wilayah yang disebut-sebut sebagai Tatar Ukur. Apa 
sebetulnya pencantuman kata Ukur dan siapakah sebenarnya Dipati Ukur itu.
              Dalam disertasi (alm.) Prof. Edi S. Ekadjati yang mengupas cerita 
Dipati Ukur, terdapat delapan versi sejarah tentang Dipati Ukur. Tokoh Dipati 
Ukur dari kedelapan versi itu menimbulkan multitafsir: pemberontak, pahlawan, 
atau seorang pengecut yang melarikan diri dari pengembangan tugas ketika 
peristiwa penyerangan VOC di Jayakarta. Dalam Sundakala, cuplikan sejarah sunda 
berdasarkan naskah Panitia Wangsakerta yang ditulis oleh arkeolog (alm.) Prof. 
Dr. H. Ayatrohaedi sempat menyebutkan pula peran Dipati Ukur sebagai pemimpin 
pasukan dari Sunda untuk membantu Bahureksa, pasukan dari Mataram. 
              Menurut Ensiklopedi Sunda yang disusun oleh Ajip Rosidi, dkk., 
Dipati Ukur adalah tokoh sejarah yang menjadi bupati Ukur dan bupati wedana 
Priangan serta ikut menyerang Jayakarta (Jakarta sekarang) pada tahun 1628. 
Menurut sumber tradisi, dia yang semula bernama Pangeran Cahyana adalah cicit 
dari Sunan Jambu Karang, penguasa Banyumas. Sebagai bawahan Susuhunan Mataram, 
dia ditempatkan di daerah Ukur yang baru saja dikuasai Mataram (1620). Ia 
menikah dengan Nyai Gedeng Ukur, puteri Bupati Ukur Dipati Agung, atau cicit 
raja Pakuan Pajajaran. Kemudian menggantikan bupati wedana Priangan 
menggantikan bupati Sumedang Rangga Gempol (1620-1625). 
              Tatkala tentara Mataram menyerang Jayakarta untuk mengusir 
Kumpeni, dia bersama pasukannya sebanyak 4.000-4.500 orang diikutsertakan dalam 
pengepungan kota itu. Secara keseluruhan pengepungan kota itu gagal sehingga 
pasukan pimpinan Dipati Ukur kembali ke daerah mereka. Sejak itu, Ukur bersikap 
melepaskan diri dari ikatan Mataram, dan memperkuat pertahanan di daerahnya 
(1629). 
              Bagaimana nasib Dipati Ukur dan rakyatnya selanjutnya? Apakah 
Mataram menghukum seluruh rakyat Ukur dan memancungnya? Lalu bagaimana 
kelanjutan wilayah Ukur dan bagaimana petilasan Dipati Ukur yang saat ini 
banyak dipercayai sebagai kuburan Dipati Ukur di banyak tempat seperti Ujung 
Berung, Ciparay, Banjaran, dan lain sebagainya itu? Apakah kota Bandung 
sekarang juga adalah bekas wilayah Ukur yang dahulu dipimpin oleh Dipati Ukur?
              Nah, tentu saja jangan lewatkan kesempatan ini sebagai ajang 
untuk kembali menelisik sejarah Bandung zaman baheula. Menambah pengetahuan dan 
cara kita ke depan untuk menyikapi Bandung. 
  Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Tak lupa disediakan doorprize dari 
Lawang Buku dan Mahanagari...
   
  Informasi: Deni Rachman (022-703 84 797) Sri Pujiyanti (0811214632)
   
    
---------------------------------
  Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.  

 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Kirim email ke