Daun Pepaya dan Temulawak Anti-DBD 

SUATU hari, Maxentius Umbu Hina (37) alias Max membawa
sebotol minuman berwarna hijau untuk diberikan kepada
kenalannya yang terjangkit demam berdarah dengue
(DBD). Sayang, istri dari temannya itu menolak. Max
akhirnya hanya menunggui saja temannya yang hanya
beberapa jam kemudian meninggal.

Max pulang dengan sedih. Ramuan penyembuh DBD yang
telah ia teliti sejak 1993 dan telah menyembuhkan
beberapa tetangganya dari DBD sejak tahun 2001, tidak
dapat diterima temannya. 

Namun, Max tidak putus asa memberikan pertolongan pada
penderita DBD. "Meskipun masih sedikit orang yang
minum ramuan ini, sejak 2001, jumlahnya tidak lebih
dari 100 orang," kata Max yang hanya memperkenalkan
ramuan itu pada teman-temannya.

Semua teman-temannya yang meminum ramuannya telah
sembuh dalam waktu kurang dari 24 jam. Itulah yang
menyebabkannya terus memperkenalkan ramuan ini.

MINUMAN berwarna hijau pekat yang nyaris seperti air
lumut itu, merupakan perasan air daun pepaya,
temulawak, meniran, dan gula merah.

Max yang alumni Teknologi Pangan dan Gizi, Universitas
Bandung Raya, itu sudah meneliti pepaya sejak 1993.
Tahun 1994, dari hasil penelitiannya tentang pepaya,
ia membuka bisnis penyadapan getah pepaya di Boyolali,
Jawa Tengah.

Bergelut terus-menerus dengan pepaya menyebabkan ia
tahu betul sifat-sifat pepaya. Dari salah satu
penelitiannya, ia menemukan bahwa enzim dalam getah
pepaya mampu merusak protein mikroba.

Jika protein sudah rusak, maka mikroba akan kehilangan
fungsinya, lalu mati. Enzim yang terkandung dalam
pepaya adalah Peptidasi A, Peptidasi B, dan Cimo
Papaine.

Pada saat bersamaan, wabah DBD mulai muncul di
berbagai tempat. Ia pun langsung menghubung-hubungkan
hasil penelitiannya dengan kebiasaan orang Indonesia
bagian timur yang biasa menyantap daun pepaya untuk
menyembuhkan malaria. Ia pun menduga bahwa pepaya bisa
juga menyembuhkan DBD.

DBD disebabkan masuknya virus yang terdapat di air
liur nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini senang hidup di
air tergenang yang bersih. DBD dapat menyebabkan
kematian jika tidak segera diatasi.

Max melakukan penyempurnaan dalam penelitiannya. Enzim
pepaya yang bisa merusak protein mikroba, ia campurkan
dengan temulawak atau kuning gede. Temulawak
bermanfaat untuk menstabilkan tekanan darah.

"Karena yang diserang adalah darah maka akan ada
gangguan pada tekanan darah dan harus ada yang bisa
menstabilkannya," ujar Max.

Kondisi penderita DBD biasanya lemah karena hanya
sedikit makanan dan minuman yang mampu mereka
konsumsi. Padahal untuk melawan serangan virus DBD
yang mengonsumsi darah, si pasien harus memproduksi
darah lebih banyak. Produksi dilakukan oleh hati dan
itu membutuhkan energi yang sangat banyak. Untuk
meningkatkan energi dengan cepat, tubuh manusia
membutuhkan glukosa yang bisa diambil dari gula merah.

Max juga memberikan daun dan batang meniran sebagai
agen pendeteksi serangan virus. "Dalam meniran
terdapat suatu zat yang bisa mendeteksi adanya
serangan virus. Informasi itu akan disampaikan pada
antibodi untuk segera mempersiapkan pertahanan, salah
satunya dengan meningkatkan produksi darah," tutur
Max.

Pembuatan ramuan ini tidaklah sulit. Pilihlah daun
pepaya yang mengandung banyak getah dan enzim perusak
protein. Biasanya daun tersebut adalah daun ketiga
dari pucuk pohon pepaya.

Ambil tiga helai daun pepaya, lalu diblender, dan
diperas. Perasan dicampurkan dengan empat sendok
tepung temulawak, gula merah, dan meniran. "Semua
bahan direbus, tetapi tidak boleh sampai mendidih agar
enzim tidak rusak," kata Max.

Ramuan ini sebaiknya diminumkan sesegera mungkin pada
pasien sebanyak 250 mililiter. "Bagi bayi, sebaiknya
ibunya yang meminum ramuan dan bayinya menyerap enzim
dari air susu ibunya," kata Max.

Ramuan ini tidak berbahaya dan tidak menimbulkan efek
samping seperti mengeraskan feses dan mengganggu
pencernaan. Tetapi, perempuan hamil tidak bisa
meminumnya karena ramuan ini menyebabkan keguguran
kandungan.

"Untuk penderita diabetes sebaiknya melakukan
konsultasi pada dokter untuk menstabilkan tekanan gula
darahnya," kata Max.

Elita Estrela (25), pernah menggunakan ramuan ini pada
tahun 2004, setelah ia dirawat selama seminggu di
Rumah Sakit Cibabat, Bandung.

Hari ketiga dirawat di rumah sakit, trombositnya
tinggal sekitar 30.000 per milimeter kubik darah. Saat
itu, ibunya langsung mencari pertolongan lain. "Kami
mendapat informasi ramuan pepaya, temulawak, meniran,
dan gula merah bisa menyembuhkan," kata Elita. (Y09)



 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke