Tina majalah Tempo minggu ieu, soal Cina nu jadi raksasa ekonomi Dunya.
Cenah di taun 2050 diramalkeun bakal ngelehkeun Amerika. Ari nagara urang
kumaha nya? ....tambah kapencet we meureun ....

Wartosna nyanggakeun:


Di Bawah Cengkeraman Sang Naga

Produk Cina menggerus Indonesia laksana air bah. Emperan kaki lima hingga
pusat perbelanjaan dipenuhi barang dari Negeri Tirai Bambu. Cina kini
menjadi pusat pabrikasi dunia. Potensi buruh murah dan produksi massal
menggenjot daya saing mereka melaju melebihi negara mana pun.
Detak ekonominya keras berdegup sejak 1992 saat Deng Xiaoping mengibar­kan
reformasi ekonomi berorientasi pasar. Hanya dalam dua dasa­warsa, negeri
itu menjelma menjadi kekuatan keempat ekonomi dunia.

LIMA tahun lalu, bisnis alat pemanas nasi yang dijalankan Toto Dirgantoro
mendadak sempoyongan. Magic jar yang diimpornya dari Korea Selatan
babak-belur dihajar produk Cina, yang harganya jauh lebih murah.

Bayangkan saja, untuk produk Korea, harga yang harus dibayarnya US$ 9-11
(Rp 81-99 ribu) sebiji. Sedangkan produk sejenis dari Cina cuma dibanderol
US$ 7. Padahal, dari sisi kualitas, kedua produk itu tak jauh beda.
Konsumen pun kontan berpaling. ”Saya jelas rugi,” kata Direktur PT Jakarta
Cargotama ini, Rabu pekan lalu.

Bukan cuma itu yang membuat kantong Toto terbakar. Bahan baku besi beton
yang diimpornya sejak 1997 dari Ukraina dan Rusia ikut tergerus produk
sejenis dari Cina. Para distributor, konsumen langganannya, lebih melirik
produk asal Negeri Tirai Bambu. Maklum, harga bahan baku besi beton asal
Eropa Timur lebih mahal US$ 40-50 per metrikton.

Terpukul oleh dua kejadian pahit itu, Toto akhirnya memutuskan banting
setir. Cina menjadi kiblat baru baginya untuk mendatangkan barang impor.
Pemanas nasi, bahan baku besi beton, hingga pemutar cakram DVD diburunya
hingga ke Guangzhou, yang butuh waktu terbang sekitar 4 jam dari Jakarta.

Dari kota di Provinsi Guangdong itulah, Toto kini biasa mengimpor pemanas
nasi hingga 10 kontainer per bulan, senilai total Rp 4,4 miliar. Belum
lagi impor pemutar DVD 3-4 kontainer, plus bahan baku besi beton 15 ribu
metrikton per bulan.

Toto hanyalah potret kecil dari betapa tak berdayanya kita menghadapi
serbuan produk Cina. ”Banyak importir Indonesia kini berkiblat ke sana,”
katanya. Tak mengherankan, kini rasanya hampir tak ada ruang terbebas dari
produk buatan Cina. Mulai dari peniti hingga jepit rambut. Dari payung
hingga televisi, pendingin ruangan, dan komputer. Semua tak luput dari
jamahannya.

Itu sebabnya, nilai impor produk Cina dari waktu ke waktu terus
membengkak. Tujuh tahun lalu, nilai komoditas nonmigas Cina yang masuk ke
Indonesia baru sekitar US$ 1,7 miliar. Jauh di bawah nilai impor asal
Jepang yang mencapai US$ 5,4 miliar.

Tapi lihatlah sekarang. Keadaan berbalik 180 derajat. Posisi Jepang yang
dulu selalu menempati peringkat pertama pasar impor Indonesia, sejak
September 2006 tergusur. Dengan nilai impor US$ 525,5 juta, untuk pertama
kalinya impor nonmigas dari Cina menggusur Jepang (US$ 434,2 juta).

Dominasi Cina berlanjut hingga akhir tahun lalu. Berdasarkan data
sementara Badan Pusat Statistik, total impor pro-duk Cina sepanjang tahun
lalu, yang mencapai US$ 5,5 miliar (Rp 49,5 triliun), juga lebih besar
ketimbang Jepang (US$ 5,48 miliar). Ini berkat pertumbuhan mengesankan
sebesar 30 persen selama tujuh tahun terakhir.

Adapun lima barang favorit yang paling kerap diimpor adalah mesin dan
perlengkapan listrik, buah-buahan, sayuran, barang plastik berbentuk
mainan, serta bahan kimia organik.

Serbuan produk Cina itu, menurut Adi Harsono, Presiden Indonesian Business
Association of Shanghai, tak lepas dari keterampilan negara itu dalam
membenahi diri, sehingga berhasil menjadi pusat pabrikasi dunia. Sedangkan
Indonesia, kata Adi, justru gagal mengerjakan ”pekerjaan rumahnya” dengan
baik.

Pengawasan barang impor di sejum-lah pintu masuk pelabuhan sangat lemah.
”Akibatnya, produk Cina yang masuk tidak terkontrol,” kata suami Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu itu. Buntutnya, barang selundupan asal Cina
pun kian merajalela.

Aryanto Sagala, Direktur Tekstil dan Produk Tekstil Departemen
Perindustrian, mengakui adanya dugaan penyelundupan tadi. Indikasinya,
data nilai perdagangan keluaran BPS berbeda jauh dengan data yang dilansir
kepabeanan Cina.

Data 2005, misalnya. Ketika itu, nilai impor tekstil yang masuk ke
Indonesia US$ 220 juta. Setelah dicek di kepabeanan Cina, nilai tekstil
tujuan Indonesia ternyata mencapai US$ 770 juta. Perbedaan angka ini
terjadi sejak 2002.

Peristiwa yang sama terjadi juga pada produk elektronik. Abdul Wahid,
Direktur Industri Elektronika Departemen Perindustrian, mensinyalir 40
persen produk elektronik dari Cina yang beredar dua tahun lalu merupakan
hasil selundupan.

Jika begitu kondisinya, jelas saja industri tekstil dan elektronik lokal
ngos-ngosan dalam persaingan menghadapi produk Cina. Itu sebabnya,
produsen domestik pun lebih suka mengekspor produknya, ketimbang
menjualnya di pasar dalam negeri.


l l l

MARAKNYA produk Cina bukanlah monopoli Indonesia belaka. Berjuta toko di
berbagai penjuru dunia kini tak luput dari serbuannya. Setengah dari
pakaian yang dijual di seluruh dunia dan sepertiga telepon seluler yang
beredar di pasar global diproduksi di Cina.

Berkat penjualan produknya ke berbagai belahan bumi itulah, nilai ekspor
Cina sepanjang tahun lalu melesat ke angka US$ 963 miliar (Rp 8.667
triliun)! Jumlah ini hampir 12 kali lipat nilai ekspor Indonesia pada
2006. Amerika masih merupakan pasar terebesarnya (21 persen). Sisanya
tersebar ke Uni Eropa, Hong Kong, Jepang, dan negara Asia Tenggara.

Dengan pendapatan berlimpah-ruah, negeri seribu kaisar ini memang kian
makmur. Di kancah global, ekonomi Cina kini berjaya di urutan nomor empat
besar dunia. Produk domestik brutonya tahun lalu mencapai US$ 2,7 triliun
(Rp 24.300 triliun), sedangkan cadangan devisanya US$ 1,1 triliun.
Bandingkan dengan PDB Indonesia yang hanya sekitar Rp 2.700 triliun,
dengan cadangan devisa US$ 42 miliar.

Jika menoleh ke belakang, kebangkitan ekonomi Cina sesungguhnya bermula
ketika Deng Xiaoping, pemimpin besar Cina, meniupkan peluit tanda
dimulainya era liberalisasi ekonomi pada 1978. Kebijakan ini ditempuh guna
meningkatkan produktivitas dan standar ekonomi masyarakat. Hasilnya luar
biasa. Pertumbuhan di sektor pertanian dan industri pada 1980-an meningkat
10 persen.

Denyut ekonomi Cina berdetak lebih keras sejak 1992, setelah Deng
menekankan pentingnya reformasi ekonomi yang berorientasi pada pasar.
Pidato yang dikumadangkannya saat berkunjung ke wilayah selatan Cina itu
memicu pergerakan petani dari pedalaman ke kota.

Berbekal kartu tanda penduduk dan uang seadanya, mereka merambah kota
untuk mengisi pembangunan yang sedang giat-giatnya dilakukan. Sejak 1993,
Deng pun kemudian menetapkan 2.000 kawasan ekonomi khusus di negaranya.

Ramuan Deng ternyata mujarab. Naga Asia itu berhasil memangkas laju
inflasi lebih dari setengahnya dalam kurun 10 tahun—tinggal 8 persen pada
awal 1996. Angka kemiskinan pun susut drastis dari 53 persen pada 1981
menjadi tinggal 8 persen pada 2001. Sebaliknya, pertumbuhan ekonominya
tiap tahun meningkat. Tahun lalu bahkan mencapai 10,7 persen—tiga kali
lipat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, yang menjadikannya sebagai
mesin ekonomi terpanas di dunia.

Semua pencapaian itu membuat Cina kian optimistis. Saat berbicara di World
Economic Forum di Davos, Swiss, Januari 2005, Wakil Perdana Menteri Cina
Huang Ju bahkan mengumandangkan PDB negaranya ditargetkan menembus US$ 4
triliun pada 2020. Adapun pendapatan per kapitanya diharapkan mencapai US$
3.000—naik dari saat ini yang besarnya US$ 1.700.

Untuk mencapai cita-cita besar itulah, 300 juta penduduk direncanakan akan
hijrah dari pedesaan guna menyiapkan infrastruktur kota. Tiga tahun
mendatang, setengah penduduk Cina diperkirakan sudah akan menetap di
perkotaan.

Cina sadar, penduduknya yang berjumlah 1,3 miliar—bahkan jauh lebih besar
dari total penduduk Jerman, Prancis, dan Inggris— merupakan pangsa pasar
yang renyah bagi perusahaan-perusahaan multinasional. Bak magnet raksasa,
berbagai industri raksasa dunia berlomba-lomba membenamkan duit
investasinya di sana. Untuk tahun lalu saja, hampir US$ 70 miliar yang
mengalir masuk ke Negeri Tirai Bambu.

Beberapa perusahaan multinasional itu antara lain Wal-Mart, perusahaan
retail terbesar di dunia, juga raksasa produsen ponsel Nokia dan Ericsson.
Itu sebabnya, banyak merek terkenal dunia yang masuk ke Indonesia kini
berlabel Made in China.

Tak cuma menerima investasi, perusahaan Cina juga gencar melebarkan
sayapnya. Salah satu yang menggebrak adalah Lenovo. Pabrikan komputer yang
berdiri sejak 1984 itu secara mengejutkan berhasil mengakusisi divisi
komputer IBM pada Desember 2004.

Akuisisi ini menjadikan Lenovo sebagai perusahaan komputer terbesar ketiga
di dunia pada 2005—naik enam peringkat dari tahun sebelumnya. Pencapaian
ini diraih karena Lenovo diizinkan memakai berbagai merek IBM seperti
ThinkPad, ThinkVision, ThinkCentre, Aptiva, dan NetVista.

Bagaimana dengan aliran modal Cina ke Indonesia? Kehadirannya cukup terasa
di sektor minyak dan gas. Tiga nama yang kini berkibar adalah Petrochina
(perusahaan terbesar kedua di Cina), CNOOC, dan Citic Resources Holdings
Ltd. Consortium, yang baru saja membeli 51 persen saham KUFPEC (Indonesia)
Ltd., unit usaha Kuwait Petroleum Corp, di Blok Seram.

Menurut M. Lutfi, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal, total investasi
Cina di Indonesia memang belum besar. Posisinya baru di urutan ke-16.
Tapi, perlu dicatat: bila seluruh proyek pembangunan pembangkit listrik 10
ribu megawatt berbahan bakar batu bara berjalan, posisinya bisa melonjak
ke lima besar.

Dengan segala kedigdayaannya itu, Jeffrey D. Sach, ekonom Columbia
University, pernah menaksir perekonomian Cina bakal menggusur Amerika pada
2050. Analis Goldman Sachs bahkan meramalkan lebih cepat. Menurut dia,
perekonomian Cina sudah akan melampaui Jepang pada 2015 dan Amerika pada
2039. Sedangkan Jerman sudah akan terjungkal pada 2009.


Yandhrie Arvian


Kirim email ke