kenging ngorowot ti http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/24/Jabar/10592.htm
saptu kamari Forum Sunda Dicipta Belanda Oleh Gani A Jaelani Orang Sunda seharusnya berterima kasih kepada Herbert de Jager. Sebab, sarjana Belanda itulah orang pertama yang menyebut zondase taal (bahasa Sunda) untuk menamai bahasa yang digunakan penduduk sebelah barat Pulau Jawa. Bahasa pada saat itu diyakini sebagai identitas kebudayaan. Suatu kelompok dianggap memiliki kebudayaan yang khas jika berkomunikasi dengan bahasa yang khas pula. Itu terjadi pada abad ke-18, ketika gagasan Sunda sebagai yang berbeda dari Jawa masih garib. Galib sudah orang-orang Barat masa itu melihat Sunda sebagai bagian dari Jawa. Kebudayaan Sunda hanya salah satu varian dari Jawa. Sebab, penduduk di sebelah barat Pulau Jawa yang juga disebut Priangan ini berbicara dengan bahasa yang mirip Jawa. Ada beberapa istilah Jawa yang dipakai, tetapi tidak seluruhnya. Itulah yang menjadi dasar kenapa orang-orang Barat kemudian bersepakat mengelompokkan Sunda sebagai bagian dari Jawa. Adanya bahasa Jawa dalam kosakata Sunda mungkin yang menjadi dasar pandangan mereka. Agaknya pendapat seperti itu banyak dipengaruhi interaksi mereka dengan para bangsawan Sunda. Umumnya, bangsawan Sunda pada masa itu berkomunikasi dengan bahasa Jawa, dengan beberapa istilah Sunda karena bahasa tersebut dianggap lebih berwibawa. Ini bisa dipahami dengan melihat politik ekspansi Mataram semasa Sultan Agung, yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa administrasi kerajaan. Mereka yang berkomunikasi dengan bahasa Sunda yang agak Jawa (atau Jawa yang agak Sunda) itulah yang banyak ditemui para pelancong Barat. Karena Jawa lebih dulu dikenal, dengan mudah mereka mengelompokkan Sunda sebagai bagian dari Jawa. Orang Sunda tidak seluruhnya menak, tentu saja. Karena itu, sebagian dari mereka pun tidak berbicara dengan bahasa yang dipakai para menak itu. Jumlah orang yang berbicara dengan "bahasa yang lain" itu lebih besar, dan banyak tinggal di daerah pegunungan. Keberadaan mereka jarang ditemui para pelancong yang lebih banyak mengunjungi "perkotaan", di mana para menak lebih banyak tinggal. Bahasa yang digunakan orang kebanyakan ini dinamai sebagai Jawa Gunung. Namun, ada juga yang menamainya sebagai bahasa Sunda, seperti Herbert de Jager tadi mungkin. Dua bahasa Jadi, di Priangan pada masa itu ada dua bahasa yang digunakan. Setidaknya itulah yang dilaporkan para pelancong Barat itu. Kata Mikihiro, profesor Jepang yang tergila-gila dengan Sunda itu, Raffles saja pernah dibuat bingung soal ini. Dalam perbandingan kosakata Melayu, Jawa, Madura, Bali, dan Lampung, yang dimuat sebagai lampiran dalam karya monumentalnya, The History of Java, bahasa Sunda tidak dibuatkan tempat tersendiri dalam senarai kata-kata, tetapi dimasukkan ke dalam kolom Jawa. Begitu pula dengan Andreas de Wilde yang menerbitkan studi etnografi tentang daerah Priangan pada 1829. Dalam edisi revisi yang diterbitkan satu tahun kemudian, ia melampirkan daftar kosakata bahasa Sunda. Namun, ia masih ragu menyebut kosakata yang dikumpulkannya sebagai bahasa. Wajar saja kalau dia kemudian mengelompokkan Sunda sebagai bagian dari Jawa. Kenyataan tadi menunjukkan bahwa gagasan mengenai kesatuan Jawa masih cukup kuat. Gagasan bahwa kebudayaan Jawa sangat tinggi masih cukup dominan. Barangkali, justru karena itulah para sarjana Belanda menjadi semakin bernafsu. Didorong oleh semangat mengikis dominasi Jawa, mereka terus bersemangat untuk menemukan Sunda. Penemuan Sunda barangkali akan sedikit mengurangi dominasi Jawa. Selain itu, aktivitas menemukan pada masa itu sangat digandrungi para sarjana. Setiap penemuan akan selalu diiringi dengan aktivitas penamaan. Dan, penamaan adalah bahasa lain untuk penguasaan karena yang dinamai akan selalu berada dalam bayang-bayang pemberi nama. Lihat saja bagaimana marahnya orang Belanda itu ketika sayembara penulisan kamus berbahasa Sunda dimenangi Jonathan Rigg, seorang pengusaha perkebunan teh berkewarganegaraan Inggris yang tinggal di Bogor selatan. Kamus bahasa Sunda pun menjadi bahasa Sunda-Inggris. Akan tetapi, orang Belanda juga sebetulnya tidak benar-benar marah. Sebab, usaha Jonathan Rigg ini baru dilakukan belakangan. Selain itu, kamus yang ditulis Jonathan Rigg ternyata masih banyak kekurangan. Setidaknya itulah yang dikatakan para sarjana Belanda. Mereka lebih menghargai usaha rekan senegaranya, Andreas de Wilde, yang menyusun kamus Sunda 20 tahun lebih awal dari Jonathan Rigg. Andreas de Wilde mengumpulkan kosakata bahasa Sunda selama 10 tahun setelah menerbitkan catatan etnografisnya. Untuk itu, ia tak segan untuk hidup di tengah-tengah mereka. Pada 1842 terbitlah Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda. Sebetulnya, bukan Andreas de Wilde benar yang menyusun, melainkan Roorda, sarjana bahasa-bahasa Timur yang paling berwibawa. Namun, kosakata yang ada dalam kamus tersebut berasal dari Andreas de Wilde seluruhnya. Bahasa mandiri Penerbitan sebuah kamus berarti sebuah pengakuan: bahasa Sunda adalah bahasa mandiri yang berbeda dari bahasa-bahasa lain. Selain itu, juga pengakuan Sunda sebagai satuan budaya yang mandiri. Kalau kamus itu diterbitkan oleh orang Inggris, berarti pengakuan itu berasal dari mereka. Karena itu, Sunda pun berada dalam kerangka pemikiran orang Inggris. Itulah kenapa orang-orang Belanda demikian marah ketika Jonathan Rigg menerbitkan karyanya tahun 1862. Sekalipun demikian, orang Belandalah yang untuk kali pertama menemukan Sunda. Sunda pun berada dalam bayang-bayang Belanda. Akan tetapi, pengakuan itu hanya ditujukan kepada Sunda yang dicipta Belanda, melalui penerbitan kamus tentu saja. Sebuah pengakuan, karenanya, akan selalu berkait dengan banyak kepentingan. Barangkali sejak saat itu, Sunda, sekalipun sudah menjadi satuan budaya yang mandiri, selalu berada dalam rekayasa Belanda. Lihat saja, misalnya, bagaimana Sunda disederhanakan. Model Sunda Bandung dipilih sebagai bentuk Sunda yang murni. Pilihan itu dikukuhkan oleh sebuah surat keputusan pemerintah yang dikeluarkan pada 1872. Mungkin karena keberadaannya sebagai ibu kota Karesidenan Priangan di mana pemerintahan kolonial berpusat itulah kenapa perlu dijadikan standar kesundaan. Mulai saat itu bahan ajar untuk wilayah Priangan disusun dengan ukuran Bandung, versi sahih penguasa. Sunda di wilayah Priangan pun berada dalam pengawasan Bandung, Sunda ciptaan Belanda. Akan tetapi, Sunda tentu saja sudah ada sebelum orang-orang Belanda itu tiba. Tanpa Herbert de Jager dan Andreas de Wilde, Sunda pun akan tetap ada. Kita tahu sudah mereka berdua dan beberapa orang Belanda lain yang mungkin tidak pernah tercatat berteriak tentang Sunda yang berbeda dari Jawa. Karena mereka pulalah Sunda mendapat pengakuan. Sunda, dalam kerangka pengakuan Belanda, mungkin masih terus dipertahankan sampai sekarang. Ingatan kita akan Sunda sebetulnya ingatan akan Sunda yang direkayasa Belanda. Artinya, sampai sekarang kita masih mengamalkan kebudayaan Sunda yang dicipta Belanda. Setiap pembicaraan dan pengembangan Sunda barangkali sebetulnya kita sedang membicarakan dan mengembangkan Sunda ciptaan Belanda. Kalau dulu, jelas amalan tersebut dimaksudkan untuk kolonisasi. Sekarang, kalau benar masih diamalkan, siapa yang diuntungkan dengan Sunda kreasi Belanda itu? GANI A JAELANI Dosen Sejarah Unpad, Bergiat di Selasar Sastra Jatinangor mj http://geocities.com/mangjamal

