Punten Pak Kuncen, bade ngiring ilubiung, yeuh !

Manawi kaanggo kusadayana.

hatur nuhun,

baktos,

pun Sawal.


Pelajaran dari Brunei Merdeka !

Hari Jum'at dan Sabtu pekan lalu, Brunei Darussalam merayakan Hari 
Kebangsaannya. Ada beberapa catatan yang menarik untuk kita cermati.
Tepat tengah malam itu, 23 tahun lalu, dalam detik-detik pergantian waktu dari 
31 Desember 1983 menuju 1 Januari 1984, ribuan rakyat yang berkumpul sejak 
maghrib basah kuyup disiram hujan deras.
(Entah mengapa, meski diproklamasikan tanggal 1 Januari 1984, Brunei selalu 
merayakan Hari Kebangsaannya setiap 23 Pebruari. Tapi yang ini lebih penting..)
Mereka berkumpul di Masjid Omar Ali Saifuddin dan di lapangan seberangnya, 
Taman Haji Sir Muda Omar 'Ali Saifuddien. Mereka sudah menunaikan shalat 
maghrib berjama'ah. Para ulamanya memimpin mereka memanjatkan doa syukur kepada 
Allah Ta'ala dan shalat 'Isya berjama'ah. Sesudah diguyur hujan, ribuan rakyat 
yang kegembiraannya meluap-luap itu masih bertahan.
Tak ada teriakan "merdeka!". Tak ada penurunan bendera Union Jack, seperti di 
Hong Kong 1997, walaupun negeri ini berada di bawah the British Empire selama 
96 tahun. Rakyat Brunei tak pernah mau menyebut dirinya "dijajah".
Yang ada gemuruh "Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!" diteriakkan 
ribuan manusia menggelegar di langit negeri yang baru lahir kembali itu, Brunei 
Darussalam. Nama itu tertulis di Al-Qur'an surah Yunus ayat 25:
"Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang 
dikehendaki- Nya kepada jalan yang lurus (Islam)." 
Rakyat menyambut teriakan pemimpin mereka, Sultan Haji Hassanal Bolkiah, yang 
memproklamasikan kepada seluruh warga dunia bahwa negeri ini sudah merdeka. Ini 
petikan proklamasinya:
"…Brunei Darussalam dengan berkah Allah Subhanahu wa Ta'ala akan selamanya 
menjadi Kerajaan Muslim Melayu yang berdaulat, demokratik, dan merdeka 
berdasarkan ajaran-ajaran Islam, kebebasan, kepercayaan dan keadilan…"

Modal aqidah

Berapa banyak negara yang memproklamasikan kemerdekaannya dengan meneriakkan 
takbir tiga kali, dipimpin langsung oleh rajanya? Kalaupun ada, maka diantara 
daftar yang sangat pendek itu, sudah pasti Brunei salah satunya –kalau bukan 
satu-satunya.
Bangsa berpenduduk sangat kecil yang sangat kaya minyak ini tidak 
mengagung-agungkan Inggris yang telah menguasainya selama hampir satu abad, 
yang kemudian melepaskannya. Bangsa ini mengagungkan Allah, karena yakin, 
pemilik sah tanah, hutan, udara, laut dan seluruh kekayaan isinya di negeri ini 
adalah Allah Yang Maha Berkuasa.
Brunei mungkin masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Orang Brunei sendiri 
mengakuinya. "Manja karena minyak, kurang inisiatif dan daya juang, kurang 
kreatif, kurang berani ambil risiko, banyak yang hidup berlebihan," adalah 
sebagian otokritik yang mereka sampaikan sendiri.
Tetapi, proklamasi kemerdekaan Brunei adalah proklamasi kemerdekaan aqidah, 
yang meyakini keselamatan bangsa ini hanya akan dicapai jika aqidahnya suci dan 
ibadahnya benar. Ini modal besar.
Dengan modal awal aqidah yang suci, bangsa ini mudah-mudahan tidak akan pernah 
takut, meskipun minyak dan gas bumi akan kering dalam beberapa generasi ke 
depan. Beberapa penelitian menyebut, Brunei termasuk negara produser minyak 
yang "sudah melewati puncaknya". Aqidah yang suci akan menjadikan sebuah negeri 
tandus berisi pasir dan batu menjadi negeri termakmur di seantero dunia.
Lihatlah negeri Makkah Al-Mukarramah. Ketika Nabi Ibrahim 'Alaihissalam 
meninggalkan isterinya Siti Hajar dan bayinya Ismail, tempat itu bernama lembah 
Baka', lembah kematian, karena tak ada satupun makhluk yang hidup di situ, 
tidak juga selembar rumput.
Karena aqidah yang benar dan ketaatan yang tanpa reserve kepada Allah Pemilik 
tanah Mekah dan seluruh bumi, Nabi Ibrahim tidak berdoa minta agar negeri itu 
menjadi makmur dan kaya, tetapi doanya, "Ya Allah, jadikanlah aku dan 
keturunanku semuanya sebagai orang-orang yang mendirikan shalat."
Apa hasilnya? Belasan juta orang setiap tahun mendatangi Makkah untuk 
beribadah. Lebih dari itu, Makkah yang kini resminya menjadi bagian dari negeri 
bernama Arab Saudi merupakan negeri terkaya di dunia karena minyak dan gas 
buminya, sejak tahun 1930-an.
Persoalan bangsa manapun di dunia ini bukanlah kondisi kaya atau miskinnya. 
Seperti Brunei atau Etiopia. Persoalan utamanya adalah apakah suatu bangsa akan 
selamat di dunia dan Akhirat di mata Allah Pemilik Jagat Raya ini, pemilik 
ruh-ruh kita.
Planologi Nabi Ibrahim adalah contoh terbaik. Pondasi bagi master plan 
pembangunan sebuah negara adalah aqidah yang benar. Sebelum anggaran keuangan 
dan infrastruktur fisik, harus dipastikan bahwa aqidah bangsa ini selalu 
menyeru penduduknya untuk taat dan hanya menyembah Allah saja, 24 jam sehari 7 
hari seminggu, di semua bidang kehidupan.
Kepada mereka yang kafir, menolak kebenaran aqidah ini, sama sekali tidak akan 
dipaksa untuk menjadi Muslim. Allah melarang pemaksaan seperti itu. Bahkan 
Islam mencontohkan di Madinah, di Damaskus, di Yerusalem, di Baghdad dan di 
mana-mana bahwa para khalifah, sultan, gubernur dan panglima perang Islam 
menjaga, melindungi dan menjamin keadilan orang-orang yang memilih keyakinan 
yang berbeda, selama mereka tidak melakukan kekacauan atau memerangi umat Islam.

Bagaimana Indonesia?

Bandingkan Brunei Darussalam dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar, 
Indonesia. Selama 350 tahun dijajah, darah dan nyawa para mujahidin membasahi 
sejarah jihad bangsa ini. Takbir-takbir para pejuang Indonesia jauh lebih 
patriotik menggelegar. Namun, ironisnya, Proklamasi Kemerdekaan Republik 
Indonesia tidak menyebut satu kalipun nama Allah, pemilik sah tanah, air dan 
udara di negeri ini.
Naskah "Piagam Jakarta" yang sudah disiapkan berbulan-bulan oleh BPUPKI (Badan 
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), dan sedianya disiapkan untuk 
naskah proklamasi dinyatakan "lupa dibawa" ke rumah Laksamana Maeda. Walhasil, 
naskah proklamasi baru dioret-oret. Pengakuan atas kebesaran Allah tidak 
disebut sama sekali.
Tidak berhenti sampai di situ. Bangsa yang baru merdeka ini, di hari kedua (18 
Agustus 1945) sudah membatalkan syahadatnya sebagai bangsa Muslim, untuk kedua 
kalinya. Soalnya, Bung Hatta konon didatangi opsir Jepang, yang menyampaikan 
bahwa para tokoh Kristen dari Indonesia Timur menyatakan akan memisahkan diri 
dari republik baru ini.
Yang bisa mencegah, hanya bila tujuh kata dalam Piagam Jakarta (yang menjadi 
mukaddimah pembukaan konstitusi), dihapus. Ketujuh kata itu adalah sambungan 
dari sila pertama dasar negara "Ketuhanan yang Mahaesa.., dengan kewajiban bagi 
ummat Islam melaksanakan syariatnya."
Sebuah disertasi doktor bidang sejarah di Universitas Indonesia menemukan 
fakta, bahwa tidak ada satu opsir Jepang pun yang pernah menemui Bung Hatta 
sesudah Proklamasi.
Apakah Jin Jepang atau Opsir Jepang yang pernah menemui Bung Hatta, yang pasti 
kesucian aqidah bangsa Indonesia sudah sukses dibatalkan.
Saya jadi teringat obrolan dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir, di penjara 
Cipinang, sekitar sebulan sebelum beliau bebas, tahun lalu.
Beliau bilang begini, "Bangsa ini ndak akan pernah beres, karena kita selalu 
sia-sia membereskan segala urusan kalau pangkal urusan, yaitu aqidah bangsa 
ini, tidak dibersihkan. "
"Ibaratnya kita mau mandi di sungai, ya ndak akan pernah bersih badan kita. Lha 
wong di hulu sungai, di mata airnya, ada badak besar penuh lumpur dan buang air 
terus-terusan. ."
"Kalau mau mandi sampai bersih, ya diusir dulu badaknya," kata beliau.
Nah, kita sekarang mau ikut ambil bagian mengusir badak jorok itu, atau mau 
terus-menerus mandi di air yang mengandung kencing dan kotoran badak?


-- 
Lukman --Han'z-- Hakim


 
____________________________________________________________________________________
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time 
with the Yahoo! Search movie showtime shortcut.
http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#news

Kirim email ke