wa'alaikumsalaam w. w.

ngeunaan industri akar wangi (vetiver), tiasa diaos di
http://www.garut.go.id/static/khas/produk/akarwangi.php
Cenah mah produksina beuki nyirorot

Minyak Akarwangi    (dibaca: 334 kali sejak 1 Agustus 2005, update terakhir:
20 Oktober 2006)

Minyak Akarwangi *(Vetiver Root Oil/Andropogon Zizanioides)**, * merupakan
salah satu komoditas khas unggulan daerah Kabupaten Garut yang relatif masih
baru, sebagaimana halnya dengan teh hijau dan tembakau yang merupakan bagian
dari sub-sektor perkebunan. Minyak Akarwangi mempunyai prospek yang cerah
untuk terus dikembangkan karena mempunyai keunggulan komparatif dan
kompetitif serta masih terbukanya pangsa pasar, baik pasar domestik maupun
pasar luar negeri.

  Budi daya Akarwangi di Kabupaten Garut didasarkan pada keputusan Bupati
Kabupaten Garut Nomor : 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, yang
diantaranya menetapkan luas areal perkebunan Akarwangi dan pengembangannya
oleh masyarakat seluas 2.400 Ha dan tersebar di empat kecamatan , yaitu
kecamatan Samarang seluas 750 ha, Kecamatan Bayongbong seluas 210 ha,
Kecamatan Cilawu seluas 240 ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 ha. Dari luas
areal pengembangan tersebut, luas yang digarap pada setiap tahunnya mencapai
rata-rata 12.400 ha dengan menghasilkan minyak akar wangi rata-rata sebanyak
54 ton. Selama tahun 2004 tercatat 2.400 Ha luas garapan perkebunan akar
wangi yang memproduksi minyak sebanyak 72 Ton, dengan rincian sebagai
berikut :

Kecamatan

Ha

Ton

Cilawu

240,00

7,20

Bayongbong

210,00

6,30

Samarang

750,00

22,50

Pasirwangi

450,00

13,50

Leles

750,00

22,50

Jumlah

2.400,00

72,00

 Kegiatan pengembangan Akarwangi melibatkan 4.027 orang anggota masyarakat
(Kepala Keluarga) yang terdiri dari 1.964 orang sebagai pemilik dan 2063
orang sebagai petani/penggarap. Mereka tergabung dalam 28 Kelompok Tani yang
tersebar di Kecamatan Samarang dan Pasirwangi 18 Kelompok Tani, Leles 5
Kelompok Tani, Cilawu 4 Kelompok Tani dan Bayongbong 1 Kelompok Tani. Jumlah
pengolah atau penyuling sebanyak 33 unit yang tersebar di Kecamatan Samarang
dan Pasirwangi 21 unit, Leles 9 unit, Bayongbong 1 unit dan Cilawu 2 unit.

Sebagai salah satu bahan dasar untuk pembuatan parfum dan kosmetika lainnya,
pemasaran minyak akarwangi sampai saat ini tidak mengalami hambatan yang
berarti. Produksi minyak Akarwangi Garut sesuai dengan kapasitas yang
dimilikinya semuanya terserap pasar dengan harga yang memadai (harga sesuai
dengan harga yang berlaku), Meskipun demikian, sebenarnya harga tersebut
masih bisa dioptimalkan lagi, jika kualitasnya pun dioptimalkan.

Sampai saat ini sesuai dengan data yang ada, pasar luar negeri yang menyerap
produk Minyak Akarwangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan Asia, Eropa
dan Amerika khususnya negara-negara seperti Singapura, India, Jepang,
Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss, dan Amerika Serikat.
Peluang ekspor untuk pemasaran minyak Akarwangi yang juga masih cukup
terbuka khususnya ekspor untuk kawasan Asia Selatan dan Asia Timur, Eropa
Timur dan Amerika Selatan. Apalagi jika diingat bahwa jumlah produsen atau
negara pesaing di pasaran internasional masih sangat terbatas. Saat ini
hanya negara Tahitti dan Borbon yang mengbangkan jenis komoditi yang sama.
Hasil produksi Minyak Akarwangi asal Kabupaten Garut termasuk nominatif
dunia, tetapi produksinya masih sangat terbatas baik dalam teknologi maupun
permodalannya. Pada tahun 2004 nilai penjualan ekspor komoditas minyak
akarwangi adalah sebesar 29.100kg senilai 1.175.920,0 US$.
Beberapa masalah yang muncul berkaitan dengan pengembangan komoditas minyak
Akarwangi antara lain:

  1. Jalur tata niaga komoditas Akarwangi masih terlalu panjang,
  khususnya jika dikaitkan dengan keberadaan para broker (calo);
  2. Kurangnya kerjasama diantara sesama pemilik/pengelola penyulingan,
  keterbatasan pemilik modal, dan akses terhadap permodalan;
  3. Keterbatasan penguasaan teknologi yang memadai, sehingga kualitas
  minyak Akarwangi yang dihasilkan relatif masih rendah.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada seperti
restrukturisasi jalur tata niaga, pembentukan koperasi atau Kelompok Usaha
Bersama (KUB), dukungan permodalan baik melalui kemitraan maupun lembaga
keuangan yang ada, serta peningkatan teknologi penyulingan, diharapkan dapat
segera mewujudkan peningkatan nilai tambah pendapatan bagi petani dan
pengelolanya, yang pada gilirannya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD).


On 3/28/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   Cenah, aya hiliwir bawaning angin, di Garut aya sentra industri kecil
menengah hususna industri penyulingan akar wangi. Eta industri umumna
nganggo bahan bakar mangrupi minyak tanah pikeun ngadamel "steam" (atanapi
uap) penyulinganna. Tah, nu janten kapanasaran teh, kinten-kintenna eta
sentra industri penyulingan akar wangi teh aya di wewengkon mana...?!Caket
teu sareng Kamojang...?!


--
sikandar
kumincir.blogspot.com

Kirim email ke