Salah sahiji faktor nu ngalantarankeun produksi akar wangi beuki turun, 
jigana lantaran biaya operasional nu masih gede. Penyulingan nu dianggo ku 
masyarakat masih konvensional, misalna bae masih ngagunakeun minyak tanah 
pikeun bahan bakarna. Ningali harga BBM ayeuna nu teu turun-turun, pantes 
mun marjin kauntungan kotor na teu kompetitif.

Sobat abdi (nu dicarioskeun di imel sateuacan ieu), ngagaduhan maksad bade 
ngamodifikasi eta teknologi penyulingan akar wangi. Harepan manehna, 
susuganan penyulingan akar wangi eta tiasa langkung efisien.

Manawi Kang Kumi gaduh peta Kab. Garut...?!
Hoyong terang weh eta opat kacamatan teh posisi na dimana...?!Susuganan we 
aya nu cakeut sareng Kamojang atanapi Drajat (leres teu nya aya wewengkon 
Drajat di Garut)...?!

Hatur nuhun sateuacanna...
Cag ah...



Baktos,
OTA
 



kumincir <[EMAIL PROTECTED]> 
Sent by: [email protected]
03/28/2007 09:14 AM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
Re: [Urang Sunda] Penyulingan Akar Wangi Di Garut...?!






wa'alaikumsalaam w. w.

ngeunaan industri akar wangi (vetiver), tiasa diaos di 
http://www.garut.go.id/static/khas/produk/akarwangi.php
Cenah mah produksina beuki nyirorot 



Minyak Akarwangi
 

(dibaca: 334 kali sejak 1 Agustus 2005, update terakhir: 20 Oktober 2006)
 



 
Minyak Akarwangi (Vetiver Root Oil/Andropogon Zizanioides), merupakan 
salah satu komoditas khas unggulan daerah Kabupaten Garut yang relatif 
masih baru, sebagaimana halnya dengan teh hijau dan tembakau yang 
merupakan bagian dari sub-sektor perkebunan. Minyak Akarwangi mempunyai 
prospek yang cerah untuk terus dikembangkan karena mempunyai keunggulan 
komparatif dan kompetitif serta masih terbukanya pangsa pasar, baik pasar 
domestik maupun pasar luar negeri. 


Budi daya Akarwangi di Kabupaten Garut didasarkan pada keputusan Bupati 
Kabupaten Garut Nomor : 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, yang 
diantaranya menetapkan luas areal perkebunan Akarwangi dan pengembangannya 
oleh masyarakat seluas 2.400 Ha dan tersebar di empat kecamatan , yaitu 
kecamatan Samarang seluas 750 ha, Kecamatan Bayongbong seluas 210 ha, 
Kecamatan Cilawu seluas 240 ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 ha. Dari 
luas areal pengembangan tersebut, luas yang digarap pada setiap tahunnya 
mencapai rata-rata 12.400 ha dengan menghasilkan minyak akar wangi 
rata-rata sebanyak 54 ton. Selama tahun 2004 tercatat 2.400 Ha luas 
garapan perkebunan akar wangi yang memproduksi minyak sebanyak 72 Ton, 
dengan rincian sebagai berikut :


Kecamatan 
Ha 
Ton 
Cilawu 
240,00 
7,20
Bayongbong 
210,00
6,30
Samarang 
750,00
22,50
Pasirwangi 
450,00
13,50
Leles 
750,00
22,50
Jumlah 
2.400,00
72,00


Kegiatan pengembangan Akarwangi melibatkan 4.027 orang anggota masyarakat 
(Kepala Keluarga) yang terdiri dari 1.964 orang sebagai pemilik dan 2063 
orang sebagai petani/penggarap. Mereka tergabung dalam 28 Kelompok Tani 
yang tersebar di Kecamatan Samarang dan Pasirwangi 18 Kelompok Tani, Leles 
5 Kelompok Tani, Cilawu 4 Kelompok Tani dan Bayongbong 1 Kelompok Tani. 
Jumlah pengolah atau penyuling sebanyak 33 unit yang tersebar di Kecamatan 
Samarang dan Pasirwangi 21 unit, Leles 9 unit, Bayongbong 1 unit dan 
Cilawu 2 unit.
Sebagai salah satu bahan dasar untuk pembuatan parfum dan kosmetika 
lainnya, pemasaran minyak akarwangi sampai saat ini tidak mengalami 
hambatan yang berarti. Produksi minyak Akarwangi Garut sesuai dengan 
kapasitas yang dimilikinya semuanya terserap pasar dengan harga yang 
memadai (harga sesuai dengan harga yang berlaku), Meskipun demikian, 
sebenarnya harga tersebut masih bisa dioptimalkan lagi, jika kualitasnya 
pun dioptimalkan.
Sampai saat ini sesuai dengan data yang ada, pasar luar negeri yang 
menyerap produk Minyak Akarwangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan 
Asia, Eropa dan Amerika khususnya negara-negara seperti Singapura, India, 
Jepang, Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Swiss, dan Amerika 
Serikat. Peluang ekspor untuk pemasaran minyak Akarwangi yang juga masih 
cukup terbuka khususnya ekspor untuk kawasan Asia Selatan dan Asia Timur, 
Eropa Timur dan Amerika Selatan. Apalagi jika diingat bahwa jumlah 
produsen atau negara pesaing di pasaran internasional masih sangat 
terbatas. Saat ini hanya negara Tahitti dan Borbon yang mengbangkan jenis 
komoditi yang sama. Hasil produksi Minyak Akarwangi asal Kabupaten Garut 
termasuk nominatif dunia, tetapi produksinya masih sangat terbatas baik 
dalam teknologi maupun permodalannya. Pada tahun 2004 nilai penjualan 
ekspor komoditas minyak akarwangi adalah sebesar 29.100kg senilai 
1.175.920,0 US$.
Beberapa masalah yang muncul berkaitan dengan pengembangan komoditas 
minyak Akarwangi antara lain: 
1.      Jalur tata niaga komoditas Akarwangi masih terlalu panjang, 
khususnya jika dikaitkan dengan keberadaan para broker (calo);
2.      Kurangnya kerjasama diantara sesama pemilik/pengelola penyulingan, 
keterbatasan pemilik modal, dan akses terhadap permodalan;
3.      Keterbatasan penguasaan teknologi yang memadai, sehingga kualitas 
minyak Akarwangi yang dihasilkan relatif masih rendah.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada seperti 
restrukturisasi jalur tata niaga, pembentukan koperasi atau Kelompok Usaha 
Bersama (KUB), dukungan permodalan baik melalui kemitraan maupun lembaga 
keuangan yang ada, serta peningkatan teknologi penyulingan, diharapkan 
dapat segera mewujudkan peningkatan nilai tambah pendapatan bagi petani 
dan pengelolanya, yang pada gilirannya akan meningkatkan Pendapatan Asli 
Daerah (PAD).


 





On 3/28/07, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Cenah, aya hiliwir bawaning angin, di Garut aya sentra industri kecil 
menengah hususna industri penyulingan akar wangi. Eta industri umumna 
nganggo bahan bakar mangrupi minyak tanah pikeun ngadamel "steam" (atanapi 
uap) penyulinganna. Tah, nu janten kapanasaran teh, kinten-kintenna eta 
sentra industri penyulingan akar wangi teh aya di wewengkon mana...?!Caket 
teu sareng Kamojang...?! 

-- 
sikandar
kumincir.blogspot.com 

Kirim email ke