Date: Sat, 31 Mar 2007 23:12:06 -0700
  From: [EMAIL PROTECTED]
  Subject: TERBONGKARNYA KEBOHONGAN DAN FITNAH SISTEMATIK TERBESAR DI INDONESIA
  To: [EMAIL PROTECTED]
   
   
  Isu pemerkosaan massal atas perempuan Cina dalam Kerusuhan Mei 1998  
senantiasa dihembus-hembuskan. Tujuannya untuk menyudutkan ummat Islam. 
   
  Hasil penyidikan FBI akhirnya membongkar kebohongan itu.
   
  "Jika sebuah kebohongan terus-menerus diceritakan hingga terdengar luas di 
masyarakat, maka lama-kelamaan masyarakat akan meyakini kebohongan itu sebagai 
sebuah kebenaran."  kata Menteri Propaganda Nazi Jerman, Dr Josef Goebels, enam 
dasawarsa yang lalu.
   
  Meski sudah kuno, namun prinsip propaganda yang diterapkan Nazi untuk melibas 
bangsa Yahudi di Eropa menjelang Perang Dunia II itu masih  terus dipakai dan 
dilestarikan hingga kini.
   
  Strategi propaganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia dan masih 
cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide yang berseberangan. 
Tengoklah berbagai propaganda hitam yang dikembangkan dengan cara itu. 
Misalnya, pembangunan opini bahwa Islam sudah tidak cocok untuk zaman modern 
ini, pembentukan opini bahwa poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan 
bahwa pluralisme adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.
   
  Tapi, propaganda kebohongan paling dahsyat di Republik ini adalah isu tentang 
pemerkosaan massal atas para perempuan etnis Cina pada saat kerusuhan Mei 1998. 
Dengan sistematis mereka meniupkan isu tentang isu perkosaan itu, dengan 
berbagai cerita di berbagai media, dengan berbagai cara dan sarana, baik di 
dalam dan luar negeri.Padahal, dengan jelas isu itu sebenarnya dipakai untuk 
mendeskreditkan Islam dan simbol-simbol Islam.
   
  Kisah Vivian dan Foto-Foto Perkosaan
   
  Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah perkosaan 
massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh 
seorang gadis keturunan Cina bernama 'Vivian. Kisah itu muncul kira-kira pada 
pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 
sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak 
dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan 
tetangga-tetangganya.
   
  Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu 
membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita perkosaan 
yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, 
dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang 
seram itu memperkosa mereka dengan berteriak "Allahu Akbar" sebelum melakukan 
perbuatan itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.
   
  Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang 
konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa 
website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti 
tersulut amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto 
kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.
   
  Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa 
bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah 
sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan 
menyetarakan kasus perkosaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk 
The Rape of Nanking, saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.
   
  Upaya Menelisik Fakta
   
  Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa Mei 1998, 
peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM mendapat pengakuan 
dari seorang anggota Satgas PDI Perjuangan bernama M, bahwa dia dan 
teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga 
mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi 
menurut dia, korban tidak hanya dari kalangan Cina. "Siapa aja, ada Amoy, ada 
Melayu, ada Arab," kata anggota Satgas PDIP itu.
   
  Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua 
petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi ke 
luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak ekonom Christianto Wibisono 
yang terkonfirmasi sebagai korban perkosaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam 
edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi 
sampai berjumlah ratusan.
   
  Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat tinggal 
Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen 
menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya Amoy yang diperkosa saat 
kerusuhan Mei 1998. Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu 
menjarah apartemen tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu 
penghuni juga tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.
   
  Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan 
Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas 
hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan semua laporan tentang adanya 
perkosaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasi dulu. "Terkesan ada 
yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu." kata anggota TGPF 
Roosita Noer.
   
  Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang 
dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit 
Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil diklarifikasi, yang 
lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. Sementara, 2 (dua) orang korban 
yang di datangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila 
beneran yang di duga sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF 
Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.
   
  Dari sisi ilmu statistik, data soal perkosaan massal pun aneh. Misalnya 
laporan tentang adanay perkosaan jauh lebih besar dari pada laporan tentang 
pelecehan seksual, di raba-raba dan sebagainya. Padahal, seharusnya menurut 
statistik, berdasarkan kurva sebaran, pola acak akan selalu membentuk kurva 
seimbang. Jumlah laporan orang yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak 
dari pada yang dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai diperkosa, 
dengan tingkatan paling berat.
   
  Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan keturunan Cina 
sendiri. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat menceritakan hal ini, 
sehingga cerita ini muncul di internet pada 13 Juni 1998--- dan bisa 
mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya 
secara detail? Bukankah hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa etnis 
Tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal perkosaan.?
   
  Setelah  menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, 
pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya 
tanggal 18 Agustus 1998, minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan 
lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean 
Tse pun tidak bisa melacak alamat si pengirim cerita tersebut di jaringan 
internet.
   
  Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui 
foto-foto yang bergentangan di situsnya, sama sekali tidak otentik. Kepada 
detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat di pajang di 
Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata 
foto itu adalah hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.
   
  Terbongkar Habis
   
  Upaya  pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi 
terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tidak pernah ada, para 
agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai dan hanyalah 
nama samaran. Ketika para wartawan tidak menemukan korban, mereka berkilah soal 
keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari 
AMERIKA SERIKAT, tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk 
menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.
   
  Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada 
imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung kekerasan seksual di 
negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, 
kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan 
kantor pengajuan, mereka mulai curiga.
   
  Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan 
tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation 
Jakarta. Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini 
dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. "Pemimpin 
sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 
1999," kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani 
kasus ini.
   
  Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta 
berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu 
menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak 
berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai 
menyiapkan aplikasi suaka palsu.
   
  Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo'ong-bo'ongan seperti diperkosa 
atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. "Cerita tentang penyiksaan itu sangat 
seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti 
yang diajarkan," kata Jaksa McNulty. Mereka pun mengajari kliennya untuk 
menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.
   
  Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa supir taksi 
misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suaka 
sejak 31 Oktober 2000 hingga 6 Januari 2002. "Mereka mengaku diperkosa karena 
keturunan Cina," kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea 
Cukai Kepabeanan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara 
bagian Virginia.
   
  Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif tentang isu 
perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai 
sebagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi 
hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, 
fakta telah didramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.
   
  Wa lahu khairul maakireenn.......
   
  Oleh:
  Abu Zahra
   
  Disarikan dari: 
   
  TABLOID DUA MINGGUAN SUARA ISLAM, EDISI 17, MINGGU III-IV MARET 2007
   
  Bila tertarik untuk berlangganan hubungi:
   
  Jl. Utan Kayu Raya No. 88 Jakarta Timur
   
  Telp: 021 8563313
   

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

Kirim email ke