Tong bubar wae...anu tos dihukum kedah ters
dieksekusi...Dosen2 sadayana kedah dipariksa..kitu oge
Dekan...anu terlibat kesalahan proses hukum..pecat
lamun cukup ngabahayakeun...kampus likwidasi wae da
pinuh ku KKN...70% anak/kulawarga pejabat....nilai
bisa dibeuli..dl..pokona henteu bermutu...........

--- Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Nengetan warta soal IPDN .....wah bener-benet IPDN
> teh sigana kudu 
> dibubarkeun. Loba teuing "perkeliruanana", salah
> sahijina, geuningan nu 
> nutup-nutup panyiksaan ka Cliff Muntu teh lain
> mahasiswa wae, tapi oge 
> dosenna. Nu nitah mayit Cliff diformalin teh salah
> saurang Dekan di dinya 
> jeung boga gelar Guru Besar!. Kitu cenah ceuk
> kasaksian nu nyuntikeun 
> formalin, saurang pangsiunan mantri kasehatan, nu
> ayeuna oge jadi 
> "tersangka".
> 
> Ditambahan deuih, ku warta yen mahasiswa2 IPDN nu
> nyiksa Wahyu Hidayat di 
> taun 2003 tepi ka palastra, tepi ka poe ieu oge acan
> asup panjara, sanajan 
> kasasina geus ditolak ku MA. Anehna deuih, sanajan
> baheula geus diumumkeun 
> "dipecat" ti IPDN, tapi geuningan ukur
> "bohong-bohongan". Maranehna tetep 
> nganggeuskeun sakolana, terus digarawe jadi PNS di
> Pemda-Pemda di Jabar.
> 
> Nyanggakeun editorial Media Indonesia, nu sarua
> sapamikiran, IPDN ....bubar, 
> geraak!!!
> 
> 
> EDITORIAL Media Indonesia 12 April 2007
> 
> Tutup saja IPDN
> 
> PEMERINTAH akhirnya menonaktifkan Rektor Institut
> Pemerintahan Dalam Negeri 
> (IPDN). Sebuah langkah tambahan setelah serangkaian
> keputusan yang 
> sebelumnya telah diambil pemerintah.
> Semua itu akibat kematian praja asal Sulawesi Utara,
> Cliff Muntu, karena 
> dibunuh para seniornya. Bukan kematian yang pertama,
> bukan pembunuhan yang 
> perdana, bukan pula pertama kali setelah terjadi
> kematian, rektor penghasil 
> pamong praja itu diganti.
> 
> Namun, seribu kali rektornya diganti, sejuta kali
> rektornya dinonaktifkan, 
> tidak akan mengubah kultur kekerasan bahkan
> pembunuhan yang telah tumbuh 
> subur di institut itu.
> 
> Nama lembaga itu pun pernah diubah setelah terungkap
> terjadi pembunuhan 
> sebelumnya. Tetapi faktanya, pembunuhan kembali
> terjadi di kampus itu. Jadi, 
> sejuta kali pun nama lembaga itu diganti tidak akan
> mengubah institut itu 
> menjadi institut yang beradab.
> 
> Sebab lembaga itu dari asalnya sudah salah cetak
> biru. Institut itu, sejak 
> gagasan pendiriannya, sudah mengidap kekeliruan. Ia
> cacat bahkan sebelum 
> lahir.
> 
> Alkisah adalah seorang mantan Kepala Staf Angkatan
> Darat yang bernama Rudini 
> diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden
> Soeharto. Sang jenderal 
> lalu memiliki pandangan bahwa jajaran aparatur
> pemerintahan yang bernama 
> pamong praja itu tidak memiliki disiplin, bahkan
> tidak memiliki 
> kepemimpinan. Untuk menghasilkan jenis pamong praja
> yang memiliki disiplin 
> tinggi dan kepemimpinan yang kuat itu, ia pun lalu
> mendirikan lembaga 
> pendidikan dengan gaya militer. Bukan cuma sampai di
> situ, lulusannya pun 
> kemudian dilantik presiden persis seperti lulusan
> akademi militer.
> 
> Yang dihasilkan kemudian sudah pasti bukan tentara
> untuk bertempur, tetapi 
> juga bukan sipil yang digembleng untuk melayani
> rakyat. Yang terjadi adalah 
> penggemblengan untuk menjadi pembunuh!
> 
> Zaman pun berubah, dari militer yang berkuasa
> menjadi supremasi sipil. Tidak 
> ada lagi kursi militer di DPR dan MPR karena
> diangkat. Tidak ada lagi dengan 
> gampang tentara menjadi bupati, wali kota, atau
> gubernur karena diangkat 
> atau ditunjuk. Siapa pun hanya bisa menjadi kepala
> daerah karena dipilih 
> rakyat secara langsung.
> 
> Dan konsep pamong praja pun berubah dari memerintah
> menjadi melayani 
> kepentingan publik. Dari disiplin militer menjadi
> disiplin sosial. Tetapi, 
> lembaga yang menghasilkan pamong praja itu pada
> dasarnya tetap tidak berubah 
> dari gagasan kelahirannya oleh Jenderal Rudini, yang
> dicetuskan di zaman 
> otoriter, di era ketika dwifungsi ABRI adalah
> segalanya.
> Tidak hanya zaman berubah, tetapi Institut
> Pemerintahan Dalam Negeri juga 
> telah berubah menjadi institut pembunuhan dalam
> negeri. Oleh karena itu, ia 
> tidak punya dasar untuk tetap dipertahankan. Ia
> seharusnya ditutup sekarang 
> juga, bahkan mestinya dilakukan sejak kemarin.
> 
> Jika bangsa ini masih memerlukan sekolah untuk
> mengisi kebutuhan 
> pemerintahan dalam negeri, biar itu diurus Menteri
> Pendidikan Nasional. 
> Bukan oleh Menteri Dalam Negeri. Dan pula, bukankah
> ada universitas negeri 
> yang memiliki fakultas ilmu sosial jurusan ilmu
> pemerintahan? Mengapa 
> lembaga pendidikan tinggi negeri ini tidak
> dimanfaatkan? Mengapa harus 
> menghabiskan uang negara untuk menghasilkan para
> pembunuh?
> 
> Untuk menutup Institut Pemerintahan Dalam Negeri itu
> sesungguhnya tidak 
> diperlukan secuil pun keberanian. Yang diperlukan
> cuma satu perkara, yaitu 
> secuil kejujuran untuk mengakui institut itu telah
> menjadi sekolah yang 
> menghasilkan para pembunuh! 
> 
> 



       
____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php

Kirim email ke