Bilih bae aya baraya nu bade amengan ka Sumedang, salian ti meser tahu, tiasa oge langak-longok ka MUSEUM GEUSAN ULUN nu tempatna aya di kompleks kantor bupati Sumedang (caket alun-alun Sumedang). Dinten Minggu oge buka.
Di dinya urang tiasa ningali GAMELAN SARI ONENG, gamelan nu kungsi ngumbara jeung ditabeuh di Amsterdam taun 1883, di Paris 1889, jeung di Chicago 1893 (Cenah mah waktu di Paris, gamelan ieu ditabeuh waktu ngaresmikeun Menara Eifel). Oge tiasa ningali kerisna Pangeran Kornel waktu sasalaman jeung Daendels. Kanggo carios lengkepna, mangga ieu tina PR kaping 21/11/2002: Museum Geusan Ulun Terlengkap di Jawa Barat MUSEUM Prabu Geusan Ulun yang kini berdiri di Kompleks Kantor Pemkab Sumedang merupakan salah satu museum terlengkap di Jabar, kecuali Banten dan Cirebon. Di gedung tua berarsitektur Sunda dengan ornamen kayu jati yang masih berdiri kokoh ini tersimpan beragam warisan budaya para leluhur. Mulai dari abad ke-15 hingga abad ke-19 Masehi atau sejak zaman kerajaan sampai masa penjajahan Belanda. Benda- benda cagar budaya di samping merupakan wakaf, ada yang berstatus hibah atau milik pribadi/titipan. Yang merupakan wakaf, di samping gamelan sebanyak 7 set, juga terdapat benda-benda pusaka leluhur Sumedang. Adapun asal mula gamelan-gamelan itu, di samping merupakan buatan daerah Sumedang ada pula yang dibuat di Mataram. Di antara pusaka leluhur Sumedang, terdapat Mahkota Bino Kasih yang dipergunakan pada waktu penobatan Prabu Geusan Ulun menjadi Raja Sumedanglarang tahun 1578. Selain terdapat keris milik Prabu Geusan Ulun, Panunggal Naga, dan keris milik Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX), Nagasasra yang dipakai beliau saat berjabat tangan dengan Daendels dalam peristiwa Sadas Pangeran tahun 1811. Menurut Wakil Ketua Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), R. Moch. Achmad Wiratmadja, sejarah berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun dilatarbelakangi oleh lahirnya Yayasan Pangeran Aria Atmaja (YPSA) tahun 1950 yang kemudian diubah menjadi Museum Pangeran Sumedang, tahun 1955 dengan akta Mr. Tan Eng Kiam No. 98. Yayasan ini bertindak sebagai Nadzir dari wakaf Pangeran Aria Suria Atmaja, Bupati Sumedang pada masa tahun 1883-1919 (Pangeran Mekah). Barang- barang wakaf ini antara lain berupa tanah (sawah dan darat), bangunan-bangunan, pusaka leluhur Sumedang, serta gamelan-gamelan. Nama Geusan Ulun diambil dari nama tokoh sejarah yang kharismatik dan berjasa dalam menyebarkan agama Islam di wilayah bekas Pajajaran yang masuk ke wilayah Sumedanglarang. Museum Prabu Geusan Ulun terletak di jantung Kota Sumedang, menggunakan gedung tua berarsitektur tradisional Sunda berusia hampir tiga ratus tahun. Museum masih tampak utuh dan kokoh berdiri di sebelah gedung Negara yang juga kediaman resmi keluarga Bupati Sumedang. Gedung Negara ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 pada masa pemerintahan Pangeran Sugih. Sejak berdirinya sampai sekarang, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki 6 buah gedung, dengan luas lahan 1,8 hektare dan dikelilingi benteng setinggi 3 meter. Di antaranya, Gedung Srimanganti, didirikan tahun 1706 oleh Bupati Dalem Adipati Tanujaya yang memindahkan pusat kota kabupaten dari Tegal Kalong ke tempat ini. Hingga tahun 1950, Gedung Srimanganti menjadi kediaman resmi bupati atau keluarganya dan antara tahun 1950 sampai 1981 dipergunakan Kantor Pemda Sumedang serta pernah mengalami pemugaran bersamaan gedung Bumi Kaler, tahun 1982. Setelah itu, Srimanganti diserahkan kepada Yayasan Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbud masa itu. Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler, sebelumnya masuk dalam Monumenter Ordonantie tahun 1931 sebagai benda Cagar Budaya. Dalam gedung ini disimpan cukup banyak koleksi benda sejarah, antara lain Meriam Kalantaka peninggalan kompeni tahun 1656, Gamelan Panglipur peninggalan Pangeran Rangga Gede tahun 1625-1633, Gamelan Pangasih peninggalan Pangeran Kornel (1791-1828), serta Gamelan Sari Arum peninggalan Pangeran Sugih (1836-1882). Sementara itu, Gedung Bumi Kaler yang didirikan tahun 1850 atau masa pemerintahan Pangeran Kusumah Adinata (Pangeran Sugih) 1836-1882, dipergunakan sebagai tempat kediaman Bupati Sumedang. Bentuk arsitektur khas sunda berupa Julang Napak, dibuat pada umumnya dari bahan kayu jati. Di dalam gedung ini disimpan, antara lain kitab/naskah kuno terdiri Alquran tulisan tangan abad 19, Kitab Waruga Jagat awal abad ke-18, serta Kitab Riwayat abad ke-19 dan huruf pegon. Selain kitab itu, juga kumpulan koleksi uang dalam dan luar negeri, puade, tempat anak dikhitan abad 19, Payung Kebesaran abad ke-17,18, dan 19, jam berdiri, peninggalan Pengeran Suria Atmaja, buku-buku di ruang perpustakaan. Sementara itu, Gedung Gamelan juga didirikan tahun 1973 sumbangan dari Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu. Oleh Pemda diserahkan YPS dan kemudian digunakan menyimpan sebagian gamelan serta alat musik tradisional lainnya, selain digunakan tempat latihan tari-tarian. Di dalamnya tersimpan 10 unit gamelan, di antaranya Gamelan Sari Oneng Parakan Salak abad ke-19, pernah dibawa pameran di Amsterdam tahun 1883, di Paris 1889, dan Chicago 1893. Kemudian Gamelan Sari Oneng Mataram, abad ke-17 peninggalan Pangeran Penambahan, serta sejumlah gamelan lain abad ke-18. Sementara Gedung Gedeng yang pada mulanya dibangun pada tahun 1850 oleh Pangeran Suria Kusumah Adinata, digunakan menyimpan pusaka, senjata-senjata leluhur, dan gamelan peninggalan masa lalu. Gedung Gedeng juga sempat dipugar pada tahun 1950, tapi fungsinya masih tetap untuk menyimpan pusaka leluhur. Baru kemudian, pada tahun 1990 dibangun Gedung Pusaka baru sehingga sebagian besar koleksi pusaka dipindahkan ke gedung pusaka yang baru ini. Berdasarkan klasifikasi jenis koleksi yang secara sederhana di susun, Museum Prabu Geusan Ulun memiliki koleksi jenis Geologika sebanyak 4 buah berupa permata, granit, andesit, Geografika (13) berupa peta, grafik, alat pemetaan, Biologika (28), Etrografika (1.629)/ identitas suatu etnis, Arkeologika (2), Historika termasuk buku sejarah (1.629), kemudian Filologika (44) dan Keramika (151). Koleksi ini, merupakan kantor penting, karena melalui koleksi masyarakat dapat mengetahui dan mempelajari tentang sejarah alah, ilmu pengetahuan dan budaya. Dikelola angkatan tua Manurut R. Moch. Achmad Wiratmaja, keberadaan Museum Prabu Geusan Ulun yang kini dikelola institusinya, memiliki 13 orang tenaga pengelola dan tenaga kerja. Tapi, SDM para pengelola itu hampir semuanya merupakan angkatan tua, dengan usia rata-rata 60 sampai 70 tahun. Dengan kondisi SDM itu, museum membutuhkan bantuan tenaga kerja dari Disbudpar. Di samping itu, sarana dan prasarana kerja untuk meningkatkan pelayanan terhadap para pengunjung, juga masih cukup terbatas. Jika hal itu tidak terpikirkan, dalam perkembangannya dipastikan kurang signifikan. Terlebih, dalam perkembangan era teknologi dan pasar bebas. Meski pun diakui, kunjungan ke museum ini, belakangan terus meningkat. Justru itu pula, pelayanan terhadap para pengunjung perlu ditingkatkan lagi. Dijelaskan, yang datang ke Museum Prabu Geusan Ulun, selain wisatawan juga para pelajar sebagai bahan pengetahuan sehubungan kebijakan muatan lokal. "Alhamdulillah, belakangan ini ada peningkatan kunjungan. Semula hanya ratusan orang setiap bulannya, sekarang sudah mencapai sedikitnya 1.000 orang. Dari kunjungan ini, kami mendapat bantuan biaya pemeliharaan, besarnya 1 dolar untuk wisatawan asing, pelajar antara Rp 1.500 sampai Rp 2.500 per orang," jelasnya tokoh budaya yang akrab dipanggil Aom Achmad ini. Melihat kenyataan tersebut, Aom Achmad merasakan, sarana dan prasarana serta SDM, sudah saatnya untuk lebih dipikirkan. Akan tetapi, untuk hal itu, pihaknya hanya bergantung kepada kepedulian pihak lain. "Selain membutuhkan teknologi komputer untuk membantu manajemen di sini, juga kendaraan operasional yang belum ada. Di sisi lain, tenaga pengelola yang ada sudah tua dan harus ada tenaga bantuan dari Disbudpar," ujarnya seraya menyebutkan, peralatan penunjang kerja, saat ini masih manual berupa mesin tik yang juga berusia sudah lama. Para pengelola yang selama ini mengandalkan biaya operasional dan penghasilan dari aset turun-temurun ini, juga mengaku cemas dengan kondisi bangunan di bagian atas yang mulai lapuk dimakan usia. "Kami memang swasta keluarga dan menggantungkan hidup dari hasil bumi secara turun temurun. Setiap orang, menerima 1,5 kuintal beras tiap bulan. Akan tetapi, sulit bagi kami merehab bangunan sendiri. Alhamdulillah, tahun 2003 APBD Sumedang sudah mengalokasikan dana untuk perbaikan bangunan ini," jelasnya. (Hary Mashury/"PR")***

