Wilujeng wengi, Bapa Edi S. Ekajati, dina buku KEBUDAYAAN SUNDA ZAMAN PAJAJARAN, kaca 124-126 ngadugikeun pamendak bapa Ayatrohaedi ngeunaan Prabu Siliwangi sapertos kieu:
Ia dapat menerima garis besar gambaran Prabu Siliwangi sebagai tokoh sastera yang didasarkan atas dasar sumber sekunder, tetapi ia berkeberatan atas kesimpulan yang mengidentikkan Prabu siliwangi dengan Sri Baduga Maharaja sebagai satu-satunya kebenaran. Masalahnya, kebenaran kesimpulan itu tergerus kadarnya oleh data pada Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang menyatakan bahwa pada waktu itu (1518) siliwangi telah menjadi nama cerita Pantun. Selain itu, sebagaimana diungkapkan dalam naskah Bujangga Manik nama Silih Wangi pada akhir abad ke 15 atau awal abad ke 16 telah digunakan untuk mengabadikan (sasakala) kolam pemandian atau sumur Jalatunda (di daerah Brebes, red) yang tentu dianggap suci, keramat. Padahal waktu itu Sri Baduga Maharaja masih hidup dan menjalankan roda pemerintahan (1482-1521). Tidak mungkin terjadi tokoh yang masih hidup dijadikan tokoh utama dalam cerita pantun atau karya sastera atau menjadi tokoh budaya (Ayatrohaedi, 1997;48). Anggapan bahwa Prabu Siliwangi adalah raja Pajajaran terbesar dan terakhir, merupakan anggapan yang bersifat kontradiktif dan mempersulit upaya pencarian identitas Prabu siliwangi secara historis. Disebut kontradiktif, karena secara rasional bagaimana mungkin raja terakhir satu kerajaan bisa pula menjadi raja terbesar. Bukankah dalam masa pemerintahan raja terakhir berlangsung proses keruntuhan yang akhirnya ambruk samasekali. Dalam pada itu, gambaran tersebut bertentangan dengan sumber sekunder kelompok pertama dan tradisi lisan cerita pantun yang mengungkapkan bahwa sesudah pemerintahan Prabu siliwangi masih ada pemerintahan generasi berikutnya. Setelah menjelajahi sumber tradisi (sumber sekunder) yang menyebut-nyebut tokoh Prabu Siliwangi, Ayatrohaedi berpendapat bahwa ada tiga kriteria yang bisa digunakan dalam menentukan identitas Prabu siliwangi sebagai tokoh sejarah, yaitu (1) siliwangi menjadi raja tidak menggantikan langsung ayahnya, Prabu Anggalarang atau Prabu Wangi, melainkan menjadi raja setelah ada orang lain yang bertindak sebagai penyelang, (2) tokoh tersebut harus hidup pada masa awal masuknya pengaruh Islam ke Tanah sunda, karena dalam berbagai sumber Prabu siliwangi diajak masuk Isalm oleh anaknya sendiri, dan (3) tokoh tersebut haruslah yang besar jasanya dalam memajukan kesejahteraan hidup rakyatnya, karena berbagai sumber menyebutkan bahwa pada masa pemerintahannya Kerajaan Pajajaran (maksudnya: Kerajaan sunda) dalam taraf subur makmur loh jinawi. Selanjutnya, dengan menganalisisbeberapa sumber primer dan juga sumber sekunder, terutama data yang diambil dari Carita Parahyangan, Ayatrohaedi menyimpulkan tiga hal. Pertama, Prabu Maharaja, raja sunda (1350-1357) yang tewas di Bubat itu mendapat nama julukan dari rakyatnya Prabu wangi. Nama tersebut mengandung makna raja yang harum namanya, karena dengan gagah berani mempertahankan kehormatan negaranya sampai titik darah yang penghabisan. Kedua, muncul tradisi raja-raja Sunda sesudah masa Pemerintahan Prabu Maharaja mendapat julukan Prabu Siliwangi atau Siliwangi, yang berarti prabu atau raja yang menggantikan Prabu wangi. Prabu Maharaja tidak langsung digantikan oleh puteranya, Niskala Wastukancana, karena usianya masih kanak-kanak (9 tahun), melainkan melalui masa perwalian oleh pamannya, Hiyang Bunisora atau Mangkubumi suradipati (1357-1371). Tentu raja yang langsung menggantikan Prabu Maharaja atau Prabu Wangi adalah Prabu Niskala wastukancana (1371-1475), karena masa pemerintahan pamannya adalah masa perwalian, hanya sebagai penyelang. Masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana merupakan masa kemakmuran, kesejahteraan, dan kesentausaan Kerajaan Sunda sebagaimana dikemukakan dalam Carita Parahyangan. Oleh karena itu, maka tokoh sejarah yang identik dengan tokoh sastera Prabu Siliwangi seyogiyanya Prabu Niskala Wastukancana, raja Sunda yang termashur, banyak jasa bagi kemakmuran rakyatnya, memerintah selama 104 tahun (1371-1475) dan telah wafat ketika Bujangga Manik dan Sanghyang siksa Kandang Karesian disusun. Pantaslah Siliwangi sudah disebut sebagai nama cerita pantun dan nama kenangan bagi pemandian atau air sumur Jalatunda oleh pengarang Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan Bujangga Manik itu. Ketiga, Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang adalah cucu Prabu Niskala Wastukancana bisa saja mendapat julukan Prabu siliwangi, karena raja Sunda besar pula (Ayatrohaedi, 1997: 48-51). Berdasarkan uraian diatas, jelaslah bahwa Prabu Siliwangi itu bukan nama resmi raja Sunda, melainkan nama julukan yang berasal dari rakyat bagi raja sunda yang besar jasanya dalam upaya mensejahterakan kehidupan rakyat, sesudah masa pemerintahan Prabu Maharaja (1350-1357). kumincir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bisi pajar teu aya tulisanana, mangga cobi buka http://su.wikipedia.org/wiki/Prabu_Siliwangi Hatur lumayan, lengkepaneun... On 4/20/07, Nandar Robbyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: nyuhungkeun pencerahan (naonnya basa Sundana) ngeunaan maotna Kangjeng Prabu Siliwangi, aya berita anu pabaliut anu katampi kuabdi (antara sajarah sareng dongeng rada ipis), aya nunyebatkeun di daerah leuweung Sancang (Garut?), aya nunyebatkeun digugunungan didaerah Rancamaya Bogor, aya deui nu nyebatkeun teu maot tapi ngaleungit (nu leres numananya??) -- sikandar kumincir.blogspot.com --------------------------------- Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? Check outnew cars at Yahoo! Autos.

