Asa kusararedih maos artikel nu diunjukkeun ku Akang. numutkeun pamendak 
pribados mah kumna urang tangtos gaduh kakirangan sareng kaunggulan. ayeuna 
pami nu ti payun dijantenkeun kakirangan urang Sunda, gampil pisan pilari 
kaunggulanana. dina widang naon wae paparin kalungguhan anu luyu sareng 
kabinangkitanana. atuh Kang kedah kumaha urang ayeuna........? kedah janten 
naon nya.......pikeun ngawangun bangsa ieu......??????? pribados nu tos ancrub 
dina widang pendidikan leres atanapi henteu????? hayu atuh urang sasarengan 
ngbentuk (Kelompok Pencari Kepribadian he.......he.....he.......)

----- Pesan Asli ----
Dari: MSasmita <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 19 Mei, 2007 11:45:01
Topik: [Urang Sunda] Naha enya...?









  


    
            



Kamari aya balad nu nyarioskeun aya artikel dina 
koran Republika.

Hehe....enya meureun siga kitu..!!

tiasa ditingal dina : http://www.republik a.co.id/kolom_ detail.asp? 
id=293485&kat_id=19

Tah ieu artikelna.

 

MSasmita

 

Mentalitas Jawa dan Sunda 

Oleh : Zaim Uchrowi 


''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman. 
''Kenapa?'' tanya saya. ''Sebab, lebih dari 70 persen penduduknya adalah Jawa 
dan Sunda,'' jawabnya. Saya ternganga, sampai ia menjelaskan lebih 
lanjut.

Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda bukan 
mentalitas orang yang siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang banyak 
dipakai orang-orang dari kedua suku ini. Orang-orang Jawa disebutnya sering 
menyebut kata ''nek'' atau ''gek'', yang berarti ''kalau'' sebagai 
sebuah pengandaian tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan. Orang 
Jawa sering mengucap ''nek ngono mengko piye ...'', ''nek ngene mengko 
piye ...'' yang berarti ''kalau begitu nanti bagaimana... '', ''kalau begini 
nanti bagaimana... .''

Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh 
kemungkinan di masa depan telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal 
tersebut baik. Banyak persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut akibat 
yang mungkin terjadi. Dengan demikian, jika akibat itu benar terjadi, mereka 
telah siap untuk menghadapinya.

Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang 
dipikirkan di masa depan sering membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak 
punya rumah yang tak kunjung punya rumah karena takut memikirkan kemungkinannya 
di masa depan. Bagaimana kalau gentingnya bocor, bagaimana kalau ada pencuri, 
apalagi kalau rumah itu habis terbakar. Begitu banyak kemungkinan yang 
dipikirkan hingga orang itu tak berani melangkah untuk punya 
rumah.

Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian 
besar orang Jawa pasrah pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak akan 
berusaha keras mengejar sesuatu karena kalau gagal akan terasa sangat 
menyakitkan. Mereka tidak siap gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata orang 
Jawa 
kalah bila dibanding etnis lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang 
Batak, apalagi dengan keturunan Tionghoa. 

Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat khawatir 
keliru. Itu membuat komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak pandai 
mengekspresikan perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan tidak. 
''Bagaimana nanti kalau orangnya tersinggung. '' Kalimat demikian banyak 
diucapkan. Orang Jawa menuntut orang lain paham bahasa isyarat. Kalau terpaksa 
harus mengomentari orang lain, paling dengan cara menyindir. ''Jadi, bagaimana 
orang Jawa bisa maju?''

Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir 
panjang. Istilah yang banyak dikatakan adalah, ''kumaha engke ...'' yang 
berarti ''bagaimana nanti ....'' Jalani dan nikmati hidup seadanya seperti air 
mengalir yang akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu diatur-atur. Ingin 
sekolah ya sekolah, ingin main ya main, ingin kerja ya cari kerja kalau dapat. 
Kalau tidak dapat ya sudah, ''can nasib'' atau ''belum nasibnya''. 


Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya. Uang 
habis tidak apa-apa. Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara. Tidak 
berhasil tidak apa-apa. ''Can nasib.'' Ingin kawin, ya kawin saja biar 
pun pekerjaan belum mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin lagi, ya 
kawin lagi saja. Kan boleh dalam agama. Anak banyak, bermunculan saban dua 
tahun, tidak apa-apa. Tak perlu ada kesiapan buat merencanakan masa depannya. 
''Kumaha Gusti wae ....'' Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi, bagaimana orang 
Sunda bisa maju?''

Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang sangat 
besar tak kunjung berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten dan 
Betawi 
sebagai kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar biasa. Anehnya, kita 
menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang malah menganggapnya sebagai 
sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan agama. Padahal, ''pasrah pada 
nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada Allah''. 

Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan hidup 
sebaik-baiknya, bekerja keras untuk mewujudkan perencanaan itu, serta selalu 
optimistis terhadap hasil yang akan diberikan Tuhan pada kita. Reshuffle 
kabinet boleh-boleh saja. Tapi, bila sungguh-sungguh ingin membuat bangsa ini 
dan bangkit sesuai semangat Hari Kebangkitan Nasional, rombak dulu mentalitas 
bangsa ini secara revolusioner. Untuk itu perlu revolusi mentalitas orang Jawa 
dan Sunda sebagai mayoritas penduduk bangsa ini. 



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke