OFFICE BOY
     

     
      Pataka sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu? 
Karena setiap kali kekurangan uang, Pataka selalu sibuk meminjam uang sana 
sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia meminjam uang. 
Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. 
Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka 
Pataka sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya. Akhirnya Pataka 
mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy, 
namanya Sayuti. Sebenarnya Pataka malu. Uangnya sudah habis padahal baru 
tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi  ke kantor dan 
untuk biaya makan. Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba 
office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Pataka kesulitan. 
Pataka tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy? 
Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya 
Pataka menerima bantuannya. Dalam hati kecilnya Pataka merasa sangat malu. Malu 
sekali!. Tapi Pataka terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. 
Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya 
berbincang-bincang. Pataka penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya 
uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Pataka? Bukankah gaji 
Pataka lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, 
mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Pataka selalu 
kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya? Siangnya Pataka baru mendapat 
kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang 
sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua 
tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat 
penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, 
tapi tidak terkesan menjilat. Sambil makan siang bersama di warung sebelah, 
Pataka  mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy 
tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya 
selalu habis setelah tengah bulan." Pataka  membuka percakapan. Office boy 
tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis 
sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah 
meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, 
saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang 
gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja 
tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin 
berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak" Benar juga, pikir 
Pataka. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah 
yang dialaminya. "Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" 
tanya Pataka. "Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang 
kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji 
saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh 
beliau." katanya. 

      Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat 
yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti 
sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir 
dan akan mulai bertambah banyak." 

      Hidup prihatin . Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya?" 
Nenek saya menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi." "Tapi 
nanti kurang nek." "Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, 
segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. 
Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, 
kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu saya diajak menghitung berapa uang 
yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap 
dan kerupuk, dan lain-lain. Nenek benar-benar meminta saya hidup secara 
prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki 
ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek 
karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti 
itu. Tapi memang cukup sih." "Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan 
hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa 
saya sisihkan untuk ditabung. Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi 
menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan 
hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya 
cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek 
lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang." Pataka 
bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, 
tidak apa-apa. Tak usah dijawab." "Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam 
juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas." 
Pataka hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. 
Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Pataka cukup besar. Padahal 
sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Pataka cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu 
memilih naik taxi. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi 
atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya. 
Rasa haru campur malu membuat Pataka bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga 
ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir 
terus. Harus segera dibendung. Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! 
Start now! 
     


Kirim email ke