Tambihan warta: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/05/jab07.html " Para peternak melihat kenaikan harga susu kemasan (formula) semata-mata akibat ulah para produsen. Sebab, sampai saat ini harga pembelian susu kepada peternak sapi perah masih tetap. Jika dijual ke pabrik harga susu murni hanya sekitar Rp 1.300 sampai Rp 1.500 per liter. Tapi informasi lain menyebutkan kenaikan harga bahan baku susu terjadi karena musim kemarau yang terjadi di Australia, yang merupakan negara pengekspor ke Indonesia. Akibatnya, bahan baku susu naik hingga US$ 4.500per ton dari US$ 2.900 per ton. Kenaikan itu sudah terjadi sejak enam bulan terakhir."
On 7/9/07, Dian Nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rame-rame pangaos susu majeng.. Aya seratan kanggo urang + barudak ambeh uih deui ngaleueut susu murni, batan susu formula. Mangpaatna, cenah: 1. Kandungan gizi susu murni langkung sae batan susu formula. 2. Ngamekarkeun deui produksi susu lokal, sabab susu formula mah seueur bahan baku imporna. Wassalaam, Dian. http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=298978&kat_id=17 Kembali ke Susu Murni Harga susu formula naik. Penyebabnya sama dengan kenaikan harga minyak goreng, yaitu meningkatnya permintaan pasar internasional. Inilah bagian dari risiko globalisasi, suatu hal yang tak bisa kita sesali. Masalahnya adalah daya beli masyarakat Indonesia saat ini sedang terpuruk. Awalnya adalah kenaikan harga BBM secara drastis, lalu disusul kenaikan harga beras, minyak tanah, dan minyak goreng. Padahal, masyarakat masih belum pulih dari pukulan krisis ekonomi pada 1997. Dengan demikian, kenaikan harga susu bisa berakibat pada penurunan kualitas gizi balita dan anak-anak maupun makin beratnya beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat. Pada sisi lain, kenaikan harga susu formula bisa kita jadikan momentum bagi masyarakat untuk kembali ke susu murni. Apalagi sebetulnya secara tradisional masyarakat Indonesia lebih akrab dengan susu murni. Namun pada 1970-an, pemerintah telah dimanipulasi Bank Dunia untuk mengubah kebiasaan itu. Kita tak tahu apakah di balik itu ada agenda produsen susu formula dari korporasi internasional. Yang pasti, saat itu secara rutin pemerintah membagi-bagikan secara gratis susu bubuk ke murid-murid sekolah dasar. Ditambah dengan pendistribusian dan promosi yang gencar, kini kita lebih dekat dengan susu formula dibandingkan dengan susu murni. Akibatnya, industri rumah tangga dan peternak sapi perah yang memproduksi susu murni kelimpungan. Kini, kita menjadi asing dengan susu murni yang dijajakan secara keliling dengan sepeda ontel oleh para pedagang tradisional kita. Peternak sapi perah pun menjadi sangat lemah kedudukannya. Kini, pemasaran mereka hanya ditujukan ke industri susu formula. Celakanya, industri susu formula dikuasai korporasi asing. Akibatnya daya tawar mereka sangat lemah, terutama dalam masalah harga. Kita pun sering mendengar aksi demonstratif para peternak sapi perah dengan membuang susu karena produk mereka dihargai rendah oleh industri susu formula. Hal ini tentu saja akibat korporasi tersebut lebih suka mengandalkan bahan baku susunya berasal dari negaranya masing-masing. Dengan demikian, perubahan kebiasaan masyarakat dari mengonsumsi susu murni ke susu formula berakibat negatif ke dua sisi. Pertama, peternak sapi perah memiliki kedudukan lemah dalam pasar susu akibat ketergantungan mereka yang hanya memasarkan ke industri susu formula. Kedua, negara juga dirugikan secara ekonomi karena ketergantungan pada bahan baku impor dan tak berkembangnya peternak sapi perah. Yang lebih parah lagi adalah, ternyata kandungan gizi susu murni jauh lebih bagus dibandingkan dengan kandungan gizi susu formula. Bahkan, di negara-negara maju itu sendiri, masyarakatnya lebih suka mengonsumsi susu murni dibandingkan dengan mengonsumsi susu formula. Untuk itulah, kesempatan ini bisa dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk mengampanyekan kembali ke mengonsumsi susu murni dan mulai menyisihkan untuk mengonsumsi susu formula. Dengan demikian, perubahan kebiasaan masyarakat Indonesia dari mengonsumsi susu murni ke susu formula memberikan banyak kerugian bagi masyarakat dan negara Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun kesejahteraan sosial. Kita berharap dengan kampanye yang gencar dan terus-menerus, serta melalui kebijakan yang sistematis, kita bisa mengubah kebiasaan 'buruk dan celaka' dalam pola konsumsi susu. Hal ini juga bisa memberikan efek berantai berupa penciptaan lapangan kerja baru yang bersifat massal, yaitu akan tumbuhnya industri rumah tangga pengolah susu murni, munculnya pedagang susu murni keliling, serta tumbuh kembangnya peternak sapi perah. Kenaikan harga susu formula ini tak perlu ditangisi, tapi justru kita ambil hikmahnya untuk kembali ke kearifan lokal. Apalagi di era globalisasi ini tekanan ekonomi global akan terus datang. Hanya kearifan lokal yang bisa menjawabnya.

