Dina jero kecap-kecap panganteur anu ditulis dina novel Gajah Mada Perang
Bubat, Langit Kresna nulis:
Kondisi yang demikian tentu kontra produktif. Rasa tidak suka orang Sunda
kepada Gajah Mada yang berimbas menjadi tidak suka kepada orang Jawa itu sama
saja dengan cara pandang orang Indonesia terhadap Belanda yang pernah menjajah
Indonesia.
Naha bener kitu saperti kitu? Sanajan henteu suka ka Gajah Mada, rarasaan
kuring urang Sunda mah henteu mikangewa seler sejen. Asa kaleuleuwihi inyana
boga statement saperti kitu. Ah nyanggakeun ka para mitra sadaya eta mah.
Tah dihandap ieu lengkepna kacap-kecap panganteur Langit Kresna teh:
Sampai pada posisi ini, telah empat buku Gajah Mada saya tulis. Dari buku
pertama, Gajah Mada, buku kedua, Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan
Angkara, buku ketiga, Gajah Mada, Hamukti Palapa, saya merasa untuk menulis
buku keempat, Gajah Mada, Perang Bubat inilah saya merasakan kelelahan mental
luar biasa. Kelelahan mental itu bukan karena pengerjaannya, bukan pula
risetnya yang alhamdulillah lancar-lancar saja, tetapi materi yang harus saya
angkat yang membuat saya kelimpungan. Mempelajari sejarah Sunda serta kehidupan
budayanya pada abad 13 benar-benar membutuhkan waktu dan perhatian akstra.
Gajah Mada adalah ssok yang saya kagumi. Sepanjang penalaran saya, sulit saya
memahami kerja keras macam apa yang harus dilakukan seseorang untuk menyatukan
seluruh wilayah Nusantara di abad yang notabene belum mengenal teknologi
modern, belum ada kapal bertenaga diesel, belum ada pesawat terbang, bahkan
listrik pun belum ada.
Menceritakan bagaimana perjuangan Gajah Mada, bagaimana sepak terjangnya
ketika menyelamatkan Sri Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti, atau upayanya
meredam pemberontakan Keta dan Sadeng, terasa lancar-lancar saja. Akan tetapi,
memasuki episode Perang Bubat, dahi harus lebih berkerut. Perang Bubat adalah
episode gelap yang dilakukan Gajah Mada dalam menterjemahkan sikap politiknya
terhadap Sunda Galuh (yang ia nilai merugikan karena tidak segera menggabungkan
diri dengan Majapahit, sementara Majapahit harus membayar ongkos yang sangat
besar untuk menjamin keamanan di lautan).
Peristiwa itu terjadi pada tahun 1357, yaitu ketika Prabu Maharaja
Linggabuana yang membawa anak gadisnya, Dyah Pitaloka Citraresmi, ke Majapahit
dipaksa tunduk pada Majapahit dengan menempatkan Dyah Pitaloka Citraresmi
sebagai persembahan dan tanda takluk. Prabu Maharaja dan para pengiringnya
tidak bisa menerima nista itu dan memilih memberikan perlawanan, meski harus
tertumpas tanpa sisa. Peristiwa itulah yang masih menyisakan jejaknya hingga
sekarang, berupa hubungan antara Sunda dan Jawa yang harus terganggu oleh
nostalgia itu.
Kondisi yang demikian tentu kontra produktif. Rasa tidak suka orang Sunda
kepada Gajah Mada yang berimbas menjadi tidak suka kepada orang Jawa itu sama
saja dengan cara pandang orang Indonesia terhadap Belanda yang pernah menjajah
Indonesia. Mestinya, rasa tidak suka itu tidak perlu bersisa ketika waktu telah
bergulir sedemikian lama, bahkan telah berganti banyak generasi. Di balik
nostalgia itu, sebenarnya saya kemudian terganggu sebuah pertanyaan, benarkah
generasi Sunda sekarang masih dibayangi peristiwa itu?
Berangkat dari pertanyaan itu, saya layak berterima kasih kepada Saudara
Yulian Firdaus. Ia seorang Sunda asli, pemilik sebuah blog dengan alamat
http://yulian.firdaus.or.id. Melalui blog yang dimilikinya, ia telah membantu
saya untuk memperkenalkan buku-buku saya, serial Gajag Mada kepada
komunitasnya. Saya juga berutang kepada Saudara Jay atas kesediaannya
menyumbangkan kata pengantarnya. Saat saya merasa membutuhkan cara pandang
orang Sunda dalam menyikapi peristiwa berdarah pada tahun 1357 itu, saya merasa
Yulian Firdaus adalah orang yang tepat.
Jika ingin berkomunikasi dengan saya, termasuk segala caci maki dan
puji-pujian kalau ada bisa dilesakkan ke tiga buah email: [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], atau [EMAIL PROTECTED]
Asep
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.