Kaulinan barudak cina oge, hasil penelitian lab itb 
cenah ngandung Plumbum (Pb) alias timbal. Anu bisa 
ngakibatkeun kanker. Atuh anu kudu ati2 mah barang2 
elektronik (TI) apan rereana buatan cina. Boa2 
ngandung Pb oge. HP, komputer, MP3 player jste.


--- In [email protected], "Waluya" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Minggu2 katukang, di lembur urang, rame soal 
permen jeung kosmetik produk
> China nu cenah ngandung zat racun. Permen cenah 
make formalin, kosmetik
> make logam berat (mercuri). Loba nu kaget sabab 
eta produk teh geus
> mangtaun-taun aya di pasar di Indonesia. Kunaon 
atuh bet jadi ribut
> ayeuna, lain tibaheula keneh? Mangkaning 
produk-produk china, pangpangna
> mah premen, dipakaresep da rasana ngeunah, murah  
jeung kemasanana oge
> narik pisan. Akhirna produk China disweeping, teu 
meunang dijual.
> 
> Eh teu kungsi lila, China ngalarang ekspor 
dahareun laut ti Indonesia,
> cenah mah dahareun laut ti Indonesia teh ngandung 
zat nu bahaya. Sarua
> jeung nu dituduhkeun Indonesia ka Permen China.
> 
> Permen Versus Seafood? henteu cenah (bari rada teu 
percaya), ceuk warta
> dina Kompas dinten ieu mah (8/8/2007) :
> 
> 
> China Nyatakan Tidak Ada Perang Dagang
> 
> 
> Jakarta, Kompas - Pemerintah China menyatakan, 
penghentian sementara impor
> produk ikan dari Indonesia bukan merupakan perang 
dagang. Produk ikan
> olahan dari Indonesia yang beredar di China dan 
ditemukan mengandung logam
> berat diperkirakan diekspor oleh eksportir ilegal.
> 
> Fakta itu terungkap dalam rapat antara Badan 
Karantina Departemen
> Pertanian dan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran 
Hasil Perikanan (P2HP)
> Departemen Kelautan dan Perikanan dengan delegasi 
dari General
> Administration of Quality Supervision, Inspection 
and Quarantine (AQSIQ)
> China, Selasa (7/8) di Jakarta.
> 
> "AQSIQ menegaskan, penghentian sementara impor 
produk perikanan itu tidak
> ada kaitannya dengan produk China yang ditarik 
dari peredaran di
> Indonesia. Suasana rapat tadi amat kondusif kok," 
ujar Kepala Badan
> Karantina Pertanian Syukur Iwantoro.
> 
> Syukur menjelaskan, berdasarkan uji sampel yang 
rutin dilakukan AQSIQ,
> sejak April lalu ditemukan residu merkuri dan 
kadmium melebihi ambang
> batas pada produk ikan olahan Indonesia yang 
beredar di China.
> Permasalahan ini membuat China menghentikan 
sementara impor produk ikan
> Indonesia.
> 
> "Pada rapat tadi, AQSIQ memberikan nama-nama 
perusahaan pengekspor produk
> yang diambil sampelnya. Ternyata pengekspornya 
tidak terdaftar di Ditjen
> P2HP, padahal eksportir resmi harus terdaftar," 
ujar Syukur.
> 
> Data eksportir resmi
> 
> Terkait temuan itu, AQSIQ meminta Indonesia 
mengirimkan data eksportir
> resmi yang mengirimkan produk ikan ke China. 
"Mereka mengatakan, produk
> ikan dari Indonesia sebenarnya sangat mereka 
butuhkan. Dengan data
> eksportir resmi dari Indonesia, mereka akan lebih 
mudah mengatasi produk
> ekspor ilegal," kata Syukur.
> 
> AQSIQ juga meminta Ditjen P2HP berkomunikasi 
langsung dengan karantina
> China yang menangani perikanan. Perwakilan Ditjen 
P2HP juga menjelaskan
> pada AQSIQ bahwa sistem pengawasan dan standar 
keamanan pada produk ikan
> olahan yang diekspor secara resmi dari Indonesia 
sudah harmonis dengan
> sistem dan standar di Uni Eropa dan Kanada.
> 
> "Badan Karantina dua negara saling menjelaskan 
skema pengawasan karantina
> yang berlaku di masing-masing negara. Skema yang 
berlaku di Indonesia dan
> China sebenarnya sudah sesuai dan mengacu pada 
ketentuan standar yang
> sama," ujar Syukur.
> 
> Patut dijaga
> 
> Dalam kesempatan terpisah, Menteri Kelautan dan 
Perikanan Freddy Numberi
> menegaskan, perdagangan produk perikanan dengan 
China patut dijaga karena
> China merupakan pasar potensial. "Kita sudah 
membina hubungan dagang yang
> lama dengan China. Kalau memang kualitas produk 
perikanan kita buruk, kita
> benahi. Apalagi, kualitas unggul produk perikanan 
bukan saja disyaratkan
> China, tetapi juga Uni Eropa dan Amerika," 
katanya.
> 
> Bahkan, kata Freddy, pihaknya sama sekali tidak 
berpikir mencari pasar
> perikanan baru untuk menggantikan posisi China.
> 
> Terkait pernyataan Atase Perdagangan KBRI Beijing 
bahwa terdapat pelaporan
> 253 kasus terkait impor akuatik bermasalah dari 
Indonesia disangkal oleh
> Direktur Jenderal P2HP DKP Martani Husein.
> 
> "Ada laporan yang masuk, tetapi tidak sampai 
ratusan laporan. Sejak Maret
> 2005 hingga Mei 2007, tercatat hanya 14 laporan 
yang masuk ke Direktorat
> Standardisasi dan Akreditasi DKP," kata Martani. 
(DAY/RYO)
>


Kirim email ke