Baraya sadaya, 
Loba gagasan, loba kahayang, loba oge paguyuban, kumpul-kumpul, 
konggres-konggres perkara ngokolakeun bangsa sunda, contona para inohong ieu 
tapi rek nepi ka iraha urang kikieun teh, iraha urang rek boga koordinator 
bangsa sunda? henteu rencana jeung henteu aya target, keun bae bari leumpang 
sahayuna, sugan dihareup aya bungkeuleukanana. 

Wassalam, 
dudi_ss



Sejumlah Tokoh Bangkitkan Ki Sunda 
CIAMIS, (PR).-
Masih kuatnya pemikiran bernuansa romantisme sejarah menjadi salah satu 
penyebab kurangnya kemajuan bagi Ki Sunda. Untuk mengatasi kondisi itu, salah 
satu yang perlu diupayakan semua pihak adalah kembali membangkitkan semangat Ki 
Sunda, sehingga lebih mampu dalam mengatasi segala kondisi di era sekarang ini. 

Hal itu merupakan benang merah yang dapat dipetik dalam kegiatan silaturahmi 
yang dikemas dalam Diskusi Budaya Ki Sunda yang digelar di rumah salah seorang 
tokoh masyarakat Jawa Barat, Uche Karna Suganda, di Desa Sriwinangun, Kec. 
Panjalu, Kab. Ciamis, Rabu (28/8). 

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh. Di antaranya Tjetje Hidayat 
Padmadinata, Acil Bimbo, Uwa Rumayat, Eyang Memet Surahmat, Dyna Ahmad, dan 
Rosa Mintarja. 

Menurut Uche, kegiatan tersebut merupakan babak awal atau permulaan pembahasan 
menyangkut Ki Sunda. Selanjutnya, akan dilakukan berbagai pertemuan yang lebih 
intensitif. Salah satu materi penting yang dikerjakan, yakni menginventarisasi 
data mengapa Ki Sunda sampai pada posisi seperti sekarang ini. Demikian pula, 
langkah yang perlu diambil untuk mengatasi berbagai persoalan.

"Apa yang kita lakukan di sini sebagai wujud keprihatinan kita, terhadap apa 
yang saat ini terjadi pada Ki Sunda. Kita inginkan adanya kemajuan perbaikan 
dalam berbagai perikehidupan Ki Sunda," ujarnya. 

Dalam diskusi yang berlangsung santai tetapi serius, Acil Bimbo mengatakan, 
perlunya perubahan pola pikir (mind set) lama menjadi paradigma yang baru. 
Pemikiran baru tersebut akan berjalan dengan baik, apabila diikuti dengan 
adanya gerakan budaya baru. 

"Dan yang terpenting menyangkut roh Sunda, melalui kearifan lokal. Ke depan 
tantangan lebih berat, kita tidak bisa diam, harus terus menggelorakan model 
perjuangan dan militansi Sunda," ujarnya. 

Sementara itu, Tjetje banyak mengupas soal kelemahan Ki Sunda seperti masih 
kuatnya romantisme sejarah atau masa lalu. Untuk itu, ia juga menyampaikan 
pemikiran perlunya Garis-garis Besar Haluan Sunda (GBHS), yang diharapkan mampu 
melahirkan sikap kenegarawanan Ki Sunda.

Sedangkan Dyna mengatakan, perlunya gerakan untuk mencari solusi dalam upaya 
mengembalikan tatar budaya dan demi kemajuan Jawa Barat. "Ini persoalan Ki 
Sunda bersama, dan penyelesaiannya pun juga harus merujuk, dikawal, serta 
sepenuhnya merupakan kebutuhan Ki Sunda dalam menghadapi keadaan," tuturnya. 
(A-101)***

Kirim email ke