Mudik Lebaran dengan Aman & Nyaman
TIDAK terasa Iedul Fithri, atau populer dengan sebutan Lebaran, tinggal 2 minggu lagi. Warga Ibu Kota sudah bersiap-siap untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Sudah menjadi tradisi pada setiap Lebaran sebagian besar warga Ibu Kota beramai-ramai meninggalkan Jakarta untuk merayakan Lebaran bersama-sama dengan sanak saudara di kampung halaman. Kali ini, perhatian lebih dipusatkan kepada orang - orang yang melakukan perjalanan mudik dengan menggunakan mobil pribadi. Pertanyaan mendasar yang selalu menyertai perjalanan mudik dengan mobil pribadi adalah bagaimana agar perjalanan itu bisa berlangsung nyaman dan aman? Hingga seluruh keluarga dapat merayakan Lebaran di kampung halaman dan kembali lagi ke tempat tinggal dengan selamat. Dalam keadaan sehari-hari, betapa sering kita membaca, mendengar, atau menyaksikan perjalanan ke luar kota yang seharusnya membawa kegembiraan, akhirnya menjadi menjengkelkan karena mobil mengalami kerusakan di tengah perjalanan. Bahkan, tidak jarang perjalanan yang seharusnya membawa kegembiraan tersebut berubah menjadi malapetaka. Kecelakaan terjadi, korban luka berjatuhan, dan tidak jarang nyawa melayang. Untuk menjaga agar mobil tidak mengalami kerusakan di tengah perjalanan, maka mobil yang akan digunakan untuk melakukan perjalanan mudik tersebut dibawa ke bengkel untuk diperiksa dan disetel (Engine Tune up) hingga memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan jauh. Karena mobil yang mengalami kerusakan di tengah perjalanan selain merusak suasana mudik, juga akan menimbulkan kemacetan lalu lintas. Pemeriksaan di bengkel sebaiknya antara lain mencakup setelan (setting) mesin, kondisi oli, accu, sistem kerja rem, sistem kerja pendinginan mesin, kaki - kaki, serta kondisi dan tekanan ban. Akan lebih baik apabila ban di - balancing sehingga mobil tetap nyaman dikendarai dalam kecepatan di atas 80 kilometer. Seandainya Anda mempunyai waktu dan dana yang cukup, tidak ada salahnya jika roda di - spooring sehingga mobil tidak "lari" ke kiri atau ke kanan. Jika mobil sudah memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan jauh, maka keamanan dalam perjalanan sepenuhnya berada di tangan pengemudi. Pengemudi menjadi faktor utama yang menentukan suatu kecelakaan itu dapat dihindari atau tidak. Apabila pengemudi mengendarai mobilnya secara aman, serta dapat bereaksi secara benar pada saat yang tepat, maka secara teoritis suatu kecelakaan tidak akan terjadi, atau dapat dihindari. Yang dimaksudkan dengan mengendarai mobil secara aman adalah pengemudi mematuhi rambu - rambu lalu lintas, seperti antara lain mengemudikan mobil di lajur yang benar, tidak melanggar batas kecepatan maksimum yang diizinkan, mematuhi tanda dilarang menyusul, tidak mendahului dari bahu jalan berhenti, melihat ke kiri dan ke kanan saat akan melintas rel kereta api, serta menjaga jarak yang aman dengan kendaraan yang berada di depannya. Diperlukan suatu disiplin yang tinggi untuk mematuhi semua itu. Saat mengemudi di jalan tol, pada kecepatan 60 kilometer per jam, jarak aman dengan kendaraan yang berada di depannya sekitar 60 meter atau lebih. Pada kecepatan 80 kilometer per jam, 80 meter atau lebih, dan kecepatan 100 kilometer per jam, 100 meter atau lebih. Dalam keadaan hujan, atau permukaan jalan basah, jarak aman itu dikalikan dua. Sedangkan bereaksi pada saat yang tepat hanya bisa dilakukan kalau pengemudi tetap berkonsentrasi penuh (fokus dan waspada) selama mengemudi, terutama saat menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, di atas 80 kilometer per jam. Untuk menjaga agar senantiasa fokus dan waspada, pengemudi harus menjaga agar emosi atau kemarahannya tidak sampai terpicu oleh perilaku pengemudi kendaraan lain yang ugal-ugalan. Jika ada mobil yang memaksa masuk ke lajur di mana Anda tengah berkendara (biasanya kendaraan umum), kurangilah kecepatan dan berikanlah mobil tersebut kesempatan untuk masuk. Biasanya dalam waktu tidak terlalu lama, mobil itu akan keluar kembali dan mendahului mobil-mobil yang berada di depannya. Jika Anda tidak memberinya kesempatan untuk masuk dan tetap mempertahankan kecepatan mobil Anda, bukan tidak mungkin mobil Anda akan bertabrakan dengan mobil tersebut. Sebab bisa saja, mobil itu memaksa masuk karena tidak mempunyai pilihan lain. Mobil itu berupaya menghindari bus, truk, atau mobil yang datang dari arah yang berlawanan. Bahkan, jika mobil itu tidak berhasil masuk dan bertabrakan dengan kendaraan yang datang dari arah yang berlawanan, bukan tidak mungkin Anda juga tidak selamat karena mobil terlempar dan menghantam mobil Anda. Seandainya perjalanan dilakukan pada H minus 3, atau sebelum Lebaran, dan pengemudi berpuasa, maka sebaiknya kecepatan kendaraan dijaga agar tidak melampaui 100 kilometer per jam untuk waktu yang lama. Saat berpuasa kelelahan cepat muncul, konsentrasi pun tidak dapat bertahan lama, sehingga pengemudi tidak dapat bereaksi secara benar dalam keadaan darurat. Pada saat mobil melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam, jika pengemudi satu detik saja terlambat menginjak rem, maka mobil sudah meluncur sekitar 26 meter. Jika hal itu sampai terjadi di jalan maka akibatnya bisa fatal. Pada banyak kasus, kecelakaan tersebut terjadi bukan hanya karena kesalahan pengemudi yang bersangkutan, melainkan karena faktor di luar kekuasaannya, seperti ban pecah, atau kesalahan pengemudi lain. Sebab itu, jika pengemudi tetap berkonsentrasi selama mengemudi, diharapkan dia dapat bereaksi secara tepat apabila terjadi situasi darurat. Oleh karena itu, apabila pengemudi menunjukkan gejala lelah, tegang, dan mengantuk, mintalah dia untuk segera menepikan kendaraan dan beristirahat sejenak. Jika ada yang bisa menggantikannya, lakukan pergantian. Dan, jika melakukan pergantian, maka sebaiknya orang yang menggantikannya adalah orang yang duduk di sampingnya. Jika ia berkeras tidak mau beristirahat atau tidak mau digantikan, ingatkan kepadanya bahwa jika sampai terjadi kecelakaan, bukan hanya dia yang menjadi korban, tetapi dia juga mengorbankan anggota keluarganya yang berada bersamanya di dalam mobil. Satu detik, bisa mengubah segala - galanya. MENJELANG Lebaran banyak juga orang yang membeli mobil baru atau mobil bekas yang masih terlihat bagus untuk melakukan perjalanan mudik bersama keluarga. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya pengemudi membiasakan diri dulu dengan mobil tersebut, sebelum memacunya dengan kecepatan tinggi. Persoalan biasa muncul bila orang membeli mobil baru. Mobil baru itu nyaman dikendarai sehingga ada kecenderungan orang akan memacu mobil tersebut dengan kecepatan tinggi, di atas kecepatan yang biasa dikembangkannya. Persoalan muncul ketika tiba-tiba terjadi situasi darurat, ban depan pecah, atau tiba-tiba ada orang yang menyeberang. Karena tidak biasa mengembangkan kecepatan setinggi itu, maka reaksi pengemudi biasanya terlambat, atau dalam kasus - kasus tertentu bahkan terlalu cepat sehingga kecelakaan tidak dapat dihindari. Dalam melakukan perjalanan jauh, sebaiknya penumpang yang duduk di belakang pun menggunakan sabuk pengaman (seatbelt), jika sabuk pengaman itu tersedia, terutama jika mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Pada banyak kasus kecelakaan, terbukti bahwa sabuk pengamanan itu bisa melindungi nyawa.(JL) Sumber: Kompas - Jumat, 05 November 2004 ----------------------- Tips Mudik Menggunakan Kendaraan Pribadi Selain kesiapan mental dan fisik, sebelum mudik kendaraan pun harus dicek dan diservis. Bila tidak, siap-siap saja bakalan mengalami kerepotan sepanjang perjalanan. Padahal, perjalanan mudik bisa jadi merupakan sesuatu yang menyenangkan. Agar perjalanan Anda jadi menyenangkan, apa saja yang perlu diperiksa sebelum mudik? Pengapian Salah satu indikasi mesin yang oke, suaranya tetap halus pada putaran langsam atau stationer. Jangan ragu untuk memeriksa kondisi koil dan platina atau CDI agar tetap berfungsi baik. Selain itu, perlu dicermati busi berikut kabelnya. Bila elektrodanya agak hitam, jangan ambil resiko, ganti saja dengan yang baru, atau minimal segera bersihkan dengan amplas halus. Kelistrikan Periksa soket, sekring, relay, kabel, amper, alternator, instrumen di dasbor dan cek juga kondisi accu, termasuk kutub terminal. Air aki jangan kurang dan kondisi aki harus bebas dari kerak - kerak putih. Caranya bersihkan dengan air panas. Setelah dikeringkan, olesi kutub terminal atau kepala Aki dengan gemuk. Cek juga kabel aki yang ke massa, motor starter, dan kunci kontak. Oli mesin, gardan, transmisi Kapan terakhir kali ganti oli mesin, gardan, dan transmisi? Lupa? Biar terjamin, ganti oli mesin yang baru, boleh sendiri atau di bengkel langganan. Oli sangat penting karena mesin mobil butuh pelumasan yang baik sebab Anda bakal menempuh perjalanan jauh dan mungkin juga kemacetan. Radiator, tali kipas, pengatur hawa Radiator bekerja baik bila air radiator tak perlu ditambah. Ketika suhu mesin tinggi, air di tangki cadangan bertambah, sebaliknya saat mesin dingin, air di radiator akan berkurang atau kembali normal. Tali kipas alternator dan AC juga perlu diperiksa, bila ada retak-retak kecil, dengan tanda berbunyi ...cit...cit..., segera ganti dengan yang baru. Jangan remehkan juga masalah pengatur udara (AC), segera servis biar ruangan mobil tetap sejuk selama mudik. Rem Soal rem, jangan tawar - tawar lagi. Buka ke empat roda, bersihkan/cuci teromol dan piringan remnya, cek mekanisme rem, kabel rem, kerja rem tangan - sebab diandalkan ketika jalan menurun/menanjak, cek juga minyak rem. Ban Periksa tekanan angin dan keausan ban. Bila anggaran terbatas untuk beli ban baru, don't worry. Tukar silang ke - 4 posisi ban yang kembangnya lebih baik ditaruh depan. Biar sip, setelah ban dirotasi, lakukan spooring & balancing. Pengendalian lebih nyaman dan setir pun tidak bergetar pada kecepatan tinggi. Siapkan suku cadang dan tool kit Setelah melakukan proses pengecekan di atas, sediakan pula suku cadang, seperti: tali kipas, sekring 10A atau 15 A, isolator, lampu (rem, mundur, lampu utama), plus peralatan standar: dongkrak, segitiga pengaman, 1 set kunci ring/pas, obeng (+ dan - ) , tang, relay, test pen, kompresor mini, sarung tangan dan cairan penetran WD40. Tak kalah penting, sediakan juga kotak P3K!/KCM. Marwan Faizal A.
<<image001.gif>>

