punteun teu disunda sundakeun acan... da iyeu mah carita nu alus nu janten
pelajaran keur sadayana


http://aanyogya.wordpress.com/2007/08/26/ilyas-karim-kisah-pengibar-bendera-
pusaka/

Ilyas Karim : Kisah Pengibar Bendera Pusaka
Agustus 26, 2007 at 12:06 am

Deru kereta api terdengar menggaruk-garuk rel, Kamis (16/8) malam itu. Dan,
Ilyas Karim kerap dibayangi kekhawatiran jika gerbong sekonyong-konyong
menimpa rumahnya. Maklum, jarak rumah Ilyas dengan rel cuma lima meteran. "
Tahun lalu ada tabrakan kereta api dan metro mini. Kebun pisang saya habis
tergilas," kata dia.

Beginilah Ilyas. Di usianya yang 80 tahun, badannya masih tampak kukuh.
Maklum, dahulunya ia pejuang. Pada detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945,
ia berdiri beberapa jengkal saja dari sisi Bung Karno.

Siapa Ilyas? Dialah sang pengibar Sang Saka Merah Putih. Bersama Sudanco
Singgih (almarhum), Ilyas menjadi salah satu yang bertugas mengerek bendera
ketika proklamasi dikumandangkan 62 tahun silam di Jl Pegangsaan Timur 56
Jakarta Pusat. Usia Ilyas saat itu 17 tahun.

Foto Ilyas terabadikan dalam buku-buku sejarah. Ia tampak mengenakan kemeja
dan celana pendek putih. Sementara Sudanco mengenakan seragam tentara
lengkap. Bung Karno, Bung Hatta, dan Fatmawati Soekarno mendongak ke atas
menyaksikan bendera kian meninggi.

Takdir yang memilih Ilyas menjadi pelaku sejarah penting ini. Lahir di
Padang, Sumbar, Ilyas sekeluarga hijrah ke Jakarta pada 1936. Ia
disekolahkan di Banten, sementara ayahnya bertugas sebagai demang (camat) di
daerah Matraman, Jakpus.

Namun, Jepang kemudian menangkap sang ayah, memboyongnya ke Tegal, Jateng,
dan menembaknya. Ilyas menjadi yatim piatu dan tak punya biaya sekolah.

Ia kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Angkatan Muda Islam (AMI) yang
bermarkas di Jl Menteng 31, Jakpus. Nah, pada 17 Agustus 1945 anak-anak muda
ini ditugaskan Chaerul Shaleh mengawal prosesi proklamasi kemerdekaan di Jl
Pegangsaan Timur. Sudanco Singgih, yang saat itu tentara PETA, ditugaskan
mengerek bendera.

Lantas siapa yang memegangi bendera? Adalah Latief Hadiningrat yang
menugaskan Ilyas. Dari 50-an pemuda AMI, kebetulan Ilyas yang paling muda
dan paling kecil. "Dipikirnya saya yang paling gesit," kata dia sembari
terkekeh. Untungnya Ilyas punya pengalaman mengibarkan bendera ketika
sekolah tarbiyah di Banten. Bedanya yang ia kibarkan saat itu adalah bendera
Belanda. Lagunya pun lagu kebangsaan Belanda.

Didapuk mengibarkan bendera saat proklamasi, kontan saja Ilyas merasa bangga
dan terharu. Ini, kata dia, adalah peristiwa mahapenting. "Ini adalah titik
balik bagi Indonesia dari bangsa budak menjadi bangsa merdeka. Dan, saya
terlibat dalam peristiwa paling bersejarah ini," kata dia.

Usai pengibaran bendera, proklamasi dikumandangkan. Bung Karno lantas
mengajak hadirin masuk ke ruang tengah rumahnya di Jl Pegangsaan Timur.
Mereka menyantap makanan ringan. Salah satunya kue bolu yang didatangkan
dari Senen, Jakpus. Termasuk yang ikut menyantap bolu adalah Ilyas. Ia yang
paling muda di situ.

Bung Karno lantas menghampiri Ilyas dan kawan-kawan sembari memberi
wejangan. "Kalian para pemuda. Belajarlah yang sungguh-sungguh. Kalau
berdagang, berdaganglah yang sungguh-sungguh" ucap sang founding father ini.
Ilyas kemudian bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Babak baru kehidupan Ilyas dimulai pada 1948. Pada Mei tahun itu Ilyas dan
sejumlah pemuda Jakarta diundang ke Bandung oleh Mr Kasman Singodimejo.
Bertempat di bekas sebuah sekolah di Jl Buah Batu, Bandung, Kasman dan
kawan-kawan berencana membentuk laskar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Hadir
di situ Jenderal AH Nasution dan Kharis Suhud.

TKR unit Jawa Barat pun sepakat dibentuk. Tapi kemudian mereka kebingungan,
apa kira-kira nama divisi tentara ini. Ilyas kemudian berbicara pada AH
Nasution, "Beri kami waktu untuk berpikir soal nama." Rapat pun dibubarkan.

Keesokan hari Ilyas menemui sejumlah tokoh setempat di daerah Leuwiliang,
Bandung. Menurut mereka, rakyat Jabar adalah keturunan Prabu Siliwangi dari
Sumedang. Ilyas lalu mengusulkan nama Siliwangi kepada AH Nasution. Usul ini
disetujui. Jadi,"Saya itu yang beri nama Siliwangi," kata ayah 15 anak ini
sembari tersenyum.

Sebagai tentara, Ilyas pernah diterjunkan di sejumlah medan pertempuran di
antaranya di Ambon (1951), Aceh (1954), Riau (1958), Timor-Timur (1974). Ia
bertugas sebagai petugas medis. Tahun 1961 Ilyas dikirim ke Kongo dalam misi
pasukan perdamaian PBB, termasuk ke Libanon dan Vietnam. Tak ada istilah
sengsara dalam kamus Ilyas. Bagi seorang prajurit,"Pahit dan manis sama
saja. Justru kita bersyukur karena diselamatkan Tuhan."

Pada 1979 ia pensiun dengan pangkat letnan kolonel. Pada masa pensiun inilah
justru badai mengempas. Tahun 1981 ia diusir dari tempat tinggalnya di
asrama tentara Siliwangi, di Lapangan Banteng, Jakpus. Kata Ilyas, presiden
saat itu, Soeharto, memang menaruh dendam pada prajurit Siliwangi. Sekitar
50 rumah para veteran perang ini dirubuhkan. Hujan tengah mengguyur deras
saat penggusuran terjadi. Perabotan dan kasur pun basah kuyup. Sementara
mata mereka basah oleh air mata.

Tak ada ganti rugi dari pemerintah. Mereka cuma diusir. Ilyas pun
kelimpungan cari tempat tinggal. Sejumlah kawannya bahkan ada yang pulang
kampung. Untungnya, atas kebaikan kepala stasiun Kalibata saat itu, Ilyas
diberi sepetak tanah milik PJKA di Jl Rawajati Barat, Kalibata, Jaksel.
Luasnya cuma 50 meter persegi. Lokasinya persis di pinggir rel.

Tapi Ilyas lega. Bersama sepuluh purnawirawan Siliwangi yang diusir rezim
Orde Baru, Ilyas mendirikan bangunan petak di situ. Dahulunya, lokasi ini
adalah tempat pembuangan sampah. Di tempat sempit dan gaduh inilah
Ilyas -sang pengibar bendera pusaka- menghabiskan hari tuanya.

Saban bulan Ilyas memperoleh uang pensiun sebesar Rp 1,5 juta. Dahulu,
sebagai pejuang berpangkat kopral di era Soekarno, ia memperoleh tunjangan
Rp 50. "Tapi, duit segitu enggak habis sebulan. Sekarang uang besar, tapi
nilainya kecil," tuturnya.

Uang pensiunan bagi para veteran ini bervariasi, dari Rp 500 ribu hingga Rp
1,5 jutaan. Setiap akhir bulan Ilyas kerap berjumpa sesama teman veteran
saat mengambil uang pensiun. "Tinggal di mana sekarang? Sudah punya rumah?"
tanya Ilyas suatu waktu kepada rekannya. Yang ditanya menjawab sekenanya,"
Boro-boro rumah. Saya masih kos di Condet," Ilyas menirukan.

Sejak 1995 Ilyas adalah Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang
bermarkas di Jl Proklamasi. Inilah kerja ngantor yang dilakoninya saban
hari. Di usianya yang 80 tahun, dengan kedua bola matanya yang didera
stroke, ia harus naik turun kereta api dari stasiun Kalibata hingga Cikini.
Berjejal-jejalan.

Tak pernah lupa Ilyas mengenakan pin veteran 1945 di dada kirinya. Inilah
yang menyelamatkan dia dari omelan kondektur atau petugas tiket KA. Mereka
tak berani menagih ongkos KA. "Mereka tahu veteran enggak ada duitnya," kata
dia kembali terkekeh. Toh, ia mengaku menikmati hari-harinya. Bagi dia,"Yang
penting adalah badan sehat. Dan, enggak menyusahkan orang."










=======================================
Just because we smart don't think the other one is stupid
Boku wa Isuramu jin da yo
=======================================


Kirim email ke