Sanggeus lalayaran di Google, kapanggih memang bener Prof Dr. 
Mohammad Sholeh teh dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya. Desertasina 
soal shalat Tahajud diajukeun di UNIVERSITAS AIRLANGGA Surabaya 
(Jadi lain di Universitas Surabaya saperti disebut dina forward 
artikel ieu). Jadi artikel ieu LAIN HOAX saperti nu ku kuring 
sangka. Ngan hanjakalna teh, nulisna sambarangan. 
Nu teu pati apal siga kuring, jadi kerung sabab di Surabaya, 
fakulltas Kedokteran nu tepi ka pasca sarjana mah, di UNAIR, lain di 
Universitas 
Surabaya nu teu boga fakultas kedokteran.

Keur "nebus dosa" nyebut Hoax, kuring nyalin warta ti GATRA jeung 
REPUBLIKA (nu bejana leuwih bisa dipercaya) perkara panalungtikan 
Mohammad Sholeh ieu:



Gatra, 16 Oktober 2006

Berkah Bagi yang Ikhlas

Satu anjuran yang kerap digemakan setiap bulan Ramadan ialah salat 
malam, 
tahajud. Apalagi jika dikerjakan pada 10 malam terakhir di bulan 
suci itu. 
Tahajud termasuk salat sunat yang dikerjakan di waktu malam setelah 
tidur 
lebih dulu, meski hanya sejenak.

Selain ibadah, salat tahajud juga bermanfaat bagi kesehatan. 
Profesor Dokter 
Mohammad Sholeh, dosen Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri 
Sunan 
Ampel, Surabaya, memberikan bukti. Dalam bukunya berjudul Terapi 
Salat 
Tahajud, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 
Surabaya, 
itu bilang, tahajud bisa mencegah stres dan meningkatkan daya tahan 
tubuh 
manusia. Tentu, bila itu semua dikerjakan secara teratur dan ikhlas.

Sholeh melakukan studi tahun 1999. Sebanyak 41 siswa SMU Lugman 
Hakim, 
Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya, menjadi objek observasinya. 
Mereka 
diminta melakukan salat tahajud saban malam selama sebulan. "Dari 41 
orang, 
yang bisa bertahan cuma 23 orang," kata Sholeh, yang juga pengasuh 
Klinik 
Terapi Tahajud di Surabaya. Ke-23 siswa tersebut diminta menunaikan 
tahajud 
lagi sebulan berikutnya untuk tes tahap kedua. Yang berhasil lolos 
tes kedua 
19 siswa.

Setelah melaksanakan tahajud, mereka diambil darahnya untuk 
diperiksa. 
Komponen darah yang diperiksa, misalnya, hormon kortisol. Hormon ini 
berkaitan dengan stres. Ikut diobservasi pula kandungan netrofil, 
basofil, 
eosinofil, monosit, imunoglobulin G (IgG), imunoglobulin M (IgM), 
dan 
imunoglobulin A (IgA) dalam darah. Komponen itu dipakai untuk 
mengecek 
sistem imun tubuh relawan.

Hormon kortisol diteliti dengan peralatan radioimmunoassay. Basofil 
dan 
neutrofil diteliti dengan automatic cel counter systemex 1000. 
Sedangkan 
imunoglobulin diukur dengan perangkat immunoturbidimetry analyser 
hitchi 
704. Pengukuran ini dilakukan di Laboratorium Pramita, Prodia, dan 
Klinika. 
Semuanya di Surabaya.

Selain itu, mereka juga diperiksa kesehatannya, antara lain, lewat 
pengecekan hemoglobin, sel darah merah, sel darah putih, dan SGOT 
(serum 
glutamic oxaloacetic transaminase) dan SGPT (serum glutamic pyruvic 
transaminase). SGPT dan SGOT adalah dua tes darah untuk melihat 
tingkat 
kesehatan liver. Umumnya mereka normal.

Yang menarik, ternyata kelompok pengamal tahajud mengalami penurunan 
hormon 
kortisol. Pada tahap pertama selama sebulan, kortisol menurun rata-
rata 
sebanyak 28,947. Pada tahap kedua, penurunannya lebih tajam, yakni 
156,579. 
"Ini berarti tahajud menurunkan tingkat stres," kata Sholeh dalam 
bukunya.

Stres terkait dengan kekebalan. Jika stres menurun, kekebalan tubuh 
meningkat. Itu terlihat juga pada komponen sistem imunitasnya, 
seperti 
tampak pada studi Sholeh. Menurut Sholeh, meningkatnya respons imun 
akan 
membuahkan kenaikan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Tapi sekali lagi ditekankan, pengamal salat tahajud harus ikhlas. 
Jika 
tidak, akan timbul stres dan penyakit. Sholeh melihat, setelah 
menjalani 
tahajud, ada beberapa relawan yang mengeluh sakit. Ada yang batuk-
pilek, 
pusing-pusing, susah tidak, nafsu makan hilang, dan mengalami 
gangguan 
pencernaan.

Yang pasti, secara umum sistem imun relawan tadi ikut meningkat. 
Dari dua 
tahap, limfosit meningkat dari 7,684 menjadi 242,842. Begitu pun 
kadar 
imunoglublinnya. IgM dari 2,789 menjadi 19,263, IgG dari 23,158 naik 
jadi 
291,421, dan IgA meningkat ke 90,368 dari 64,632.

Menurut Sholeh, penurunan kortisol terjadi karena pengamal menjalani 
tahajud 
dengan niat yang ikhlas. Niat ikhlas akan mendatangkan rasa senang, 
optimistis, dan persepsi positif. ''Reaksi emosional positif itu 
dapat 
menghindarkan diri dari stres," ujarnya. Itu tak terjadi jika 
relawan 
mundur. Mereka dinilai mengerjakan salat tidak ikhlas. Salat yang 
dikerjakan 
secara tak ikhlas akan mendatangkan rasa tertekan, negatif, dan 
rentan 
terhadap stres.

Ahli psikoneurologi dari Universitas Airlangga, Profesor Taat Putra, 
setuju 
dengan kesimpulan Sholeh. Menurut Taat, sistem imun tidak otonom. Ia 
dipengaruhi pikiran manusia. Terkait dengan tahajud, ia bilang, 
peran 
tahajud akan terlihat bila dikerjakan dengan pikiran 
tenang. "Pikiran tenang 
dapat mengolah stresor dengan baik," katanya.

Sebab, dengan cara itu, sistem metabolisme tubuh akan seimbang. 
Misalnya, 
hormon kortisol dan adrenalin (atau epinefrin) yang diproduksi 
kelenjar 
adrenal. Hormon-hormon tadi mempengaruhi sel imun. Semakin banyak 
diproduksi 
akan mengakibatkan tingginya tingkat stres. Dengan pikiran tenang, 
hormon-hormon ini akan berkurang produksinya. "Jadi, dalam salat 
tahajud, 
fokusnya pada keikhlasan," kata Taat.

Toh, Dokter Chairul Effendi, ahli penyakit dalam di Rumah Sakit 
Soetomo, 
Surabaya, tidak mau berkomentar perihal hubungan langsung tahajud 
dengan 
kekebalan tubuh. Tapi ia mengaku bisa menerima kesimpulan bahwa 
stres 
mempengaruhi sistem imun seseorang. Yang stres jadi kurang imun. 
Jadi, 
salatlah tahajud dengan ikhlas jika ingin hidup tenang dan sehat.

Aries Kelana, dan Arif Sujatmiko (Surabaya)
[Kesehatan, Gatra Edisi Khusus Beredar Senin, 16 Oktober 2006]


 Republika, Jumat, 02 Februari 2007

Prof Dr Mohammad Sholeh
Tahuj Perkuat Sistem Imun Tubuh


Rasulullah SAW nyaris tidak pernah melewatkan satu malam pun kecuali 
dengan 
shalat tahajud, bahkan di saat peperangan sekalipun. Dulu, shalat 
tahajud 
diwajibkan. "Setelah turun surat Al-Muzzammil ayat 19 dan 20 baru 
disunatkan," ujar Prof Dr Mohammad Sholeh, pengasuh Klinik Terapi 
Tahajud 
dan trainer salat khusyuk kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, 
Rabu (31/1)

Mengapa Rasulullah SAW menganjurkan shalat ini, hanya Beliau yang 
tahu. 
Namun perkembangan sains membuktikan, shalat ini banyak 
manfaatnya. "Secara 
medispun bisa dibuktikan," ujar pria yang tahun 2000 berhasil 
mempertahankan 
disertasi doktornya di jurusan Psikoneuroimunologi Unair mengenai 
shalat 
tahajud untuk sistem imun tubuh ini.

Berikut ini penjelasannya mengenai kajian ilmiahnya tentang tahajud:
Apa alasan Anda tertarik meneliti tentang shalat tahajud dan 
hubungannya 
dengan sistem imun tubuh?

Pertama tidak ada shalat sunat yang dianjurkan oleh Alquran kecuali 
tahajud. 
Sedangkan shalat-shalat sunat lain itu hanya sampai pada tataran 
hadis 
Rasulullah SAW. Kalau shalat sunat tahajud itu ada di dalam surat 
Al-Muzzammil ayat 1 sampai 20 terutama pada ayat 1 sampai 10. 
Kemudian Surat 
Al-Isra ayat 79. Ini alasan logika normatifnya.
Kedua, Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah meninggalkan shalat 
tahajud. 
Ketiga, tidak ada shalat sunat yang diwajibkan Islam kecuali 
tahajjud. 
Selama satu tahun Rasulullah mewajibkan umatnya melaksanakan shalat 
tahajjud, sebelum turun ayat tadi.
Lalu ada hadis kudsi yang menjelaskan tentang setiap dua per tiga 
malam 
Allah SWT turun ke langit pertama sambil menyerukan, "Hamba-Ku yang 
sedang 
ruku dan sujud melaksanakan shalat tahajjud, permintaanmuakan Aku 
beri, 
doamu akan Aku kabulkan, dosamu akan Aku ampuni." Ditambah dengan 
hadis 
riwayat Tabrani yang menjelaskan bahwa shalat tahajud itu kebiasaan 
yang 
dilakukan oleh para orang-orang saleh di jaman dulu dan itu 
menyembuhkan 
baik fisik maupun psikis.
Logika pengalamannya: saya dulu pernah kena penyakit kangker kulit. 
Dokter 
sudah angkat tangan. Namun tahajud menyelamatkan saya. Tahun 1982 
sampai 
1987, setelah itu saya dinyatakan sembuh sama sekali.

Berapa lama disertasi Anda susun?

Enam bulan sudah selesai. Enam bulan penelitiannya. Saya termasuk 
tercepat, 
1998 sampai 2000. Jadi, dua tahun setengah lebih satu bulan.
Mengapa sistem imun yang Anda teliti?

Dalam tubuh kita oleh Yang Mahakuasa sudah ada yang namanya sistem 
imun 
(daya tahan tubuh). Daya tahan tubuh itu maksudnya apa? Misalnya, 
darah kita 
kalau dilihat merah tapi kalau dianalisis darah kita campur dengan 
reagen 
kemudian dianalisis di laboratorium nanti komponen di dalam tubuh 
macam-macam darah itu. Jadi, ada hemoglobin, ada hormon kartisol.

Dosen saya bilang, saya ini banyak mematahkan teori ilmu kedokteran 
lama. 
Semisal, jantung koroner secara teori kedokteran lama tidak bisa 
disembuhkan. Tapi, melalui imunitas imunologi tadi penyakit ini bisa 
disembuhkan.

Bagaimana bisa?

Jantung koroner ini penyebabnya tersumbatnya arteri jantung karena 
kolestarol. Kolesterol itu adalah lemak yang berwarna kuning yang 
berasal 
dari makanan yang kita makan diolah oleh tubuh menjadi glikogen 
kemudian 
diolah lagi menjadi glukosa. Glukosa diolah lagi menjadi kolesterol. 
Kalau 
orang tidak pernah gerak maka kolesterol akan menyumbat pada organ 
yang 
tidak pernah digerakkan. Nah, kalau orang itu mau shalat tahajud 
berlama-lama seperti Rasulullah SAW, dua rakaat saja semalam, 
nantinya akan 
ada metabolisme tubuh kita akan bercucuran keringat, bahkan di 
ruangan 
ber-AC sekalipun.
Keluarnya keringat ini menyehatkan. Karena di dalam tubuh kita ada 
metabolisme kolesterol-kolesterol akan dibakar ATP/ADP sehingga 
menjadi 
energi yang merangsang kelenjar keringat untuk berkeringat. Jadi, 
kalau 
tidak berkeringat tidak banyak membawa dampak fisik. Kebanyakan 
orang shalat 
tahajud itu hanya sekadar memburu-buru pahala atau mengejarmaqamam 
mahmuda 
dalam pengertian sempit.

Maksud Anda dengan maqamam mahmuda?

Shalat tahajjud menjadi Bupati. Untuk tujuan duniawi. Kesehatan dan 
keimanan 
itu saya kira yang paling tepat untuk maqamam mahmuda.
Bagaimana sampai pada kesimpulan bahwa shalat tahajud berpengaruh 
pada 
sistem imun tubuh?
Penelitian saya dari 51 siswa SMU yang saya ambil training 
sebelumnya yang 
usianya sama. Karena syarat penelitian kuantitatif itu harus 
homogen. Jadi, 
usianya sama yaitu laki-laki antara usia 16 tahun sampai 20 tahun. 
Sama-sama 
SMU kelas 1 Hidayatullah yang tidak pernah shalat tahajjud sama 
sekali. 
Kemudian tidak pernah mengikuti tariqah-tariqah dan sebagainya. 
Kemudian 
saya ambil darahnya sebelum shalat. Kemudian saya ambil darahnya 
lagi 
setelah shalat satu bulan, saya ambil darahnya lagi setelah dua 
bulan. 
Aktivitasnya sama, menu makannya sama, usianya sama, sama-sama tidak 
pernah 
shalat tahajud. Ternyata variabel yang saya teliti, makrofagnya 
beda. 
Makrofag itu intinya adalah sel imunitas tubuh yang berfungsi untuk 
memakan 
sel lain yang tidak normal.
Jadi, kalau ada orang kena kista itu menunjukkan bahwa makrofagnya 
mengalami 
defisiensi. Saya sudah bisa mendeteksi orang itu mengalami 
penurunan. Dengan 
demikian kalau teorinya dirunut lebih dalam, makrofag tidak akan 
berproduksi 
kalau yang bersangkutan stress. Kalau dirunut lagi mungkin orang ini 
kena 
penyakit hati seperti, iri, dengki, sombong. Nah hal yang seperti 
ini yang 
menyebabkan stress. Nggak pernah qona-ah (puas), tawakal, jadi, 
akidah itu 
menentukan sekali penyakit seseorang.
Kenapa orang yang sering tahajud tak pusing kepala, padahal dia 
bangun 
tengah malam?
Karena otak kita ketika shalat tahajjud melepaskan seritonin, beta 
endorsin, 
dan melatonin yang diproduksi otak. Ketika seseorang shalat 
tahajjud, 
seritonin, beta endorsin, dan melatonin itu terproduksi. Itu yang 
menyebabkan kita menjadi tenang. Karena ketenangan itulah maka 
homeostasis 
terjaga. Pusing disebabkan karena terganggunya homeostasis, mungkin 
bisa 
hipertensi atau hipotensi. Shalat tahajud itu kan meditasi tingkat 
tinggi. 
Itu yang menjaga homeostasis atau kecenderungan untuk tetap dalam 
keadaan 
normal. Orang sakit itu terganggunya homeostasis. Nah, ketika shalat 
tahajud 
relaksasinya tercapai secara maksimal maka keseimbangan tubuh 
terjaga. Tak 
akan ada hipertensi dan hipotensi. Termasuk kolesterol akan dibabat 
habis 
oleh aktivitas tahajud. Kolesterol akan hilang menjadi energi.


Bagaimana Shalat Tahajud yang Benar ?

Yaitu dilakukan dengan khusyuk, tulus ikhlas, gerakannya seperti 
Rasulullah 
shalat kemudian kontinyu. Saya merujuk kepada hadis shahih Muslim 
yang 
diriwayatkan Khuzaifah yang pernah bercerita suatu malam pernah 
shalat 
tahajjud bersama Rasulullah kemudian begitu mengangkat tangan 
sebagai tanda 
<I>takbiratul ihram<I> terdengar dari belakang Rasulullah terisak-
isak 
karena manangis. Rasulullah kemudian membaca doa iftitah sangat 
pelan 
setelah itu membaca Al Fatihah sangat pelan sekali setelah itu baca 
surat. 
Surat yag dibaca Rasulullah tidak tanggung-tanggung yaitu surat Al 
Baqarah, 
padahal ayatnya ada 286. Ketika sampai seratus ayat kata Khuzaifah 
kiranya 
disudahi ternyata tidak masih dilanjutkan. Setelah selesai surat 
Albaqarah, 
ternyata ditambah surat An-Nisaa. Setelah surat An-Nisa, dilanjutkan 
membaca 
surat Ali Imran. Nah, sehingga satu rakaat saja membaca tiga surat 
yang 
panjang-panjang kira-kira lima juz lebih. Kata Khuzaifah, "Bukan 
hanya di 
situ. Setelah Rasulullah membaca surat kemudian ruku yang lamanya 
sama 
dengan membaca Alqurannya. Kemudian i'tidal sama dengan rukunya. 
Kemudian 
sujud sama dengan i'tidalnya, setelah itu duduk iftiras sama dengan 
sujudnya. Sehingga Rasulullah semalam hanya dua rakaat. Kemudian 
tambah satu 
rakaat witir keburu sudah Bilal adzan."
Inilah yang saya trainingkan. Tetapi saya tidak ajarkan shalat yang 
panjang-panjang itu. Suratnya silahkan apa yang dihapal, tetapi 
setelah 
membaca surat jangan langsung ruku, disambung lagi dengan dialog, 
mengadukan 
masalah kepada Allah. Bisa juga kita manfaatkan sebelum ruku kita 
mendialogkan segala persoalan yang sedang kita hadapi. Mungkin anak 
yang 
jauh dari harapan, suami yang punya masalah, ekonomi yang morat-
marit. Itu 
diadukan kepada Allah. Jadi, shalat khusyuk itu bukan shalat yang 
lupa 
segala-galanya.
Kita tidak perlu menargetkan shalat tahajud itu delapan rakaat 
ditambah tiga 
rakaat witir yang penting bukan kuantitasnya tapi kualitas. Ada 
conect, 
komunikasi intens dengan Allah bahwa kita sadar sesadar-sadarnya 
sedang 
shalat menghadap kepada yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahasegala-
galanya. 
Digemgaman-Nya lah segala urusan. Sehingga kalau kita sudah bisa 
seperti itu 
nikmat rasanya. Karena itu nikmat maka sayang kalau diputus. Dua 
rakaat saja 
bisa dua jam setengah.


----- Original Message ----- 
From: "DSW" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, November 14, 2007 5:20 PM
Subject: Re: [Urang Sunda] FW: DAMPAK MEDIS SHALAT TAHAJJUD


> aya maksud anu tangtu tina ieu panalungtikan,
> yen kawajiban atawa kasunahan teh disagedengeun hubungan 
transendental ka
> Allah swt, oge aya faidah anu sanesna. meureun kitu.


Kirim email ke