Punten akang, eteh, bapa, ema, indung, adi sadayana
Euleuh...euleuh...  geuning sanes ngahudangkeun sumanget "optimis"  malah matak 
mepes "pesimis" alias melempem
matak hoream kumelendang. cinta teh memang irasional teu make utek kadang2. 
aya2 wae.


ihin




----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Yuliadi <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 19 November, 2007 4:24:53
Topik: RE: [Urang Sunda] Mewaspadai Wabah "Gelombang Cinta"









  


    
            









Hidup kang Irpan!!!
 

Tambahan deui (meureun)
epes meer,
belikan 
 

  
 

kompormodeon
 

-----Original Message-----

From: irpan rispandi
[mailto:mr.rispandi @gmail.com] 

Sent: Monday, November 19, 2007 4:20 PM

To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

Subject: Re: [Urang Sunda]
Mewaspadai Wabah ”Gelombang Cinta”


  
 







Kuringmah menggarisbawahi "masyarakat aleman".

S a t u j u !



jalma anu hirup di indonesia mah Gengsian, komo urang Sunda mah. Gengsian
pisan!



malah anggota kusnet oge, lamun daraekeun jujur mah, pasti loba anu
gengsian teh... 



ngan biasana keuna ka paribasa "mana ada maling ngaku"
he..he..he..




 



On 11/19/07, tenni supardi < zupardi_trl@ yahoo.com> wrote:
 









kenging ti milis tatangga, mugi-mugi mangpaat... 



Mewaspadai Wabah "Gelombang Cinta" 



SETELAH masa booming bisnis ikan lohan berlalu, kini masyarakat menghadapi
kesibukan baru, yakni wabah gelombang cinta! Jenis tanaman hias itu seolah
menjadi sihir baru yang mampu menggerakkan hati orang-orang yang sebelumnya
bahkan tidak punya ketertarikan sama sekali terhadap tanam-tanaman. 



Kini banyak orang rela menginvestasikan jutaan rupiah untuk berbisnis tanaman
hias jenis anthurium. Bahkan ada bupati yang mencanangkan wilayahnya sebagai
"Kabupaten Anthurium". 



Maraknya bisnis tanaman hias dengan maskot "gelombang cinta"
merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian. Bagaimana pun fenomena
itu perlu disikapi secara kritis agar masyarakat lapis bawah tidak menjadi
korban permainan orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan dirinya. 



Masyarakat perlu diberikan pencerahan bahwa bisnis tanaman anthurium adalah
kegiatan yang tidak masuk akal (irasional) dan berpotensi menjadi wabah yang
dapat menggerus ekonomi mereka dalam jumlah jutaan rupiah. Masyarakat lapis
menengah bawah sedang disiapkan menjadi korban sembelihan kalangan penjudi
kelas kakap. 



Melalui artikel ini penulis akan menjelaskan beberapa hal yang terkait dengan
fenomena bisnis tanaman anthurium. Diharapkan agar tulisan ini dapat memberikan
pencerahan dan menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap fenomena yang dalam
istilah sebuah surat kabar nasional disebut sebagai dunia dongeng. 



Masyarakat Aleman

Merebaknya bisnis tanaman hias anthurium dengan berbagai variannya tidak lepas
dari karakter masyarakat Indonesia yang aleman (kolokan), masyarakat yang suka
disanjung dan dipuji, masyarakat yang lebih mengutamakan "wuah" dari
pada akal sehat. 



Karena sifat alemannya itu banyak orang yang sebenarnya tidak mampu, bahkan
untuk makan sehari-hari saja pas-pasan, namun tetap menyelenggarakan hajatan
besar untuk perkimpoian atau pun khitanan. Karena sifat aleman itu maka banyak
warga kalau membeli barang tidak didasarkan atas nilai kegunaan, tetapi lebih
untuk pencitraan. 



Dalam hal pembelian HP (hand phone) misalnya, masyarakat kita sangat senang
mengikuti trend tanpa mempedulikan efektivitas dan efisiensi. Maka kepemilikan
HP masyarakat Indonesia tergolong mewah, bahkan mungkin orang-orang Eropa yang
pasca sejahtera pun HP-nya kalah mewah dengan milik masyarakat kita. 



Kondisi masyarakat yang aleman itu dipahami betul oleh para pelaku bisnis. Oleh
sebab itu inovasi produk untuk pasar Indonesia sangat cepat dan hampir pasti
setiap hasil inovasi laku keras karena kita selalu bangga memiliki model baru. 



Alam kejiwaan sosial yang demikian ditangkap oleh pelaku bisnis sebagai peluang
besar yang harus dimanfaatkan. Pebisnis yang bergerak dalam produk manufaktur
tentu akan menyuplai barang-barang konsumsi masyarakat. 



Sedangkan spekulan akan bermain di ceruk yang mereka anggap potensial untuk
mendatangkan keuntungan. Uji coba bisnis ikan Lohan yang sempat menembus harga
ratusan juta rupiah rupanya memberi inspirasi kepada para spekulan untuk
bermain dalam jenis barang yang lain. 



Tanaman hias anthurium tampaknya menjadi pilihan tepat bagi kaum spekulan untuk
memainkan alam kejiwaan sosial masyarakat Indonesia yang aleman tadi menjadi
sumber keuangan mereka. Perhitungan mereka ternyata tepat, masyarakat berhasil
dimainkan alam kejiwaannya sehingga tidak lagi rasional dalam melihat kenyataan.




Masyarakat seolah telah tersihir bahwa bisnis anthurium pasti memberi citra
yang bagus dan keuntungan finansial sangat tinggi! Akibatnya banyak pendatang
baru dengan relasi terbatas, pengetahuan pas-pasan, rela menjual aset lain
untuk diinvestasikan di bisnis 'gelombang cinta" dengan harapan memperoleh
sesuatu yang serba "wah", yaitu duit banyak dan citra bagus! 



Siapa Kaum Spekulan?

Jika dicermati secara seksama tren bisnis yang sifatnya spekulatif itu muncul
sejak dihapusnya Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) dan sejenisnya oleh
pemerintah. 



Kalau melihat waktu kemunculannya yang demikian itu patut diduga bahwa
pentholan (tokoh utama) yang bermain di balik bisnis spekulatif itu adalah para
mantan bandar era SDSB. Indikasi lain mengenai dugaan itu adalah pola kerjanya
yang sistematis, dan sangat terorganisasi. 



Sama seperti waktu pengembangan bisnis ikan Lohan, untuk bisnis anthurium ini
pun pola kerjanya sama, yakni lewat mekanisme pameran dan muncul para dolob
yang membeli barang dengan harga tinggi, kemudian ada rekayasa pencitraan
melalui media massa sehingga masyarakat terpengaruh. 



Untuk menggerakkan keterlibatan masyarakat maka muncul dolob-dolob yang
berfungsi sebagai pembeli perantara di lapangan. Para dolob itulah yang
berperan memainkan harga sehingga masyarakat percaya bahwa pasar tanaman hias
anthurium itu memang terbuka luas. Masyarakat tidak sadar bahwa dirinya sedang
dijebak masuk dalam model bisnis spekulatif. 



Praktik bisnis tanaman hias anthurium menggunakan pola yang dikembangkan dalam
model Multi Level Marketing ( MLM) yang mulai dikenal di Indonesia sejak awal
1990-an. 



Tanpa disadari dalam bisnis tanaman anthurium dengan segala variannya itu ada
hirarkhi up line dan down line, peristis (pioneer), dan pengikut (follower).
Mereka yang berada pada posisi upper jelas akan mendapat keuntungan finansial
yang berlipat ganda. Begitu juga down line tingkat satu sampai dengan tiga
masih dapat merasakan keuntungan yang lumayan baik. 



Tapi semakin ke bawah tingkatannya, akan semakin sedikit yang bisa diperoleh,
dan down line paling bawah yang jumlah paling banyak akan menjadi korban.
Begitulah yang juga dialami dalam bisnis ikan lohan akan terulang dalam bisnis
tanaman anthurium. Oleh sebab itu masyarakat perlu bersikap kritis dan 
mewaspadai
potensi bisnis tanaman gelombang cinta akan berubah menjadi wabah sosial yang
dapat menggilas masyarakat bawah. 



Solusi

Bagaimana meminimalisasi risiko negatif dari bisnis gelombang cinta? Salah satu
pilihannya adalah melakukan edukasi pada masyarakat untuk berpikir rasional.
Masyarakat perlu diajak berpikir apa manfaat tanaman itu dalam kehidupan
sehari-hari, apakah bisa untuk bahan bangunan, apa dapat menjadi bahan
obat-obatan, atau adakah manfaat lain yang betul-betul fungsional? Kalau
ternyata hanya sebagai tanaman hias dan pemuasan semata, mengapa kita perlu
membelinya dengan harga sangat tinggi? 



Nilai tambah apa yang kita dapatkan dengan memiliki tanaman anthurium? Kalau
sekadar citra agar tidak dianggap katrok dan ketinggalan zaman, mengapa mesti
dikelabuhi dengan harga tinggi? Masih banyak peluang lain untuk
menginvestasikan uang yang lebih besar manfaatnya bagi masyarakat luas. 



Terlalu egois kalau di tengah banyak penderitaan dan meningkatnya jumlah orang
miskin masih ada orang yang membelanjakan uangnya untuk sebuah kesenangan
sesaat. Sudah waktunya kita lebih bersikap rasional dalam menghadapi kenyataan
hidup, bukan dengan mimpi-mimpi. q - s. (2317-2007). 



Penulis, A Darmanto, Bekerja di BPPI
Yogkarta, Mahasiswa Program Studi MAP Pascasarjana UGM.



-+zupardi+-
 








Be a better pen pal. Text
or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
 






Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
 






Messages | Files | Photos | Calendar 
 






Komunitas Urang Sunda
--> http://www.Urang- Sunda.or. id

 








Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 

Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 

Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of
Use | Unsubscribe 
 
















  
 















    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke