Nyambung posting kuring basa Poe Pahlawan (10 November), Perkara 
gugatan gelar Pahlawan ka Imam Bonjol ti urang Batak Muslim, ieu aya 
artikel meunang mulung ti millis sabeulah perkara Perang Paderi di 
Sumatera Barat. Beda jeung versi nu diajarkeun di sakola-sakola, 
versi ieu nunjukkeun:

1. Minangkabau di awal abad ka 19 sabenerna masih "merdeka", masih 
aya Karajaan Pagarruyung
2. Kaum Paderi (ulama) nu kapangaruhan faham Wahabi ti Arab Saudi, 
hayang ngarobah adat urang Minang, ku cara radikal. Radikalismeu ieu 
nyababkeun urang Minang kabeulah dua. Kaum paderi dina 
ngalaksanakeun kahayangna TELENGES pisan. Kaum Adat jeung para Menak 
ti karajaan ngarasa DIHINA, nepika menta bantuan Walanda nu menta 
kompensasi kana bantuan militerna.

Sabenerna ieu pieunteungeun keur urang sarerea, kumaha faham radikal 
ti luar, bisa ngabeulah hiji masyarakat/nagara, malah akhirna 
ngancurkeun tepi ka akhirna Ranah Minang dikawasa kabeh ku Walanda.

Artikelna nyanggakeun:

Kontroversi Kaum Paderi:
Jika Bukan Karena Tuanku Nan Renceh

Oleh Suryadi


Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit 
akibat radikalisme agama. Di awal abad ke-19, demikian catatan 
sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. 
Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, 
membasmi bid'ah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan 
persuasif melalui dakwah dan pengajian. Namun, kemudian muncullah 
seorang yang radikal dan militan di antara mereka: ia bersama
pengikutnya memilih jalan kekerasan. Akibatnya, pertumpahan darah 
antara sesama orang Minangkabau tak terhindarkan, yang menorehkan 
lembaran hitam dalam sejarah Minangkabau. Siapa lagi ulama yang 
radikal itu kalau bukan Tuanku Nan Renceh.

Ingat nama Tuanku Nan Renceh, ingat pada Perang Paderi. Dialah 
panglima Paderi yang paling militan dan ditakuti. Sosoknya tidak 
sejelas namanya yang sudah begitu sering disebut dalam buku-buku 
sejarah. Tak banyak data historis mengenai dirinya. Hanya ada 
catatan-catatan fragmentris yang terserak di sana-sini.
Tulisan ini mencoba merekonstruksi sosok Tuanku Nan Renceh 
berdasarkan berbagai catatan tersebut, baik yang berasal dari sumber 
asing (Belanda) maupun dari sumber pribumi sendiri.

Tuanku Nan Renceh berasal dari Kamang Ilia, Luhak Agam. Kurang jelas 
kapan persisnya ia dilahirkan, tapi pasti dalam paruh kedua tahun 
1870-an. Tak ada catatan historis mengenai masa mudanya. Namun, 
sedikit banyak dapat direkonstruksi melalui satu sumber pribumi, 
yaitu Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) karangan Fakih 
Saghir, salah seorang ulama Paderi dari golongan moderat (lihat 
transliterasi SKSJ oleh E. Ulrich Kratz dan Adriyetti
Amir: Surat Keterangan Syeikh Jalaluddin Karangan Fakih Saghir. 
Kuala Lumpur: DBP, 2002).

Menurut SKSJ (yang ditulis sebelum tahun 1829), di masa remaja 
Tuanku Nan Renceh, di darek (pedalaman Minangkabau) muncul seorang 
lama berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Koto Tuo, Ampat Angkat. 
Banyak orang belajar agama kepadanya, yang datang dari berbagai 
nagari di Minangkabau, termasuk pemuda (Tuanku) Nan Renceh. Murid-
murid Tuanku Nan Tuo yang sebaya dengan Tuanku nan Renceh antara
lain Fakih Saghir. Mangaraja Onggang Parlindungan dalam bukunya yang
kontroversial, Tuanku Rao ([Djakarta]: Tandjung Pengharapan, 
[1964]:129) mengatakan bahwa Tuanku Nan Renceh juga belajar agama 
Islam ke Ulakan.

Tahun-tahun terakhir abad ke-18 Tuanku Nan Renceh sudah aktif 
berdakwah bersama sahabatnya, Fakih Saghir. 
Mereka "berhimpun...dalam masjid Kota Hambalau di
nagari Canduang Kota Lawas" (Kratz & Amir: 23). Mereka telah 
berdakwah selama empat tahun lamanya sebelum kemudian Haji Miskin 
(salah seorang pencetus Gerakan Paderi) pulang dari Mekah pada tahun 
1803 (ibid.:25). Berarti, paling tidak Tuanku Nan Renceh, yang waktu 
itu masih seorang ulama muda, sudah aktif berdakwah sejak tahun 
1799, beberapa tahun sebelum gerakan Paderi resmi dimulai
oleh Haji Miskin, Haji Sumaniak, dan Haji Piobang.

Tampaknya bintang Tuanku Nan Renceh cepat bersinar, dan itu karena 
satu hal: sikapnya yang sangat radikal dan militan. Ia segera 
melibatkan diri sepenuh hati dan jiwa ke dalam Gerakan Paderi. Ini 
mungkin karena berita tentang Negeri Mekah yang didengarnya dari 
tiga haji yang baru pulang dari sana. Tak ada bukti bahwa Tuanku Nan 
Renceh pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tapi sudah biasa
terjadi dalam soal Islam bahwa pendengar jadi lebih fanatik daripada 
yang mengalami sendiri pergi ke Mekah.

Di awal tahun 1820-an Tuanku Nan Renceh sudah menjadi salah seorang 
komandan perang Kaum Paderi yang menguasai lima nagari, yaitu 
Kamang, Bukik, Salo, Magek, dan Kota Baru. Ia dan pasukannya sangat 
ditakuti: bila mereka menyerang suatu nagari dapat dipastikan bahwa 
nagari itu menderita. Tarup (lumbung padi) dan rumah dibakar, 
penduduk yang melawan dibunuh atau ditawan. Fakih Saghir dalam
SKSJ menggambarkan aksi bengis pasukan Tuanku Nan Renceh ketika 
menyerang nagari Tilatang: "Maka sampailah habis nagari Tilatang dan 
banyaklah [orang] berpindah dalam nagari; dan sukar menghinggakan 
ribu laksa rampasan, dan orang terbunuh dan tertawan lalu kepada 
terjual, dan [wanita] dijadikannya gundi'nya [gundiknya]". Yang 
melakukan perbuatan kejam itu kebanyakan pengikut Tuanku Nan
Renceh dari Salo, Magek, dan Kota Baru, sehingga pihak lawan 
menghina mereka dengan istilah "kerbau yang tiga kandang" (Kratz & 
Amir: 37), sebab perbuatan mereka dianggap sudah sama dengan 
perilaku binatang.

Fakih Saghir menyebutkan bahwa Tuanku Nan Renceh "kecil tubuhnya" 
(Kratz & Amir: 24), yang memang bersesuaian dengan namanya (kata 
Minang renceh berarti kecil, lincah, dan bersemangat). H.A. Steijn 
Parvé dalam "De secte der Padaries in de Padangsche Bovenlanden" 
(Indisch Magazijn [selanjutnya IM]1, 1e Twaalftal,
No.4:21-40) menyebutkan bahwa Tuanku Nan Renceh bertubuh kecil, 
kurus, bertabiat beringasan, dan memiliki sinar mata yang berapi-api—
cerminan dari sifat radikal dan keras hatinya. Pakaiannya mungkin 
seperti pakaian kebanyakan pengikut Paderi, seperti yang 
dideskripsikan oleh P.J. Veth dalam "De Geschiedenis van
Sumatra," (De Gids 10e Jrg., Januarij: 1850, hal. 21), Thomas 
Stamford Raffles dalam Memoir of of the Life and the Public Services 
of Sir Thomas Stamford Raffles editan Lady Sofia Raffles (Singapore: 
Oxford University Press, 1991 [reprinted ed.]: 349-50), atau sketsa 
visual oleh [E.] Francis dalam "Korte Beschrijving van het 
Nederlandsch Grondgebied ter Westkust Sumatra 1837" (Tijdschrift 
voor Nederlandsch-Indië [selanjutnya TNI] 2-1, 1839: 28-45, 90-111, 
131-154, hal. [141]): rambut dicukur, jenggot dipanjangkan, tasbih 
dan pedang selalu jadi `pakaian', sorban dan jubah panjang
hingga bawah lutut berwarna putih, membawa Al-Quran yang ditaruh 
dalam kantong merah yang digatungkan di leher (ini hanya khusus buat 
ulama/panglima Paderi)
(lihat ilustrasi).

Tak ada riwayat apapun tentang keluarga Tuanku Nan Renceh. Nama 
kecilnya juga tidak diketahui. Hanya ada sedikit kisah tragis bahwa 
ia memulai jihadnya dengan cara sadis: ia menyuruh bunuh bibinya 
sendiri—menurut Mangaraja Onggang Parlindungan (op cit.:134) ibu 
Tuanku Nan Renceh sendiri yang bergelar "orang kaya" (urang kayo)—
yang tidak mau mengikuti perintahnya berhenti makan sirih,
yang dianggap kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam. Mayatnya 
tidak dikuburkan tapi dibuang ke hutan karena dianggap kafir (lihat: 
Muhamad Radjab, Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838), 
Djakarta: Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K., 1954:18-
19; Christine Dobbin, Kebangkitan Islam dan Ekonomi Petani yang 
Sedang Berubah: Sumatra Tengah 1784-1847, terj. Lilian D.
Tedjasudhana. Jakarta INIS, 1992: 158). Dengan begitu, Tuanku Nan 
Renceh cepat mendapat pengikut dari mereka yang berjiwa militan.

Naskah SKSJ mencatat bahwa akhirnya Tuanku Nan Renceh memusuhi 
Tuanku Nan Tuo yang tetap memegang sikap moderat dalam memperjuangan 
cita-cita Gerakan Paderi. Tuanku Nan Tuo mengecam cara-cara di luar 
peri kemanusiaan yang dilakukan oleh Tuanku Nan Renceh dan 
pengikutnya terhadap penduduk nagari-nagari yang mereka
taklukkan. Tuanku Nan Renceh menghina ulama kharismatik yang 
dituakan di darek itu dengan menyebutnya sebagai "rahib tua" dan 
Fakih Saghir, sahabat dan bekas teman seperguruannya, 
digelarinya "Raja Kafir" dan "Raja Yazid" (Kratz & Amir:
41).

Perpecahan di kalangan pemimpin Paderi tak terelakkan: Tuanku Nan 
Renceh membentuk kelompok sendiri yang terkenal dengan 
sebutan "Harimau Nan Salapan" yang militan, yaitu Tuanku di Kubu 
Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di 
Galuang, Tuanku di Kota Hambalau, Tuanku di Lubuk Aur,
Tuanku di Bansa dan Tuanku Nan Renceh sendiri (Kratz & Amir: 39). 
Mereka memisahkan diri dari Tuanku Nan Tuo dan mencari patron (imam 
besar) yang baru, yaitu Tuanku di Mansiang. Tuanku Nan Renceh dan 
pengikutnya pun beberapa kali berusaha membunuh Tuanku Nan Tuo. Ia 
menganggap mantan gurunya itu menghalang-halangi tujuannya dan terus-
menerus mengeritik jalan radikal yang ditempuhnya bersama 
pengikutnya. Namun, seperti diceritakan Fakih Saghir dalam
SKSJ, upaya pembunuhan itu gagal.

Seperti diuraikan oleh seorang penulis berinisial v.D.H. dalam 
artikelnya "Oorsprong der Padaries (Eene secte op de Westkust van 
Sumatra)" (TNI 1.I, 1838:113-132), Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya 
yang militan kemudian menjadi lebih terkenal, meredupkan pamor 
kelompok moderat (Tuanku Nan Tuo dan pengikutnya). Dalam tahun 1820-
an, pengikut golongan radikal itu makin banyak di Luhak Nan
Tigo. Mereka mewajibkan kaum lelaki memelihara jenggot, yang 
mencukurnya didenda 2 suku [1 suku = 0,5 Gulden); memotong gigi 
didenda seekor kerbau; lutut terbuka didenda 2 suku; wanita yang 
tidak pakai burka didenda 3 suku; memukul anak didenda 2 suku; 
menjual/mengkonsumsi tembakau didenda 5 suku; memanjangkan kuku,
jari dipotong; merentekan uang didenda 5 shilling; meninggalkan 
shalat pertama kali didenda 5 suku, jika mengulanginya dihukum mati 
(lihat: B.d., "De Padries op Sumatra", IM 2e Twaalftal, No. 5&6, 
1845 [1827]:167-180, hal.172).

Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya menjadi momok besar bagi 
masyarakat Minang waktu itu, khususnya Kaum Adat. Semakin meluasnya 
pengaruh faksi radikal Kaum Paderi yang dibidani oleh Tuanku Nan 
Renceh telah mendorong Kaum Adat minta bantuan kepada Belanda. Pada 
21 Februari 1821 mereka resmi menyerahkan wilayah darek kepada 
Kompeni dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai
kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum 
Paderi. Ikut "mengundang" sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah 
pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan 
Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu 
Sangkar, pada 1815.

Namun saya tidak menemukan data sejarah yang menunjukkan bahwa 
Tuanku Nan Renceh pernah berhadapan langsung dengan Belanda di medan 
pertempuran. Dalam penyerangan ke Kamang pada 1822 Belanda hanya 
berhadapan dengan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Nan 
Gapuak. Catatan-catatan fragmentaris dalam dokumentasi Belanda 
terhadap Tuanku Nan Renceh lebih didasarkan atas
cerita-cerita orang Minang sendiri, bukan dari pertemuan langsung 
dengan panglima Paderi itu. Harap dicatat bahwa apa yang terjadi di 
pedalaman Minangkabau tetap masih gelap bagi orang Eropa sampai 
akhirnya Thomas Stamford Raffles berkunjung ke Pagaruyung pada 16-30 
Juli 1818. Sebelumnya, orang Inggris dan Belanda di pantai memang 
mendengar ada perseteruan antarsesama orang Minang di pedalaman, 
tapi mereka hanya dapat kabar berita dari para pedagang yang pergi
ke pantai tanpa menyaksikan sendiri dengan mata-kepala mereka apa 
sesungguhnya yang terjadi di pedalaman. Mungkin karena itu pula 
sampai akhir hayatnya, sosok Tuanku Nan Renceh tetap lebih banyak 
mengandung misteri, sebab tak banyak sumber Belanda yang mencatatnya.

[Vigelius] dalam "Fragmenten eener beschrijving van Sumatra's 
Westkust." (TNI 13.II, Afl.7, 1851: 7-16, hal.11) dan E. Francis 
dalam Herinneringen uit den levensloop van een `Indish' Ambtenaar 
van 1815 tot 1851, Vol.3 (Batavia: H.M. van Dorp, 1859, hal. 73) 
mengatakan bahwa Tuanku Nan Renceh wafat tahun 1832 di
`Medjang', sebuah desa dalam wilayah Laras Bukit, Luhak Agam 
(mungkin yang dimaksud adalah desa Mejan di Kamang). Menurut Naskah 
Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh wafat karena sakit: "Kemudian 
daripada itu maka tersebut pula perkataan [berita; Suryadi] Tuanku 
Nan Renceh dapat sakit. Dengan takdir Allah taala tidak berapa 
lamanya dalam sakit itu dan berpulanglah [ia] ke rahmatullah
adanya" (Naskah hal.58 dalam Sjafnir Aboe Nain [tansliterator], 
Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM, 2004, hal. 48). Pada tahun 
wafatnya Tuanku Nan Renceh,pusat Gerakan Paderi sudah pindah ke 
Bonjol, dengan pemimpin utamanya Tuanku Imam Bonjol, salah seorang 
panglima Paderi yang `dibesarkan' oleh Tuanku Nan Renceh sendiri.

Tahun-tahun berikutnya Benteng Bonjol dikepung Belanda, hingga 
akhirnya jatuh pada 17 Agustus 1837. Sumber-sumber pertama (bronnen) 
yang mencatat pengepungan itu pada tahun-tahun terakhir sebelum 
Bonjol jatuh dapat dibaca dalam karya Gerke Teitler, Het einde Padri 
Oorlog: het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: een 
bronnenpublicatie [Akhir Perang Paderi. Pengepungan dan
Perampasan Bonjol 1834-1837; sebuah publikasi sumber]. Amsterdam: De 
Bataafsche Leeuw, 2004). Di dalam buku itu antara lain 
terdapat "Journaal van de expeditie naar Padang onder de Generaal-
Majoor Cochius in 1837 Gehouden door de Majoor
Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher C.P.A. de Salis" (hal.59-
183). Dalam laporan itu dicatat pergerakan harian pasukan Belanda 
mendekati bonjol. Laporan itu dihiasi dengan banyak sketsa mengenai 
sistem pertahanan Kaum Paderi.

Sulit untuk dibantah bahwa sepak terjang golongan radikal dalam Kaum 
Paderi yang dibidani Tuanku Nan Renceh telah semakin memperkuat 
keinginan Kaum Adat untuk minta bantuan kepada Belanda, karena 
mereka betul-betul merasa dihinakan oleh orang-orang yang masih satu 
sukubangsa dengan mereka sendiri.

Tuanku Nan Renceh adalah sosok kontroversial: seorang penganjur 
agama Islam tapi dalam melakukan misinya sudah melewati dogma-dogma 
Islam sendiri. Tangannya terlalu banyak berlumur darah sudara-
saudaranya sendiri sesama orang Minang. Masih untung kekeliruan ini 
akhirnya disadari oleh Tuanku Imam Bonjol, ulama
Paderi penerus Tuanku Nan Renceh (lihat Sjafnir Aboe Nain, op cit., 
hal. 39,Naskah). Jika Tuanku Nan Renceh dan pengikutnya tidak 
bersikap radikal, mungkin jalan sejarah Minangkabau (Perang Paderi) 
akan jadi lain.

Masa lalu tak akan kembali. Tapi "jangan sekali-kali melupakan 
sejarah", kata almarhum Presiden Sukarno. Untuk konteks kekinian 
masyarakat kita, kisah Tuanku Nan Renceh patut menjadi cermin 
sejarah bagi generasi Minangkabau dan generasi Indonesia pada 
umumnya, baik kini maupun masa depan, terutama bagi mereka yang
tangannya menggenggam kekuasaan, yang tak sadar apa akibatnya jika 
dengan sikap radikal dan taklid menjadikan agama sebagai komoditas 
politik.

----------------------
Suryadi, dosen dan peneliti pada Talen en Culturen van Zuidoost-Azië 
en Oceanië,
Universiteit Leiden, Belanda (homepage: 
www.indonesisch.leidenuniv.nl;
[EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke