Sae pisan mangga urang rojong.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/23/0901.htm

Mencari Pahlawan Lokal
Oleh IIP D. YAHYA

Keprihatinan atas ketiadaan pahlawan lokal untuk anak-anak, seolah
sudah menjadi klasik dan klise. Narasi besar yang mengemuka bagaikan
pahlawan pembela kebudayaan, tak pernah mewujud dalam bentuk konkret.
Ujung-ujungnya berhenti pada keprihatinan itu-itu saja seraya
menyalahkan perubahan zaman. Kemajuan teknologi media yang begitu
cepat tak bisa diikuti kebanyakan dari generasi tua. Sementara itu,
anak-anak muda yang menguasainya kurang pendalaman pada budaya lokal.
Kompromi di antara keduanya belum berujung pada sinergi, masih
cenderung saling menyalahkan.

Satu hal yang sering menghambat kompromi itu adalah standar estetika
dan pakem yang kaku. Serial komik wayang yang populer pada dekade
1970-an, ternyata tidak diminati anak-anak sekarang, sekalipun dicetak
ulang dalam kemasan yang lebih luks. Untuk menyesuaikan wajah wayang
dengan asosiasi anak-anak sekarang, bukan hal yang mudah pula.
Misalnya, Arjuna dipersonifikasikan dengan pesinetron paling populer
atau Bima digambarkan seperti aktor laga paling sohor. Di situlah
tarik-menariknya, apakah ingin mendekatkan tokoh wayang kepada
anak-anak atau tetap menjaga pakem yang sudah tidak dimengerti oleh
mereka.

Memang, pada akhirnya harus ada kompromi. Masalahnya, apakah kompromi
akan tetap menjaga substansi atau malah menghilangkannya? Generasi tua
tampaknya harus memberi kepercayaan penuh kepada generasi muda dan
sebaliknya yang muda harus bisa meyakinkan yang tua. Gap itulah yang
kiranya hendak dijembatani oleh Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul
(KDKBK). Diskusi bulanan yang dilaksanakan secara arisan oleh para
anggotanya ini diikuti seniman, sastrawan, dan budayawan di tatar Kota
Bandung bagian selatan.

Memilih Wastu

Siapa tokoh historis yang bisa kita angkat untuk dijadikan hero oleh
anak-anak Sunda? KDKBK menyodorkan satu nama, Wastu. Menurut mereka,
salah satu tokoh anak yang kuat secara historis dan punya peluang
untuk diterima luas ialah Wastu atau setelah dewasa dikenal sebagai
Prabu Niskala Wastukancana. Tak seperti tuturan sejarah tokoh lain
yang hanya dikenal saat menjadi raja, Wastu muncul sejak usia sembilan
tahun, yakni saat terjadi peristiwa Bubat (4/9/1357) yang menewaskan
ayah dan kakaknya.

Setelah lebih tujuh abad berselang, peristiwa tragis itu terus abadi
dalam memori kolektif orang Sunda. Tokoh yang kemudian berhasil
membangkitkan kembali kebanggaan kerajaan Sunda akibat "pengkhianatan"
Gajahmada itu adalah Wastu. Selama 13 tahun tokoh ini dipersiapkan dan
menyiapkan diri untuk menjadi raja (1371) dan kemudian memimpin Galuh
selama 104 tahun (1475).

Setelah wafat, Wastu dimakamkan di Nusalarang Panjalu. Sejumlah
prasasti yang diwariskannya masih terjaga utuh hingga sekarang di
Astana Gede Kawali. Menurut KDKBK, masa 11 tahun itu harus menjadi
ruang kreasi untuk menampilkan Wastu sebagai sosok heroik bagi anak
Sunda.

"Latar belakang peristiwa Bubat akan menjadi ilustrasi pengantar yang
dramatik," kata sastrawan Dian Hendrayana. Apalagi Dian punya
pengalaman ketika menulis kumpulan cerita pendek Lalakon Bingbang,
yang mengambil setting pada masa itu. "Cerita yang sudah ditulis
sejumlah orang tentang Wastu akan sangat membantu kita untuk
merekonstruksi kehidupan Wastu muda. Memang akan ada kendala pada
detail aksesori yang digunakan saat itu, tapi mungkin di situlah ruang
kreasi buat kita," tambahnya.

Sementara dalam pandangan Mamat B. Sasmita yang mengutip beberapa
sumber, ada sejumlah peristiwa dramatis dalam sejarah Wastu yang
menarik sebagai cerita. "Saat Wastu diculik Rakean Hujung untuk
belajar di tengah rakyat kebanyakan, saat Wastu akhirnya tahu bahwa
ayah dan kakaknya terbunuh di Bubat, juga waktu ia berkelana hingga ke
Sumatra." Menurut pengelola Rumah Baca Sunda ini, masa pencarian Wastu
itu bisa dimuarakan pada diskursus soal kabuyutan. Sebab ada "kutukan"
yang menyebutkan, siapa saja orang Sunda yang tidak bisa menjaga
kabuyutan hingga berhasil dirusak musuh, mereka lebih hina dari kulit
musang di tempat sampah.

Wastu adalah tokoh yang berhasil menjaga kabuyutan Sunda. Maka menjadi
menarik untuk menemukan makna sebenarnya dari kabuyutan itu. Kalau ia
sekadar tempat, tentu tak akan bertahan dalam perubahan cuaca dan
waktu. Kalau ia adalah ideologi, ideologi semacam apa yang harus
dipertahankan itu. Kalau ia adalah mentalitas, bagaimana uraiannya
agar bisa ditranformasikan ke generasi berikutnya.

Yang pasti, kebanyakan orang Sunda hari ini masih merasa belum bahagia
hidupnya dan banyak merasakan berbagai ketimpangan. Mereka masih
merasa "dijajah" oleh sistem kekuasaan yang tidak adil. Masih merasa
sebagai kulit musang di keranjang sampah itu. Dengan demikian, mencari
terminologi yang kontekstual dari kabuyutan itu tetaplah relevan
dengan kondisi kehidupan saat ini. Dan sosok Wastu dianggap sangat
tepat sebagai titik pijaknya.

Kalau mau dicari-cari kemiripannya, tokoh Wastu barangkali mendekati
kisah Avatar, "The Legend of Aang" yang sekarang sedang digandrungi.
Ketika dunia membutuhkan penolong dari kekejaman Negara Api, Avatar
menghilang, dan beratus tahun kemudian muncullah Aang si pengendali
udara. Untuk menjadi Avatar, tokoh Aang harus mencari tiga guru lain
yang masing-masing menguasai pengendalian air-bumi-api.

Ketika kerajaan Sunda kehilangan pemimpin dan dilanda kepedihan
mendalam karena "kepongahan" Majapahit, putra mahkota yang harus
menggantikannya ternyata masih anak-anak. Masyarakat Sunda harus
menunggu bertahun-tahun sampai Wastu siap memimpin mereka. Seperti
Aang, Wastu harus belajar dengan keras kepada guru-guru dari delapan
penjuru angin, hingga ke tanah seberang. Apa saja yang dipelajari
Wastu hingga mampu mempertahankan kabuyutan Sunda lebih dari satu
abad? Apakah Wastu juga membalas dendam terhadap Majapahit seperti
Aang menghancurkan Negara Api?

Hal menarik lain dari sosok Wastu adalah kemampuannya mengelola dendam
pribadi dan dendam masyarakat Sunda itu. Ayahnya, Prabu Linggabuana
adalah raja yang dihormati. Demikian pula Dyah Pitaloka, kakaknya,
adalah putri yang dicintai rakyat. Penyesalan atas nasib Pitaloka
terus terpelihara sampai hari ini, yang menyesali kematian tragis sang
putri seraya mengagumi keteguhannya dalam menjaga kehormatan dirinya.

Dalam sejarahnya, Wastu justru mengalirkan energi dendam itu dengan
membangun kesejahteraan Sunda. Penulis Carita Parahiyangan sampai
menulis, "Jangankan manusia, bahkan air, cahaya, angin, langit, dan
eter pun merasa betah berada di bawah kekuasaannya." Jadi, kalau saat
Aang marah ia menjelma sosok yang mematikan lawan, Wastu malah
menjelma bak malaikat yang melimpahkan kasih sayang kepada seluruh
penghuni negeri. Ada kontekstualisasi prestasi Wastu itu dengan
tuntutan kepemimpinan dunia saat ini, yakni yang kuat dan tegas tetapi
humanis, pluralis, dan cinta damai.

Wastu Project

Menurut Irfan Amalee yang pada 18/11/07 mendapat giliran menjadi tuan
rumah diskusi, agar semua pembicaraan soal sosok hero anak Sunda itu
berujung pada kerja kolektif yang konkret, rencana tersebut dinamakan
"Wastu Project". Project di sini maksudnya adalah sebuah rencana
kerja, bukan "projek" dalam konotasi yang koruptif itu. Amalee yang
memiliki studio komik, itu akan menyiapkan tim untuk mengenalkan Wastu
secara visual. Sementara yang lain akan membantu dari aspek materi.

Dalam benak anak-anak muda yang akrab dengan teknologi informatika,
artikulasi soal pengenalan Wastu ini memang sangat berbeda. Mereka
langsung memikirkan media promosi yang tepat, memanfaatan media massa
yang dikenal anak-anak. Demikian pula ketika ditanyakan kalimat apa
yang tepat untuk mengenalkan Wastu kepada anak-anak Sunda, Hasbi
Assiddiqi dosen Sastra Inggris UIN Gunung Djati misalnya, memberikan
tawaran seperti berikut: Wastu? Sure! Wastu, Looking for Kabuyutan.
Wastu, the Legend. Me, the Next Wastu. Dunia memang terus berubah.
Jadi, jangan kaget kalau suatu ketika anak Anda mendapatkan mug tokoh
Wastu dari gerai Mc Donald atau KFC.

Demikianlah, sebuah rencana besar telah dicanangkan. Setidaknya,
hasrat itu sebagai bagian implementasi dari petuah dalam Carita
Parahiyangan, "Sugan aya nu dek nurutan inya twah nu surup ka
Nusalarang. Pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjeur na
juritan!" Semoga ada generasi kemudian yang mau mengikuti jejak dia
yang bersemayam di Nusalarang, agar hidup sentosa di dunia, agar
menang di medan perang. Maukah Anda bergabung untuk mewujudkan projek
tersebut? Ditunggu.***

 Penulis, anggota Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul.

Kirim email ke