Ti milis tatanga kisah gadis alit Cianjur di NAGARA 
KAPITALIS....kulantaran kamiskinan di Ibu Pertiwai RI......






  
  
    Jilbab Di Pelukan Bendera 
      Amerika.
    Oct 19, '07 12:42 PM
for everyone



(Catatan 
suka-duka dunia kerja di USA)  
            


Menapakkan kaki yang entah ke berapa puluh kalinya di 
sana – selalu ada rasa itu.   Rasa yang sulit untuk dijabarkan 
seperti ketika membaca tulisan Office of the Immigration Judge 
tertatah 
di marmer hitam itu.  Marmer dingin itu pernah aku duduki 
sampai petugas keamanan menghampiriku, melarangku duduk di sana.   
Tersipu malu ketika menyadarinya, dengan kata maaf kuseret tas 
kerjaku 
dan pindah duduk ke kursi taman.  Beberapa perahu cantik 
dengan tenang melintas di sungai besar di tepi gedung pengadilan 
imigrasi Miami 
di pojokan One River View Square itu, seolah tak perduli pada 
sibuknya 
wajah-wajah lalu lalang yang silih berganti melewati pintu 
penjagaan.  Wajah-wajah itu tak beda banyak dengan wajahku, 
berkulit coklat hangat - juga seperti kulitku.   Wajah-wajah 
Hispanic seperti wajah-wajah anak negeriku itu terasa begitu dekat 
di 
hati.  

 

Kuhabiskan 
Cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan kulirik 
jam 
tanganku.  Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang. 
  Di lantai tujuh ada satu ruang besar khusus untuk para 
penerjemah, tapi setiap aku menengok ke ruangan itu selalu saja 
gelap dan 
sepi.   Akupun jadi lebih suka menunggu di 
luar gedung pengadilan di tepian sungai sambil minum kopi khas Miami 
dan 
memandangi perahu yang lewat, melamun dan mereka-reka apa kiranya 
kasus yang 
akan disidangkan pada hari itu.   


 

Kebanyakan kasus 
orang Indonesia adalah over stay karena masa berlaku visa yang sudah 
kadaluwarsa.  Banyak orang yang bertahan untuk berada di 
Amerika  sampai melewati batas waktu yang 
diberikan.  Krisis moneter yang menggoncang ibu pertiwi 
beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan 
mereka. 
  Banyak yang  mati-matian mempertahankan 
kenyamanan bekerja di negeri Paman Sam ini meski itu secara illegal. 
 Meski itu harus kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara 
lainnya.   Akibatnya, ketika harus duduk di ruang pengadilan 
imigrasi, sebagian besar dari mereka dideportasi karena melanggar 
hukum dan 
aturan yang berlaku di negeri ini.     


 

Untuk menghindari 
kemungkinan dipulangkan itu, banyak yang meminta suaka politik 
dengan mengacu 
pada  rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan 
wanita-wanita keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi 
terhadap 
kaum minoritas, penembakan mahasiswa universitas Trisakti dan 
reformasi yang 
mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah orde baru.  


 

Sementara itu 
dari sudut Amerika sendiri tragedi 911 telah meluluh lantakkan 
kepercayaan 
Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara berbasis 
Islam. 
  Bila keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri dan 
situasi keamanan Indonesia, maka peristiwa pemboman yang beruntun 
dari bom di 
Bali, bom di hotel  Marriott, bom di kedutaan Australia, dan 
bom di Bali yang lebih besar lagi – dan entah daftar perilaku 
kebiadaban yang 
menewaskan orang tak bersalah yang mana lagi - mengakibatkan 
negeriku masuk 
daftar 25 negara yang dicurigai sebagai "sarang" teroris.   
Sungguh fakta sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.  


 

Pemikiranku 
tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung lenyap 
ketika mataku 
tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara.   Seorang 
wanita muda, kurus kecil dan tampak pucat sepucat jilbabnya, duduk 
di kursi itu. 
Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan satu 
dengan 
lainnya.  Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia 
kelihatan takut dan tak nyaman duduk di kursi kulit warna merah 
marun gelap dan 
berada di ruangan pengadilan yang dingin itu.  


 

"Nama saya 
Neneng, asal dari Cianjur.   Usia tujuhbelas 
tahun.  Orang tua saya miskin dan tidak punya pekerjaan. 
 Waktu saya umur 12 tahun saya dijual oleh orang tua saya 
kepada tetangga dengan bayaran limapuluh kilogram beras.   
Lalu saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta.  
Setelah training bahasa Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya saya 
dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu sebuah keluarga dengan 
lima anak 
kecil-kecil.   Tadinya saya senang karena saya kira saya akan 
punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.  Tapi ternyata 
majikan saya mendapat pekerjaan di sini maka sayapun dibawa ke 
negeri 
ini."   

 

Ruangan hening. 
  Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya yang 
pelan dan terdengar gemetaran.  


 

"Majikan saya 
punya adik yang berdekatan apartemennya.   Mereka juga punya 
anak lima yang seusia dengan anak-anak majikan saya.  Tiap 
hari mereka datang ke apartemen kami, dan saya harus mengasuh dan 
menjaga 
semuanya.  Total sepuluh anak.   Kalau ada 
anak yang berkelahi, jatuh atau terluka, maka saya dipukuli, 
ditendang, atau 
ditampar oleh majikan saya.  Kadang pakai sepatu, pakai kayu, 
pakai tangan atau apa saja yang bisa dipukulkan ke badan saya.   
Kadang anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya.  
Sampai akhirnya saya tidak tahan lagi dan waktu mereka tidur saya 
lari ke 
masjid di dekat apartemen mereka."  Suara Neneng putus-putus 
menahan isak.  Sesekali ia mengambil nafas kala suaranya mulai 
menyesak di lehernya, dan berulangkali  mengusap mata basahnya 
dengan ujung jilbab putihnya. 

 

 "Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri 
bapak ini?" Tanya hakim seraya menunjuk pada seorang lelaki setengah 
baya, 
dokter anak dari Mesir - yang duduk di bangku panjang di belakang 
ruangan, 
mengikuti jalannya persidangan dengan tenang.  


 

"Ya.   
Dan istri bapak ini membawa saya ke rumahnya, dan sampai sekarang 
saya 
tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya.  
Saya takut kembali ke sana lagi.  Saya takut dipukuli 
lagi.   Saya tahu saya salah karena melarikan diri dari rumah 
majikan saya.  Saya mau dihukum penjara, tapi tolong jangan 
kembalikan saya pada majikan saya."  Tanpa bisa dihentikan, 
Neneng menangis tergugu.   Hakim sesaat terpaku sebelum 
memberikan waktu istirahat setengah jam, lalu menyelinap ke luar 
ruang 
sidang.   

 

Neneng adalah 
wajah dalam cermin kemiskinan negeriku.   Refleksi bayangan 
 ketidakmampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya. 
 Ekonomi carut marut negara memaksa anak sebelia itu untuk 
jadi tenaga kerja di negeri orang.  Tanpa digaji, malah 
disiksa.  Ternyata jiwa perbudakan di mana-mana masih juga 
ada!  Pikiran Neneng sangat sederhana.  Yang 
dia tahu orang tuanya sudah melakukan transaksi jual beli atas 
dirinya. 
  Ada sebersit harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa 
menunaikan ibadah haji.  Meski seumur hidup hanya sekali. 
 Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah hal yang sungguh 
tak ternilai dalam hidupnya.   Dan bila ketidakmengertianny a 
bahwa kepergiannya ke Arab Saudi itu tak ada hubungannya dengan naik 
haji karena 
ia adalah pembantu rumah tangga yang tak punya hak diri, itu 
tanggung jawab 
siapa?    

 

Negeriku adalah 
negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang terbesar di 
dunia. 
  Tapi apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak dan 
perlindungan pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng 
lainnya?  Aku tercenung lama dan terbersit tanya, kapan 
negeriku yang gemah ripah loh jinawi bisa memberikan ketentraman 
pada 
anak-anak bangsanya sendiri, sehingga tak perlu mereka mencari dan 
mengais 
rejeki di negeri orang.  Sebagai anak bangsa Indonesia aku 
sungguh malu. Tapi sesungguhnya adakah pilihan itu? Andaipun ada, 
Neneng tak 
pernah memiliki pilihan itu.   


 

Amerika tak bisa 
dipungkiri - adalah negara yang dibenci banyak negara lain di dunia. 
  Ia dikutuk! Dihujat!  Dimaki!  
Tapi seiring dengan itu Amerika juga adalah bangsa yang dicintai, 
perlindungan dan keamanannya dicari, stabilitas ekonominya 
diingini.  
Dan dengan seribu satu macam alasan dan tujuan, manusia dari seluruh 
penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara ini.  Dan rasa 
yang kulihat di wajah-wajah bertaburan keluar masuk di pintu 
pengadilan imigrasi 
itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk menetap, 
bekerja keras dan 
berpenghidupan yang lebih baik di Amerika atau harus pulang dan tak 
tahu 
kehidupan apa yang menanti di negara asalnya masing-masing. 


 

Kasus Neneng, bukanlah kasus di mana orang yang ketahuan overstay 
lalu minta suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa 
atau 
kebiadaban manusia di tanah air.  Kasus Neneng bukanlah kasus 
di mana dia ingin mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika – 
sementara apa itu green card dan apa itu social security Neneng 
tak pernah tahu dan dengar.  Kasus Neneng, adalah akibat 
penjajahan kemiskinan dan kebodohan yang makin merajalela di 
negerinya, yang 
juga adalah negeriku.   Dan Amerika pun dengan tulus memunguti 
serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan melindungi Neneng 
ini dan 
Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis Lady Liberty yang 
bersahaja tapi sarat makna:   Give me your tired, your 
poor…   


 

Hakim kembali ke 
ruang sidang siap dengan keputusannya, atas nama negara Amerika.  
Kudengar suara lembut keibuannya yang tak pernah kubayangkan akan 
terdengar dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng 
memberikan 
persetujuannya dijadikan anak negara.  Neneng diberi hak 
untuk bersekolah dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan 
gaji minimum, 
mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur 
hidupnya. Dan 
Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan 
agamanya.  Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji 
syukur, "Allahu Akbar" 

 

Sore itu, 
sementara menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan hati 
menyesak 
rindu pada kampung halaman kuguratkan tulisan di lembar kertas 
kuning lagu yang 
kuingat sebagai penutup acara televisi di masa 
kecilku,   "Tanah airku Indonesia .  Negeri elok amat kucinta. Tanah 
tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa.  Tanah 
airku aman dan makmur.  Pulau kelapa yang amat subur. Pulau 
melati pujaan bangsa sejak dulu kala…   " dari tempat 
dudukku di tepian sungai di sudut One River View 
Square.  

 

Dan Neneng, 
sekuntum melati bangsaku yang tak pernah hidup dalam negeri yang 
aman dan makmur 
itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada dalam lagu 
penutup 
acara di tivi itu.   Hari ini dan hari esoknya bergantung pada 
belas kasih dan perlindungan negara ini.  Ketika kulihat 
taksiku datang aku segera beranjak.  Sekilas kuletakkan 
tanganku di marmer hitam di depan gedung pengadilan imigrasi itu.   
Dan bayangan wajah bercahaya Neneng yang berjilbab putih mengenakan 
toga 
dan merengkuh selembar diploma di tangannya, dengan latar belakang 
bendera 
Amerika - melintas di mataku yang mulai berembun. 








      
_____________________________________________________________________
_______________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?
category=shopping

--- End forwarded message ---


Kirim email ke