Sae caritana, happy ending  :)
Amerika memang menjanjikan banyak harapan bagi orang - orang terutama nu 
berasal dari negara berkembang siga Indonesia.
Abdi dugi ka ayeuna teu terang secara detil, naha aya bangsa nu tiasa maju 
dibanding bangsa sejenna? meureun ibaratna, naha aya jelema nu tiasa beunghar 
dibanding jalma nu sejen?pasti jawaban nu pasti mah nyaeta usaha . doa sareng 
takdir. Da artos teu ngagubrag kitu wae ti langit.

Kadang ari imajinasi kuring keur mahabu mah,sok hayang Indonesia kamakmuranana 
jiga Amerika atanapi jepang.
Tapi,  nu penting mah ayeuna, kumaha carana nyukupan makan, pendidikan, pangan, 
papan, hiburan, kesehatan ka sakumna rahayat Indonesia. Tong leuwih2, saukur 
cukup we heula, pokona mah teu aya nu kakurangan.



Surtiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
 Ti milis tatanga kisah gadis alit Cianjur di NAGARA 
 KAPITALIS....kulantaran kamiskinan di Ibu Pertiwai RI......
 
 Jilbab Di Pelukan Bendera 
       Amerika.
     Oct 19, '07 12:42 PM
 for everyone
 
 (Catatan 
 suka-duka dunia kerja di USA)  
             
 
 Menapakkan kaki yang entah ke berapa puluh kalinya di 
 sana – selalu ada rasa itu.   Rasa yang sulit untuk dijabarkan 
 seperti ketika membaca tulisan Office of the Immigration Judge 
 tertatah 
 di marmer hitam itu.  Marmer dingin itu pernah aku duduki 
 sampai petugas keamanan menghampiriku, melarangku duduk di sana.   
 Tersipu malu ketika menyadarinya, dengan kata maaf kuseret tas 
 kerjaku 
 dan pindah duduk ke kursi taman.  Beberapa perahu cantik 
 dengan tenang melintas di sungai besar di tepi gedung pengadilan 
 imigrasi Miami 
 di pojokan One River View Square itu, seolah tak perduli pada 
 sibuknya 
 wajah-wajah lalu lalang yang silih berganti melewati pintu 
 penjagaan.  Wajah-wajah itu tak beda banyak dengan wajahku, 
 berkulit coklat hangat - juga seperti kulitku.   Wajah-wajah 
 Hispanic seperti wajah-wajah anak negeriku itu terasa begitu dekat 
 di 
 hati.  
 
 Kuhabiskan 
 Cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan kulirik 
 jam 
 tanganku.  Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang. 
   Di lantai tujuh ada satu ruang besar khusus untuk para 
 penerjemah, tapi setiap aku menengok ke ruangan itu selalu saja 
 gelap dan 
 sepi.   Akupun jadi lebih suka menunggu di 
 luar gedung pengadilan di tepian sungai sambil minum kopi khas Miami 
 dan 
 memandangi perahu yang lewat, melamun dan mereka-reka apa kiranya 
 kasus yang 
 akan disidangkan pada hari itu.   
 
 Kebanyakan kasus 
 orang Indonesia adalah over stay karena masa berlaku visa yang sudah 
 kadaluwarsa.  Banyak orang yang bertahan untuk berada di 
 Amerika  sampai melewati batas waktu yang 
 diberikan.  Krisis moneter yang menggoncang ibu pertiwi 
 beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan 
 mereka. 
   Banyak yang  mati-matian mempertahankan 
 kenyamanan bekerja di negeri Paman Sam ini meski itu secara illegal. 
  Meski itu harus kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara 
 lainnya.   Akibatnya, ketika harus duduk di ruang pengadilan 
 imigrasi, sebagian besar dari mereka dideportasi karena melanggar 
 hukum dan 
 aturan yang berlaku di negeri ini.     
 
 Untuk menghindari 
 kemungkinan dipulangkan itu, banyak yang meminta suaka politik 
 dengan mengacu 
 pada  rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan 
 wanita-wanita keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi 
 terhadap 
 kaum minoritas, penembakan mahasiswa universitas Trisakti dan 
 reformasi yang 
 mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah orde baru.  
 
 Sementara itu 
 dari sudut Amerika sendiri tragedi 911 telah meluluh lantakkan 
 kepercayaan 
 Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara berbasis 
 Islam. 
   Bila keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri dan 
 situasi keamanan Indonesia, maka peristiwa pemboman yang beruntun 
 dari bom di 
 Bali, bom di hotel  Marriott, bom di kedutaan Australia, dan 
 bom di Bali yang lebih besar lagi – dan entah daftar perilaku 
 kebiadaban yang 
 menewaskan orang tak bersalah yang mana lagi - mengakibatkan 
 negeriku masuk 
 daftar 25 negara yang dicurigai sebagai "sarang" teroris.   
 Sungguh fakta sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.  
 
 Pemikiranku 
 tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung lenyap 
 ketika mataku 
 tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara.   Seorang 
 wanita muda, kurus kecil dan tampak pucat sepucat jilbabnya, duduk 
 di kursi itu. 
 Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan satu 
 dengan 
 lainnya.  Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia 
 kelihatan takut dan tak nyaman duduk di kursi kulit warna merah 
 marun gelap dan 
 berada di ruangan pengadilan yang dingin itu.  
 
 "Nama saya 
 Neneng, asal dari Cianjur.   Usia tujuhbelas 
 tahun.  Orang tua saya miskin dan tidak punya pekerjaan. 
  Waktu saya umur 12 tahun saya dijual oleh orang tua saya 
 kepada tetangga dengan bayaran limapuluh kilogram beras.   
 Lalu saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta.  
 Setelah training bahasa Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya saya 
 dikirim ke Arab Saudi untuk menjadi pembantu sebuah keluarga dengan 
 lima anak 
 kecil-kecil.   Tadinya saya senang karena saya kira saya akan 
 punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.  Tapi ternyata 
 majikan saya mendapat pekerjaan di sini maka sayapun dibawa ke 
 negeri 
 ini."   
 
 Ruangan hening. 
   Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya yang 
 pelan dan terdengar gemetaran.  
 
 "Majikan saya 
 punya adik yang berdekatan apartemennya.   Mereka juga punya 
 anak lima yang seusia dengan anak-anak majikan saya.  Tiap 
 hari mereka datang ke apartemen kami, dan saya harus mengasuh dan 
 menjaga 
 semuanya.  Total sepuluh anak.   Kalau ada 
 anak yang berkelahi, jatuh atau terluka, maka saya dipukuli, 
 ditendang, atau 
 ditampar oleh majikan saya.  Kadang pakai sepatu, pakai kayu, 
 pakai tangan atau apa saja yang bisa dipukulkan ke badan saya.   
 Kadang anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya.  
 Sampai akhirnya saya tidak tahan lagi dan waktu mereka tidur saya 
 lari ke 
 masjid di dekat apartemen mereka."  Suara Neneng putus-putus 
 menahan isak.  Sesekali ia mengambil nafas kala suaranya mulai 
 menyesak di lehernya, dan berulangkali  mengusap mata basahnya 
 dengan ujung jilbab putihnya. 
 
 "Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri 
 bapak ini?" Tanya hakim seraya menunjuk pada seorang lelaki setengah 
 baya, 
 dokter anak dari Mesir - yang duduk di bangku panjang di belakang 
 ruangan, 
 mengikuti jalannya persidangan dengan tenang.  
 
 "Ya.   
 Dan istri bapak ini membawa saya ke rumahnya, dan sampai sekarang 
 saya 
 tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya.  
 Saya takut kembali ke sana lagi.  Saya takut dipukuli 
 lagi.   Saya tahu saya salah karena melarikan diri dari rumah 
 majikan saya.  Saya mau dihukum penjara, tapi tolong jangan 
 kembalikan saya pada majikan saya."  Tanpa bisa dihentikan, 
 Neneng menangis tergugu.   Hakim sesaat terpaku sebelum 
 memberikan waktu istirahat setengah jam, lalu menyelinap ke luar 
 ruang 
 sidang.   
 
 Neneng adalah 
 wajah dalam cermin kemiskinan negeriku.   Refleksi bayangan 
  ketidakmampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya. 
  Ekonomi carut marut negara memaksa anak sebelia itu untuk 
 jadi tenaga kerja di negeri orang.  Tanpa digaji, malah 
 disiksa.  Ternyata jiwa perbudakan di mana-mana masih juga 
 ada!  Pikiran Neneng sangat sederhana.  Yang 
 dia tahu orang tuanya sudah melakukan transaksi jual beli atas 
 dirinya. 
   Ada sebersit harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa 
 menunaikan ibadah haji.  Meski seumur hidup hanya sekali. 
  Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah hal yang sungguh 
 tak ternilai dalam hidupnya.   Dan bila ketidakmengertianny a 
 bahwa kepergiannya ke Arab Saudi itu tak ada hubungannya dengan naik 
 haji karena 
 ia adalah pembantu rumah tangga yang tak punya hak diri, itu 
 tanggung jawab 
 siapa?    
 
 Negeriku adalah 
 negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang terbesar di 
 dunia. 
   Tapi apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak dan 
 perlindungan pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng 
 lainnya?  Aku tercenung lama dan terbersit tanya, kapan 
 negeriku yang gemah ripah loh jinawi bisa memberikan ketentraman 
 pada 
 anak-anak bangsanya sendiri, sehingga tak perlu mereka mencari dan 
 mengais 
 rejeki di negeri orang.  Sebagai anak bangsa Indonesia aku 
 sungguh malu. Tapi sesungguhnya adakah pilihan itu? Andaipun ada, 
 Neneng tak 
 pernah memiliki pilihan itu.   
 
 Amerika tak bisa 
 dipungkiri - adalah negara yang dibenci banyak negara lain di dunia. 
   Ia dikutuk! Dihujat!  Dimaki!  
 Tapi seiring dengan itu Amerika juga adalah bangsa yang dicintai, 
 perlindungan dan keamanannya dicari, stabilitas ekonominya 
 diingini.  
 Dan dengan seribu satu macam alasan dan tujuan, manusia dari seluruh 
 penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara ini.  Dan rasa 
 yang kulihat di wajah-wajah bertaburan keluar masuk di pintu 
 pengadilan imigrasi 
 itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk menetap, 
 bekerja keras dan 
 berpenghidupan yang lebih baik di Amerika atau harus pulang dan tak 
 tahu 
 kehidupan apa yang menanti di negara asalnya masing-masing. 
 
 Kasus Neneng, bukanlah kasus di mana orang yang ketahuan overstay 
 lalu minta suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa 
 atau 
 kebiadaban manusia di tanah air.  Kasus Neneng bukanlah kasus 
 di mana dia ingin mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika – 
 sementara apa itu green card dan apa itu social security Neneng 
 tak pernah tahu dan dengar.  Kasus Neneng, adalah akibat 
 penjajahan kemiskinan dan kebodohan yang makin merajalela di 
 negerinya, yang 
 juga adalah negeriku.   Dan Amerika pun dengan tulus memunguti 
 serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan melindungi Neneng 
 ini dan 
 Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis Lady Liberty yang 
 bersahaja tapi sarat makna:   Give me your tired, your 
 poor…   
 
 Hakim kembali ke 
 ruang sidang siap dengan keputusannya, atas nama negara Amerika.  
 Kudengar suara lembut keibuannya yang tak pernah kubayangkan akan 
 terdengar dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng 
 memberikan 
 persetujuannya dijadikan anak negara.  Neneng diberi hak 
 untuk bersekolah dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan 
 gaji minimum, 
 mendapat tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur 
 hidupnya. Dan 
 Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan 
 agamanya.  Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji 
 syukur, "Allahu Akbar" 
 
 Sore itu, 
 sementara menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan hati 
 menyesak 
 rindu pada kampung halaman kuguratkan tulisan di lembar kertas 
 kuning lagu yang 
 kuingat sebagai penutup acara televisi di masa 
 kecilku,   "Tanah airku Indonesia .  Negeri elok amat kucinta. Tanah 
 tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa.  Tanah 
 airku aman dan makmur.  Pulau kelapa yang amat subur. Pulau 
 melati pujaan bangsa sejak dulu kala…   " dari tempat 
 dudukku di tepian sungai di sudut One River View 
 Square.  
 
 Dan Neneng, 
 sekuntum melati bangsaku yang tak pernah hidup dalam negeri yang 
 aman dan makmur 
 itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada dalam lagu 
 penutup 
 acara di tivi itu.   Hari ini dan hari esoknya bergantung pada 
 belas kasih dan perlindungan negara ini.  Ketika kulihat 
 taksiku datang aku segera beranjak.  Sekilas kuletakkan 
 tanganku di marmer hitam di depan gedung pengadilan imigrasi itu.   
 Dan bayangan wajah bercahaya Neneng yang berjilbab putih mengenakan 
 toga 
 dan merengkuh selembar diploma di tangannya, dengan latar belakang 
 bendera 
 Amerika - melintas di mataku yang mulai berembun. 
 
 __________________________________________________________
 _______________
 Looking for last minute shopping deals?  
 Find them fast with Yahoo! Search.  
 http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?
 category=shopping
 
 --- End forwarded message ---
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke