Abdul Mun'im D.Z. - Peneliti LP3ES Nasionalisme yang Mengakar SEKALIPUN banyak disebut sebagai wacana besar, masih sedikit yang menekuni isu nasionalisme Indonesia, dalam hal ini nasionalisme lokal. Tak heran kalau banyak yang terjebak dalam pemahaman bahwa nasionalisme itu universal. Padahal, konsep nasionalisme Eropa seperti yang dibawa oleh Belanda sangat berbeda dengan nasionalisme Indonesia yang berbasis pada lokalitas.
Berikut petikan wawancara dengan Abdul Mun`im D.Z., peneliti LP3ES yang secara khusus menekuni kajian nasionalisme lokal itu. Bagaimana nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang? Nasionalisme Indonesia tumbuh dari nasionalisme etnik, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan lain-lain. Lalu keluar dari ikatan etnik dan beralih ke ikatan agama seperti Jong Islamiten Bond. Menjelang 1928, ikatan itu mengkristal dalam Nasional Bond tanpa menghapus bond-bond lokal. Lokalisme itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari nasionalisme. Apa yang membedakannya dengan nasionalisme Eropa? Nasionalisme Eropa itu monolit. Dari situlah berkembang humanisme universal yang melahirkan liberalisme. Nasionalisme itulah yang dibawa para tokoh kita yang alumni Eropa. Oleh karena itu, mereka tidak mengakar di sini sebab akarnya tertinggal di Eropa. Nasionalisme semacam ini menafikan lokalisme. Dari mereka ini pula munculnya tuduhan provinsialistis bagi para pejuang budaya lokal. Di mana posisi Otista dalam pertumbuhan dua nasionalisme itu? Sebagai tokoh Pasundan, Oto ikut membangun nasionalisme yang mengakar itu. Kesundaan Oto tidak menghambat pergerakannya dalam memperkuat nasionalisme Indonesia. Justru keteguhan untuk mempertahankan budaya Sunda itu yang membuatnya menjadi tokoh nasional yang mengakar. Ia tokoh nasional yang punya massa real di daerah. Ia mengenal benar suara dan gerak masyarakatnya. Apa bedanya dengan nasionalisme yang tidak berakar di Indonesia? Mereka cenderung lebih kompromis dengan Belanda dan kurang militan. Mereka juga tidak mewakili suara rakyat banyak yang tertindas. Ada kesan apologetik ketika orang Sunda menulis tokohnya sendiri dan ada kecenderungan menyudutkan etnik lain, misalnya Jawa, mengapa bisa demikian? Sebenarnya masih sedikit sekali kajian yang mendalam terhadap tokoh-tokoh nasional kita. Masih terbatas kepada beberapa tokoh saja, misalnya Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka. Dari yang sedikit itu, juga belum sepenuhnya tuntas dikaji, misalnya konsep politik dan ekonomi Soekarno. Yang sudah dilakukan lebih banyak berbentuk memoar. Apalagi, terhadap Oto yang memang belum banyak kajian mendalam atas perjuangannya. Buku yang ada belum mampu mengangkat Oto dalam lanskap nasional, dalam konteks Indonesian Bond itu. Jadi, keterpinggiran Oto dalam sejarah itu bukan karena dia dari Sunda, tetapi karena memang belum dikaji secara utuh. Beda misalnya dengan Kartosuwiryo, orang bukan Sunda, tetapi berbasis di tanah Sunda. Sekalipun dia tokoh pemberontak nasional, dia lebih dikenal luas karena mendapat tempat dalam banyak kajian. Kalau mau menempatkan Oto sebagai tokoh nasional yang lebih dihargai, ya mari kita lakukan kajian yang lebih mendalam. Apa jasa terbesar dari tokoh seperti Otista? Kampanye yang tak kenal lelah mengenai kesadaran nasional, khususnya bagi orang Sunda. Dengan kesadaran nasional itulah tumbuh perlawanan kuat terhadap kolonialisme. Pelestarian budaya lokal adalah perlawanan terhadap kolonialisme yang sesungguhnya. Pelestarian dan pengembangan budaya lokal itu adalah bagian dari nasionalisme dan akan ikut memperkuatnya. (Iip) *** URL: http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=5599

