Berjuang Membela Oto Iskandar di Nata SIAPAKAH Pak Iti? Sosok ini memang tak banyak diungkap orang. Menurut pengakuannya, ia adalah mantan kepala rumah tangga kepresidenan RI di Yogyakarta. Ia salah seorang anggota Barisan Pelopor Istimewa (BPI) yang dibentuk Sukarno. Jadi, ia orang yang pernah sangat dekat dengan Presiden Sukarno.
Nama aslinya R. O. Permadipoera. Pada era 1950-an, namanya sering menghiasi media cetak. Pak Iti rajin menulis pengalaman perjuangan, kritik sosial, surat pembaca, atau jadi sumber berita. Tidak diketahui mengapa ia menyebut dirinya dan kemudian dikenal orang sebagai Pak Iti. Hanya, dalam semua tulisannya, ia menyebut dirinya Pak Iti, Pak Itty, atau Pak Iti Tea. Kadang ia mencantumkan nama aslinya, tetapi lebih sering nama populernya saja. Redaksi majalah Warga yang dipimpin oleh Nanie Soedarma, ketika memperkenalkan Pak Iti kepada pembaca, menulisnya dengan jenaka. "Adi-adi anu sok sering ngadangukeun radio tangtu moal aya nu bireuk deui kana jenengan Pa Iti. Bodor Pa Iti atawa reog Pa Iti tea geus populer ti jaman Republik Jogja keneh. Kana rupa Pa Iti tea tangtu rea nu can terang. Bisi harayang terang, tah ieu ku Kaka dibere potret hiji sewang...." Nama Pak Iti semakin mencuat ketika dengan gigih ia ikut melakukan tuntutan agar kasus kematian Otista, diusut tuntas dan dibawa ke pengadilan. Selain berdemo dari Bogor ke Bandung dengan menggunakan sepeda, ia juga menulis surat terbuka untuk Jaksa Agung. Surat itu kemudian dimuat dalam koran Sipatahoenan (10/12/1956) lalu dimuat pula majalah Warga (21/12/1956) sehingga diketahui khalayak banyak. Surat terbuka Pak Iti, sedikit banyak telah ikut mengungkapkan kasus kematian Otista. Selengkapnya bunyi surat tertanggal 6 Desember 1956 itu adalah sebagai berikut. Dengan hormat. Paduka Tuan tentu melihat, bahwa sangat terasa pincang, malah begitu mencolok mata, dirasakan oleh keluarga almarhum Sdr. Oto Iskandar di Nata, begitu juga oleh seluruh masyarakat Sunda. Terutama setelah tahu bahwa Sdr. R. Oto Iskandar di Nata, sewaktu menjabat Menteri Negara RI kabinet yang pertama, telah sampai kepada ajalnya karena dibunuh oleh sejumlah orang yang tak bertanggung jawab. Sementara kepada mereka yang berdosa belum ada tuntutan apapun baik dari pihak Kejaksaan atau dari pihak Kepolisian Republik Indonesia. Saya pribadi pada waktu ini tahu, bahwa orang-orang yang ikut membunuh Sdr. Oto Iskandar di Nata itu masih ada. Saya juga mendengar bahwa di Pusat Kepolisian Jawa Barat sudah ada keterangan-keterangan resmi dan tertulis, yang tentu saja keterangan-keterangan itu bisa digunakan atau jadi bahan untuk mengadakan penuntutan. Begitu pula Sdr. Djumadi salah seorang Inspektur Polisi yang menurut pengakuannya melihat langsung kejadian itu, benar-benar tahu/melihat pada waktu Sdr. Oto Iskandar di Nata dibunuh. Oleh karena itu para pembunuh sekarang masih hidup, di antaranya yang bernama Mudjitaba, asal dari Kampung Melayu, Teluk Naga, Tanggerang. Jadi saksi dan pembunuh masih sama hidup. Saya memohon dengan sangat agar peristiwa ini cepat diselesaikan. Terutama memohon agar si pembunuh, Mudjitaba, secepatnya ditangkap, sebab dia telah jelas membunuh Sdr. Oto Iskandar di Nata pada tanggal 20 Desember 1945 di Kampung Katapang wilayah Distrik Mawuk. Sebelumnya saya sampaikan beribu-ribu terima kasih. Jaksa Agung Soeprapto menaruh perhatian pada kasus tersebut. Namun, ia tidak mau menuntut seseorang sebelum bukti-bukti kuat dapat dikumpulkan. Surat Pak Iti dan tuntutan dari Parki yang dilakukan jauh sebelumnya, telah mendorong aparat kejaksaan untuk bisa menuntaskan kasus yang menjadi perhatian warga Jawa Barat itu. Menurut sejumlah orang yang pernah berjumpa dengannya, Pak Iti adalah orang yang unik. Ia sering berdemo sendirian di Alun-alun Bandung. Sambil berdiri, ia membuka satu per satu gulungan kertas yang memuat isi tuntutannya. Setelah selesai ia lalu pindah ke tempat lain. Pak Iti menjadi saksi sejarah bangun dan jatuhnya orang-orang Sunda di panggung politik nasional. Ia bahkan mengalami sendiri proses fluktuasi itu. Suatu saat ia menjadi pembela gigih Sukarno. Kali lain ia menjadi sosok orang Sunda yang terpinggirkan dari panggung sejarah, yang jauh terpuruk hingga generasi Sunda kemudian tak mengenal namanya lagi. Hari ini, bolehlah semua orang berlomba menjadi yang terdepan dan paling lantang meneriakkan Otista sebagai pahlawan. Atau mengutuk upaya-upaya pengaburan kasus pembunuhannya karena menyangkut nama baik mantan pejabat penting negeri ini. Akan tetapi, saat itu, pada 1950-an, hanya orang bernyali besar yang bisa melakukannya. Dari sedikit pemberani itu adalah Pak Iti tea. (Iip) *** URL: http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=5592

