Sisi Lain Si Jalak Harupat

APAKAH Otista pernah merasa suntuk dalam hidupnya? Pertanyaan
sederhana ini mengemuka dari satu keinginan memahami sosok Otista yang
lebih manusiawi. Salah satu sisi kemanusiaan seseorang itu adalah
merasa suntuk oleh rutinitas atau tekanan dalam hidupnya. Menurut
Sjarif Amin atau Mohamad Koerdie (Saumur Jagong, 1983), salah seorang
kepercayaan Otista, pada waktu-waktu senggang ia sering diajak ke
Bojongsoang. Ia diajak ke sawah milik Otista yang terdapat saung
ranggon untuk beristirahat.

Sejauh mata memandang, pada masa itu, hanya persawahan yang terlihat.
Lalu tanpa ragu, Otista turun ke sawah, berkubang lumpur untuk
memeriksa padi yang sebentar lagi akan dipanen. Dalam pandangan
Koerdie, Otista seperti merasa senang sekali kalau sudah bobolokot
lumpur begitu. Mungkin itulah obat suntuk bagi tokoh kita itu, turun
ke sawah.

Ketika bertugas di Pekalongan (1924-28), Otista bersua salah seorang
perintis pers Indonesia, Darmosoegito. Mereka kerap berkumpul untuk
membicarakan persoalan rakyat pribumi. Karena kegiatan itu, mereka
selalu diawasi oleh seorang intel. Begitu tahu ada intel yang selalu
menguping pembicaraan, mereka bukan mengehentikan diskusi, melainkan
semakin bersemangat.

Suatu hari Otista malah meminta si intel ikut masuk saat diskusi
berlangsung. Selain disuguhi berbagai penganan dan minuman, intel itu
juga dibiarkan mengikuti pembicaraan. Lama-lama intel itu insyaf bahwa
yang dibahas oleh Otista dan kawan-kawannya adalah perihal kesulitan
hidup masyarakat. Akhirnya, si intel mengundurkan diri dari jabatannya
karena tak mau lagi jadi antek-antek penjajah.

Olah raga kegemaran Otista adalah sepak bola. Sebagai kecintaannya
terhadap sepak bola, Otista pernah menjadi ketua Persib bersama
Suprodjo sebagai sekretaris. Suprodjo adalah seorang mantan Digulis.
Pada Kabinet V yang dibentuk 3 Juli 1947 di bawah Perdana Menteri Amir
Sjarifuddin, Suprodjo terpilih sebagai Menteri Sosial. Kegemaran
terhadap sepak bola itu terus dilakukan Otista, sekalipun ia sudah
menjadi tokoh pergerakan.

Pada 16 Mei 1932 Otista berpartisipasi dalam pertandingan
antar-veteranen. Elftal (kesebelasan) Otista berhadapan dengan elftal
Husni Thamrin. Menutup liputan pertandingan itu, Redaksi Pandji
Poestaka menulis demikian, "Waktu referee meniup peluitnya stand tetap
0-0. Dan sekalian pemain berlari menyerang persediaan limonade. Untung
permainan itu hanya 15 menit saja lamanya, kalau tidak tentu banyak
lagi yang knock-out (jatuh pingsan)."

Otista juga punya rasa humor yang cerdas. Ketika memimpin koran
Tjahaja, dia membutuhkan kawan seperjuangan yang mengerti sikapnya.
Salah seorang yang ingin diajaknya ialah Koerdie. Sayangnya, waktu itu
Koerdie lebih memilih pulang ke Ciamis untuk bertani. Otista melihat
semua pekerjaan pada waktu itu dalam pengawasan Jepang dan yang paling
longgar pengawasannya ialah di bidang pers. Ia ingin mengajak Koerdie
yang waktu itu mendapat kesulitan karena diadukan telah menjual barang
di atas harga yang ditentukan.

Agar Koerdie dapat datang ke kantor Tjahaja, Otista mengirimkan surat
panggilan. Uniknya, surat itu dikirimkan ke berbagai alamat karena
saat itu Koerdie tidak diketahui pasti ada di mana. Jadi ada yang
dikirim ke alamat di Bandung, juga di Ciamis. Salah satu surat yang
ditulis oleh staf Otista berbunyi demikian.

"Sudah beberapa kali dicari ke rumah, tetapi selalu tidak ada. Ada
permintaan dari tuan Oto Iskandar di Nata, agar Adinda bisa datang ke
Bandung. Mohon diperhatikan, surat ini sudah berkeliling ke mana-mana
(atrok-atrokan), karena belum menerima kepastian di mana Adinda
sekarang."

Ketika Koerdie berhasil menemui Otista di kantornya, ia langsung
disapa, "Ke mana saja, Dik? Lama sekali tak ada kabar? Dari awal bulan
ini Akang meminta Niti (Somantri) untuk berkirim surat. Ingin ngobrol.
Akang kira gampang!" sambungnya. Akhirnya, berkat kesetiakawanan
Otista, Koerdie membantu mengelola Tjahaja. Dengan demikian, ia
terbebas dari berbagai tuduhan pihak Jepang. Otista juga pernah
menitipkan Koerdie kepada orang-orang tua kepercayaannya di Jakarta
agar dapat membantunya kalau bertugas di Jakarta.

Koerdie juga mencatat Otista sebagai sosok yang rendah hati. Tak segan
ia menginap bersama dalam satu kamar penginapan yang sederhana dan
penuh serangan nyamuk. Sikap itu juga tampak dari kemauan Otista
mengunjungi seniornya, tanpa melihat latar belakang pilihan politik.
Suatu hari Koerdie diajak menemui Aria Ahmad Djajadiningrat di kampung
Jomin, antara Purwakarta dan Cikampek, oleh karena itu ia dikenal
sebagai Pangeran Jomin.

Pada 1936 Pangeran Jomin menerbitkan buku Kenang-kenangan. "Kita mau
mendengar tuturan pengalaman orang yang pernah menjadi anggota Dewan
Hindia," katanya. Djajadiningrat adalah pribumi yang pertama diutus ke
Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa, jadi anggota delegasi negara Belanda.
Ternyata, yang dijelaskan Djajadiningrat kemudian tak jauh dari yang
sudah diketahui Otista dan Koerdie melalui bukunya itu.

Sudah barang tentu Otista juga seorang orator yang selalu berhasil
memberi semangat pendengarnya. Pelukis Barli yang pernah menjadi
kontributor Sipatahoenan, mengabadikan Otista yang sedang berpidato
penuh semangat dalam Kongres Paguyuban Pasundan XXV, 1940. "Persatuan
yang kami kehendaki boleh dibandingkan dengan jari tangan, kalau
dipersatukan yang teguh, menjadi `Ketupat Bengkulu`!" seru Otista.
Hadirin bertepuk tangan riuh, suaranya bergemuruh, tanda setuju pada
ucapannya itu. (Iip D. Yahya, dari berbagai sumber) ***

URL: http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=5590

Kirim email ke