Hatur nuhun mang h artikel bah oto tos katampi. Baktos ERN
On 12/25/07, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terus terang, kuring mah ka Bah Oto teh, teu pati apal. Estu ngan ukur > inget-inget poho waktu keur sakola dasar di lembur. Kitu oge ukur > sakolebat, kasabit-sabit dina pangajaran di sakola, duka teuing > pangajaran naon, poho deui. Teuing salah saha, pangna kuring nepi ka > kitu, teu pati wanoh jeung tokoh Sunda, anu geuning sakitu > pikareueuseunana. Padahal kuring teh teureuh Sunda pituin. Tapi kuring > teu ngarasa salah deuih, kitu deui kuring yakin, lain salah kolot > kuring, da barina ge, najan kuring resep maca ti leuleutik, asa arang > langka nu ngabahas perkara Bah Oto teh. Nu salah mah ceuk kuring, nu > baroga kaweruh jeung pangaruh kana perkara eta, teu pati daek > nyayagikeun bacaaeun keur jalma dusun pantar kuring. > > Rada wanoh ka Bah Oto teh, estu anyar-anyar ieu, pedah kagiridig ku > tulisan di milis, jeung maca beja tina koran, nu ngabahas raratan Si > Abah. Geuning kitu dongengna jeung nasibna Si Abah teh. Tamba tambelar > jeung joledar teuing, nya ngotektak di Internet, nu pakait jeung Bah > Oto, kabeneran meunang sababaraha beja, nu jigana rada ngabengraskeun > keur mikawanoh Bah Oto. Sugan aya nu rek miluan, mikawanoh Bah Oto, > hayu geura urang toong babarengan. (mh) > > ======== > Mengenang Bapak Sunda Oto Iskandar di Nata > Misteri yang tak Kunjung Terkuak > > DUA puluh Desember adalah waktu yang disepakati sebagai hari wafat > Pahlawan Nasional Oto Iskandar di Nata (Otista). Namun, bagi orang > Sunda, peristiwa itu tetap menyisakan tanya. > > Misteri itu berawal pada 10 Desember 1945, ketika mantan Menteri > Negara itu diculik Lasykar Hitam atas tuduhan sebagai mata-mata NICA. > Sepuluh hari berselang, Otista dibunuh di Pantai Mauk Tangerang. > Kasusnya mulai diselidiki pada 1951. Enam tahun kemudian, kasus itu > disidangkan dan berakhir pada 1959. Moch. Mujitaba bin Murkam, salah > seorang yang terlibat penculikan dan pembunuhan, kemudian dijatuhi > hukuman 15 tahun penjara. > > Mengusut kasus Otista memang sulit dan sangat kompleks. Selain > keterbatasan kemampuan aparat saat itu, penyelidikan yang baru dimulai > lima tahun setelah kejadian, tentu saja mengganggu bahkan > menghilangkan bekas dan bukti kasus. > > Adalah Moch. Enduh, polisi yang sudah melakukan penyelidikan sejak > 1951. Berkat kegigihan Komisaris Polisi II itu lah, Mujitaba berhasil > ditangkap pada 1956. Pengadilan kasus Otista pun berlangsung alot. > Setelah 12 orang saksi berhasil dihadirkan di muka sidang, Mujitaba > terus membantah telah membunuh Otista. Namun, ia tak bisa menolak > keterlibatannya dalam peristiwa itu. > > Pengadilan dipimpin Hakim Raffli Rasad dan jaksa R. Sutisna, Sirin St. > Pangeran, dan Priyatna Abdulrasyid, yang bertugas secara bergantian. > Sementara itu, pembelanya ialah Harjono Tjokrosubeno. Kepada Jaksa > Priyatna, Mujitaba sempat "bernyanyi" soal keterlibatan sejumlah orang > yang saat itu telah menjadi tokoh nasional. Sayang, upaya Priyatna > untuk melakukan pengusutan lebih lanjut ditolak pengadilan. > > ** > > Upaya mencari kaitan kematian Otista dengan Lasykar Hitam ternyata > tidak membuahkan hasil memuaskan. Lasykar Hitam hanyalah pelaku > lapangan. Organ itu bergerak di bawah Direktorium pimpinan K.H. Achmad > Chairun, yang saat itu (1945-1946), mengambil alih pemerintahan > Tangerang. Kepentingan rezim Chairun ini juga lemah sebab mereka > memisahkan diri dari RI. Untuk apa mereka menculik "pengkhianat" RI > kalau mereka sendiri tidak mengakui RI. > > Rezim Chairun lebih tepat dikatakan telah "diorder" untuk menculik > Otista. Lalu ditugaskanlah Lasykar Hitam yang menjadi inti dari > Pasukan Berani Mati pimpinan Syekh Abdullah. Belum ditemukan informasi > yang kuat, siapa mastermind yang "mengorder" penculikan dan pembunuhan > itu. > > Asumsi pada skenario ini adalah sedikitnya pengetahuan para pelaku > terhadap sosok Otista. Di pengadilan, hampir semua saksi mengaku tidak > mengenal Otista sebelumnya, kecuali Djumadi yang anggota BKR. Mereka > hanya dibekali informasi bahwa Otista adalah "Mata-mata musuh yang > menjual kota Bandung satu miliun!" Tidak jelas apakah dalam bentuk > gulden atau rupiah. Adanya tuduhan ini faktual karena diakui dalam > proses pengadilan. Lalu, dari mana angka satu miliun itu? > > Ketika tentara Jepang panik karena pasukan Sekutu sudah tiba di > Indonesia, sebagian dari mereka kebingungan dengan sejumlah dana yang > terkumpul pada masa pendudukan. Di antara dana itu ada yang diserahkan > kepada sejumlah tokoh sebagai bekal perjuangan. Menurut sumber yang > masih harus diverifikasi, Otista adalah salah seorang yang menerima > dana titipan itu. Seorang Jepang yang kemudian membantu perjuangan > gerilya RI, mengakui pernah menyerahkan sejumlah uang kepada Otista. > Demikianlah kira-kira sebab musabab adanya tuduhan Otista punya uang 1 > juta itu. > > ** > > Dengan hilangnya Otista, Bandung dan Jawa Barat kehilangan salah > seorang pemimpinnya yang paling penting. Kepemimpinan di Bandung pun > jadi cerai-berai. Jawa Barat dipimpin orang non-Sunda, sementara tokoh > Sunda malah jadi pemimpin di daerah lain. Kekuatan kaum nasionalis di > Bandung seolah kehilangan arah dan tumpuan. Mereka terjebak dalam > situasi saling curiga. Oleh karena itulah Sekutu "lebih mudah" > menaklukkan Bandung. > > Apakah Lasykar Hitam dan Direktorium rezim Achmad Chairun diuntungkan > dengan perbuatannya? Tidak. Yang mereka lakukan terbukti sia-sia > belaka dan tidak menambah apa pun untuk perjuangan Republik selain > penyesalan. Mereka malah mengotori perjuangan Republik karena > memisahkan diri. Dalam konteks perjuangan yang lebih luas mereka juga > bagian dari korban. Korban provokasi tokoh yang berkhianat atau korban > intelijen musuh. > > Apakah --kalau benar ada-- kawan Otista yang berkhianat itu yang > beruntung? Tidak juga. Sejarah kemudian mencatat bahwa Otista tidak > bersalah dan namanya sudah dipulihkan dengan pengangkatannya sebagai > Pahlawan Nasional. Sebaliknya sang kawan itu mungkin sampai akhir > hayatnya memendam rasa takut dan sesal. Perbuatannya terbukti hanya > merusak kesatuan perjuangan Republik. > > Lalu siapa yang rugi? Yang rugi adalah para pemimpin republik karena > hubungan mereka dengan rakyat diputus oleh pagar betis pemuda dan amuk > massa di setiap sudut kota. Kendali mereka menjadi sangat lemah. > Begitu pula yang paling rugi dari hilangnya Otista adalah perjuangan > mempertahankan kemerdekaan Republik. > > Hal itu diakui secara jujur oleh Presiden Sukarno (kantor berita > Antara, 29/09/1950) bahwa Otista memang salah seorang putra Indonesia > yang banyak sekali jasanya kepada tanah air dan bangsa. "Kalau > umpamanya Tuan Oto sekarang ini masih hidup, sudah tentu beliau akan > memberi lagi jasa-jasanya yang besar kepada negara kita ini dan banyak > kesulitan yang kita hadapi sekarang ini lebih mudah diatasi." > > Kerugian juga dirasakan oleh warga Jawa Barat, masyarakat yang sejak > awal 1930-an sudah dipersiapkan Otista untuk menyongsong kemerdekaan. > Melalui Paguyuban Pasundan yang dipimpinnya sejak 1931, Otista > terus-menerus menggelorakan semangat kemerdekaan melalui persatuan, > kedisiplinan, dan kesungguhan bekerja. Kerugian orang Sunda atas > hilangnya Otista itu tidak hanya dari aspek politik, tetapi juga dari > aspek sosial, pendidikan, ekonomi, dan budaya. > > Dari aspek sosial-pendidikan-ekonomi adalah kesulitan dalam > menghidupkan kembali Paguyuban Pasundan. Sebagaimana diketahui, > Paguyuban Pasundan ketika dibubarkan pada 1942 sedang dalam puncak > keemasannya. Organisasi massa ini bergerak di banyak bidang sosial, > pendidikan, dan ekonomi. Ada rumah sakit dan sekolah. Ada koperasi dan > perbankan. Ada penerbitan dan percetakan. Ada organisasi perempuan dan > pemuda dan banyak hal lain lagi. Dalam aspek kebudayaan, kerugian > orang Sunda adalah hilangnya keseimbangan kepemimpinan. > > ** > > Apakah kita sudah cukup menghormati jasa Otista? Tokoh Sunda ini sudah > jadi Pahlawan Nasional. Ia juga sudah jadi nama jalan-jalan protokol > di berbagai kota besar dan kecil. Dari sisi formal mungkin sudah > memadai. Akan tetapi dari sisi kepentingan yang lebih luas, untuk > tumbuh kembangnya budaya Sunda ke depan, rasanya kita masih perlu > untuk lebih memberi lagi penghormatan. Umpamanya, membuatkan sebuah > museum yang didekasikan untuk mengenang jasa dan perjuangannya (Lihat > Museum Oto Iskandar di Nata: Sebuah Mimpi). > > Oto Iskandar di Nata hidup hampir tanpa cela dan mati sebagai syahid. > Mengenang Otista adalah seperti mengisi kembali bahan bakar yang > hampir habis. Totalitasnya pada perjuangan benar-benar berakhir pada > titik darahnya yang penghabisan. Sebagaimana pernah diamanatkan > Otista, "Perbuatan yang harus dan mesti kita kerjakan sudah tentu > adalah berjuang untuk menang". Itulah panduan generasi Sunda sekarang, > berjuang dan menang. > > Kongres Pemuda Sunda (5-7 November 1956), memproklamasikan Oto > Iskandar di Nata sebagai Bapak Sunda. "Yen Dewi Sartika jeung Oto > Iskandar di Nata kudu dipieling ku urang Sunda saban taun minangka Ibu > jeung Bapa Sunda" (Bahwa Dewi Sartika dan Oto Iskandar di Nata harus > diperingati oleh orang Sunda setiap tahun sebagai Bapak dan Ibu > Sunda). Proklamasi itu benar adanya. Memang, sudah selayaknya kalau > Otista dijadikan sebagai Bapak Sunda. (Iip D. Yahya, dari berbagai > sumber) *** > > URL: http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=5600 > >

