ISLAM DAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL [image: PDF] <javascript:void
window.open('http://www.khilafah1924.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=385',
'win2',
'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');>
[image:
Print] <javascript:void
window.open('http://www.khilafah1924.org/index2.php?option=com_content&task=view&id=385&Itemid=47&pop=1&page=0',
'win2',
'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');>
[image:
E-mail] <javascript:void
window.open('http://www.khilafah1924.org/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=385',
'win2',
'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');>
Monday,
28 May 2007 ISLAM DAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL Oleh : H Mashadi
Ketua Forum Umat Islam
Ada yang menarik untuk dicermati dari pidato salah seorang tokoh Muslim
negeri ini saat memperingati 100 hari wafatnya KH Yusuf Hasyim 29 April 2007
yang lalu sebagai mana dilansir harian ini hari Senin 30 April 2007. Dalam
pidatonya, tokoh tersebut tidak sungkan-sungkan mendesak pemerintah untuk
mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi
transnasional dari Barat maupun dari Timur.
Tokoh yang sama juga menyatakan, bahwa Islam adalah agama, bukanlah
ideologi. Masih menurut dia, yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah
akibat dari Islam sebagai ideologi, bukan sebagai agama. Benarkah demikian?
Bisakah Islam dipisahkan sebagai agama dan ideologi? Lalu di manakah posisi
Ikhwanul Muslimin, Majelis Mujahidin, Alqaidah yang beliau kategorikan
sebagai ideologi Islam di Timur Tengah dan bukan Islam dengan alasan Islam
sebagai agama bukan gerakan kepentingan apalagi politis?
*
Islam, agama, dan ideologi*
Islam, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, dalam kitabnya *Al Islam 'Aqidatan
wa Syari'atan* (1966: 9-11) adalah *dinullah* yang seluruh ajarannya, baik
akidah maupun syariatnya, telah disampaikan kepada Nabi SAW. Dari Alquran,
kita tahu bahwa Islam mempunyai dua bagian pokok, di mana faktanya tidak
akan pernah ada, dan maknanya juga tidak akan terealisasi, kecuali jika
kedua bagian tersebut ada dan diwujudkan. Dua bagian itu tak lain adalah
akidah dan syariat.
Ibarat bangunan, akidah adalah pondasi, sementara syariat adalah konstruksi
dari seluruh bangunan yang dibangun di atasnya yang mengandung berbagai
unsur bangunan seperti ibadah, muamalah, akhlak, ukhuwah Islamiyyah dan
kelengkapannya. Sebagai pondasi, akidah memang tidak tampak di permukaan.
Ini berbeda dengan syariat, karena akidah adalah aktivitas kalbu, sementara
syariat adalah aktivitas fisik. Meski demikian, dua-duanya tidak dapat
dipisahkan. Inilah Islam.
Islam adalah din yang lengkap dan sempurna (QS 05: 03). Sebagai *din*, Islam
bukan hanya membahas masalah keakhiratan, tapi Islam juga membahas berbagai
masalah keduniaan, seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan,
sosial-kemasyarakatan, politik luar negeri dan sebagainya, yang lazimnya
menjadi wilayah ideologi. Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah
agama sekaligus ideologi.
Kita memang sering dirancukan dengan istilah ideologi, sebagai kerangka
filosofis yang dihasilkan oleh manusia, seperti kapitalisme dan sosialisme.
Sedemikian, sehingga Islam, menurut logika ini, bukan merupakan ideologi,
melainkan agama. Alasannya, karena ideologi adalah kerangka filosofis yang
dihasilkan oleh akal manusia, sementara Islam tidak. Padahal, konteks
pembahasannya adalah sumber ideologi, bukan apa ideologi itu sendiri? Ini
adalah dua fakta yang berbeda. Karena itu, dalam konteks sumber ideologi,
bisa disimpulkan ada dua kategori ideologi, yaitu ideologi yang bersumber
dari akal manusia, dan ideologi yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Dari
sini, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah ideologi yang bersumber dari
wahyu Allah, yang jelas berbeda dengan kapitalisme maupun komunisme.
*
Agama dan ideologi transnasional*
Istilah transnasional sering digunakan dengan merujuk pada penggunaan
istilah kejahatan transnasional, dengan konotasi lintas batas negara. Jika
ada agama dan ideologi yang disebut sebagai agama dan ideologi
transnasional, itu adalah Islam. Kalau Islam bukan agama transnasional, maka
tidak ada ibadah yang dilakukan lintasnegara, seperti haji, umrah dan jihad.
Kalau Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum Muslim di
Indonesia berbeda dengan kaum Muslim di Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan
sebagainya. Namun, justru karena shalat, puasa, zakat dan hajinya sama, maka
semuanya ini membuktikan, bahwa Islam adalah agama transnasional.
Demikian halnya dengan Islam sebagai idoelogi. Persatuan umat Islam di
seluruh dunia selama 14 abad dalam satu kebudayaan dan negara adalah bukti,
bahwa Islam juga merupakan ideologi transnasional. Seperti kata Will Durant
(1885-1981), "Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri
yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam,
Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam juga telah
menguasai cita-cita mereka, mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya
dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan masalah
maupun duka mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi
mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh kepadanya
pada saat ini (era Will Durant) sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah
menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat dan
latar belakang politik di antara mereka." (Will Durant, *The History of
Civilization*, vol XIII).
Nah, dalam konteks agama dan ideologi transnasional ini, posisi Islam sama
dengan Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan dengan kapitalisme maupun
sosialisme di sisi lain. Bedanya, jika Kristen dan Yahudi adalah agama
transnasional, sama dengan Islam. Namun, kedua agama yang aslinya diturunkan
kepada Bani Israil itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai ideologi
secara hakiki. Sebab, ideologi hakiki adalah sekumpulan keyakinan yang
menghasilkan sistem peraturan kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem
sosial, sistem politik, dan lain-lain. Kedua agama Bani Israil itu hanya
memuat sekumpulan keyakinan, ibadah ritual, dan budi pekerti. Para penganut
mereka tunduk dalam sistem ideologi apapun yang diberlakukan, baik itu
sistem sosialis, kapitalis maupun Islam. Sedangkan di dalam Islam, peraturan
tentang bebagai sistem kehidupan tersebut secara sempurna dan menyeluruh
telah tersusun secara sistematis di dalam syariat Islam yang *kaffah*.
Berkaitan dengan ajaran ideologi kapitalisme maupun sosialisme, keduanya
adalah ideologi transnasional, sama dengan Islam. Bedanya, kapitalisme
maupun sosialisme bukanlah agama, dan tidak akan pernah bisa menjadi agama.
Dengan demikian, satu-satunya agama dan sekaligus ideologi transnasional
yang utuh adalah Islam.
Pertanyaannya adalah, ideologi transnasional manakah yang dimaksud oleh
tokoh tersebut, sedemikian gawatnya, sehingga dia memprovokasi pemerintah
untuk mencegahnya. Jika yang dimaksud adalah sosialisme (komunisme), tentu
kita setuju. Karena secara generik bertentangan dengan akal dan fitrah
manusia, dan telah terbukti gagal. Demikian halnya, jika yang dimaksud
adalah adalah kapitalisme, kita pun setuju. Namun, jika yang dimaksud itu
adalah Islam, maka mencegah masuknya ideologi Islam transnasional jelas
tidak mungkin.
Adapun posisi Ikhwanul Muslimin, Alqaidah, dan Majelis Mujahidin menurut
hemat penulis bukanlah ideologi tetapi organisasi yang berideologi Islam.
Posisi organisasi-organisasi tersebut kiranya sama dengan NU, Muhammadiyah,
Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah, HMI, PII, dan lain-lain di Indonesia
sebagai organisasi-organisasi yang berideologi Islam. Tentu saja pemerintah
tidak bisa melarang organisasi-organisasi dakwah dan gerakan Islam tersebut
karena ideologi Islam yang mendasari pikiran dan gerakannya. (Republika, 25
Mei 2007)
*
Ikhtisar*
- Selain menjadi agama, Islam juga telah menjadi ideologi yang menyebar
secara transnasional.
- Posisi Islam sebagai agama dan sebagai ideologi tidak bisa dipisahkan.
- Keinginan untuk melarang masuknya ideologi transnasional harus diuraikan
lebih tegas.
Sumber : http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=294329&kat_id=16
ARTIKEL TERKAIT :
KRITIK ATAS PENOLAKAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL
*Oleh : Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin*
Pada pembukaan temu wicara Mahkamah Konstitusi (MK) dan Pengkajian
Konstitusi di Jakarta, Jum'at 23 Februari 2007, Ketua PB NU Hasyim Muzadi
menyatakan, "NU menggunakan pendekatan substansial inklusif ketika
berhubungan dengan negara. Bagi NU, UUD 45 itu sarat makna agama meski tidak
ada stempel agamanya. Namun, saat diberi stempel Islam, agama lain akan
marah. NU memiliki dua dimensi. *Pertama*, sesuai AD/ART, NU melakukan
syari'at Islam dalam lingkup umat Islam. *Kedua*, untuk Indonesia, NU tak
memaksakan syari'at. Tetapi membangun hukum nasional yang diilhami nilai
agama. Bagi NU, Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan negara
sekuler." (*Kompas*, 26 Februari 2007).
Pernyataan tersebut jelas bertentangan dengan khithah perjuangan NU sendiri.
Dalam AD/ART NU Pasal 2 ayat 2 dinyatakan, "Menegakkan syari'at Islam
menurut haluan Aswaja (Ahlu sunnah wal Jama'ah)." Konkretnya, seperti
dikatakan Imam Syafi'i, haluan Aswaja, adalah mengamalkan syari'at Islam
dalam pengelolaan pemerintahan dan pengadilan.
Lagi pula, benarkah UUD '45 sarat makna agama meski tidak ada stempel
agamanya? Pernyataan ini bukan kenyataan yang terjadi di masyarakat?
Terjadinya pelacuran, perjudian, korupsi, narkoba, perdagangan perempuan,
jual beli bayi, ternyata tidak diharamkan dalam UUD '45. Tidak ada ketegasan
sikap terhadap perbuatan maksiat yang bertentangan dengan semua agama. Lalu,
dimana nuansa agamanya?
Keberpihakan UU terhadap doktrin agama harus tegas. Penolakan terhadap paham
sesat dan perbuatan yang dikategorikan maksiat, yang sudah jelas merugikan
masyarakat, juga harus jelas. Menghalalkan atau mengharamkan, agar tidak
terjadi persepsi abu-abu dan oportunistik. Alih-alih bersikap tegas, negara
justru banyak membuat aturan moral, politik, ekonomi, keamanan, yang
bersifat *munkarat* dan zalim. Akibatnya, perilaku bejat, merajalela mulai
dari pejabat hingga rakyat jelata.
Dalam posisinya sebagai ketua PB NU, ia juga mendesak pemerintah untuk
mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi
transnasional dari Barat maupun dari Timur, yang dinilainya sama-sama
merusak NU dan Indonesia. Kemudian, dirinya mengaku hendak mengkampanyekan
Islam ala NU sebagai alternatif transideologi, dengan memandang Islam
sebagai agama dan bukan sebagai ideologi.
Ketika memperingati khaul 100 hari wafatnya KHM Yusuf Hasyim di kantor PWNU
Jawa Timur, Ahad 29 April 2007, Hasyim Muzadi berpidato, "Apa yang terjadi
di Timur Tengah selama ini bukan Islam sebagai agama, tapi ideologi Islam.
Dan ideologi Islam di Timur Tengah antara lain Ikhwanul Muslimin, Majelis
Mujahidin, Alqaidah, dan sebagainya. Tapi ideologi Islam itu bukan Islam,
karena Islam sebagai agama bukan bersifat gerakan kepentingan apalagi
politis." (*Republika*, 30/4/2007).
Peringatan agar menolak ideologi Islam *made in* Timur Tengah, persis sama
dengan nasihat Snouck Hurgronje kepada penjajah kolonial Belanda yang
berkedudukan di Batavia. Barangkali hanya kebetulan saja, tapi untuk
mengetahui misi dan latar belakang pemikiran yang secara tiba-tiba
dilontarkan Hasyim Muzadi, cukup menarik dan mengundang tanda tanya.
Apalagi, peringatan itu dikaitkan dengan institusi Islam, Majelis Mujahidin,
yang selama 6 tahun terakhir ini menawarkan formalisasi syari'at Islam di
lembaga negara, sebagai solusi alternatif mengatasi problem bangsa
Indonesia.
Dalam buku *Nasihat-nasihat C Snouck Hurgronje Semasa kepegawaiannya Kepada
Pemerintah Hindia Belanda*, Snouck Hurgronje pernah menyusup ke Makkah
dengan mengganti namanya, Abdul Ghafar. Dia menasihatkan agar pemerintah
Belanda selektif dan cermat terhadap transpemikiran yang datang dari Timur
Tengah, khususnya dari pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Agar mengawasi arus
komunikasi antara komunitas ulama Indonesia terutama dengan para ulama Timur
Tengah, khususnya ulama Makkah yang beraliran wahabi. Nasihat ini
disampaikan oleh Snouck kepada gubernur jenderal Belanda yang berkedudukan
di Batavia, 4 Mei 1898.
Penolakan seperti ini lebih banyak membingungkan ketimbang memberi solusi
keagamaan. Apalagi, logika penolakan yang dilontarkannya bersifat
*tanaqud*(kontroversi). Sungguh menyedihkan, di satu segi dia menolak
paham Islam
yang datang dari luar, tetapi dia mau mengekspor ajaran NU sebagai ideologi
transnasional. Apa dasar pembenaran logika pemikiran semacam ini?
*
Pengertian Islam*
Penonjolan istilah Islam ideologis yang dianggapnya bukan Islam, hanyalah
gambaran dari pengaruh doktrin marxisme atau gereja yang sangat membenci
segala yang bernuansa agama dalam kancah politik praktis. Karena pembagian
antara Islam sebagai agama di satu pihak dan Islam sebagai ideologi di pihak
lain, persis doktrin gereja yang bersemboyan, 'gereja hanya mengurusi
ritual, sedang urusan negara menjadi kewenangan kaisar'.
Jika Islam ideologi dianggap bukan agama, lalu apa definisi agama yang
dimaksud? Pada tahun 50-an, sidang tarjih Muhammadiyah, menelorkan sebuah
keputusan tentang makna agama. Yaitu, tatanan kehidupan dalam segala
aspeknya, termasuk politik dan kenegaraan.
Jadi agama, baik dalam pandangan NU maupun Muhammadiyah berfungsi sebagai
tatanan kehidupan yang mencakup semua aspek kehidupan. Dalam persepektif
ini, jelas tidak ada perbedaan antara Islam ideologis dengan Islam sebagai
agama. Dahulu, Muhammadiyah menjadi pendukung utama partai Masyumi yang
bertujuan tegaknya syari'at Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat,
bangsa, dan negara. Tujuan ini, pada awalnya juga mendapat dukungan penuh
warga NU.
Oleh karena itu, menganggap Islam ideologi hanyalah gerakan politik, dan
bukan gerakan agama, selain membingungkan warga Nahdhiyin sendiri, juga
mengundang dilema. Sebab, faktanya para kiai NU mendirikan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), bahkan sekarang muncul tandingan baru, Partai
Kebangkitan Nahdhatul Ummah (PKNU). (Republika, 9 Mei 2007).
Sumber : http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=292473&kat_id=16