Muhun pami teu lepat mah kang aya papgon ti para kuncen. ( leres kitu aki 
kuncen :-) )
tapi kilang kitu kang, perkawis "pasea" mah cigana sarimbag sareng hobi/judi. 
Perkawis naon wae tiasa wae dijantenkeun bahan pipaseaeun (sapertosana wae 
nangtoskeun dinten..., der janten pasea he..he..dasar hobi)

sonirosa
www.bolotot.com
  ----- Original Message ----- 
  From: Ahmad Dimyati 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, January 04, 2008 1:35 PM
  Subject: Re: [Urang Sunda] Deui Islam vs Transnasional isme



  Punten, sanes teu kenging nge-post-keun masalah nu terkait sareng agama? Nu 
kieu mah seueur di tempat sanes ge. Teu kedah dicacandak ka milis urangsunda. 
Komo nu eusina matak pipaseaeun mah.

  A. Dimyati


  ----- Original Message ----
  From: H Surtiwa <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Friday, January 4, 2008 1:15:54 PM
  Subject: [Urang Sunda] Deui Islam vs Transnasional isme


        ISLAM DAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL        
        Monday, 28 May 2007  
        ISLAM DAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL 
        Oleh : H Mashadi
        Ketua Forum Umat Islam
        Ada yang menarik untuk dicermati dari pidato salah seorang tokoh Muslim 
negeri ini saat memperingati 100 hari wafatnya KH Yusuf Hasyim 29 April 2007 
yang lalu sebagai mana dilansir harian ini hari Senin 30 April 2007. Dalam 
pidatonya, tokoh tersebut tidak sungkan-sungkan mendesak pemerintah untuk 
mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi 
transnasional dari Barat maupun dari Timur. 

        Tokoh yang sama juga menyatakan, bahwa Islam adalah agama, bukanlah 
ideologi. Masih menurut dia, yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah 
akibat dari Islam sebagai ideologi, bukan sebagai agama. Benarkah demikian? 
Bisakah Islam dipisahkan sebagai agama dan ideologi? Lalu di manakah posisi 
Ikhwanul Muslimin, Majelis Mujahidin, Alqaidah yang beliau kategorikan sebagai 
ideologi Islam di Timur Tengah dan bukan Islam dengan alasan Islam sebagai 
agama bukan gerakan kepentingan apalagi politis? 

        Islam, agama, dan ideologi


        Islam, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, dalam kitabnya Al Islam 
'Aqidatan wa Syari'atan (1966: 9-11) adalah dinullah yang seluruh ajarannya, 
baik akidah maupun syariatnya, telah disampaikan kepada Nabi SAW. Dari Alquran, 
kita tahu bahwa Islam mempunyai dua bagian pokok, di mana faktanya tidak akan 
pernah ada, dan maknanya juga tidak akan terealisasi, kecuali jika kedua bagian 
tersebut ada dan diwujudkan. Dua bagian itu tak lain adalah akidah dan syariat. 
        Ibarat bangunan, akidah adalah pondasi, sementara syariat adalah 
konstruksi dari seluruh bangunan yang dibangun di atasnya yang mengandung 
berbagai unsur bangunan seperti ibadah, muamalah, akhlak, ukhuwah Islamiyyah 
dan kelengkapannya. Sebagai pondasi, akidah memang tidak tampak di permukaan. 
Ini berbeda dengan syariat, karena akidah adalah aktivitas kalbu, sementara 
syariat adalah aktivitas fisik. Meski demikian, dua-duanya tidak dapat 
dipisahkan. Inilah Islam. 

        Islam adalah din yang lengkap dan sempurna (QS 05: 03). Sebagai din, 
Islam bukan hanya membahas masalah keakhiratan, tapi Islam juga membahas 
berbagai masalah keduniaan, seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, 
sosial-kemasyarakat an, politik luar negeri dan sebagainya, yang lazimnya 
menjadi wilayah ideologi. Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah 
agama sekaligus ideologi. 

        Kita memang sering dirancukan dengan istilah ideologi, sebagai kerangka 
filosofis yang dihasilkan oleh manusia, seperti kapitalisme dan sosialisme. 
Sedemikian, sehingga Islam, menurut logika ini, bukan merupakan ideologi, 
melainkan agama. Alasannya, karena ideologi adalah kerangka filosofis yang 
dihasilkan oleh akal manusia, sementara Islam tidak. Padahal, konteks 
pembahasannya adalah sumber ideologi, bukan apa ideologi itu sendiri? Ini 
adalah dua fakta yang berbeda. Karena itu, dalam konteks sumber ideologi, bisa 
disimpulkan ada dua kategori ideologi, yaitu ideologi yang bersumber dari akal 
manusia, dan ideologi yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Dari sini, bisa 
disimpulkan, bahwa Islam adalah ideologi yang bersumber dari wahyu Allah, yang 
jelas berbeda dengan kapitalisme maupun komunisme. 

        Agama dan ideologi transnasional


        Istilah transnasional sering digunakan dengan merujuk pada penggunaan 
istilah kejahatan transnasional, dengan konotasi lintas batas negara. Jika ada 
agama dan ideologi yang disebut sebagai agama dan ideologi transnasional, itu 
adalah Islam. Kalau Islam bukan agama transnasional, maka tidak ada ibadah yang 
dilakukan lintasnegara, seperti haji, umrah dan jihad. Kalau Islam bukan agama 
transnasional, pasti praktik ibadah kaum Muslim di Indonesia berbeda dengan 
kaum Muslim di Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan sebagainya. Namun, justru 
karena shalat, puasa, zakat dan hajinya sama, maka semuanya ini membuktikan, 
bahwa Islam adalah agama transnasional. 
        Demikian halnya dengan Islam sebagai idoelogi. Persatuan umat Islam di 
seluruh dunia selama 14 abad dalam satu kebudayaan dan negara adalah bukti, 
bahwa Islam juga merupakan ideologi transnasional. Seperti kata Will Durant 
(1885-1981), "Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang 
terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, 
Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam juga telah menguasai cita-cita 
mereka, mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya dan membangkitkan harapan 
di tengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam 
telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang 
memeluknya dan berpegang teguh kepadanya pada saat ini (era Will Durant) 
sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan 
hatinya walaupun ada perbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara 
mereka." (Will Durant, The History of Civilization, vol XIII).

        Nah, dalam konteks agama dan ideologi transnasional ini, posisi Islam 
sama dengan Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan dengan kapitalisme maupun 
sosialisme di sisi lain. Bedanya, jika Kristen dan Yahudi adalah agama 
transnasional, sama dengan Islam. Namun, kedua agama yang aslinya diturunkan 
kepada Bani Israil itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai ideologi 
secara hakiki. Sebab, ideologi hakiki adalah sekumpulan keyakinan yang 
menghasilkan sistem peraturan kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem sosial, 
sistem politik, dan lain-lain. Kedua agama Bani Israil itu hanya memuat 
sekumpulan keyakinan, ibadah ritual, dan budi pekerti. Para penganut mereka 
tunduk dalam sistem ideologi apapun yang diberlakukan, baik itu sistem 
sosialis, kapitalis maupun Islam. Sedangkan di dalam Islam, peraturan tentang 
bebagai sistem kehidupan tersebut secara sempurna dan menyeluruh telah tersusun 
secara sistematis di dalam syariat Islam yang kaffah.

        Berkaitan dengan ajaran ideologi kapitalisme maupun sosialisme, 
keduanya adalah ideologi transnasional, sama dengan Islam. Bedanya, kapitalisme 
maupun sosialisme bukanlah agama, dan tidak akan pernah bisa menjadi agama. 
Dengan demikian, satu-satunya agama dan sekaligus ideologi transnasional yang 
utuh adalah Islam. 

        Pertanyaannya adalah, ideologi transnasional manakah yang dimaksud oleh 
tokoh tersebut, sedemikian gawatnya, sehingga dia memprovokasi pemerintah untuk 
mencegahnya. Jika yang dimaksud adalah sosialisme (komunisme), tentu kita 
setuju. Karena secara generik bertentangan dengan akal dan fitrah manusia, dan 
telah terbukti gagal. Demikian halnya, jika yang dimaksud adalah adalah 
kapitalisme, kita pun setuju. Namun, jika yang dimaksud itu adalah Islam, maka 
mencegah masuknya ideologi Islam transnasional jelas tidak mungkin. 

        Adapun posisi Ikhwanul Muslimin, Alqaidah, dan Majelis Mujahidin 
menurut hemat penulis bukanlah ideologi tetapi organisasi yang berideologi 
Islam. Posisi organisasi-organisa si tersebut kiranya sama dengan NU, 
Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah, HMI, PII, dan lain-lain di 
Indonesia sebagai organisasi-organisa si yang berideologi Islam. Tentu saja 
pemerintah tidak bisa melarang organisasi-organisa si dakwah dan gerakan Islam 
tersebut karena ideologi Islam yang mendasari pikiran dan gerakannya. 
(Republika, 25 Mei 2007) 

        Ikhtisar


        - Selain menjadi agama, Islam juga telah menjadi ideologi yang menyebar 
secara transnasional.
        - Posisi Islam sebagai agama dan sebagai ideologi tidak bisa dipisahkan.
        - Keinginan untuk melarang masuknya ideologi transnasional harus 
diuraikan lebih tegas. 
        Sumber : http://www.republik a.co.id/kolom_ detail.asp? 
id=294329&kat_id=16

        ARTIKEL TERKAIT :

        KRITIK ATAS PENOLAKAN IDEOLOGI TRANSNASIONAL 
        Oleh : Irfan S Awwas
        Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

        Pada pembukaan temu wicara Mahkamah Konstitusi (MK) dan Pengkajian 
Konstitusi di Jakarta, Jum'at 23 Februari 2007, Ketua PB NU Hasyim Muzadi 
menyatakan, "NU menggunakan pendekatan substansial inklusif ketika berhubungan 
dengan negara. Bagi NU, UUD 45 itu sarat makna agama meski tidak ada stempel 
agamanya. Namun, saat diberi stempel Islam, agama lain akan marah. NU memiliki 
dua dimensi. Pertama, sesuai AD/ART, NU melakukan syari'at Islam dalam lingkup 
umat Islam. Kedua, untuk Indonesia, NU tak memaksakan syari'at. Tetapi 
membangun hukum nasional yang diilhami nilai agama. Bagi NU, Indonesia bukan 
negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler." ( Kompas, 26 Februari 2007).

        Pernyataan tersebut jelas bertentangan dengan khithah perjuangan NU 
sendiri. Dalam AD/ART NU Pasal 2 ayat 2 dinyatakan, "Menegakkan syari'at Islam 
menurut haluan Aswaja (Ahlu sunnah wal Jama'ah)." Konkretnya, seperti dikatakan 
Imam Syafi'i, haluan Aswaja, adalah mengamalkan syari'at Islam dalam 
pengelolaan pemerintahan dan pengadilan. 

        Lagi pula, benarkah UUD '45 sarat makna agama meski tidak ada stempel 
agamanya? Pernyataan ini bukan kenyataan yang terjadi di masyarakat? Terjadinya 
pelacuran, perjudian, korupsi, narkoba, perdagangan perempuan, jual beli bayi, 
ternyata tidak diharamkan dalam UUD '45. Tidak ada ketegasan sikap terhadap 
perbuatan maksiat yang bertentangan dengan semua agama. Lalu, dimana nuansa 
agamanya? 

        Keberpihakan UU terhadap doktrin agama harus tegas. Penolakan terhadap 
paham sesat dan perbuatan yang dikategorikan maksiat, yang sudah jelas 
merugikan masyarakat, juga harus jelas. Menghalalkan atau mengharamkan, agar 
tidak terjadi persepsi abu-abu dan oportunistik. Alih-alih bersikap tegas, 
negara justru banyak membuat aturan moral, politik, ekonomi, keamanan, yang 
bersifat munkarat dan zalim. Akibatnya, perilaku bejat, merajalela mulai dari 
pejabat hingga rakyat jelata. 

        Dalam posisinya sebagai ketua PB NU, ia juga mendesak pemerintah untuk 
mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi 
transnasional dari Barat maupun dari Timur, yang dinilainya sama-sama merusak 
NU dan Indonesia. Kemudian, dirinya mengaku hendak mengkampanyekan Islam ala NU 
sebagai alternatif transideologi, dengan memandang Islam sebagai agama dan 
bukan sebagai ideologi. 

        Ketika memperingati khaul 100 hari wafatnya KHM Yusuf Hasyim di kantor 
PWNU Jawa Timur, Ahad 29 April 2007, Hasyim Muzadi berpidato, "Apa yang terjadi 
di Timur Tengah selama ini bukan Islam sebagai agama, tapi ideologi Islam. Dan 
ideologi Islam di Timur Tengah antara lain Ikhwanul Muslimin, Majelis 
Mujahidin, Alqaidah, dan sebagainya. Tapi ideologi Islam itu bukan Islam, 
karena Islam sebagai agama bukan bersifat gerakan kepentingan apalagi politis." 
( Republika, 30/4/2007). 

        Peringatan agar menolak ideologi Islam made in Timur Tengah, persis 
sama dengan nasihat Snouck Hurgronje kepada penjajah kolonial Belanda yang 
berkedudukan di Batavia. Barangkali hanya kebetulan saja, tapi untuk mengetahui 
misi dan latar belakang pemikiran yang secara tiba-tiba dilontarkan Hasyim 
Muzadi, cukup menarik dan mengundang tanda tanya. Apalagi, peringatan itu 
dikaitkan dengan institusi Islam, Majelis Mujahidin, yang selama 6 tahun 
terakhir ini menawarkan formalisasi syari'at Islam di lembaga negara, sebagai 
solusi alternatif mengatasi problem bangsa Indonesia. 

        Dalam buku Nasihat-nasihat C Snouck Hurgronje Semasa kepegawaiannya 
Kepada Pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje pernah menyusup ke Makkah 
dengan mengganti namanya, Abdul Ghafar. Dia menasihatkan agar pemerintah 
Belanda selektif dan cermat terhadap transpemikiran yang datang dari Timur 
Tengah, khususnya dari pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Agar mengawasi arus 
komunikasi antara komunitas ulama Indonesia terutama dengan para ulama Timur 
Tengah, khususnya ulama Makkah yang beraliran wahabi. Nasihat ini disampaikan 
oleh Snouck kepada gubernur jenderal Belanda yang berkedudukan di Batavia, 4 
Mei 1898. 

        Penolakan seperti ini lebih banyak membingungkan ketimbang memberi 
solusi keagamaan. Apalagi, logika penolakan yang dilontarkannya bersifat 
tanaqud (kontroversi) . Sungguh menyedihkan, di satu segi dia menolak paham 
Islam yang datang dari luar, tetapi dia mau mengekspor ajaran NU sebagai 
ideologi transnasional. Apa dasar pembenaran logika pemikiran semacam ini? 

        Pengertian Islam


        Penonjolan istilah Islam ideologis yang dianggapnya bukan Islam, 
hanyalah gambaran dari pengaruh doktrin marxisme atau gereja yang sangat 
membenci segala yang bernuansa agama dalam kancah politik praktis. Karena 
pembagian antara Islam sebagai agama di satu pihak dan Islam sebagai ideologi 
di pihak lain, persis doktrin gereja yang bersemboyan, 'gereja hanya mengurusi 
ritual, sedang urusan negara menjadi kewenangan kaisar'. 
        Jika Islam ideologi dianggap bukan agama, lalu apa definisi agama yang 
dimaksud? Pada tahun 50-an, sidang tarjih Muhammadiyah, menelorkan sebuah 
keputusan tentang makna agama. Yaitu, tatanan kehidupan dalam segala aspeknya, 
termasuk politik dan kenegaraan. 

        Jadi agama, baik dalam pandangan NU maupun Muhammadiyah berfungsi 
sebagai tatanan kehidupan yang mencakup semua aspek kehidupan. Dalam 
persepektif ini, jelas tidak ada perbedaan antara Islam ideologis dengan Islam 
sebagai agama. Dahulu, Muhammadiyah menjadi pendukung utama partai Masyumi yang 
bertujuan tegaknya syari'at Islam dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, 
bangsa, dan negara. Tujuan ini, pada awalnya juga mendapat dukungan penuh warga 
NU. 

        Oleh karena itu, menganggap Islam ideologi hanyalah gerakan politik, 
dan bukan gerakan agama, selain membingungkan warga Nahdhiyin sendiri, juga 
mengundang dilema. Sebab, faktanya para kiai NU mendirikan Partai Kebangkitan 
Bangsa (PKB), bahkan sekarang muncul tandingan baru, Partai Kebangkitan 
Nahdhatul Ummah (PKNU). (Republika, 9 Mei 2007). 

        Sumber : http://www.republik a.co.id/kolom_ detail.asp? 
id=292473&kat_id=16
       





  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

   

Kirim email ke