Ti pustakaloka kompas poe senen kamari, 7 januari 2008

 

Penghargaan Rancage
Bak di Tengah Padang Tandus 

UMI KULSUM

Bukan berita baru lagi jika media mengungkapkan perihal bahasa dan sastra
daerah yang makin jauh dari masyarakatnya. Perubahan di segala bidang
kehidupan, bagaimanapun, memengaruhi pola pikir dan cara hidup masyarakat,
termasuk penggunaan bahasa ibu dalam keseharian. Dan, tidak dapat
dimungkiri, lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa
baku dalam teks, baik buku maupun media, membuat peran bahasa daerah semakin
kecil. 

Kini, masyarakat di daerah menggunakan bahasa daerah lebih sebagai bahasa
percakapan sehari-hari saja, tidak dalam teks dan penggunaan teknologi.
Situasi ini sebenarnya terjadi pada semua bahasa daerah, termasuk bahasa
Sunda. Ayip Rosidi, sastrawan dan penggiat sastra Sunda, memprakarsai
pemberian penghargaan terhadap karya sastra untuk bahasa Sunda Rancage tahun
1989. Namun, dalam perkembangannya kemudian Rancage juga diberikan kepada
karya sastra dan penggiat sastra Jawa dan Bali. 

Seperti yang diungkapkan oleh Ayip Rosidi, sastra daerah berada di ambang
kehancuran karena tidak lagi digunakan oleh para penuturnya. Situasi ini
semakin rawan karena tidak mendapat perhatian dari negara sebagaimana
mestinya, dan institusi pendidikan pun tidak mendukung keberadaan sastra
daerah ini. Adanya mata pelajaran tambahan Bahasa Daerah di setiap sekolah
pun tidak membantu mempertahankan eksistensi bahasa dan sastra daerah. 

Setelah hampir 18 tahun diberikan, Rancage ternyata tidak berdampak terhadap
perkembangan bahasa daerah, satu hal yang diamini oleh Ayip Rosidi. Oleh
karena itu, Ayip tetap berkeyakinan bahwa pemerintah harus membantu
keberadaan sastra daerah tersebut. Salah satu cara adalah dengan membeli
buku-buku peraih penghargaan Rancage untuk bahan bacaan wajib di sekolah
daerah. Hal yang sama dikemukakan oleh Maman Mahayana, penulis dan pengajar
sastra Indonesia dan sastra Sunda. Menurutnya, Diknas seharusnya menjadikan
buku sastra daerah sebagai bahan bacaan dan pengajaran di sekolah agar para
murid terbiasa mengenal dan mengapresiasi bahasa dan sastra lokal seperti
yang dahulu pernah dilakukan dalam sastra Indonesia. Jika tidak diwajibkan,
masyarakat cenderung tidak peduli terhadap sastra lokal. "Saya mengenal dan
mencintai sastra Indonesia karena dulu diwajibkan membaca roman angkatan
Pujangga Baru dan Pujangga Lama," ujar Maman lebih lanjut. 

Maka sudah seharusnya pemerintah memiliki kepedulian terhadap bahasa daerah.
Menurut Maman, keberadaan bahasa dan sastra lokal sangat penting agar
masyarakat tetap memiliki identitasnya sendiri. "Tidak mungkin kalau hanya
para penggiatnya saja yang terlibat, pemerintah tetap harus turun tangan,"
ujar Maman. Hal itu disebabkan oleh pergerakan kemajuan masyarakat dan
teknologi yang terus berkembang, membuat orang tidak lagi terikat dengan
bahasa lokal mereka. 

Optimisme bahasa lokal 

Akan tetapi, nada optimistis disampaikan oleh Hawe Setiawan, pengurus
Yayasan Rancage dan penggiat sastra Sunda, bahwa bahasa lokal akan tetap
digunakan oleh masyarakat penuturnya karena itu adalah bahasa ibu yang
digunakan sehari-hari dalam lingkungan sosialnya. Hawe mengungkapkan bahwa
saat ini tidak perlu lagi mengeluh akan hilangnya bahasa lokal. "Tidak perlu
lagi melihat budaya lokal secara defensif," ujarnya. 

Yang perlu dilakukan pengamat dan penggiat sastra lokal adalah membuka diri
terhadap perubahan yang terjadi, bahwa setiap zaman selalu ada kreativitas
budaya lokal. Salah satu contoh, menurut Hawe, adalah perbincangan radio di
Bandung yang selalu menggunakan bahasa Sunda oleh remaja di sana. Dalam
perbincangan tersebut telah terjadi perkembangan bahasa Sunda. "Ada istilah
baru yang kemudian menjadi bahasa lokal Sunda," lanjut Hawe. 

Maka orang tidak perlu lagi meributkan bahasa lokal yang tidak murni lagi
seperti dulu, tetapi menerima potensi bahasa Sunda untuk beradaptasi pada
perkembangan zaman. Hawe tetap optimistis bahwa bahasa Sunda akan tetap
hidup di masyarakat apalagi jika dilihat kini makin banyak komunitas
penggiat sastra Sunda di Jawa Barat. 

Penjualan lambat 

Karya sastra daerah yang mendapat penghargaan Rancage diharapkan akan
terkenal dan dibaca banyak kalangan. Sayangnya, penghargaan itu tidak mampu
menaikkan pamor buku-buku yang menjadi pemenang. Bahkan, seolah-olah
masyarakat tidak peduli dengan khazanah budayanya sendiri. 

Hal itu juga diakui oleh penerbit Kiblat di Bandung yang memiliki visi untuk
melestarikan teks atau sastra daerah, khususnya sastra Sunda. Rahmat Hidayat
selaku direktur penerbit Kiblat mengakui bahwa penghargaan Rancage tidak
mampu meningkatkan penjualan buku-bukunya. Rahmat mengungkapkan bahwa Kiblat
yang awalnya mencetak 3.000 buku untuk cetakan pertama, kini hanya berani
mencetak 1.000 eksemplar. "Penjualannya sangat lambat, rata-rata hanya 500
eksemplar per tahun," ujar Rahmat. 

Sejak berdiri tahun 2000, buku teks berbahasa Sunda telah dijual di toko
buku besar seperti Gramedia di seluruh Jawa Barat dan kios-kios buku di
daerah yang tidak terjangkau oleh toko buku seperti Garut, Subang, dan
Ciamis. Sayangnya, hal itu tidak mampu meningkatkan penjualan buku-buku
berbahasa Sunda. 

Menanggapi lambatnya penjualan fiksi berbahasa Sunda, Hawe Setiawan melihat
persoalannya pada promosi dan distribusi. "Dari segi isi, fiksi berbahasa
Sunda tidak kalah dari fiksi berbahasa Indonesia saat ini," lanjut Hawe.
Menurutnya, membaca buku berbahasa Sunda tidak sulit dibandingkan dengan
bahasa Indonesia bagi penuturnya. 

"Salah satu kriteria buku pemenang Rancage adalah isi, selain bahasa, apakah
isinya ada kebaruan informasi dan tentunya konteks sosial masyarakat
sekarang," ujar Hawe. Maka sebenarnya tidak ada masalah dari segi isi, hanya
saja pembaca tidak banyak yang mengetahui hadirnya fiksi berbahasa Sunda.
Oleh karena itu, jika buku berbahasa Sunda dipromosikan dengan baik, Hawe
optimistis fiksi berbahasa Sunda akan laris mengingat penutur berbahasa
Sunda diperkirakan berjumlah 20 juta di Indonesia. (Umi Kulsum/ Litbang
Kompas) 

 

Kirim email ke