Raraosan mah teu aya lepatna dipostingkeun, sok sanaos dina bahasa Indonesia,
  margi aya patalina sareng basa Sunda (kaSundaan).
  Mangga diantos postinganana..
   
  ssw
  kuncen #6#

AmanK Maya Suara [EMAIL PROTECTED]
          saur mang ucup.....

"Apabila diperkenankan oleh Moderator saya bersedia memposting artikel mengenai 
sejarah dan asal muasal kata-kata dalam Bahasa Indonesia, maklum tidak ditulis 
dalam bahasa Sunga"

mana mang postingan na ???.... geuning teu aya susulanna???....

salam baktos.

mang maya

www.salakadomas.multiply.com
www.kusnet.ning.com
www.hasanmustapa.web.id
www.mayasuara.blogspot.com

Mang Ucup [EMAIL PROTECTED]      Laksamana Cheng Ho (1371-1433) atau lebih 
dikenal dengan nama Sam Pho Kong berasal dari propinsi Yunan yang lahir dengan 
nama Ma Ho/Ma He dari pasangan Ma Hazhie dan Wen, sebagai anak kedua. Kata 
Hazhie (ha-tche) ini identik dengan lafal kata "haji" (Haji Ma). Sedangkan nama 
Ma Ho diambil dari nama Nabi Muhammad SAW.

Kata Sam Pho Kong itu sendiri sebenarnya diserap dari gelar yang dimiliki oleh 
Cheng Ho. Sebab ia mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan 
gelar San Bao dlm dialek hokkian atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang 
pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Sejak saat itulah Cheng Ho lebih 
dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam atau juga Sam Po Tay Djien atau Sam Po 
Toa Lang. Tay Djien /Toa Lang artinya orang berpangkat.

1415 M, dengan didampingi antara lain oleh Ma Huan seorang Muslim Tionghoa, 
mereka singgah dahulu di Kerawang, yang pada saat itu masih bernama 
"Kerawan-an" dalam bahasa Sunda, satu pelabuhan di muara sungai Citarum. 
Pelabuhan tsb merupakan pintu gerbang masuk utama dari laut untuk kerajaan 
Pajajaran yang memerintah dari abad VIII s/d XVI M, penerus dari pemerintahan 
kerajaan Tarumanegara.

Apabila dahulu kapal berlabuh maka kebutuhan yang paling pokok adalah "air" 
tawar untuk persediaan minum mereka, maka dari itulah permohonan pertama dari 
pihak anak buah Cheng Ho adalah air yang dalam bahasa Tionghoa adalah "cui", 
karena lafalnya orang Tionghoa sehingga kedengarannya oleh penduduk Sunda jadi 
"cai" yang s/d saat ini perkataan tsb. masih terus dipakai. Sedangkan air 
sungai Tarum, disebut "cui-tarum", mulailah dari situlah adanya nama sungai 
Ci-tarum, yang berakibat juga bagi nama sungai-sungai lainnya di Jawa Barat 
yang kebanyakan diawali dengan unsur kata "Ci", Ciliwung, Cikapundung, Cimanuk 
dsb.

Cheng Ho dan para anak buahnya yang pertama kalinya mengajarkan tatacara 
pertanian, perikanan, perternakan & pertukangan, sehingga dengan mana otomatis 
banyak kata-kata bahasa Tionghoa yang diambil alih seperti: pacul, woluku, 
seka, anglo dsb-nya, begitu dengan nama-nama sayuran seperti: cingcau, tauge, 
kangkung, tahu, pecai, mie, lobak, taoco, bakpau, baso, kecap, kwaci, bahkan 
untuk makanan utama Indonesia "sate" juga sebenarnya berasal dari kata bahasa 
Tionghoa yang berarti "tiga tingkat". Istilah "jung" juga berasal dari kata 
"chuan" yang berarti perahu. Chia-kah = kaki telanjang tanpa sepatu.

Apabila diperkenankan oleh Moderator saya bersedia memposting artikel mengenai 
sejarah dan asal muasal kata-kata dalam Bahasa Indonesia, maklum tidak ditulis 
dalam bahasa Sunga

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net





      Recent Activity
    
      7
  New Members

Visit Your Group 
      Ads on Yahoo!
  Learn more now.
  Reach customers
  searching for you.

    Y! Messenger
  Group get-together
  Host a free online
  conference on IM.

    Self Improvement
  on Yahoo! Groups
  Connect with people
  and get support.



  .

 
                         


http://cikundul3.multiply.com
  Tong nyaliksik naon nu bisa dicokot ti kiSunda
  Tapi talungtik naon nu bisa dibikeun ka kiSunda

Kirim email ke