---------- Forwarded message ---------- From: Dian Nugraha <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jan 23, 2008 8:57 PM Subject: [kisunda] Re: Sastra Sunda "Kelas Dunia"? To: kisunda <[EMAIL PROTECTED]>
Usulan abdi, kedah aya tes basa Sunda kanggo pagawe negri di kabupaten, kota atanapi prov. di Jabar. Uji basa Sunda siga "Test of Sundanese as Foreign Language" (TOSFL). Ti dinya bakal diperyogikeun sagala rupi anu patali sareng basa Sunda: buku tata basa, kaset, video, kamus, majalah, buku sastra jrrd. Anu tangtosna bakal disayogikeun ku lulusan sastra Sunda. Oge saur Farhan cenah (dina artikel Republika di handap), "pola pengajaran di sekolahnya hanya mengandalkan buku pelajaran. Guru di sekolahnya tidak pernah menyuruh untuk membaca cerpen atau buku-buku bahasa Sunda dan menceritakan kembali di depan kelas." Ieu panginten anu kedah kaemut ku lulusan sastra Sunda, sangkan barudak sakola raresepeun kana basa Sunda. Abdi seja buka rusiah, rehna abdi lancar basa Sunda ngalangkungan sandiwara radio ua Kepoh! Rata-rata niley rapor abdi basa SD naek dua poin saprak ngaleukeunan ngupingkeun sandiwara radio basa Sunda eta. Utamina serial "Si Rawing" anu dugikeun ka langkung ti tilu bagian :-) Dupi naskah sandiwara radiona araya keneh kitu? Pami aya abdi hoyong maca atanapi ngupingkeun deui. Salam, Dian. http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=320870&kat_id=506 Mereka yang Mengabdi untuk Bahasa Sunda * * Penghargaan Hardjapamengkas diberikan kepada guru-guru bahasa Sunda yang dinilai telah berjasa mengembangkan pengajaran bahasa Sunda. Bagi Farhan, pelajaran bahasa Sunda sama sekali tak menarik minatnya. Selain karena kata-katanya sulit dimengerti, cara pengajaran di sekolahnya pun tak membuatnya betah berlama-lama mempelajari bahasa daerahnya itu. ''Apalagi kalau harus mengartikan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia,'' ujar Farhan, salah satu siswa SMP di Kota Bandung. Menurut Farhan, pola pengajaran di sekolahnya hanya mengandalkan buku pelajaran. Guru di sekolahnya tidak pernah menyuruh untuk membaca cerpen atau buku-buku bahasa Sunda dan menceritakan kembali di depan kelas. Setiap minggunya, kata Farhan, mata pelajaran bahasa Sunda hanya diajarkan satu jam saja. ''Jangan ditambah lagi jadi dua jam,'' cetus Farhan yang mengaku jarang berbahasa Sunda dengan teman-temannya di Bandung. Sikap Farhan bisa jadi mencerminkan sikap para pelajar pada umumnya terhadap pelajaran bahasa daerah yang mereka terima. Di Provinsi Jawa Barat, pelajaran bahasa daerah (bahasa Sunda) memang diberikan di sekolah. Ini diatur dalam Perda No 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah. Sayangnya, niat baik Pemprov Jabar yang ingin memasyarakatkan bahasa Sunda ini sepertinya tak diikuti dengan kemauan kuat dari para siswa. Bisa dikatakan, saat ini bahasa dan budaya Sunda berada dalam kondisi 'sekarat'. Hal ini terlihat dari kecenderungan orang Sunda yang enggan menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini disadari betul oleh budayawan, sastrawan, serta pemerhati dan pecinta bahasa dan budaya Sunda yang tergabung dalam Yayasan Rancage. Yayasan yang pendiriannya dirintis oleh Ajip Rosidi ini sangat peduli dengan pengembangan bahasa dan sastra Sunda. Awalnya, Yayasan Rancage ini memberikan penghargaan tahunan Hadiah Sastra Rancage. Penghargaan Hadiah Sastra Rancage ini diberikan kepada pengarang dan tokoh bahasa dan sastra dari Tatar Sunda, Jawa, dan Bali. Tidak hanya itu, Yayasan Rancage juga memberikan Hadiah Hardjapamengkas. Hadiah ini diberikan kepada guru-guru bahasa Sunda yang dinilai telah berjasa mengembangkan pengajaran bahasa Sunda. ''Penghargaan ini untuk mendorong supaya pengajaran bahasa sunda bisa lebih meluas,''ujar Sekretaris Yayasan Rancage, Hawe Setiawan. Menurut Hawe, hidup matinya bahasa dan budaya Sunda, kuncinya justru ada di lingkungan keluarga. Kalau bahasa ibu, khususnya bahasa Sunda, dibiasakan dibudayakan di lingkungan keluarga, maka bahasa Sunda tidak akan punah. Tapi, saat ada kecenderungan orang Sunda enggan menggunakan bahasa Sunda, cara lain untuk tetap menghidupkan bahasa Sunda adalah dengan pendidikan. Saat ini, di Provinsi Jawa Barat, terdapat ratusan guru pengajar bahasa Sunda. Itu pun, umumnya hanya ada di sekolah-sekolah di perkotaan. Sedangkan guru-guru bahasa yang ada di daerah, sampai saat ini belum terdata. *Penghargaan Hardjapamengkas* Hadiah Hardjapamengkas diberikan kepada para guru bahasa Sunda, untuk memotivasi munculnya semangat pengajaran bahasa Sunda yang lebih luas. Nama Hardjapamengkas dipakai untuk menghargai jasa tokoh Sunda, termasuk tokoh pendidikan, Raden Sobri Hardjapamengkas (1913-2005). Hardjapamengkas merupakan orang Indonesia pertama yang lulus di Jerman sebagai guru bahasa Jerman. Sekembalinya dari luar negeri, Hardjapamengkas mengajar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (kini UPI). Para pemenang Hadiah Hardjapamengkas pada 2008 ini adalah tiga orang guru mata pelajaran bahasa Sunda untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Ketiga orang guru ini adalah Holisoh ME, guru yang juga menjabat sebagai Kepala SDN Mekarsari, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung; Cece Hidayat, guru bahasa Sunda SMPN 13 Bandung; dan Endan Sukanda, guru bahasa Sunda SMAN 3 Kota Sukabumi. Mereka memperoleh tropi dan uang senilai Rp 5 juta. Ketiga guru ini dinilai telah berjasa karena telah melakukan langkah-langkah inovatif dalam mengajarkan bahasa Sunda di sekolahnya. ''Selama ini tidak mudah untuk mencari kriteria guru yang juga punya pengalaman aktif dalam berbagai kegiatan sastra dan budaya Sunda ini tidak mudah,'' ungkap Ketua Tim Juri Hadiah Hardjapamengkas, Karna Yudibrata saat acara pemberian hadiah di Bandung, Ahad (13/1). *Pengajaran Bahasa Sunda di Sekolah* Semangat implementasi bahasa Sunda pada lingkungan pendidikan di Jabar baru terpikir tahun 2003. Saat itu, Pemprov dan DPRD Jabar menggulirkan Perda 5/2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah di lingkungan pendidikan. Semangat berbudaya lokal tersebut, ternyata belum direalisasikan oleh seluruh sekolah di Jabar hingga 2008. Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dadang Dally, mengakui, implementasi Bahasa Sunda di lingkungan pendidikan dilakukan secara bertahap. Tidak jarang, Dinas Pendidikan memberi peringatan bagi sekolah yang lambat dalam mengiplementasikan perda tersebut. Separuh dari puluhan ribu sekolah yang ada di Jabar, mulai menetapkan hari berbahasa Sunda setiap minggunya. Biasanya sekolah tersebut menetapkan Hari Senin dan Jumat sebagai hari berbahasa Sunda. ''Ini wujud bila Bahasa Sunda mulai diaplikasikan di lingkungan pendidikan,'' ujar Dadang dengan percaya diri. Bagi sekolah yang belum menjalankan perda tersebut, dipastikan akan menerapkannya pada Tahun 2008. Tahun ini pula, Dinas Pendidikan membentuk tim ahli yang akan mengkaji dan mengevaluasi materi pelajaran Bahasa Sunda yang diberlakukan pada tingkat TK hingga SMA. Budayawan Jabar yang juga Dosen Sastra Sunda di Unpad dan Unpas, HR Hidayat Suryalaga, menilai, implementasi Bahasa Sunda di lingkungan pendidikan harus dipelopori oleh kalangan guru. ''Yang harus didongkrak, yakni kebanggaan dan rasa memiliki Budaya Sunda,'' cetusnya. n san/rfa [Non-text portions of this message have been removed]

