Innaalillaahi wa innaaillayhiraaji'uun...
Mugi-mugi ditampi sagalarupi amal ibadahna, dicaangkeun alam 
kuburna...

Pupung


DAN, Tuhan pun memanggilnya. Rabu 6 Februari 2008, Rahmatullah Ading 
Affandi (RAF), selepas magrib pergi dengan wajah cerah berseri. Jawa 
Barat pun kehilangan satu lagi putra terabaiknya. Tokoh multitalenta 
yang berangkat dari nafas pesantren, dunia seni, lalu karya dan 
kiprahnya merambah menjalari perkembangan seni budaya tatar Pasundan.

Ia bisa bicara lantang mengenai kesenian, politik, bahkan olahraga. 
Ia tidak sekadar bicara, tapi juga menulis. Tak cuma menulis naskah 
drama, sendratari, gending karesmen, tapi juga roman, cerita pendek, 
puisi, esai, dan analisis.

Membicarakan RAF adalah menatap kembali perkembangan panggung seni 
pertunjukan di tanah air, karena pikiran, kiprah, dan gagasan-
gagasannya kemudian tidak hanya jadi ikon, tetapi jadi patron.

Para seniman Sunda mungkin masih bisa mengingat dengan segar, 
bagaimana ketika awal tahun 1960-an ia tiba-tiba memunculkan konsep 
yang sama sekali baru bagi Tembang Cianjuran.

Kala itu di Bandung sudah berkembang 3-4 paguyuban Tembang 
Cianjuran, tentu semua bersandar pada mamaos. Nah, RAF menghadirkan 
konsep tembang berbasis puisi. Boleh jadi, karena dia berasal dari 
ranah itu, ranah sastra.

Selepas Perang Dunia II, dia mulai melahirkan karya-karya dalam 
bentuk naskah/skenario drama. Sebut saja di antaranya, Dakwaan, 
Sangkuriang, dan Yaomal Qiyamat yang kemudian mengilhaminya 
menggubah drama yanng dikemas dalam bentuk "seperti" opera 
sebagaimana tampak pada Leuwi Sipatahunan (1963).

Untuk ukuran pergelaran pada masa itu, Leuwi Sipatahunan bisalah 
disebut sebgai pentas kolosal pertama gending karesmen yang 
melibatkan 25 penembang, 13 kru dan penata artistik.

Dari sini pula titik awal RAF bersama sejawatnya melahirkan Lingga 
Binangkit, lingkung seni yang memelopori pembaruan tidak saja di 
bidang seni tembang, tapi merambah ke seni kasidah. Bisa dipahami, 
karena dalam kiprahnya RAF selalu meniupkan nilai-nilai religius 
pada karya-karyanya.

Selain memajukan seni Cianjuran, terobosan penting Lingga Binangkit 
adalah penggunaan alat-alat musik barat seperti gitar dan keyboard 
dalam seni kasidah. Pada 1970-an.

Penggabungan dua alat musik modern dengan rebana tradisional 
tersebut sempat memicu kontroversi, terutama dari kalangan pesantren 
pada masa itu.

Toh, dalam perjalanannya, penggabungan itu bisa diterima masyarakat 
dan menjadi ciri khas kasidah modern yang terus berkembang hingga 
sekarang. RAF bersama Lingga Binangkit-nya bisa disebut sebagai 
pelopor kasidah modern.

Ia pun membangun komunitas seni Patria yang boleh dikata menjadi 
wadah persemaian para pelaku seni pertunjukan dan belakangan 
merambah ke seni peran di Bandung. Hingga kini, rumahnya di komplek 
Guruminda, Cisaranten –setelah pindah dari jalan Bawean– tak pernah 
sepi dari aneka kegiatan. Berbagai acara televisi dan hiburan, 
diproduksi dari "komplek RAF" ini.

Tak pernah secara formal membuka sanggar atau semacamnya, RAF 
bersama keluarga ibarat magnet yang menyedot para peminat dan 
penggiat seni untuk selalu bergabung, berinteraksi dan berkarya.

Boleh jadi, ini tak lepas dari prinsip yang selalu ditekankannya 
sejak lama, bahwa cukup satu syarat saja bagi orang yang memang 
mencintai seni, yaitu resep (senang/suka), baik pada lingkungan 
duduluran (kekeluargaan), maupun keindahannya.

Konsep duduluran inilah yang membuat RAF bukan saja merupakan sosok 
individu, tapi melebar dan menjalarkan spirit menjadi sebuah 
komunitas persaudaraan. Ke rumahnya, siapa pun yang datang, disambut 
dengan sukacita.Cag!

Ka hareup neukteuk sajeujeuh
ka tukang nilas saregang
ka hareup seukeut pangjeujeuh
ka tukang awas nyoreang ….

(yusran pare)

 ***
Perginya Sang Inohong
BUDAYAWAN  yang juga tokoh pers, seniman, sastrawan Sunda sekaligus 
pengamat sepakbola, Rahmatullah Ading Affandie (RAF) wafat pada usia 
79 tahun, di RS Advent Bandung, Rabu (6/2) pukul 18.51.

RAF dikenal sebagai penggagas sekaligus penggarap sinetron Sunda 
Inohong di Bojongrangkong yang ditayangkan TVRI Bandung, itu 
meninggalkan seorang istri, Ineu Priatnakusumah (78) serta lima anak 
Niki, Luki, Yogi, Eri, dan Dicki, beserta sembilan orang cucu.

Pria kelahiran Banjarsari, Ciamis 2 Oktober 1929 itu juga menelurkan 
karya-karya sastra Sunda terbaiknya, antara lain novel Sunda 
Pipisahan, Nu Kaul Lagu Kaleon, Bentang Lapangan serta Dongeng ti 
Pasantren.

Ditemui wartawan Tribun di kediamannya di Komplek Guruminda Blok C 
No 3 Kota Bandung tadi malam, Eri, anak kelima RAF, menuturkan, 
ayahnya itu menderita kanker kelenjar sejak Juli 2007. RAF sempat 
beberapa kali dirawat di RS Hasan Sadikin.

Menurut Eri, ayahnya itu diopname di Ruang Anggrek Katalina RSHS 
sejak Senin (28/1). Bahkan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan sempat 
membesuknya, Jumat (1/2).

Pada Senin (4/2) RAF diizinkan pulang ke rumah. Namun Rabu (6/2) 
subuh RAF mengalami sesak nafas dan dilarikan kembali ke RSHS.

Sayangnya, karena ruang Anggrek RSHS penuh, RAF dilarikan ke Ruang 
ICU RS Advent. Namun Yang Maha Kuasa menentukan lain. Setelah 
mendapat perawatan intensif, akhirnya mantan pengurus Persib pada 
era Omo itu tutup usia hanya beberapa saat setelah azan magrib 
selesai berkumandang.

Jenazah RAF dikebumikan di Taman Makam Keluarga di Cilanggeng 
Rancaekek, Kamis (7/2) sekitar pukul 10.00. Sebelumnya, jenazah RAF 
akan disalatkan di Mesjid Ar Rohmat di Komplek Guruminda. (tor)



Kirim email ke