Deui deui kanu nuju galuntreng, mangga geura urang sami sami  lenyepan.
  Cobi geura di gado gadokeun   seratan ieu  sareng  2 seratan samemehna  : 
  MEMBUKA DIRI + KEBAJIKAN + CERMIN 
   
  Sugan aya mangpaatna pikeun urang.
   
  Teu kedah 

dudi mulyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  To: [EMAIL PROTECTED]
From: dudi mulyadi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sat, 16 Feb 2008 05:45:52 -0800 (PST)
Subject: [smagar-75] CERMIN

        Sebuah renungan  tambahan untuk hari minggu

  
      Cermin


  Oleh: A. Mustofa Bisri

Kalau kita ingin melihat wajah kita sendiri, biasanya kita bersendiri dengan 
kaca ajaib yang lazim kita sebut cermin. Dari cermin itu kita bisa melihat 
dengan jelas apa saja yang ada di wajah kita; baik yang menyenangkan atau yang 
tidak, bahkan mungkin yang membuat kita malu. 
  Dengan cermin, kita mematut-matut diri. Barangkali karena itulah hampir tidak 
ada rumah yang tidak menyimpan cermin. Karena hampir semua orang ingin dirinya 
patut. 

Tanpa bercermin kita tidak bisa melihat sendiri noda yang ada pada diri kita. 
Dan tanpa melihat sendiri noda itu, bagaimana kita tergerak menghilangkannya. 
   
  Di dalam Islam, ada dawuh,” Almu’minu miraatul mu’min”,” Orang mukmin adalah 
cermin mukmin yang lain”; “Inna ahadakum miraatu klhiihi”,” Sesungguhnya salah 
seorang di antara kamu adalah cermin saudaranya. Artinya masing-masing orang 
mukmin bisa –atau seharusnya-- menjadi cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin 
dapat menunjukkan noda saudaranya, agar saudaranya itu bisa menghilangkannya. 
   
  Dalam pengertian yang lain, untuk mengetahui noda dan aib kita, kita bisa 
bercermin pada saudara kita. Umumnya kita hanya –dan biasanya lebih 
suka—melihat noda dan aib orang lain. Sering kali justru karena kesibukan kita 
melihat aib-aib orang lain, kita tidak sempat melihat aib-aib kita sendiri. 
   
  Di bulan suci, dimana kita bisa tenang bertafakkur memikirkan diri sendiri 
--dan inilah sesungguhnya yang penting—, kadang-kadang kita masih juga 
kesulitan untuk melihat kekurangan-kekurangan kita. Satu dan lain hal, karena 
kita enggan memikirkan kekurangan-kekurangan diri sendiri. Maka bercermin pada 
orang lain kiranya sangat perlu kita lakukan. 
   
  Seperti kita ketahui, melihat orang lain adalah lebih mudah dan jelas 
katimbang melihat diri sendiri. Marilah kita lihat orang lain, kita lihat 
aib-aib dan kekurangan-kekurangannya; lalu kita rasakan respon diri kita 
sendiri terhadap aib-aib dan kekurangan-kekurangan orang lain itu. Misalnya, 
kita melihat kawan kita yang sikapnya kasar dan tak berperasaan; atau kawan 
kita yang suka membanggakan dirinya dan merendahkan orang lain; atau kawan kita 
yang suka menang-menangan, ingin menang sendiri; atau kawan kita yang bersikap 
atau berperangai buruk lainnya. Kira-kira bagaimana tanggapan dalam diri kita 
terhadap sikap kawan-kawan kita yang seperti itu? 
  Kita mungkin merasa jengkel, muak, atau minimal tidak suka. Kemudian marilah 
kita andaikan kawan-kawan kita itu kita dan kita adalah mereka. Artinya kita 
yang mempunyai sikap dan perilaku tidak terpuji itu dan mereka adalah orang 
yang melihat. Apakah kira-kira mereka juga jengkel, muak, atau minimal tidak 
suka melihat sikap dan perilaku kita? Kalau jawabnya tidak, pastilah salah satu 
dari kita atau mereka yang tidak normal. 
   
  Normalnya, adalah sama. Sebagaimana kita tidak suka melihat perangai buruk 
orang lain, orang lain pun pasti tidak suka melihat perangai buruk kita. 
Demikian pula sebaliknya; apabila kita senang melihat perangai orang yang 
menyenangkan, orang pun pasti akan senang apabila melihat perangai kita 
menyenangkan. 
   
  Namun kadang-kadang kita seperti tidak mempunyai waktu untuk sekedar 
bercermin, melihat diri kita sendiri pada orang lain seperti itu. Hal ini 
mungkin disebabkan oleh ego kita yang keterlaluan dan menganggap bahwa yang 
penting hanya diri kita sendiri, hingga melihat orang lain, apalagi merasakan 
perasaannya, kita anggap tidak penting. Orang lain hanya kita anggap sebagai 
figuran dan kitalah bintang utama. 
   
  Ada sebuah hadis sahih yang sering orang khilaf mengartikannya. Hadis sahih 
itu berbunyi Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibba liakhiihi maa yuhibbu 
linafsihi. Banyak yang khilaf mengartikan hadis ini dengan: “Belum benar-benar 
beriman salah seorang di antara kamu sampai dia menyintai saudaranya 
sebagaimana menyintai dirinya.” Pemaknaan ini kelihatannya benar, tapi ada yang 
terlewatkan dalam mencermati redaksi hadis tersebut. Disana redaksinya yuhibba 
liakhiihi (menyintai untuk saudaranya), bukan yuhibba akhaahu (menyintai 
saudaranya), Jadi semestinya diartikan “Belum benar-benar beriman salah seorang 
di antara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk saudaranya apa yang dia 
senang atau menyukai untuk dirinya sendiri”. 
   
  Artinya apabila kita senang atau suka mendapat kenikmatan, misalnya, maka 
kita harus –bila ingin menjadi sebenar-benar mukmin—juga senang atau suka bila 
saudara mendapat kenikmatan. Apabila kita senang diperlakukan dengan baik, kita 
pun harus senang bila saudara kita diperlakukan dengan baik. 
  Apabila kita senang jika tidak diganggu, kita pun harus senang bila saudara 
kita tidak diganggu. Demikian seterusnya. 
   
  Bukanlah mukmin yang baik orang yang senang dihormati tapi tidak mau 
menghormati saudaranya dan tidak senang bila saudaranya dihormati. Bila 
pengertiannya dibalik. Bukanlah mukmin yang baik orang yang tidak suka dihina, 
tapi suka menghina saudaranya dan suka bila saudaranya dihina. 
  Demikianlah kita bisa memperpanjang misal bagi ajaran hadis yang mulia itu 
dengan melihat cermin. Saudara kita adalah cermin kita. 
  
    
---------------------------------
  Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.   




    
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it 
now.  

                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke