kang Dudi biasa biasa we lah ulah didramatisir, ieu mah proses real silih asah,
silih asih. Supaya ulah ngan jadi slogan hungkul......tingal we kumaha
"ending"na.
(bari nyuruput kopi moka ti banceuy tea)
dudi mulyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ka anu nuju guntreng, mangga urang sami sami lenyepan geura.
Sasieureun , sabeunyeureun mugi aya mangpaatna, komo disarengan ku bipaatna
mah, sae pisan.
Mangga diaosna bari nyuruput kopi atanapi enteh panas. Ulah digulaan da
urang sunda mah kitu biasana.
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Bukalah pintu hatimu. Begitu anda mengatakan jika menginginkan
seseorang menerima kehadiran diri anda. Ini benar bukan hanya dalam
konteks membangun sebuah hubungan. Juga benar dalam konteks
bagaimana kita bersedia membuka hati kepada sebuah nasihat,
masukkan, dan kritikan yang ditujukan kepada kita. Jujur saja, kita
tidak terlalu suka mendengar nasihat. Sehingga kita kehilangan
pelajaran yang dikandungnya. Kita enggan mendengarkan masukan.
Sehingga kita tidak melakukan perbaikan. Kita juga alergi dengan
kritikan. Sehingga kita terkungkung oleh kepicikan. Pendek kata,
kita menutup diri dengan cara menutup pintu hati kita dari semua
yang datang dari luar.
Beberapa waktu yang lalu, saya meminta tolong tukang bangunan
memperbaiki bagian rumah yang bocor. Lalu, jadilah pasir, semen dan
kerikil diaduk-aduk sang tukang diatas sebidang tanah. Sejak saat
itu, sisa-sisa adukan mengeras dan melapisi tanah itu. Dimusim
hujan, tanah itu digenangi air. Dan dimusim kemarau, tanah itu
menjadi bagian yang paling kerontang. Ketika hujan turun, tanah itu
tidak bisa ditembus air. Sehingga air meluber kesekelilingnya.
Permukaan tanah terbuka disampingnyalah yang menampung dan menyerap
air itu; masuk meresap kedalamnya. Beberapa bulan kemudian, tanah
disekitarnya ditumbuhi rerumputan. Semakin lama, semakin menghijau.
Bahkan bunga warna-warni bermunculan. Sedangkan ditanah yang
tertutupi sisa adukan itu, tidak tumbuh apapun. Meski yang lainnya
tumbuh hijau dan hidup, bagian tanah yang satu itu tetap seakan tak
bernyawa. Dibagian itu, yang ada hanyalah kebekuan yang membisu.
Hati kita. Kira-kira seperti tanah. Dan air hujan adalah hikmah.
Tidak peduli seberapa banyak kalimat-kalimat kebijaksanaan
diperdengarkan. Tak jadi soal seberapa sering orang-orang
menasihatkan. Dengan hati yang membatu seperti itu; kita tetap saja
tidak dapat menerimanya. Sebab, kita lebih suka menolaknya.
Mendebatnya. Dan menyangkalnya. Hati kita kering kerontang dan
gersang. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika kita lebih suka
bertindak sesuka hati saja. Menutup diri dari kemungkinan bahwa
diluar sana, ada cara hidup lain yang lebih baik dari yang selama
ini kita anut. Kadang-kadang, logika kita sependapat dengan masukan
dari luar. Kita mengerti secara intelektual. Tetapi, karena hati
kita ditutup rapat-rapat, kita tetap saja tidak bisa menerimanya.
Makanya, tidak heran kalau kita sering mengatakan; "Iya sih,
tapi...." Logika kita menerima konsepsinya. Tetapi, hati kita
menolak maknanya.
Kadang, penolakan itu terjadi hanya karena nasihat itu datang bukan
dari orang yang kita anggap pantas. Kita menganggap diri ini lebih
tahu dari si penyampai berita. Kadang, juga karena kita iri kepada
orang itu. Dan kadang, kita memang terlampau egois untuk bisa
menerima nasihat apapun. Seakan diri ini sudah terlampau sempurna
untuk sekedar berubah. "Inilah gue apa adanya. Kalau enggak suka, ya
pergi saja!"
Kita sering menemukan orang yang begitu kebal terhadap masukan.
Sehingga apapun yang dikatakan kepadanya; tidak membekas. Teman
saya, seorang eksekutif muda. Ketika ia menyampaikan sebuah masukan
kepada staf yang merasa dirinya sangat hebat, orang itu
berkata; "Memangnya kamu tahu apa tentang pekerjaan ini? Saya sudah
belasan tahun mengerjakannya. Sedangkan kamu? Tiba-tiba saja menjadi
atasan saya. Saya menuruti kamu hanya karena perusahaan telah salah
memilihmu menjadi atasan saya!"
Mungkin anda juga pernah menemukan orang yang menyangkal saat diajak
melakukan perbaikan. Mereka bilang; "Saya tidak mengerti, kenapa sih
orang-orang itu mau mengatur hidup saya? Hidup saya ya milik saya.
Mereka tidak berhak mengaturnya!" Ada juga yang berkata;"Maunya
orang-orang itu apa? Saya tidak mengganggu mereka. Kenapa mereka
begitu usil pada apa yang saya lakukan?"
Ternyata, orang-orang seperti itu banyak jumlahnya. Hanya cara dan
gayanya saja yang berbeda. Tetapi intinya sama. Dan jangan-
jangan...., kita juga demikian. Kita tidak sungguh-sungguh membuka
hati untuk nasihat-nasihat yang baik. Kita tidak suka orang
mengatakannya kepada kita. Dianggap angin lalu saja. Ketika kabar
positif tiada henti terlontar mengisi seantero udara yang kita
hirup. Seharusnya itu bisa membuat kita berpikir positif. Bersikap
optimistik. Dan berubah menjadi lebih baik. Tetapi, hati kita yang
terlanjur kaku ini tidak dapat menerima nasihat itu. Jadi, sebaik
apapun kata-kata bijak yang sampai ketelinga kita; pasti akan
tertolak. Persis seperti air hujan yang menimpa tanah berlapis semen
sisa adukan dihalaman belakang rumah saya. Tak setetes pun yang bisa
meresap. Nasihat itu sekedar lewat. Tiada terserap. Meluber kesana
kemari. Jika hujan lebat memaksa turun terus-menerus, dia tetap
tidak mau menyerapnya; mendingan banjir saja. Maka, hujan hikmah
itupun tergenang sia-sia. Dia tidak dapat menyuburkan hati yang
gersang itu. Hati yang kering kerontang ditengah guyuran kalimat-
kalimat hikmah....
Tanah gembur disekitarnyalah yang dapat menerima air itu sehingga
dia menjadi semakin subur. Hati orang-orang disekitar kita yang
terbukalah yang akan mendengarkan nasihat-nasihat itu. Hingga mereka
menjadi manusia-manusia yang semakin hari semakin membaik. Sedangkan
kita dengan hati yang kaku, membeku dan tertutup ini; tidak
mendapatkan apapun selain kepicikan pikiran dan perasaan saja.
Beberapa bulan setelah tukang bangunan selesai mengaduk semen.
Halaman belakang rumah saya yang luasnya hanya beberapa meter
persegi itu, telah kembali hijau. Beberapa jenis tanaman berbunga
disana. Rumput halus datar terhampar seperti karpet. Semuanya
terlihat hijau. Kecuali dibagian yang tertutup bekas adukan itu. Dia
tetap botak. Sungguh, tidak elok dia punya tampak. Air yang
disiramkan diatasnya telah dia tolak. Hingga tanaman liarpun tak
sudi untuk tumbuh menetap.
Sebuah cangkul kecil saya ayunkan berulang-ulang. Mencongkel dan
mendongkel. Hingga akhirnya, seluruh lapisan sisa semen yang
menutupi tanah itu terangkat. Sekarang, tampaklah permukaan tanah
itu berwarna kecoklatan. Merana setelah sekian lama dia terkucilkan.
Terisolasi dari air hujan yang menyuburkan. Tak tersentuh oleh
cacing tanah menggemburkan. Tertutupi dari cahaya matahari yang
mestinya menjadikan dia penuh berisi nutrisi. Kasihan. Sungguh
seonggok tanah yang merana. Namun, ketika lapisan semen itu
terangkat seluruhnya; seolah hidup, tanah itu memancarkan gairah
dalam tatap penuh harap. Saat air tersiram diatasnya, dia menggeliat
kegirangan. Lalu dengan segera air itu diserapnya hingga tak lama
kemudian tak terlihat apapun lagi kecuali kelembaban. Sekarang,
tanah itu telah kembali kepada fitrahnya. Menyerap air yang mengalir
diatasnya. Dan dia berubah menjadi tanah yang basah. Namun ramah.
Sekarang, ditangan saya ada sejumput bibit rumput. Lalu saya tanam
rumput itu diatasnya. Dan dengan sepenuh penerimaan; tanah itu
memeluk akar rumput, hingga rumput itu terlihat nyaman berada dalam
dekapannya. Setiap kali kami menyiraminya, tanah itu menyambut tetes
demi tetesnya. Dan hari ini, kami nyaris tidak ingat lagi, dibagian
manakah tukang bangunan itu mengaduk semen. Semuanya tampak sama.
Kembali tertutupi oleh rumput yang menghijau.
Hati kita. Kita perlu menolongnya juga. Kita harus mengelupaskan
lapisan egoisme yang menutupi seluruh permukaannya. Mumpung dia
belum mati kekeringan. Sebab hati yang terlanjur mati, tidaklah
mungkin untuk dihidupkan kembali. Hati kita masih hidup. Hanya saja,
dia kini tengah menanti kita untuk segera membuka pintunya. Dan
mengijinkan nilai-nilai kebajikan memasukinya. Memenuhi setiap
relung lorongnya. Dan menggeser kekusutan yang selama ini
menguasainya. Membiarkan bisikan-bisikan buruk terusir keluar.
Mengelupaskan setiap noda hitam yang menempel disel-selnya. Dan
merestui, agar kelapangan mengambil alih kendali didalam hati itu.
Sesaat sejak pintu hati kita kembali terbuka. Kita dengan mudah
menerima setiap pesan kebajikan. Dan setelah hati kita terbuka, diri
kita juga ikut terbuka. Seperti pada tanah yang kembali terbuka itu,
setiap tetumbuhan yang kita tanam dapat hidup dengan subur. Dan
seperti itulah pula adanya dengan hati kita. Segalanya akan tumbuh
subur, tepat ketika kita bersedia membukanya. Membuka hati. Dan
membuka diri.
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Catatan kaki:
Bukan kurangnya nasihat yang menjadikan hidup kita kacau; melainkan
tertutupnya hati atas nasihat-nasihat itu.
Buku "Belajar Sukses Kepada Alam" klik disini:
http://www.dadangkadarusman.com/books/belajar-sukses-kepada-alam/
Untuk Update Artikel Terbaru Dari Dadang Kadarusman Melalui Email,
klik disini: http://www.dadangkadarusman.com/contact-us/email-alert/
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
Makarya Mawa Raharja
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.