kang MGT kungsi boga kahayang, nyaeta miteskeun mitos ngahuma. inget
keneh carana, usul ngahijikeun milis kisunda jeung urangsunda
(kusnet). tapi abah Surya (HR Hidayat Suryalaga) ngawagel, teu kudu
cenah. keun we beuki loba nu gariat dina susundaan beuki alus. sukur
mun ngahanca nu beda, sangkan sadaya ka garap.
terus mendak tulisan pa Jakob sumardjo, yen jelema teh marawa artefak
pikiran. meureun cek kasarna mah rada siga blue-print. ningali cek
beja oge kanyataan, enya, aya keneh eta nu kitu teh. ngahuma,
individual atawa federalis teh aya. ari si kuring teu nempo gorengna,
moal moal nepi kamana-mana kitu mah, nya potensi nu aya ku cara adat eta.
Ieu aya tulisan ngacapruk, dimuat di majalah Warta Bappeda Jawa Barat,
hatur lumayan.
Beberapa Jurus Memacu Prestasi Manusia Jawa Barat
Jamaludin Wiartakusumah
Dalam gerusan jaman, berbagai nilai budaya warisan leluhur tampak
menghilang satu demi satu. Sikap inferior sebagai bangsa yang pernah
dijajah dan silau pada kemajuan bangsa Barat, pada satu sisi telah
melebur nilai-nilai positif yang pernah leluhur kita ajarkan atau
wariskan. Bila kita renungkan, sesungguhnya leluhur kita tidak pernah
salah. Sebab kalau mereka salah tentulah mereka sudah lama musnah
sebelum menurunkan kakek-nenek kita. Bagaimana mereka bertempat
tinggal, bercocok tanam, selain dipengaruhi oleh kondisi geografis dan
alam secara umum juga dibekali pengetahuan empiris dan kosmologis
termasuk nilai-nilai yang dianut yang secara empiris terbukti benar
atau paling tidak cocok dengan habitatnya.
Filsafat leluhur bukan berujung pada bagaimana menguasai alam, tetapi
upaya menyelaraskan diri dengan alam. Cara mereka membuat desain
hunian, merawat alam dan nilai-nilai moral diungkapkan dalam paribasa
atau babasan yang ringkas tapi mengandung ajaran luhur. Semua itu
adalah bukti bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Cara hidup yang basajan alias sederhana, tidak berlebihan dan tidak
merusak alam, relevan dengan ajaran Islam yang datang kemudian.
Salah satu ucapan khas dalam acara Republik Mimpi adalah "Aya-aya
wae" yang sering dilontarkan oleh wakil presiden Republik Mimpi, Jaro
Kuat. Kalimat itu adalah ekspresi konservatif terhadap sesuatu yang
baru yang artinya tidak mudah menerima hal-hal baru, kalaupun diterima
harus dengan sikap kritis dan argumentasi yang logis.
Inovasi Kearifan Lokal
Banyak formula hidup di masyarakat Sunda yang sayangnya tidak lagi
dikenal karena tidak adanya proses regenerasi nilai yang dianut.
Sebagai bagian dari bangsa yang pernah mengalami kolonialisasi, yang
ditonjolkan adalah dampak buruk kolonialisasi Belanda. Mental inferior
kita dianggap melulu akibat kolonialisasi Belanda, seolah-olah takdir
kita adalah itu dan harus menerimanya dengan lapang. Padahal banyak
kemajuan budaya kita yang mereka tumbuhkan yang sayangnya kita sendiri
kemudian, sebagai pemilik budaya lokal itu, tidak lagi perduli atau
memberi perhatian yang besar pada sesuatu yang sebenarnya warisan
budaya dan identitas kita.
Salah satu contoh inovasi kearifan lokal adalah apa yang dilakukan
oleh para arsitek kolonial Belanda periode akhir di kota Bandung.
Maclaine Pont membuat desain Aula Barat dan Timur kampus ITB dengan
cara menggabungkan model rumah vernakular atau lokal dengan teknologi
konstruksi Barat; demikian juga J. Gerber yang membuat desain Gedung
Sate yang mencampurkan berbagai gaya bangunan mulai dari Mediterania
hingga bentuk candi Prambanan yang dijadikan ornamen di bagian tengah
Gedung Sate untuk membingkai jendela.
Kesadaran terhadap kearifan lokal dan terutama dalam rangka
memunculkan unsur identitas lokal tampak sudah mulai muncul, seperti
terlihat pada beberapa rumah makan Sunda dan desain hotel di Cipanas
Garut. Misalnya hotel Sumber Alam yang menggabungkan model atap
vernakular dengan material lokal seperti ijuk dan bambu dan sistem
modern. Dalam teori Postmodern model ini disebut hibrida, tujuannya
antara lain untuk keperluan komunikasi, dalam hal ini menyampaikan
citra lokal.
Pendekatan desain Posmodern memungkinkan dipadukannya desain tradisi
dengan desain modern, untuk mengisi kekurangan aspek komunikasi
faktor yang dianggap kegagalan desain modern. Hasilnya adalah sebuah
desain yang tidak hanya mencerminkan kode ganda (double coding) yang
tidak hanya mencerminkan kekinian lewat desain modern tetapi juga
memiliki ciri lokal yang dekat dengan memori dan akar lokal masyarakat.
Aktualisasi dan Sosialisasi Nilai-nilai Lokal
Dalam khasanah babasan masyarakat Sunda terdapat formula cageur bageur
pinter. Cageur artinya orang harus sehat fisik dan mental. Bageur
harus patuh pada aturan, ajaran atau hukum. Aturan yang tentu saja
masuk akal dan logis. Sedang pinter adalah harus sanggup mengatasi
kesulitan yang dihadapinya dengan cara cageur dan bageur.
Telah sejak masa perjuangan revolusi, tatar Sunda telah kedatangan
berbagai bangsa dari bagian lain Nusantara. Bahkan orang yang kemudian
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno, tumbuh dan
menjadi besar di Bandung. Itupun tentu dengan peran besar Ibu Inggit
Garnasih dan orang Sunda lainnya yang memberi ruang gerak yang
kondusif dan dukungan penuh, termasuk ikut diadili dan dipenjara
seperti Gatot Mangkupradja. Dalam sebuah pertemuan para inohong Sunda
di hotel Panghegar beberapa tahun lalu, salah seorang sesepuh
bercerita bahwa Bung Karno pernah berkata pada R. Kosasih,"Bangsa
Indonesia harus berterima kasih pada orang Sunda."
Tanpa bermaksud menjadi narsis atau chauvinist, secara logika
kesejarahan, sejak awal masa perjuangan dan kemudian awal republik
berdiri, tatar Sunda memang menjadi latar sebagian besar segala
kecamuk perang dan politik. Kondisi ini menempatkan orang Sunda
sebagai tuan rumah dengan sikap standar khas mental orang Priangan:
someah hade ka semah (ramah dan berbuat baik terhadap tamu) dengan
sikap moderat yang dimiliki dalam konsep siger tengah. Sisi lain sikap
itu sepertinya mengandung arti, pada bagian tertentu, memberi
kesempatan pada semuanya untuk tampil berperan.
Sementara itu, seleksi kualitas secara alami berlangsung ketat dalam
masyarakat Sunda. Nepotisme dihadang prinsip bisi ngerakeun (takut
bikin malu) dan ulah ngerakeun (jangan membuat malu) yang pada
gilirannya menghasilkan manusia yang terbaik yang muncul
(meritokrasi). Hade tagog hade gogog, menunjukkan bagaimana seharusnya
sikap dan penampilan terintegrasi dalam arti disesuaikan dengan
kapasitas.
Pemahaman sekarang yang lebih melihat permukaan menilai sikap mangga
ngiringan itu berarti menolak peluang, tidak percaya diri atau merasa
tidak layak. Pemahaman yang salah kaprah mengenai mangga ngiringan itu
harus dirubah dengan cara kembali menilai kedalaman, bukan hanya
permukaan. Kita sendiri yang harus memperbaikinya dengan cara
meyakinkan orang lain di luar lingkaran budaya Sunda untuk mampu
menjadi tamu yang baik. Bukan semah yang ngahesekeun nu boga imah.
Handap asor alias rendah hati, darehdeh alias ramah adalah sikap baik
dan orang Sunda harus bersyukur bahwa sifat baik itu Tuhan anugerahkan
dalam bentuk built-in. M.A.W Broewer, psikolog Belanda yang lama
tinggal di Bandung dalam satu tulisannya bercerita bahwa tempat
prakteknya sepi dari orang Sunda. Rupanya orang Sunda suka heureuy dan
karenanya mudah tertawa-salah satu solusi yang menjauhkan orang Sunda
dari psikolog dan RSJ!
Di beberapa tebing tepi jalan antara Bandung-Tasikmalaya terdapat
tulisan Kebersihan sebagian dari Iman. Selain tulisan pepatah Arab
itu, seharusnya juga disertakan ajaran-ajaran khas warisan leluhur
yang bernilai tinggi. Misalnya "Mun Keyeng Tangtu Pareng" adalah rumus
yang sesungguhnya bila dipegah teguh merupakan rumus ajaib yang ampuh
bagi membangun watak masyarakat yang teguh, ulet dan kukuh. Ia menjadi
kunci sukses bagi segala proses mencapai kemajuan dan meraih
keberhasilan hidup. Prinsip ini menurut Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto
setara dengan prinsip the Law of Attraction dalam buku dan film The
Secret karya Rhonda Byrne. Rumus yang juga kemudian terdapat dalam
bahasa nasional, ada kemauan pasti ada jalan.
Kita dibekali berbagai ajaran warisan leluhur dalam bentuk yang
praktis yaitu pepatah atau babasan yang susungguhnya mengandung banyak
ajaran luhur dan bernilai tinggi. Tinggal menjalaninya dengan sikap
arif dan menempatkannya secara proporsional.
Banyak kalangan merasa pesimis bahwa bahasa Sunda akan mati.
Kematian itu hukum alam buat semua yang hidup, tidak perlu ditakutkan.
Dari kunjungan kang Mikihiro Moriyama pada bulan Agustus lalu ke
beberapa wilayah Jawa Barat seperti Garut dan Tasik yang homogen
tampak bahwa bahasa Sunda masih sangat ramai dipakai. Penggunaan
bahasa Sunda yang mulai minim hanya terjadi di kota besar seperti
Bandung dan kota yang dekat Jakarta karena masyarakatnya heterogen,
itupun di kalangan menengah atas.
Mental Pionir dan Keteladanan
Di Kompas nasional beberapa tahun lalu, sejarawan LIPI, Asvi Warman
Adam mengemukakan koreksinya pada susunan kronologis kepresidenan
nasional. Menurutnya selama ini ada putra bangsa yang pernah jadi
presiden RI tapi tidak pernah disebut. Ia adalah Syafruddin
Prawiranegara yang membentuk dan menjadi ketua Pemerintahan Darurat
Republik Indonesia (PDRI) di Bukittingi ketika Sukarno-Hatta ditawan
Belanda di Yogyakarta. Meskipun hanya disebut ketua, tetapi derajatnya
sama dengan presiden. Jadi, dalam sejarahnya, republik ini pernah
punya presiden orang Sunda. Tentu saja hal ini jarang yang tahu bahwa
sesungguhnya ada orang Sunda pernah memegang posisi setara Presiden
RI. Ia seorang ahli hukum kelahiran Serang 28 Februari 1911, putra R.
Arsyad Prawiraatmaja. Mungkin karena ia banyak berkiprah di
Sumatera-kebetulan ibunya berdarah Minang-Aceh, gaungnya sebagai orang
Sunda kurang terdengar. Tapi kiprahnya sebagai gubernur pertama Bank
Indonesia membuat namanya diabadikan menjadi nama salah satu gedung
jangkung BI Jakarta.
Di bidang militer, terdapat R. Didi Kartasasmita dan R. Hidayat
Kartadjumena, dua orang pribumi pertama yang mendapat pendidikan
militer akademis di Breda Belanda. Hidayat inilah yang mendorong
Syafruddin Prawiranegara mendirikan PDRI di Bukittinggi. Sebagai
seorang militer, ia tahu negara dianggap ada bila ada organisasi
pemerintahan. Di bidang pendidikan, semua kenal R. Dewi Sartika yang
mendirikan "Sakola Istri". Tindakan yang jauh lebih nyata untuk
kaumnya guna memperoleh pendidikan yang layak pada masanya dibanding
sekedar wacana kebangkitan kaum wanita Indonesia. Dalam lapangan
keilmuan terdapat Husein Djayadiningrat, pribumi pertama di republik
ini yang meraih doktor gelar tertinggi dalam dunia akademis- di
Leiden dengan desertasi tentang sejarah Banten. Ketua Mahkamah Agung
pertama republik ini adalah Asikin Kusumaatmadja, gubernur DKI yang
dianggap paling populer sampai sekarang hanya Ali Sadikin. Malah atas
jasanya itu, Universitas Trisakti memberinya gelar doktor honoris causa.
Sebagai seorang budayawan yang tangguh, Ajip Rosidi merupakan fenomena
bagaimana seharusnya sebuah cinta Tanah Air diwujudkan. Ia mencintai
bahasa ibunya dengan cinta yang keras kepala, Ajip Rosidi tidak hanya
melancarkan bermacam kritik yang sering membuat panas kuping, tetapi
ia lakukan semuanya dan sejak muda: menulis sastra dan kritik sastra
dalam bahasa Indonesia, lalu dalam bahasa Sunda, menerbitkan majalah
Sunda, pernah menjadi pengurus Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS),
mendirikan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, lembaga penelitian
Pusat Studi Sunda, membuat penerbitan Kiblat Buku Utama- satu dari dua
tiga penerbit yang menerbitkan buku-buku dalam bahasa Sunda dan media
dalam bahasa Sunda, Cupumanik selain magnum opus: Ensiklopedia Sunda.
Sebelumnya ia juga menulis Manusia Sunda, untuk mendampingi buku
Manusia Indonesia Muchtar Lubis. Beberapa tahun lalu, ia menerbitkan
Apa Siapa Orang Sunda. Sebagian besar itu semua ia lakukan ketika
selama 20an tahun lebih tinggal di Jepang!
Apa yang dilakukan tokoh-tokoh Jawa Barat terdahulu serta Kang Ajip
Rosidi adalah sebuah teladan yang luar biasa dan sudah seharusnya
menjadi pemacu generasi muda untuk mengembangkan potensi yang
dimilikinya. Tinggal bagaimana kehadiran para pendahulu itu terasa
gemanya sekarang dan mampu menjadi inspirasi generasi muda.
Membumikan Pengaruh Impor
Menurut Prof. Dr. I Bambang Sugiharto, sesungguhnya modernitas itu
lahir di daratan Cina, content atau isi modernitas itu adalah
nilai-nilai Islam dan modernitas itu booming di Eropa. Modernistas
Islam misalnya dalam hal kemampunyannya mengabstraksikan tuhan
sebagaimana tercantum dalam surat Al-Ikhlas: bahwa tuhan bukan berhala
dan berbeda dengan apapun atau tidak ada yang menyamai-Nya.
Kegemilangan Barat beserta kemajuannya telah mempesona seluruh negara
berkembang, tidak terkecuali Indonesia.. Kita semua berusaha meniru
metode atau teknik mereka agar bisa mengejar ketertinggalan dari Barat
dan kemudian negara Asia lainnya yang lebih dulu maju. Hampir seluruh
karya cipta Barat diterima dengan utuh dan suka cita, sebab dengan itu
kita akan meraih kemajuan sejajar mereka. Kita telah lupa bagaimana
dahulu leluhur kita menerima pengaruh dari luar dengan caranya yang
luar biasa.
Berbagai artefak budaya peninggalan nenek moyang atau leluhur
menunjukkan pengaruh dari luar, tetapi tampak telah mengalami tafsir
atau terjemahan alias telah mengalami proses yang disesuaikan dengan
alam dan budaya manusia di Nusantara. Contoh untuk itu adalah wayang
golek. Wayang yang aslinya berasal dari India, ketika tiba di pulau
Jawa serta merta mengalami perubahan signifikan, baik dari segi bentuk
atau rupa maupun cerita. Ada inovasi di sana sini. Wayang India
menjadi wayang kulit di Jawa Tengah dan Timur dan, dengan kreativitas
yang sangat khas masyarakat Sunda - wayang kulit itu bahkan bersalin
rupa menjadi wayang golek, membuatnya jauh berbeda. Wayang yang
berasal dari India mengalami jawanisasi atau sundanisasi yang menjadi
sangat berbeda dengan wayang yang ada di India. Wayang malah dipakai
para wali sebagai media dakwah. Musik dangdut yang juga berasal dari
tanah Hindustan, dipermak Rhoma Irama dengan kreativitas musikal yang
membuatnya berkembang luas di masyarakat, apalagi dengan
syair-syairnya yang bernuansa dakwah. Hal yang sayangnya tidak lagi
terjadi atau dilakukan pada zaman sekarang. Sampai istilah
competitiveness diterjemahkan langsung dengan "daya saing". Sesuatu
yang semula hampir tidak dikenal oleh nilai dan cita rasa budaya
bangsa termasuk masyarakat Jawa Barat. Yang ada adalah guyub, kerja
sama dan Gotong Royong -sebuah istilah yang oleh Bung Karno
dicadangkan sebagai ideologi negara RI yang akan lahir bila lima dasar
Pancasila tidak diterima sidang BPUPKI.
Bersaing, meskipun sekarang sudah mulai tampak tumbuh subur, secara
fundamental berdasar nilai lokal memiliki konotasi negatif dan sering,
pada banyak kasus, diterapkan dengan salah kaprah. Barangkali
penggunaan istilah pengembangan potensi dalam rangka memberi sumbangan
pada dunia atau partisipasi dalam memajukan bangsa, jauh lebih membumi
dan elegan, karena toh tujuan atau target pencapaiannya sama.
Banyak ilmu-ilmu sosial dan budaya yang diimpor sebenarnya tidak
dapat secara langsung dan utuh dipraktekan, karena latar budaya yang
berbeda. Misalnya konsep-konsep sosial Barat yang berakar pada
individualisme dan liberalisme tentu tidak pas untuk diterapkan di
masyarakat semi-tradisional yang komunal.
Lalu, dengan konsep daya saing itu, apa yang bisa kita jadikan daya
saing dengan bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu maju? Teknologi, kita
lebih sebagai operator dan konsumen. Sumber daya alam kita baru dapat
menggalinya, menyedotnya dari bumi dan mengekspornya, belum
benar-benar sanggup mengolahnya menjadi barang jadi. Hanya budaya
lokal yang masih mungkin, karena berbeda, milik kita dan kita kaya
dengan itu.
Dalam hubungannya dengan kolonialisme, menurut Prof. Sudjoko PhD,
dalam Pengantar Seni Rupa (Dikti 2000) orang Bandung (wilayah budaya
Sunda) tahu atau bisa membedakan mana Belanda kawan dan mana lawan.
Bagi mereka, Belanda kawan dilihat sebagai partner kemajuan, sebab
bagaimanapun mereka membawa ilmu dan peradaban modern. Meskipun
begitu, tidak seluruhnya ilmu modern Barat diajarkan orang Belanda
sendiri di Bandung. Prof. Syafei Sumardja, belajar jadi guru gambar di
Belanda dan pulang ke Bandung untuk membagikan ilmunya pada bangsanya
bersama Belanda totok Ries Mulder yang pernah di tawan tentara
pendudukan Jepang.
Dunia sudah berubah, disamping globalisasi yang katakanlah
menyeragamkan dunia, ada banyak upaya resistensi berupa munculnya
keberagaman (pluralisme) dengan sebuah pemikiran baru yang disebut
Postmodern, yang menyadari dan bahkan merayakan keragaman atau
pluralnya dunia adalah sebuah fitrah dan mendorong munculnya kembali
keanekaragaman budaya manusia di seluruh dunia. Kebanggaan terhadap
budaya lokal harus muncul untuk menjadi pemicu menggali potensi dan
meningkatkan prestasi, bukan dalam rangka persaingan, tetapi semata
untuk memberi sumbangan bagi peradaban bangsa dan dunia. Semoga!
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas, novelis
Mahasiswa doktoral Ilmu Seni Rupa & Desain ITB
--- In [email protected], Jalak Pakuan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Taah sip lah MJ tos manggung....teraskeun mang (Mang Jamal & Mang Maya).
>
> MJ kumaha tah ayeuna mah pan aya di Faperta aya manajemen kahumaan
aya kitu pangaruhna kana aadatan urang sunda ayeuna? Nyieun mitos anyar?
>
> salam
> JP
>
> Makarya Mawa Raharja
>
>
>