Kaciri Media teh ngan hayang nahankeun anu komersial hungkul..pandangan na eces..jangka pondok....naon oge kulantaran konsumen Media leuwih resep lalajo Infotainment...Sinetron...jeung Kontest dangdut/Pop....Soal SFS anu gagah berani jeung meunang..sigana padiuli ge henteu...Nya kumaha atuh.....
On 3/25/08, Tessar Wardhana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Berita nu keur hot2na ieu teh ngan anehna teh Media TV > asa JARAREMPE, nya? bilih kuring nu tara nonton kitu? > Mun emang leres media TV teh jempe berarti mafia2 > luhur geus mangaruhan media ieu meureun, nya? > matak prihatin... > > Nuhun referensina > > Baktos > Tessar > > --- mh <[EMAIL PROTECTED] <kihasan%40urang-sunda.or.id>> wrote: > > > Menteri Kesehatan yang Berani > > Sabtu, 8 Maret 2008 | 02:01 WIB > > > > Kartono Mohamad > > > > Pada tahun 1905, armada Jepang mengalahkan armada > > Rusia di perairan > > Sakhalin. Kemenangan ini berpengaruh besar terhadap > > kebangkitan bangsa > > Asia yang selama berabad-abad ditindas bangsa Eropa > > dan Amerika > > Serikat. > > > > Tahun 1908, sekelompok dokter Indonesia lulusan > > STOVIA membentuk > > perkumpulan Boedi Oetomo yang kemudian menjadi > > gerakan politik > > menghadapi Belanda. Tahun itu kemudian dikenal > > sebagai awal > > kebangkitan bangsa Indonesia. > > > > Tahun 2005 Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari > > mulai membangkang > > terhadap aturan WHO yang dianggap tidak adil bagi > > bangsa berkembang > > dalam soal penyerahan seed virus H5N1 strain > > Indonesia. Pada tahun > > 2008 perjuangan itu berakhir dengan kemenangan. > > Hegemoni AS dalam soal > > pervirusan terhadap negara-negara berkembang yang > > menjadi "pemilik > > virus", yang dilakukan melalui WHO selama 50 tahun, > > dapat dikalahkan > > Siti Fadilah Supari. > > > > Percaya diri > > > > Kesamaan dalam tahun-tahun itu mungkin hanya > > kebetulan, tetapi dampak > > dari kemenangan itu hampir sama. Timbul rasa percaya > > diri, bangsa Asia > > dapat mengalahkan kekuatan negara adidaya meski > > sebatas soal virus. > > > > Kemenangan menteri kesehatan Indonesia itu disambut > > gembira oleh > > seluruh bangsa Indonesia, dan mungkin juga oleh > > bangsa-bangsa di > > negara berkembang. Terbukti dengan usulan perombakan > > prosedur sharing > > virus yang diajukan Indonesia disetujui sebagian > > besar anggota WHO, > > sementara usul AS hanya didukung AS sendiri. > > > > Desas-desus kemudian berkembang. Pemerintah AS > > mengirim menterinya ke > > Indonesia untuk membujuk agar Menkes RI membatalkan > > usulannya di WHO, > > terutama mengenai penyerahan virus ke lembaga > > penelitian virus milik > > AS. Namun, menteri kita tetap pada sikapnya. "Anda > > memang menguasai > > teknologinya, tetapi kami yang memiliki virusnya dan > > rakyat kami yang > > menjadi korban. Silakan tempelkan teknologi itu di > > jidat Anda, apakah > > ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa virus dari > > Indonesia," demikian > > kisah Siti Fadilah saat peluncuran bukunya. > > > > Membangkitkan semangat > > > > Seabad setelah bangsa Asia bangkit melawan > > kapitalisme bangsa-bangsa > > Eropa dan Amerika, Menkes kita berani membangkitkan > > semangat serupa > > dengan perlawanannya terhadap hegemoni kapitalis > > terbesar di dunia. > > Dan menang. Sikap AS yang mau memonopoli penelitian > > virus dan > > pembuatan vaksinnya, dengan mengambil bibit virus > > dari negara > > berkembang, tetapi kemudian menjual vaksin itu > > kembali ke negara > > berkembang dengan harga mahal, memang keterlaluan. > > > > Negara itu ingin memperoleh bibit virus secara > > gratis, lalu mengeruk > > keuntungan besar dari negara tempat virus itu > > berasal. Ia ingin > > mengeruk keuntungan dari penderitaan rakyat di > > negara berkembang. > > Maka, masuk akal pertanyaan Siti Fadilah tentang > > kemungkinan virus itu > > dijadikan senjata biologi. Mungkin yang dimaksud > > Menkes bukan senjata > > biologi yang digunakan dalam perang konvensional, > > melainkan > > dimanfaatkan dalam situasi damai, kemudian menjual > > vaksin atau obatnya > > ke negara-negara itu. Bagian kecurigaan inilah yang > > kemudian menjadi > > isu politik antarnegara, berujung pada penarikan > > buku Fadilah edisi > > bahasa Inggris. > > > > Rokok > > > > Bagaimanapun juga, keberanian Menkes RI telah > > menghasilkan sesuatu > > yang baik bagi rakyat Indonesia dan negara > > berkembang lainnya. Yang > > kini kita harapkan adalah keberanian itu ia > > pertahankan secara > > konsisten, termasuk menghadapi kapitalis dalam > > negeri atau kapitalis > > luar negeri yang beroperasi di Indonesia, yang > > mengeruk keuntungan > > besar dengan mengorbankan kesehatan rakyat > > Indonesia. Antara lain > > menghadapi perilaku pembuat bahan adiktif yang > > membuat rakyat > > mengalami ketergantungan sehingga menghamburkan > > uangnya lebih untuk > > memenuhi ketergantungan itu ketimbang untuk membeli > > makanan bergizi > > bagi anaknya, atau membayar uang sekolah anaknya. > > Contoh industri > > bahan adiktif semacam itu adalah pabrik rokok. > > > > Seperti penjajah dulu dan juga kapitalis AS, > > industri rokok pandai > > menyebarkan mitos yang membuat rakyat (dan > > pemerintah) ragu untuk > > bertindak. Di zaman perjuangan kemerdekaan dulu > > disebarkan mitos, > > bangsa Indonesia belum siap merdeka. Sikap AS dalam > > soal virus flu > > burung (dan mungkin juga hal-hal lain) juga serupa. > > Menyebarkan mitos > > bahwa negara berkembang tidak akan sanggup > > mengembangkan vaksin karena > > tidak memiliki teknologinya. > > > > Di dalam negeri, industri rokok pun menyebarkan > > mitos, kalau pemasaran > > dan penjualan rokok diatur, negara akan kehilangan > > sejumlah besar > > penghasilan, banyak buruh akan menganggur dan petani > > tembakau akan > > kehilangan nafkah. > > > > Padahal, di negara yang melakukan pengaturan > > penjualan rokok, termasuk > > AS yang menyerap keuntungan besar dari penjualan > > rokok di Indonesia, > > tidak ada industri rokok yang bangkrut. Bahkan, > > industri rokok AS > > merambah seluruh dunia, terutama Indonesia. > > > > Pengaturan diperlukan untuk meminimalkan dampak > > buruk asap tembakau > > bagi kesehatan rakyat. Mitos bahwa negara > > mendapatkan pendapatan besar > > dari rokok juga perlu dibuktikan karena cukai rokok > > di Indonesia > > adalah yang terendah di Asia (kecuali barangkali > > Kampuchea). > > > > Kapitalis dalam negeri > > > > Namun, mitos-mitos itu sudah menyerap di pikiran > > elite politik di > > negara ini dan untuk melepaskannya diperlukan > > keberanian. Di sinilah > > diharapkan keberanian Siti Fadilah Supari sebagai > > Menteri Kesehatan > > untuk melawan kapitalis dalam negeri yang telah > > mengorbankan kesehatan > > rakyat Indonesia untuk keuntungan mereka. Kalau > > menghadapi > > menteri-menteri AS ia berani, seharusnya ia lebih > > berani menghadapi > > sesama menteri Indonesia yang sudah termakan mitos > > yang ditanamkan > > kapitalis dalam negeri. > > > > Alangkah gagahnya jika ia berani berkata kepada > > menteri-menteri yang > > lain, "Saya menteri kesehatan, bertanggung jawab > > terhadap kesehatan > > rakyat. Saya mengatur pemasaran dan penjualan rokok > > demi melindungi > > kesehatan rakyat Indonesia". Barulah ia benar-benar > > pejuang konsisten > > untuk kepentingan rakyatnya. > > > > Kartono Mohamad Tobacco Control Support Center; > > Ikatan Ahli Kesehatan > > Masyarakat Indonesia > > > > > === message truncated === > > __________________________________________________________ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > > >

