Seminar Panineungan Uking Sukri, STSI Bandung, 2 April 2005

Uking Sukri, seorang guru yang tahu batas kemampuannya,
dunia pamirig dan perkembangan Tembang Sunda Cianjuran

oleh Wim van Zanten, Universitas Leiden

Pengantar

Saya berterima kasih kepada panitia seminar 'Eksistensi pamirig dalam
pekembangan seni Tembang Sunda Cianjuran' ini untuk kesempatan
berbicara mengenai guru saya, yaitu Pa Uking Sukri, dan dunia pamirig.
Sebelumnya saya minta maaf untuk kekurangan saya dalam bahasa
Indonesia.

Dengan beberapa contoh saya akan menggambarkan peranan Pa Uking dalam
dunia Tembang Sunda Cianjuran; suatu peranan yang penting, menurut
saya. Jelas, itu disebabkan oleh keahlian Pa Uking dalam bidang
Tembang Sunda Cianjuran bersama kebetulan yang terikat dengan waktu
dan tempat kehidupannya. Akan tetapi, karakter Pa Uking Sukri juga
merupakan satu faktor yang penting.

Dalam judul ceramah ini, 'Uking Sukri, seorang guru yang tahu batas
kemampuannya', dicoba untuk mencerminkan suatu sifat Pa Uking yang
menonjol: pengetahuannya luas, tetapi dia tidak menjadi sombong. Pa
Uking mengerti dengan baik-baik keterbatasan pengetahuan sindiri. Dia
terus-menerus mencoba perbaikan seninya dan belajar yang baru. Uking
Sukri hidup untuk seninya, tidak untuk mencari uang besar atau status
tinggi. Uking Sukri bertapa di nagara. Dengan demikian dia menjadi
guru yang baik untuk kita semua. Pa Uking menghadapi orang lain secara
terbuka dan dia bersedia untuk memberi pengetahuannya kepada orang
lain. Dia mengetahui batas kemampuannya sendiri, seperti disebut dalam
judul ceramah ini. Sebenarnya, ini merupakan terjemahan dari perkataan
sastrawan Jerman, yaitu Goethe: 'In der Beschränkung zeigt sich der
Meister', orang yang tahu batas kemampuan sendiri membuktikan dia
betul-betul mengerti, yaitu menjadi guru untuk kita semua.

Dalam ceramah ini saya ingin menguraikan bagaimana kita bisa
mengembangkan Tembang Sunda Cianjuran dengan menggunakan contoh
seniman Uking Sukri. Dengan demikian saya akan menguraikan sedikit
mengenai hal seperti, misalnya:

1. Kalau ingin tahu mengenai struktur musikal dalam Cianjuran,
bicaralah pertama-tama dengan pemain kacapi indung;
2. Dokumentasi, khususnya dokumentasi rekaman musik Cianjuran yang
historis, perlu dipilihara, supaya arah perkembangan Cianjuran dapat
dipilih dengan baik-baik;
3. Tembang Sunda Cianjuran sudah diketahui dan digemari di luar
Indonesia dan dengan demikian sudah merupakan warisan dunia ini, bukan
warisan Sunda saja;
4. Suatu pasanggiri pamirig pada tingkat Jawa Barat yang
diselenggarakan setiap 2-3 tahun akan merangsang discours, atau
pertarungan wacana, dan dengan demikian merupakan kesempatan yang baik
untuk perkembangan Tembang Sunda Cianjuran.

Terlebih dahulu sebuah anekdot.

1. Pertemuan di jalan

Pada bulan Desember 1980 saya datang di Indonesia dari Belanda untuk
menyelesaikan cetakan buku yang berjudul 'Statistika untuk ilmu-ilmu
sosial' di Jakarta. Pada tiga minggu itu masih ada waktu beberapa hari
yang dimanfaatkan untuk persiapan penelitian S-3 mengenai Tembang
Sunda Cianjuran. Jadi, pada suatu hari saya berjalan di Bandung dekat
Jalan Mohamad Toha untuk mencari rumah Pa Dadang Sulaeman, almarhum.

Kemudian saya bertemu seorang yang bertanya apakah dia bisa membantu.
Saya menjelaskan bahwa rumah Pa Dadang Sulaeman dicari, dan jawaban
bapak itu: 'Saya tahu rumahnya dan kebetulan saya juga ingin bertemu
dengan Pa Dadang Sulaeman.' Sebenarnya, saya tidak percaya bapak itu
juga mau ke Dadang Sulaeman; saya menduga dia cuma senang berbicara
dengan seorang asing. Malahan, saya lebih curiga kalau dia mengatakan
bahwa dalam beberapa bulan (Pebruari 1981) dia mau ke negara saya,
Belanda. Siapa bapak ini? Pasti omong kosong! Tetapi, sebenarnya bapak
itu kelihatannya sungguh-sungguh dan pembicaraannya masuk akal. Jadi,
kemudian saya minta: 'Bapak, siapa namanya?' Jawabannya: 'Uking
Sukri'!
Pada waktu itu Uking Sukri sudah termasuk daftar orang yang dicari
dengan prioritas, jadi saya gembira sekali kami bertemu di jalan
secara kebetulan. Kemudian, pada bulan Pebruari 1981 Pa Uking datang
di Belanda dengan Burhan Sukarma dan Pa Dacep Eddi untuk pertunjukan
kacapi-suling di Den Haag dan tempat lain. Pa Uking sering
menceritakan, bahwa pada waktu itu mereka makan nasi dan sambal yang
betul di rumah saya!

Saya diundang untuk tinggal di rumah Pa Uking kalau penelitian Tembang
Sunda Cianjuran dimulai, yaitu pada bulan Juli 1981. Dengan senang
hati tawaran ini diterima saya dan dengan demikian Pa Uking menjadi
guru saya. Sejak waktu itu, kalau saya datang di Bandung, di
Ujungberung berada kamar tersedia untuk saya. Saya belajar kacapi
indung, berbicara mengenai struktur musikal dan sénggol mamaos, ikut
Pa Uking ke RRI dan berbicara banyak mengenai persoalan Cianjuran
secara lahir dan batin. Saya melihat Néngnéng Fitri belajar mamaos
pada umur 6-7 tahun, dan dalam disertasi saya ada sebuah foto di mana
Néng Fitri bernyani, diiringi oleh ayahnya pada kacapi indung.

Pertemuan di jalan ini berhasil dengan disertasi saya pada tahun 1987.
Kerja sama dengan Pa Uking kemudian dilanjutkan. Pada musim dingin
1987-88, Pa Uking datang ke Belanda atas undangan saya, selama hampir
setengah tahun. Bersama kami membuat suatu metode praktis untuk
belajar Tembang Sunda Cianjuran yang masih dipakai di Leiden. Dari
awal direncanakan metode itu akan mengandung pelajaran dari kaset
audio dengan transkripsi musik.

Jadi, pertama permainan kacapi indung direkam dan kemudian mamaos,
suling atau rincik ditambah dengan proses dubbing. Itu mencerminkan
pelajaran yang holistic, yaitu dengan memperhatikan keseluruhan musik:
misalnya, mamaos atau suling dipelajari dari kaset dengan sekaligus
mendengar suara kacapi indung. Sebenarnya, kedua suara dimasukkan
jalur tersendiri dalam pita, jadi dapat didengarkan sendiri-sendiri
juga, kalau perlu.

Suara nyanyi ditranskripsi dengan semacam notasi cacing yang dibakukan
berdasar analisa komputer. Kemudian ditambah notasi angka Sunda dan
notasi balok. Transkripsi partai kacapi dilakukan dengan memakai
notasi tabulatur, yaitu dengan gambar 18 kawat (kacapi indung) atau 15
kawat (kacapi rincik) dan memakai tanda yang mempertunjukkan jari yang
mana harus dipakai untuk petikan kawat. Notasi tabulatur itu
bermanfaat, khususnya pada tahap-tahap pertama, karena dekat dengan
praktek permainan. Pada waktu itu metode ini digunakan untuk mengajar
dua kelompok: satu kelompok murid di Museum Antropologi di Leiden, dan
satu di Topenmuseum di Amsterdam.

Pada tahun-tahun kemudian banyak bahan ditambah. Misalnya, pada tahun
1999 Yus Wiradiredja tinggal di Leiden selama 2 bulan, khususnya untuk
meneliti ornamen-ornamen mamaos. Sampai sekarang metode pelajaran
Cianjuran ini belum selesai dan saya berada di sini untuk mengumpulkan
data-data terakhir untuk menyelesaikan metode ini, yang akan terdiri
dari buku dengan audio CD dan transkripsi music, bersama VCD atau DVD.
Warisan Pa Uking itu perlu diterbitkan.

2. Struktur musikal Cianjuran berada dalam permainan kacapi indung

Pada tahun 1980, waktu saya mulai dengan penelitian Cianjuran, sudah
ada beberapa tulisan yang baik mengenai Cianjuran, misalnya oleh
Satjadibrata, Apung Wiratmadja, Enip Sukanda, dan lain-lain.
Kebanyakan buku itu mempersoalkan rumpaka dan sejarah Tembang Sunda
Cianjuran. Tulisan mengenai sifat-sifat musikal belum begitu banyak.
Jaap Kunst menulis sedikit mengenai Sunda dan Cianjuran dalam
artikel-artikel dan bukunya 'De toonkunst van Java' yang diterbitkan
pada tahun 1930-an dan kemudian dicetak lagi dalam bahasa Inggeris
(The music of Java). Kemudian ada artikel yang bagus mengenai sifat
musikal dalam majalah Budaya Jaya pada tahun 1976. Artikel itu ditulis
oleh beberapa orang, yaitu Apung S. Wiratmadja, Atik Supandi, Wahyu
Wibisana dan Uking Sukri.

Dalam penelitian saya direncanakan untuk menulis lebih luas mengenai struktur
musikal dalam Cianjuran. Kalau seorang ingin belajar mengenai struktur
musikal Tembang Sunda Cianjuran, sebaiknya ia mulai dengan kacapi
indung, bukan mamaos. Jadi, saya memutuskan untuk pertama-tama belajar
kacapi indung. Jelas, kalau pemain kacapi indung ingin mengiringi
mamaos, ia juga harus tahu mengenai mamaos. Pemain kacapi indung tidak
usah pandai menyanyi semua ornamen dengan baik-baik, tetapi garis
besar dari arkuh lagu, ornamen dan rumpaka harus diketahui. Kalau
tidak, iringannya tidak akan berhasil dengan baik.

Sebaliknya, seorang juru mamaos bisa nyanyi dengan baik-baik, tanpa
mengetahui banyak mengenai struktur musikal. Oleh karena itu, dan juga
sebab juru mamaos mempunyai prestige yang lebih tinggi daripada pemain
waditra, ada banyak juru mamaos yang hamper tidak tahu, dan juga tidak
ingin tahu, mengenai struktur musikal Cianjuran. Pada waktu saya
melakukan penelitian pada tahun 1981 pernah ada seorang yang
diwawancarai saya dan yang merendahkan pengetahuan pemain waditra:
mereka tidak mengerti Cianjuran secara mendalam. Saya kurang senang
dengan perkataan itu dan mulai berbicara tentang pancer, goong, pancer
hiasan, dan hal teknis yang lain yang saya belajar dari pemain
waditra. Pembicaraan teknis itu merupakan bahasa asing untuk orang
yang bersangkutan. Untung, tidak semua juru mamaos begitu. Kebanyakan
juru mamaos megetahui: Cianjuran tidak jadi kalau tidak ada -
sekurang-kurangnya - kacapi indung untuk mengiringi juru mamaos.
Keduaduanya perlu, bersama suling, rebab dan kacapi rincik.

Jadi, untuk mengetahui struktur musikal Cianjuran, kita harus meneliti
peranan kacapi indung. Jelas, tidak semua pemain kacapi indung
mempunyai pengetahuan seluas pengetahuan Pa Uking. Pa Uking masih
belajar Cianjuran dari praktek dan secara holistic, yaitu, dia bisa
mamaos dan main semua waditra. Kemudian, dia masuk RRI dan di sana
belajar dari seniman lain, seperti Ibu Saodah, O. Tarya, Ono Sukarna,
dan lain-lain. Walaupun Uking Sukri sekarang khususnya diketahui
sebagai pemain kacapi indung, saya yakin bahwa pengaruhnya kepada
perkembangan permainan kacapi rincik juga besar. Pa Uking yang menjadi
pemain kacapi rincik RRI pada waktu repertoir rincik betul-betul
dikembangkan, yaitu tahun 1950-an. Saya kira ini belum diteliti secara
mendalam. Pendekatan yang holisticini juga dicerminkan dalam
kemampuannya pada bidang pengarangan lagu; Pa Uking mengarang
kira-kira 15 lagu mamaos dan 25 lagu Panambih.
Dalam bagian berikut saya ingin berbicara mengenai peranan Pa Uking
dalam perkembangan Tembang Sunda Cianjuran.

3. Perkembangan Tembang Sunda Cianjuran

Suatu seni yang tidak berubah akan mati; perkembangannya perlu. Kalau
sama sekali tidak ada perobahan, penonton akan bosan dan tidak ada
discours, atau pertarungan wacana, lagi mengenai inti sari atau
dangiang seni yang bersangkutan. Perkembangan tidak berarti bahwa
setiap unsur bisa dirobah saja. Biasanya perobahan ini baru berhasil
kalau garis besar struktur musikal yang sudah berada tidak dirobah dan
hanya sebagian dari unsur-unsur musikal dirobah. Perobahan yang besar
bisa saja terjadi, tetapi dengan demikian dibuat kreasi baru. Mungkin
saja dengan demikian juga seni yang asli bisa dimatikan.

Dalam dunia Cianjuran Pa Uking biasanya dikenal sebagai seorang yang
konservatif, yaitu seseorang yang tidak ingin berobah terlalu banyak.
Saya merasa itu betul dalam arti, dia sadar bahwa perobahan yang cepat
dan besar tidak akan berhasil. Tetapi Pa Uking juga terbuka terhadap
perkembangan yang baru, dan dia sendiri mencoba menginovasi Cianjuran.
Jelas, Pa Uking tidak menerima sumua perubahan dengan senang hati,
tetapi itu wajar saja, karena selera kita berbeda.

Pada tahun 1989 Pa Uking kerja sama dengan pemain piano jazz Bubi
Chen. Kelompok kacapi-suling digabungkan dengan piano akustik.
Diselenggarakan pertunjukan di Jakarta dan kemudian itu direkam dalam
kaset Kedamaian. Secara pribadi, saya senang sekali dengan rekaman
ini. Sebagai peneliti kesenian, yang harus mengobservasi dan menulis
secara value-free, yaitu tanpa mengevaluasi suatu seni sebagai 'baik'
atau 'buruk', saya melihat bahwa kaset Kedamaian ini tidak betul-betul
laku. Minggu yang lalu saya bertemu dengan Pa Bill Firmansjah dari
Hidayat dan dia mengatakan kaset Kedamaian masih dijual, walaupun
tidak terlalu banyak: biasa saja. Sebenarnya, Pa Firmansjah sudah
membuat kaset jazz lebih dahulu daripada kaset Cianjuran. Kalau tidak
salah Pa Firmansjah mengusul kombinasi kacapi-indung dengan piano
akustik ini.

Kebanyakan kaset Pa Uking bersama teman-temannya diproduksikan oleh
Hidayat. Dalam hal ini saya kira Pa Uking beruntung, karena pada tahun
1970-an dan awal delapanpuluhan kualitas kaset Hidayat bermutu, kalau
dibandingkan dengan kaset yang lain. Itu berlaku untuk kualitas
rekaman dan juga untuk informasi yang diberikan mengenai rekaman
tersebut. Kita harus berterima kasih dengan Pa Firmansjah, yang begitu
mengabdi kepada rekaman Cianjuran. Itu bukan perkerjaan pokoknya, cuma
pekerjaan bakti. Kegiatannya berhasil dan sekarang kita mempunyai
dokumentasi yang baik mengenai periode itu.

Menurut saya dokumentasi semacam ini tidak cukup diperhatikan di
Indonesia. Bagaimana ingin mengembangkan Tembang Sunda Cianjuran,
kalau sejarah belum diketahui dengan betul-betul? Di mana ada rekaman
Ibu Emeh Salamah, atau Ibu Haji Siti Rokayah? Mungkin saja, kebanyakan
rekaman ini berada di rumah orang pribadi. Seharusnya bahan rekaman
semacam itu dikumpulkan secara sistematis dan dimasukkan suatu
institut untuk dokumentasi seni Sunda yang dipilihara dengan
baik-baik. Yang penting ialah bahwa berada jaminan kontinuitas dan
bahan-bahan itu harus tersedia untuk semua orang yang mencari data.
Sebaiknya itu dilepaskan dari kegiatan orang pribadi. Jelas, initiatif
orang pribadi perlu, tetapi kegiatan semacam ini harus terikat dengan
instansi, supaya jelas: ini bukan sesuatu yang penting untuk cuma satu
keluarga atau satu orang, ini merupakan suatu hal yang penting untuk
kita semua. Mungkin saja harus dipertimbangkan apakah diminta bantuan
UNESCO dalam rangka proyek mengenai Digital memory of the world.

Sejak tahun 1950-an RRI Bandung menggunakan beberapa kelompok seniman
– sebagian sebagai pegawai negeri – yang main setiap minggu dalam
siaran hidup. Menurut saya, pada 50 tahun terakhir ini peranan RRI
Bandung penting sekali untuk beberapa macam kesenian, termasuk
Cianjuran. Akan tetapi, di mana ada dokumentasi rekaman dari dulu?
Kalau kita ingin mengetahui sejarah karawitan, dokumentasi rekaman itu
perlu, khususnya dalam tradisi-tradisi seni lisan ini.

Kebetulan, minggu yang lalu saya mendapat kopi rekaman RRI dari tahun
1960-an dengan rekaman Euis Kartini. Kemudian, saya juga mendapat
rekaman kacapi-suling dari tahun 1992(?). Rekaman kacapi-suling ini
menarik, karena mangandung lagu yang dimainkan dengan gaya Jepang.
Saya ingat, Pa Uking pernah membicarakan mengenai itu: surupan sorog
mirip dengan suatu surupan Jepang, dan dia pernah main lagu Jepang
yang dipelajari dari orang Jepang pada tahun empat-puluhan. Di sini
ada beberapa contoh dari rekaman RRI sekitar 1992. Pemain indung: Dede
Suparman, pemain suling: Ade Suwandi, pemain rincik 1: Bu Rohayani,
dan pemain rincik 2: Ade Suwandi. Minggu ini Dede Suparman menjelaskan
dia belajar lagu Jepang dari Pa Nano S. Lagu-lagu ini kemudian dipakai
untuk siaran kacapi-suling yang eksperimental ini. Katanya mereka
tidak mempunyai banyak waktu untuk latihan, jadi improvisasi termasuk.
Surupan yang dipakai adalah sorog yang tinggi, yaitu ukuran 52-53 ,
yang sama dengan Mandalungan atau pelog tinggi.

Contoh rekaman RRI ca. 1992: kacapi-suling secara Jepang

#1 (2m01s) Permainan suling hampir tanpa ornamen Sunda
#3 (1m14s) Permainan suling sudah memakai lebih banyak ornamen Sunda
#5 (46s) Awal dengan 'sorolok' gitar pada kacapi indung
#6 (1m05s) Awal mirip dengan lagu degung.

Contoh-contoh semacam ini perlu dikumpulkan dan dipilihara dengan
baik-baik. Penelitian data yang berada di RRI Bandung dan di tempat
lain dibutuhkan untuk mengerti sejarah Tembang Sunda Cianjuran. Kalau
kita ingin 'nyukcruk parung', yaitu mencari inti sari Cianjuran, kita
akan dibantu oleh rekaman semacam ini. Sebaiknya hasil penelitian
rekaman historis dari 1950-1970 juga diterbitkan dalam bentuk CD
bersama informasi latarbelakangnya dan akan tersedia untuk semua:
penggemar, seniman dan peneliti. Contohcontoh auditif ini merupakan
sumber data untuk mengerti perkembangan Cianjuran dan peranan
senimannya. Saya percaya, kalau kita mempunyai rekaman-rekaman dari
dulu, kita tidak akan menarik kesimpulan bahwa Pa Uking konservatif,
atau tertutup, terhadap eksperimen-ekperimen dalam dunia Tembang Sunda
Cianjuran.

Dengan gembira saya melihat bahwa sekarang lagu-lagu Cianjuran,
Panambih maupun lagu mamaos, sudah dipakai dalam repertoir
kacapi-suling. Sudah ada beberapa CD atau kaset yang dijual di
toko-toko.  Percobaan semacam itu membuka pintu untuk perkembangan
Cianjuran yang baik. Dengan demikian pemain waditra mendapat
kemungkinan untuk mencari bentuk-bentuk yang baru, yang mungkin saja
dapat diterapkan pada waktu mengiringi juru mamaos.
Sebenarnya, dalam bidang karawitan daerah Sunda kaya dengan ekperimen
yang menggunakan kacapi dan suling, misalnya: Zithermania, SambaSunda,
ath Thawaf dari Yus Wiradiredja, Katem dari Pa Nano S., dan dulu
lagu-lagu Kacapian dari Mang Koko. Saya yakin, bahwa dalam tahun-tahun
depan eksperimen itu dapat dimanfaatkan dalam perkembangan Tembang
Sunda Cianjuran. Menurut saya itu tidak berarti penerapan yang
langsung, tetapi penerapan yang bijaksana, yaitu yang tidak akan
merusakkan Cianjuran.

4. Duta-duta besar Cianjuran dan diversitas budaya

Selama 30 tahun terakhir ini Cianjuran juga dipertunjukkan di negara
asing. Misalnya Ida
Widawati, Imas Permas, dan juga Pa Uking Sukri membawa kelompok
Cianjuran dan kacapisuling ke Europa. Sekarang Cianjuran juga telah
dipertunjukkan di Amerika Serikat, Australia, Jepang, Timur Tengah,
dan tempat lain. Hatur nuhun kepada duta-duta besar Dayeuh Pajajaran
ini, yang menyanyi mengenai alam Parahiangan, persoalan manusiawih
umum, dan khususnya cinta di tatar Sunda.

Pa Uking membawa kelompok Cianjuran pertama ke Perancis pada tahun
1976, dan kemudian ke negara lain, termasuk Belanda, Belgia dan
Inggris. Oleh karena dalam grupnya tidak ada orang yang bisa berbahasa
Inggris, Pa Uking mulai belajar bahasa Inggeris. Kemampuannya mengenai
bahasa Inggeris terbatas, tetapi cukup untuk perjalanan. Sebenarnya
seninya, yaitu Cianjuran dan Kacapi-suling, merupakan paspor Pa Uking.
Dia cukup percaya diri dalam bidang seni dan dengan demikian dia cukup
berani dalam persoalan komunikasi melalui bahasa asing.
Dengan pertunjukan berulang kali di beberapa negara asing, boleh
dikatakan bahwa Tembang Sunda Cianjuran merupakan seni yang digemari
di dunia yang lebih luas daripada Sunda saja. Cianjuran telah menjadi
bagian kebudayaan kita semua. Dengan demikian, kita semua – melalui
instansi-instansi seperti UNESCO – menjadi bertanggung-jawab untuk
memelihara warisan manusiawih itu. Jelas, pertama-tama orang Sunda
sendiri yang bertanggung-jawab untuk seni yang dilahirkan di
Parahiangan. Tetapi kita semua harus memelihara Tembang Sunda
Cianjuran, supaya diversitas kebudayaan tidak akan hilang.

Sudah cukup banyak pemimpin di dunia ini diyakinkan bahwa diversitas
secara biologis perlu dipilihara supaya manusia bisa hidup dengan baik
di dunia ini. Sayangnya, belum ada begitu banyak orang yang khwatir
bahwa kehilangan bahasa-bahasa, kesenian, dan pengetahuan mengenai
alam merupakan sesuatu yang berbahaya untuk dunia ini. Kita perlu
diversitas budaya (cultural diversity) itu, karena itu merupakan
semacam kehormatan dan penghargaan kepada manusia dan kreativitasnya.
Kreativitas ini diperlukan sekali dalam dunia ini. Kita membutuhkan
pemikiran yang lebih luas daripada pemikiran yang sempitekonomis saja.
Banyak persoalan yang perlu dihadapi dan diselesaikan, seperti
kemiskinan, kesehatan, keadilan sosial, dan sebagainya. Pendidikan dan
kesenian merupakan lapangan untuk mendidik anak-anak, dan kita semua,
untuk memikir secara mendalam, atau 'bertapa di nagara'. Dalam 15
tahun terakhir ini, itu tidak cukup diperhatikan di dunia ini.

Kembali ke Sunda dan dunia Cianjuran. Saya menghormati Pa Uking Sukri
oleh karena dia hidup untuk seninya, bukan untuk uang besar atau
prestige sendiri. Pa Uking sabar dengan kelompok ibu-ibu maupun
mahasiswa STSI yang tidak begitu mampu dalam bidang Cianjuran. Dia
mengerti bahwa hasil secara ekonomis, secara diploma, dan sebagainya,
merupakan cuma satu sisi dari uang logam. Yang lain adalah investasi
dalam manusia, yang tidak dapat diukur dengan mudah secara ekonomis.

Menurut saya, Cianjuran masih hidup sekali sekarang. Masih ada banyak
individu, instansi pemerintah dan yayasan yang merasa
bertanggung-jawab untuk warisan ini. Akan tetapi kita tidak bisa duduk
saja, tanpa membuat apa-apa. Setiap generasi harus berjuang, supaya
warisan kebudayaannya diadaptasi kepada zaman yang baru. Untuk ini,
kontinuitas diperlukan. Dalam hal ini peranan RRI Bandung untuk
kesenian Sunda pada 50 tahun terakhir ini penting sekali.
Mudah-mudahan itu akan diteruskan, misalnya kalau RRI Bandung akan
menjadi institut yang swasta. Kontinuitas juga dijaga dengan baik-baik
oleh DAMAS, dengan pasanggiri yang sudah berlangsung selama
kurang-lebih 40 tahun dan dengan demikian memberi kesempatan untuk
diskusi persoalan lahir dan batin dalam dunia Cianjuran.

5. Penutup: Pasanggiri pamirig

Kalau tidak salah, pada tahun 1978 pasanggiri pamirig se-Jawa Barat
yang pertama diselenggarakan oleh Mimitran Tembang Sunda. Pada tahun
1991 ada pasanggiri pamirig di RRI. Kemudian pada tingkat propinsi
Nénéng Fitri dan kawan-kawan mengatur Pasanggiri pamirig Panineungan
Uking Sukri pada tahun 2001, dan tahun ini passanggiri pamirig kedua
akan diselenggarakan. Saya mengharap bahwa pasanggiri pamirig ini akan
diselenggarakan setiap 2 atau 3 tahun, seperti passanggiri DAMAS untuk
juru mamaos. Kontinuitas itu penting, dan dalam zaman ini pasanggiri
pamirig perlu diselenggarakan, dengan maksud: diperoleh lebih banyak
pamirig yang bermutu.

Sudah dijelaskan bahwa struktur musikal berada dalam kacapi indung dan
untuk Cianjuran juru mamaos tidak cukup. Malahan, pada zaman
globalisasi ini perlu juga diperhatikan bahwa di luarnegeri seringkali
justru karawitan instrumental, seperti kacapisuling, disuakai.
Manager-manager hotel di Bandung sudah mengerti persoalan ini. Lagi,
itu tidak berarti kita akan ikut permintaan pasar saja. Jangan berada
pemikiran yang sempitekonomis itu. Kesenian dan pendidikan diperlukan,
supaya kreativitas warga-warga Negara dan seniman dapat dimanfaatkan
pada zaman yang akan datang. Itu bukan persoalan untuk hari-hari
besok, tetapi untuk generasi-generasi yang akan datang.

Jadi, pemain waditra perlu dididik dan dipilihara. Penyelenggaraan
pasanggiri pamirig merupakan salah-satu kemungkinan untuk
menyelesaikan tugas itu. Saya mengharap kita semua di sini yakin
tentang hal ini. Sekarang tugas kita untuk meyakinkan orang politik,
orang kaya dan perusahan yang kaya bahwa investasi ini juga penting
untuk mereka.

Saya menghormati initiatif Nénéng Fitri, Gan-Gan Garmana, Dian
Hendrayani, Agus Hilman, Deni Hermawan dan kawan-kawannya. Saya
mengharap instansi (seperti STSI sekarang), purusahan dan yayasan lain
(seperti Bandung Spirit sekarang) akan ikut membantu, karena
pasanggiri pamirig itu bukan suatu hal yang cuma penting untuk
keluarga Uking Sukri. Hal ini penting untuk kita semua, termasuk dunia
luar negeri. Saya yakin karuhun kita akan setuju. Semoga Pasanggiri
Pamirig Panineungan Uking Sukri hidup dengan panjang! Bukan sebagai
penghormatan untuk Uking Sukri saja, tetapi juga untuk pemain waditra
yang lain, seperti Uce, Siti Rokayah, O.Tarya, Ono Sukarna, Bakang
Abubakar dan Dacep Eddi.

Terima kasih. ***

------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke