Sebagey seratan fakta..narik sareng lucu dibaca..tapi upami dilenyepan mah..kirang aya gunana kumargi henteu operasionil kana ngarobih kana hal2 anu disindir ku panulis....Kulantaran seueur orang2 NDESO ieu Indonesia masih keneh hirup...kabutuhan..tersier...kwarter dibeulian...nyiptakeun lapangan gawe....meuli mobil mewah....pada hal teu perllu (mun ceuk panulis eta oge)...kumaha eta harta rek dikekewek wae.....lamun urang mangpu "ndeso" wae...meuli mobil mewah...sina pagawe dealer mobil bisa gawe terus..montir2 mobil mewah gawe terus...kitu deui HP......50% ITC di Indonesia..kios2 HP...sabaraha tanaga gawe anu dipake...bisa hirup sanajan dahar di Warteg (Ndeso Asli ?)....KUmaha mun urang Indo meuli mobil...then drive to the ground...salila misal 40 taun....dealer mobil paraareh..kitu oge motor.....Ndeso lah anu baroga duit..sharing jeung anu merlukeun...teu kudu dina mere maweh...dina jalur pardagangan wae/ekonomi...karunya anu teu boga gawe....Ka Ibu Ika S Creech..mangga geura urang balanja di Indo...supados..anu daragang laku..tiasa hirup...............
On 5/4/08, Wawan Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mangga nyanggakeun. > > ws. > > "NDESO" > oleh : Ika S. Creech *) > > Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang > yang norak, kampungan, udik, shock culture, > countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami > atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat > mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat > senang, sehingga ingin terus menikmati dan > tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih > dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia > atau hanya segelintir orang yang baru merasakan > dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, > memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain > untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan > harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum > sama seperti dia. > > Lebih dari itu ia berharap agar orang lain > juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk > menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, > seperti saya juga sering mengalami hal demikian, > tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar > dari sejarah, pengalaman orang lain, serta > belajar bagaimana caranya tidak jadi orang > norak, kampungan alias ndeso. > > Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, > tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun > ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara > pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah > apartemen yang sederhana. Ketika beberapa > pengusaha ingin memberi pinjaman kepada > pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat > Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut > bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan > umum, sementara pejabat Indonesia yang akan > dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan > yaitu Mercedes Benz. > > Ketika saya di Australia berkesempatan melihat > sebuah acara dari jarak yang sangat dekat, > yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, > saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka > pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah > untuk ukuran Australia. Yang menarik, para > pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda > penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak > jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya. > Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan > restoran Thailand. Dia seorang warga negara > Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan > Docktor, sekarang sedang mengikuti program > Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang > kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan > fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. > Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari > perguruan tingginya. > > Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat > orang menggunakan HP Nokia Communicator, > mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah > saya baca koran, ternyata konsumen terbesar > HP Nokia Communicator adalah Indonesia. > Sempat berkenalan juga dengan seorang yang > berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata > dia anak seorang pejabat tinggi negara, > juga naik kereta. Yang tak kalah serunya > saya juga jadi pengamat berbagai jenis > sepatu yang di pakai masyarakat Jepang > ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso > siapa ya? > > Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang > baik di jepang atau di Australia, baik dari > penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau > rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan > seseorang kalau sudah mengetahui riwayat > pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. > Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak > ke Pondok Indah bisa pingsan melihat > rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata > rumah di Jepang memiliki tinggi plafon > yang bisa digapai dengan tangan hanya > dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun > banyak yang lesehan. > > Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak > membuat istana negara dan benteng pertahanan > (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk > perang ahzab saja), padahal Rasulullah > sudah sangat mengenal kemewahan istana > raja-raja negara sekelilingnya, karena > beliau punya pengalaman berdagang. Lalu > dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? > Jawabannya di Masjid. > > Beliau punya banyak jalan yang legal untuk > bisa membangun istana. Di Mekkah menikah > engan janda kaya, di Madinah menjadi kepala > negara, mempunyai hak prerogatif dalam > mengatur harta rampasan perang dan ada > jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak > beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi > mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal > perut dengan batu, puasa sunnah niatnya > siang hari, shalat sambil duduk menahan > perih perut dan seterusnya. > > Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang > sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai > ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak > yang antri beras, minyak tanah, minyak > goreng dll. Maka harga diri kita tidak > bisa diangkat dengan medali emas turnamen > olah raga, sewa pemain asing, banyak > perayaan yang gonta-ganti baju seragam, > baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, > dll, dsb, dst..... > > Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo > hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada > lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, > tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah, > korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, > sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar > terhadap kekuatan global, serta geopolitik > dan geostrategi yang disegani. Maka orang > Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi > krisis karena tidak bisa menjadikan krisis > sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan > APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang > norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai > adalah negara normal atau bahkan mengikut > negara maju. Bayangkan ada daerah yang > menganggarkan dana untuk sepak bola 17 > milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan > rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!! > > Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah > yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah : > - Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP > - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok > - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai > untuk beli TV dan kulkas > - Orang bule mabuk karena kelebihan uang, > Orang kampung mabuk beli minuman patungan > - Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil > goyang kepala > - Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya > - Orang-orang dapat membeli gelar akademis di > ruko-ruko tanpa kuliah > - Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah > rumah petakan gang sempit di Cibubur > - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering > keluar masuk McDonald > - Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat > tahu detail dunia persepakbolaan > - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu > untuk mencetin HP > - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan > kerupuk saja > - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya > dansa-dansi di acara tembang kenangan. > - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong > bahenol ngebor > - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang > dombret dan wakuncar > - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa > buka-bukaan > - Agar kelihatan inklusif maka harus bisa > menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang > juga digandeng > Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita > tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren. > > Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere. > > *) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini > bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja > sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis. > > ------------------------------ > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! > Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/> > > >

