Leres pisan juragan.

Syarat anu penting supaya ekonomi hirup, nyaeta pelaku ekonomi kudu hirup 
konsumtip.

Jadi sok atuh urang rangsang warga Pasundan teh supaya hirup komsumtip, anu teu 
perlu ge beli supaya barang laku, kitu sanes.

Kitu oge lamun boga barang kudu ceehan ulah awet, misal TV ganti tiap bulan jsb.

Bisa dibayangkeun lamun urang sunda gawena narabung, hirup ancin, wualah tatar 
sunda pailit jigana nya.

wass
ws


H Surtiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             Sebagey 
seratan fakta..narik sareng lucu dibaca..tapi upami dilenyepan mah..kirang aya 
gunana kumargi henteu operasionil kana ngarobih kana hal2 anu disindir ku 
panulis....Kulantaran seueur orang2 NDESO ieu Indonesia masih keneh 
hirup...kabutuhan..tersier...kwarter dibeulian...nyiptakeun lapangan 
gawe....meuli mobil mewah....pada hal teu perllu (mun ceuk panulis eta 
oge)...kumaha eta harta rek dikekewek wae.....lamun urang mangpu "ndeso" 
wae...meuli mobil mewah...sina pagawe dealer mobil bisa gawe terus..montir2 
mobil mewah gawe terus...kitu deui HP......50% ITC di Indonesia..kios2 
HP...sabaraha tanaga gawe anu dipake...bisa hirup sanajan dahar di Warteg 
(Ndeso Asli ?)....KUmaha mun urang Indo meuli mobil...then drive to the 
ground...salila misal 40 taun....dealer mobil paraareh..kitu oge 
motor.....Ndeso lah anu baroga duit..sharing jeung anu merlukeun...teu kudu 
dina mere maweh...dina jalur pardagangan
 wae/ekonomi...karunya anu teu boga gawe....Ka Ibu Ika S Creech..mangga geura 
urang balanja di Indo...supados..anu daragang laku..tiasa hirup...............
 
 
On 5/4/08, Wawan Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       
 Mangga nyanggakeun.

ws.

"NDESO" 
 oleh : Ika S. Creech *) 

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang 
yang norak, kampungan, udik, shock culture, 
countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami 
atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat 
 mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat 
senang, sehingga ingin terus menikmati dan 
tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih 
dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia 
atau hanya segelintir orang yang baru merasakan 
 dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, 
memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain 
untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan 
harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum 
sama seperti dia. 

 Lebih dari itu ia berharap agar orang lain 
juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk 
menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, 
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, 
tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar 
 dari sejarah, pengalaman orang lain, serta 
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang
norak, kampungan alias ndeso. 

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, 
tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun 
 ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara 
pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah 
apartemen yang sederhana. Ketika beberapa 
pengusaha ingin memberi pinjaman kepada 
pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat 
 Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut 
bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan 
 umum, sementara pejabat Indonesia yang akan 
dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan 
yaitu Mercedes Benz. 

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat 
 sebuah acara dari jarak yang sangat dekat, 
yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, 
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka 
pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah 
untuk ukuran Australia. Yang menarik, para 
 pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda 
penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak 
jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya. 
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan 
restoran Thailand. Dia seorang warga negara 
 Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan 
Docktor, sekarang sedang mengikuti program 
Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang 
kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan 
 fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. 
Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari 
perguruan tingginya. 

Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat 
orang menggunakan HP Nokia Communicator, 
mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah 
 saya baca koran, ternyata konsumen terbesar 
HP Nokia Communicator adalah Indonesia. 
Sempat berkenalan juga dengan seorang yang 
berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata 
 dia anak seorang pejabat tinggi negara, 
juga naik kereta. Yang tak kalah serunya 
saya juga jadi pengamat berbagai jenis 
sepatu yang di pakai masyarakat Jepang 
ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso 
 siapa ya? 

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang 
baik di jepang atau di Australia, baik dari 
penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau 
 rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan 
seseorang kalau sudah mengetahui riwayat 
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. 
Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak 
ke Pondok Indah bisa pingsan melihat 
rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata 
 rumah di Jepang memiliki tinggi plafon 
yang bisa digapai dengan tangan hanya 
dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun 
banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak 
membuat istana negara dan benteng pertahanan 
 (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk 
perang ahzab saja), padahal Rasulullah 
sudah sangat mengenal kemewahan istana 
raja-raja negara sekelilingnya, karena 
beliau punya pengalaman berdagang. Lalu 
dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? 
 Jawabannya di Masjid. 

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk 
bisa membangun istana. Di Mekkah menikah 
engan janda kaya, di Madinah menjadi kepala 
negara, mempunyai hak prerogatif dalam 
 mengatur harta rampasan perang dan ada 
jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak 
beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi 
mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal 
perut dengan batu, puasa sunnah niatnya 
 siang hari, shalat sambil duduk menahan 
perih perut dan seterusnya. 

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang 
sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai 
 ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak 
yang antri beras, minyak tanah, minyak 
goreng dll. Maka harga diri kita tidak 
bisa diangkat dengan medali emas turnamen 
olah raga, sewa pemain asing, banyak 
perayaan yang gonta-ganti baju seragam, 
 baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, 
dll, dsb, dst..... 

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo 
hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada 
lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, 
tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah, 
 korupsi berkurang, pendidikan terjangkau, 
sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar 
terhadap kekuatan global, serta geopolitik 
dan geostrategi yang disegani. Maka orang 
Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi 
 krisis karena tidak bisa menjadikan krisis 
sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan 
APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang 
norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai 
adalah negara normal atau bahkan mengikut 
 negara maju. Bayangkan ada daerah yang 
menganggarkan dana untuk sepak bola 17 
milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan 
rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!! 
 
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah 
yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah : 
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP 
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok 
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai 
 untuk beli TV dan kulkas 
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang, 
Orang kampung mabuk beli minuman patungan 
- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil 
 goyang kepala 
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya 
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di 
ruko-ruko tanpa kuliah 
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah 
rumah petakan gang sempit di Cibubur 
 - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering 
keluar masuk McDonald 
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat 
tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu 
untuk mencetin HP 
 - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan 
kerupuk saja 
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya 
dansa-dansi di acara tembang kenangan. 
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong 
 bahenol ngebor 
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang 
dombret dan wakuncar 
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa 
buka-bukaan 
 - Agar kelihatan inklusif maka harus bisa 
menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang 
juga digandeng 
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita 
tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren.

 Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere. 

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini 
bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja 
 sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis.  



 
---------------------------------
 Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers  


 




 
     
                                       

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke