--- netta fahad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Beja ceuk beja, Pamarentah bakal naekkeun harga BBM
> alias bahan bakar minyak. dina TV ditingalikeun Loba
> jalma nu teu satuju, lantaran naekna harga BBM bisa
> ngabalukarkeun Inflasi. Beh dituna, Inflasi bisa
> nyusahkeun masyarakat, Pangpangna rahayat leutik.
> Aya ge nu susumbar, ceunah mah inflasi bisa
> ngakibatkeun naekna jumlah masyarakat miskin.
> Naha enya kitu???
> Ceuk sawatara jalma sejena, mun harga BBM teu
> dinaekkeun mangka beban Pamarentah bakal terus
> nambahan, defisit APBN bakal terus ngagedean.
> Kumaha atuh nu benerna???????????????????
Tah, dihandap aya waleranana ti Kang Rizal Ramli
baktos,
mrachmat uidipura
JAKARTA, SENIN - Pengamat ekonomi Rizal Ramli menilai
visi pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono layaknya visi mahasiswa
kos-kosan. Hal ini
disampaikan Rizal menanggapi rencana pemerintah yang
akan menaikkan harga
Bahan Bakar Minyak (BBM).
Seperti apa visi mahasiswa kos-kosan yang dimaksud
mantan Menteri
Perekonomian itu? "Ya mahasiswa kos itukan visinya
kalau tidak punya uang,
utang. Tidak punya uang lagi, jual hp, jual jeans,
jual laptop.
Pemerintah SBY seperti itu, tidak punya uang, ngutang.
Lihat saja utang
luar dan dalam negerinya, menjual aset BUMN, solusi
terakhirnya naikin
harga. Kalap. Kebijakan menaikkan harga BBM itu no
brainer, tidak
cerdas," ujar Rizal saat dihubungi Kompas.com, Senin
(5/5) malam.
Sebenarnya, ujar Rizal, pemerintah tidak perlu
menaikkan harga BBM
asalkan bisa memaksimalkan segala lini untuk
melakukan penghematan. Ia
menyatakan, banyak sumber penghematan yang bisa
dilakukan di APBN.
"Lihat saja sekarang, bagaimana pembangunan
kantor-kantor menteri
demikian hebatnya. Kantor Menteri Perdagangan
dibangun demikian megahnya,
daerah-daerah juga begitu. Anggaran untuk membangun
itu sebenarnya bisa
dihemat. Karena, tidak memberi nilai tambah secara
ekonomi. Contoh lain,
biaya sosialisasi KB atau apalah yang aneh-aneh
lainnya. Itu hanya
kampanye terselubung, bagi Presiden maupun
menteri-menterinya. Ngapain itu
semua? Buang-buang uang," tambah Rizal.
Kebijakan menaikkan harga, lanjut dia, menunjukkan
bahwa pemerintah
hanya berani berhadapan dengan rakyat. Solusi
lainnya, menurut Rizal
dengan melakukan efisiensi di tubuh Pertamina dan
PLN, yang selama ini
mendapatkan subsidi terbesar. Selain itu,
merenegosiasi pembayaran utang
yang sangat mungkin dilakukan.
"Tapi pemerintah tidak pernah berani melakukan
negosiasi dengan
komprador-komprador asing itu. Beraninya cuma sama
rakyat. Mana berani menekan
bank-bank rekap yang selama ini disubsidi ratusan
triliun,"
tandasnya.ING
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ