Batik Trusmi Potensi Bisnis dan Simbol Budaya

THE History of Java (1817) karya Sir Stamford Raffles, mengilhami
Fiona Kerlogue, seorang antropolog untuk mendirikan museum batik di
London, Inggris. "(Fiona) benar-benar teramat sangat mencintai seni
batik, sementara kita?" ujar Subekti, dengan nada tanya.

Subekti merasa usianya sudah tidak lagi muda dan sewaktu-waktu maut
akan menjemputnya. Namun, Subekti seakan belum rela meninggalkan dunia
manakala belum ada orang yang benar-benar dipercayainya untuk menjaga
batik peninggalan leluhurnya yang jumlahnya mencapai lebih dari 150
lembar dengan di antaranya ada yang berusia di atas 100 tahun.

"Semisal motif Banji dan Tokolan ini. Selain usianya yang sudah di
atas 100 tahun dan peninggalan Sultan Kasepuhan, juga sampai saat ini
belum ada yang mampu membuat seperti ini. Kalau saya sudah tiada,
siapa nanti yang akan menjaga dan merawatnya?" ujar Subekti, kembali
dengan nada tanya.

Kekhawatiran Subekti akan kepunahan batik trusmi peninggalan
leluhurnya diungkapkan berkali-kali kepada sejumlah pejabat dari
provinsi maupun daerah pada acara "Pesona Budaya Cirebon" yang digelar
Balai Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (3 s.d.
10 Mei) hari ini. Tidak hanya kepunahan, tetapi juga kekhawatiran akan
berpindahnya batik ke luar negeri yang peminatnya lebih banyak
dibandingkan dengan di dalam negeri.

Salah seorang di antaranya, Putri Alexandra, salah seorang anggota
keluarga Kerajaan Inggris. Tanpa malu-malu dia menyatakan kekagumannya
pada jenis kerajinan kain ini ketika mengunjungi anjungan Indonesia di
malam bazar amal yang digelar Kedutaan Indonesia di Inggris.

Kini, di lingkungan pebisnis, kerajinan batik juga memikat pengusaha
mancanegara. Pada 2004 saja, misalnya, salah seorang konglomerat
Jepang, Kageshima, telah menjalin kontrak bisnis untuk memasarkan
batik trusmi asal Plered, Cirebon.

Hal ini sudah barang tentu menunjukkan naiknya minat terhadap batik
trusmi dan membuka peluang bagi pengembangan sentra batik trusmi yang
dalam beberapa dasawarsa terakhir mengalami kelesuan akibat digerus
laju industri tekstil modern.

Dari Plered, Kageshima dikabarkan memesan beberapa jenis produk yang
telah ditentukan dari Jepang. Desainnya secara umum ditentukan dari
perusahaan raksasa itu. Hanya, corak batiknya diserahkan kepada
perajin Plered sendiri. Beberapa jenis produk yang dipesan ialah
futon, sejenis bed cover, obi (ikat pinggang), piyama, dan kimono.

Menurut Ny. Kurnia, pemilik galeri Batik Kurnia, kendala yang dihadapi
perajin maupun pengusaha batik trusmi adalah pasokan kain untuk
pengerjaan batik dari Pekalongan. Cirebon belum punya produsen kain
yang bisa memproduksi kain katun dan sutra dalam jumlah besar.
"Kendala ini membuat produsen sulit memenuhi pesanan dalam jumlah
besar," ujar Ny. Kurnia.

Kini, saat budaya membatik kembali diminati anak-anak muda, batik
trusmi tidak lagi menjadi semata tumpuan ekonomi warga. Melainkan,
menjadi simbol yang membawa harum nama Cirebon dan sekitarnya secara
internasional.

Ragam hias batik cirebon tidak terlepas dari sejarah pembauran
kepercayaan, seni, dan budaya yang dibawa etnis Cina dan agama Islam
maupun Hindu pada masa lampau. Sebelum abad ke-20, Cirebon yang
memiliki pelabuhan laut menjadi sebuah kota perdagangan hasil bumi
antarpulau yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai etnis serta
saudagar asal Cina maupun Timur Tengah.

Pertemuan antaretnis dan budaya melalui jalur perdagangan ini telah
memberi akses pengaruh terhadap corak seni budaya daerah Cirebon.
Bentuk binatang khayal berupa singa barong dan peksi naga liman
merupakan wujud perpaduan budaya Cina, Arab, dan Hindu, terlukis pula
pada ragam hias batik trusmi.

Kisah membatik Desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah
seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik
sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih
terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat,
upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun.

Kini angin segar sedikit berembus, lewat batik trusmi yang kembali
diminati, seniman (batik) dan budayawan Cirebon sedikit berlega hati
akan terjaganya satu artefak Cirebon peninggalan Sunan Gunung Jati dan
istrinya Putri Ong Tien. (Retno HY/"PR") ***

citation: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=21980

Kirim email ke